Friday, November 30, 2007

[Berpikir Bebas 731] Artikel

J A T I D I R I

Apakah itu untuk diri pribadi atau untuk arti kebangsaan, banyak warga
bangsa kita yang kurang memahami, bahkan [mungkin] sebahagian besar
yang "tidak tau" atau tidak me -
ngerti sama sekali apa itu sesungguhnya j a t i d i r i
---------------------------------- ,

Boy Dana beranggapan, jatidiri adalah jatidiri, bukan dan tidak j a t
i - d i r i, Boy ber -
anggapan jatidiri yang dimaksud disini adalah jatidiri yang satu dan
utuh yang tidak di -
pisahkan atau terpisahkan, bahkan si Boy sejak tau dan kenalan dengan
j a t i d i r i -----,
dia merasakan dan berpikir.......nah ini dia temuan kedua versi
pancasila dahulu kala [?!]

Hingga saat kinipun Boy Dana masih merasa asing-, kagok-, bahkan
sungkan untuk men
jabarkan, apalagi meresapkan arti - makna - kaidah atas hikmah j a
t i d i r i ------,

Suatu ketika dipenghujung tahun tujuhpuluhan Boy Dana bertanya kepada
penulis .........;
Mas, emangnya jatidiri itu identitas manusia "dunia akhirat".........,
jawab penulis, lho kenapa Boy berpendapat atau merasa seperti
itu......., jatidiri itu Boy [penulis sok coba menjelaskan] semacam
identitas manusia lahir bathin yang t i d a k memiliki batas
waktu atau batas masa berlakunya ........, nah makanya kata si Boy,
itulah saya berpendapat bahwa jatidiri itu identitas manusia dunia
akhirat..............[memang si Boy kalau berucap atau menyatakan
dunia akhirat selalu tanpa kata perantara " d a n "] ini juga menarik
ketika suatu waktu penulis yang balik bertanya.........Boy-, kenapa
sih kau ini kalau ngomong atau nulis kalimat dunia akhirat tanpa kata
antara " d a n ", kenapa kamu ini mau lain sendiri atas format kata
dalam kalimat, bukankah sangat wajar dan identik sekali bila kita
berucap atau menulis "dunia dan akhirat".........emmangnya pemahaman
Boy atas keyakinan "itu" harus dihilangkan kata antara
"dan" ..................[?!]
Ala Mas [kata si Boy]-, beribu ribu tahun sudah sejak manusia merasa
dirinya CERDAS mereka atau kita kita inilah.........ngomong meyakini
"sesuatu" yang t i d a k ada ujung juntrungnya.........ngomonglah
kita ini sekarang didunia.......natinya disana kita ini berada
diakhirat........-, DUNIA aja kita belum tau persis, jelas dan tandas,
mau maunya kita berinterprestasi disana itu lho.......akhirat-, karena
[tapi] kita ini absolute turunan sejati manusia b e r a g a m a-,
maka pendapat saya kita langsungkan saja makna "itu" menjadi
dunia akhirat t a n p a "dan" sebagai perantara, atau yang
memperantarakan .............[?!}
Pendapat saya Mas, didalam "dan" itulah banayak spekulasi dan
manipulasinya yang selama sekian ribu tahun lamanya "manusia keenakan"
berbohong diri didalam kata dan-,
mungkin........jatidiri itulah Mas, yang dapat mengembalikan manusia
untuk menemukan
d i r i n y a -, itulah Mas, mengapa saya sangat menggandrungi dan
mendambakan atas arti dan makna serta ujud j a t i d i r i yang
sesungguhnya agar kita lebih cepat dan cermat dalam memahami dan
memaknai arti kata dalam kalimat d u n i a a k h i r a t [!]

Kata Si Boy dalam catatan usangnya-, dunia akhirat patut direnungkan
dan jangan ragu untuk di reminding bahwasanya "sekat" yang ada itu,
bukanlah sekat yang penuh misteri ataupun absolute abstract, inga
inga.....apa yang ada dalam kitab kitab suci w a h y u khususnya
Alquran dan Alkitab ............. K E H E N D A K M U J A D I L A
H [!}----,
Masya Allah, tidak habis pikir kata orang jaman sekarang, bagaimana
manusia keblinger-
[minjem istilah Bung Karno], selama beribu ribu tahun kkeyakinan itu
l e p a s dari diri kita yang katanya u t u h dan diciptakan
sebagai insan t e r m u l i a dari insan insan
ciptaanNYA.........bahkan di Alkitab dinyatakan tandas s e s u a i
dengan p e t a N Y A-,
Mas Bagus [panggilan Boy kpd penulis]-, sebenarnya atau sesungguhnya,
banyak para pemikir kita atau katakanlah pemikir "kelas dunia" yang
sebenarnya mereka mempunyai pendapat atau kesimpulan bahwa a p a
dunia itu sekaligus dengan akhiratnya.........[?!]
Kata si Boy selanjutnya-; saya heran Mas Bagus, manusia secara pro
rata hampir seluruhnya mereka merasa t a k u t atas sesuatu yang
berasal dari hak mutlak TUHAN -,
nah lucunya Mas, ketika manusia merenungkan dan menghayati "rasa
takut" itu, lucunya-
adalah t e r n y a t a mereka cuma takut atas kematian, apalagi
kematian yang disertai timbunan dosa selama masa
kehidupannya........., bukankah ini sangat lucu Mas, takut atas
kkematian, sedangkan kematian itu sendiri adalah a w a l
sesungguhnya dari KEHENDAKMU JADILAH.............awal dari kehidupan
akhirat yang sesungguhnya......,

Kembali pada j a t i d i r i -, jatidiri yang dimaksud disini adalah
bukan jatidiri dalam arti
yang "biasa dan sederhana", tapi lebih dari pengertian dan pemaknaan
yang lebih tinggi dan luas bahkan s a k r a l adanya. Sebagai suatu
contoh adanya kesakralan pada arti atau tanda jatidiri adalah; s e t e
l a h jatidiri itu "terbentuk & terujud" pada diri seseorang, maka
orang [pribadi] tersebut tidak pernah lepas atau lekang dari dua d a
s a r
[prinsip] jatidiri sejati yakni r a m a h & h o r m a t [ramah
tamah & hormat menghormati], dua prinsip dasar itulah yang menjadi
"darah daging" dalam bentuk dan
ujud jatidiri sejati sesuai kadar kesempurnaan perwujudannya bagi
pribadi seseorang [!] .

RAMAH & HORMAT-, atau dalam jabaran santun kita sering menyebutnya
dengan ramah tamah & hormat menghormati, arti dan makna kalimat ini,
bagi setiap pribadi bangsa Indonesia [sesungguhnya patut diberlakukan
bagi setiap umat manusia] kalimat ini selain bermakna sakral dan
mulia, j u g a menjadi tanda & bias bagi setiap pribadi yang telah
mendapatkan dan "merasa" terujudnya jatidiri yang sejati pada kadar
dirinya-,

Ramah tamah & hormat menghormati sesama umat pada tingkat apapun dan
dimanapun,
"hal inilah" sesungguhnya yang patut menjadi landasan utama bagi
setiap perilaku manusia didalam kehidupan sehari hari setiap detiknya,
bahkan bagi umat Muslim bangsa
Indonesia, dua kalimat jatidiri tersebut patut dijadikan sebagai
pendukung dan penyempurna atas kemuliaan kita setelah menyebut dan
melafaskan dua kalimat
syahdat-,
Tentunya yang dimaksud disini adalah seluruh umat bangsa Indonesia
siapapun adanya[!]

Dua kalimat sakral j a t i d i r i tersebut diatas, dapat
dibayangkan kalau sudah tertanam-
dan sepenuhnya menjiwai setiap insan bangsa Indonesia, dapat
dibayangkan bagaimana indah dan damainya "suasana masarakat" dalam
kehidupan sehari harinya, tentu dengan -
dengan catatan; ramah tamah dan hormat menghormati yang t i d a k
dan bukan cuma ekspresi lahiriah semata, tapi mendalam yang berasal
dari kalbu dan "sebersih hati" seper
ti yang dimaksud dan dikehendaki oleh Sang Chaliq Allah Tuhan Yang
Maha Esa -----,
j a n g a n l a h [haramkan!] dalam ramah tamah yang kita bersitkan
itu terlihat atau apa
lagi sarat dengan "kemunafikan" yang terselubung atau yang tidak
terselu bung bahkan-
[apalagi] yang disengaja atau belakangan merasa "tidak
disengaja" [?!], pendapat saya Mas Bagus, masih banyak sekali kaum
beragama bukan hanya di Indonesia, tapi hampir-
diseluruh penjuru dunia [terutama kaum kita, kaum muslim] dalam
pembawaan kehidupan sehari harinya "sadar atau tidak" mereka masih
[sangat jelas] terbungkus bahkan terbiasa dengan rasa dan sikap
munafik yang sangat sangat kental dan dalam--.

Masih dalam catatan usangnya si Boy-, dia menulis dan menyatakan
[seolah olah dia menyampaikan bukan hanya kepada penulis semata] Mas
Bagus-, saya heran, saya yang demikian masih mudanya, saya itu sadar
sesadar sadarnya bahwa munafik itu l e b i h
jahat dan lebih berbahaya dari bahaya laten komunis ataupun atheist
dan terorist yang bagaimanapun dahsyatnya, saya sudah sejak masa bocah
sudah menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa munafik itu keenakan
nongkrong dan ngejogrok didalam bathin diri kita masing masing, bahkan
bangsat dan durjananya, kadangkala munafik itu merasa lebih dari
kesempurnaan bathin yang ada pada diri kita, maka itu Mas, disinilah
saya sangat mengharapkan dan mendambakan jatidiri seutuhnya yang patut
dan mutlak dimiliki oleh setiap insan manusia yang percaya dan
hakulyakin atas ekeberadaan kita sebagai ciptaanNYA............mas
Bagus-, kalau boleh Boy berandai andai.......jangan jangan jatidiri
itulah yang mungkin dimaksud oleh sebagian besar umat manusia yang
keblinger yang selalu dan suka meletakan kata antara d a n dalam
kalimat dunia akhirat, tapi karena mereka tidak tau [boro boro kenal]
apa sesungguhnya itu jatidiri, maka seenaknyalah mereka "ber dan
danan" dengan kata d a n dalam dunia dan akhirat .

Kembali [ke laptop] jatidiri-, kalau kita renungkan bersama mas
Bagus-, sepertinya untuk
mencari dan menemukan [penemuan] dan mengenal serta memahami
[pembentukan] jatidiri sebagaimana yang kita maksudkan bersama
[katakanlah seperti yang Boy maksudkan], sepertinya norma dan kaidah
kaidah a g a m a banyak sekali patut dijadikan sebagai "dasar &
kerangka konstruksi" pada ujud bangunan j a t i d i r i ---[!].

Memang sih kata si Boy-, jatidiri pada setiap manusia itu "tidak ada
yang sama" satu sama lainnya sangat berbeda ibarat sidik jari paada
setiap manusia, karena dalam memahami dan menguasai "jatidiri kita"-,
kita patut terlebih dahulu untuk mencari dan mencari "diri kita
sesungguhnya" [kadangkala bertahun tahun lamanya], kemudian setelah
ditemukan, kita patut mengenal dan mengakui serta m e m v o n i s
diri kita sebagaimana yang ditemukan dan dikenalinya, dimoment itulah
kita diwajibkan untuk memulai membentuk dan mewujudkan jatidiri yang
tanda tandanya ada [hanya] pada diri kita sendiri. Singkat kata, atau
kata kuncinya-, jatidiri itu seprtinya tidak dapat kita ajarkan
apalagi berupa doktrin, jatidiri itu sepertinya harus dicari dan
diketemukan oleh -
diri sendiri yang katanya alim,soleh,tekun dalam ajaran2
agama,berpendidikan, cakep dan cakap dalam pergaulan, d i r i
yang [telah] memiliki "pondasi & kerangka" yang
dapat diterima "orang banyak" dan santun serta dibanggakan dalam
pergaulan sehari hari,
perwujudan diri seperti itulah modal dasar kita untuk
menemukan&membentuk jatidiri !

No comments: