Monday, January 28, 2008

[Berpikir Bebas 745] Re: Sombong dan Rendah Hati

On Jan 23, 10:03 am, "David G." <complexiol...@gmail.com> wrote:
> Orang yang pinter tapi pura-pura goblog bukanlah orang yang rendah
> hati.
>
> Orang yang goblog tapi sok pinter bukanlah orang yang sombong.

dengan kata lain didalam keduanya yg ada hanya Ga tau

Thursday, January 24, 2008

[Berpikir Bebas 744] Selamat hari raya Galungan dan Kuningan dan selamat tahun baru Imlek2559

Bagi yang merayakannya meski terlambat mbah gatho ucapkan selamat
menunaikan upacara suci Galungan dan Kuningan

Hari Raya Galungan dilaksanakan mulai hari Minggu s/d hari selasa
kemarin. Sedang Kuningan jatuh pada hari Sabtu tgl 2 bulan depan.

Biar tidak lupa sekalian mengucapkan selamat tahun baru Imlex 2559
yang jatuh pada tagl 7 feb 2008.
Bertepatan tgl ini juga terjadi gerhana matahari tahunan yang bisa
dilihat di selatan lautan Pasifik dan antartika

wasalam
mbah gatho

[Berpikir Bebas 743] Re: Sombong dan Rendah Hati

On Jan 23, 10:03 am, "David G." <complexiol...@gmail.com> wrote:
> Orang yang pinter tapi pura-pura goblog bukanlah orang yang rendah
> hati.
pinter saja tidak cukup tetapi harus lengkap tiga unsur agar pinternya
bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. tiga unsur tsb
adalah
pinter, bener dan kober.
artinya pandai, jujur dan punya waktu untuk mengamalkan kepandaiannya.

>
> Orang yang goblog tapi sok pinter bukanlah orang yang sombong.

bagi si goblog
pilih matek umuk, timbang matek ngantuk

Tuesday, January 22, 2008

[Berpikir Bebas 742] Sombong dan Rendah Hati

Orang yang pinter tapi pura-pura goblog bukanlah orang yang rendah
hati.

Orang yang goblog tapi sok pinter bukanlah orang yang sombong.

Sunday, January 13, 2008

[Berpikir Bebas 741] Komunikasi Bangsa Irani oleh Ed Martin

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

12 - 18 Januari 2008

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Komunikasi Bangsa Irani oleh Ed Martin
Ed Martin, perwakilan negara Iran bagi American Friends Service
Committee, menggambarkan proses yang membawa keterlibatannya dalam
mengatur sebuah pertemuan antara Presiden Iran Ahmadinejad dan para
pemimpin agama Amerika saat kunjungan terakhir Ahmadinejad ke Amerika
Serikat.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Januari 2008)

2) ~Pandangan Kaum Muda~ Membawa Resolusi Konflik ke Panggung oleh
Simnia Singer-Sayada
Selulusnya dari program Master Teater Pendidikan, New York University,
Simnia Singer-Sayada menyorot dampak yang mengubah hidup dari
keikutsertaannya dalam Abraham Vision program. Digabungkan dengan alat-
alat dan pengalaman yang diperoleh dari beasiswa musim panasnya
tersebut, Singer-Sayada mengaitkan bagaimana teater pendidikan dapat
mengilhami orang untuk berpikir secara berbeda tentang konflik-konflik
yang sedang terjadi.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Januari 2008)

3) Setelah Bhutto oleh John Esposito
John L. Esposito, profesor universitas dan direktur pendiri Prince
Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding di
Georgetown University, menilai tanggapan-tanggapan politik AS dan
Pakistan terhadap pembunuhan Benazir Bhutto dan bertanya, "Kemana kita
selanjutnya melangkah?"
(Sumber: Social Science Research Council, 2 Januari 2008)

4) Hadits Juga Memberikan Panduan oleh Amin Farzanefar
Amin Farzanefar, koresponden Qantara.de, mewawancarai Marco Schöller,
seorang cendekiawan Muslim, yang baru-baru ini menerjemahkan kumpulan
Hadits Al Nawawi dari Bahasa Arab ke Bahasa Jerman. Menjelaskan
signifikansi kumpulan hadits dalam Islam, Schöller mendeskripsikan
peran kumpulan catatan perkataan yang berusia 1000 tahun itu saat ini.
(Sumber: Qantara.de 2007, 31 Desember 2007)

5) Masyarakat Saudi Kini Lebih Pro-Amerika oleh Kenneth Ballen
Sebelum kedatangan Presiden Bush yang rencananya akan dilakukan akhir
bulan ini, Kenneth Ballen, presiden Terror Free Tomorrow, sebuah
organisasi opini publik, berbagi hasil survei terbaru tentang opini
publik Saudi yang mengejutkan.
(Sumber: Christian Science Monitor, 8 Januari 2008)


1) Komunikasi Bangsa Irani
Ed Martin

Akron, Pennsylvania - "Tahukan anda Presiden akan pergi ke Amerika
Serikat pada bulan September? Dapatkah anda mengatur sebuah pertemuan
antara beliau dengan pemimpin-pemimpin agama Amerika?" Ketika kawan
saya, Ali Akbar Rezaei, Direktur Departement Amerika Utara dan Pusat
Kementerian Luar Negeri Iran mengajukan permintaan ini mewakili
Presiden Iran Ahmadinejad, saya menelan ludah dan berkata, "Baik, kami
akan usahakan."

Ini kali pertama saya menerima permintaan seperti itu, karena
pertemuan dengan para pemimpin nasional bukan hal biasa bagi anggota
Mennonite Central Committee (MCC). MCC - sebuah badan bantuan,
pembangunan, dan perdamaian - yang secara tradisional lebih banyak
bekerja di tingkat bawah. Namun, permintaan ini merupakan hasil dari
serangkaian hubungan yang telah berkembang selama lebih dari 17 tahun
keterlibatan MCC dengan Iran dan konsisten dengan penekanan MCC untuk
memajukan pengertian dan persahabatan antara bangsa Iran dan Amerika
Utara.

MCC mulai terlibat di Iran secara langsung setelah gempa bumi luas
pada bulan Juni 1990 di propinsi Gilan dan Zanjan. Setelah kejatuhan
Uni Soviet, banyak pihak menganggap bahwa bagi pemerintah Amerika,
Islam menggantikan Komunisme sebagai ancaman kunci, dan Teheran
menggantikan Moskow sebagai musuh. Kami ingin memperlihatkan bahwa MCC
akan menanggapi kebutuhan manusia tanpa memandang faktor-faktor
keagamaan dan politik.

MCC mendanai pembangunan 15 klinik kesehatan di desa-desa yang terkena
gempa bumi dan telah berkolaborasi dengan Iranian Red Crescent Society
(IRCS) dalam penanggulangan bencana dan bantuan pengungsi sejak saat
itu. Bantuan ini telah menolong baik para pengungsi Irak, menyusul
Perang Teluk Persia pertama, para pengungsi Afghan, maupun orang-orang
yang terlantar di dalam negerinya sendiri.

Sebagai tambahan, MCC mengembangkan sebuah program pertukaran
mahasiswa antaragama dengan sebuah institut di kota suci Qom, pusat
keilmuan terbesar Syiah di dunia. Melalui program ini, umat Kristen
Amerika belajar Islam, bahasa Farsi, dan kesusastraan Persia di Qom,
sementara umat Muslim Iran belajar filosofi barat dan teologi Kristen
di Toronto, Kanada.

Belum tiga minggu setelah permintaan berat Rezaei tersebut, sebuah
kelompok yang terdiri atas 47 pemimpin agama Amerika Utara yang
mewakili Islam dan beberapa denominasi Kristen bertemu dengan Presiden
Ahmadinejad di hotelnya pada tanggal 20 September 2006. Ini kemudian
diikuti dengan sebuah pertemuan antara 13 orang delegasi pemimpin
Kristen Amerika, yangmewakili lebih setengah denominasi dan organisasi
gereja, dengan para pemimpin agama dan politik Iran di Teheran pada
bulan Februari 2007. Bulan September 2007, saat Sidang Umum PBB,
sebuah kelompok perwakilan umat Kristen yang terdiri atas 130 pemimpin
agama bertemu selama dua jam dengan Presiden Ahmadinejad di kapel
Pusat Antar Gereja, seberang jalan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Saya menemukan Presiden Ahmadinejad sebagai orang yang fasih
berbicara, cerdas, dan menarik. Ia berbicara denan bebas tetapi juga
terkadang kelihatan berbicara kepada pendengar domestik Iran.

Ia memulai pertemuan dengan sebuah pidato sepanjang 15 hingga 20 menit
yang memiliki muatan keagamaan cukup kental. Delegasi mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang program nuklir Iran, Holokaus, dan
hubungan dengan Amerika Serikat.

Kami meninggalkan pertemuan-pertemuan dengan Presiden Ahmadinejad
dengan membawa kesadaran bahwa kedudukannya lebih bernuansa daripada
yang sering ditampilkan dalam media. Ia berkomentar bahwa:

1. Tidak akan ada penyelesaian militer bagi situasi Israel-Palestina,
hanya politik.
2. Mekipun Holokaus terjadi di Eropa, namun bangsa Palestinalah yang
dipaksa membayarnya (melalui sanksi internasional dengan pembentukan
sebuah negara Yahudi di Palestina).
3. Iran tidak tertarik mengembangkan persenjataan atom, karena mereka
tidak akan memberikan keamanan.
4. Iran bersedia terlibat perundingan-perundingan langsung dengan
Amerika Serikat jika Amerika Serikat menunjukkan niat baik.

17 tahun terpeliharanya hubungan pribadi antara MCC dan organisasi-
organisasi Iran menghasilkan pertukaran-pertukaran yang tidak diduga
dengan Ahmedinejad ini. Setelah ketiadaan lebih dari 28 tahun hubungan
diplomatik antara pemerintahan Iran dan Amerika Serikat, menemukan
cara-cara bagi rakyat masihng-masing negara untuk bertemu dan belajar
mengenal satu sama lain sebagai sesama umat manusia, mematahkan
stereotip-stereotip dan menghalau kesalahan informasi yang didorong
oleh retorika pemerintah dan berita media, sungguh penting artinya.

Orang tidak pernah tahu ke mana hubungan saling menghormati yang
dibangun ini akan berhilir. Mengutip pernyataan seorang kawan, Dr.
Seyed Kazem Sajjadpour, mantan perwakilan IPIS pada misi Iran di PBB
di New York, "Usaha-usaha kecil oleh rakyat biasa merupakan kunci bagi
perdamaian dan keadilan."

###

* Ed Martin adalah direktur wilayah Asia Tengah dan Selatan Mennonite
Central Committee dari bulan Agustus 1989 hingga September 2007. Ia
memrakarsai dan mengarahkan program Irannya. Kini, Ia merupakan
perwakilan negara Iran bagi American Friends Service Committee.
Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan
dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service, 8 Januari 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


2) ~Pandangan Kaum Muda~ Membawa Resolusi Konflik ke Panggung
Simnia Singer-Sayada

New York, New York - Dalam musim panas 2007, saya mulai beasiswa saya
di Abraham Vision (www.abrahamsvision.org), sebuah "organisasi
transformasi konflik yang menjelajahi identitas-identitas kelompok dan
individu melalui pendidikan berdasarkan pengalaman dan politik."
Abraham Vision adalah sebuah organisasi beranggota kaum muda yang
mempelajari hubungan-hubungan antara masyarakat-masyarakat Yahudi,
Muslim, Israel, dan Palestina, serta mendorong sesama untuk
mempraktikkan "pilihan-pilihan yang adil dibandingkan status quo."

Pertemuan pertama kami diadakan di Balkan, dan kami segera memulai
sebuah dialog tentang politik identitas dengan berbagi pengalaman
keseharian kami, khususnya pengalaman-pengalaman yang telah membentuk
hubungan kami dengan Timur Tengah. Dengan membangun dan mengakui
pentingnya mendengarkan orang lain di atas apa yang telah kami masing-
masing bagi dengan kelompok, kami mulai belajar tentang diri kami
sendiri. Program tersebut menggunakan metode-metode analisis
perbandingan konflik. Kajian Perang Balkan kemudian digunakan sebagai
sebuah sarana untuk menjaga jarak antara kami sendiri dengan Timur
Tengah dan lebih memahami mekanisme konflik dan tindakan manusia.

Selama peran serta saya dalam program tersebut, saya dipenuhi dengan
pemikiran dan pertanyaan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya
mematahkan definisi-definisi dan menemukan peran saya dalam
nasionalisme, simbolisme, jender dan masyarakat, jender dan konflik,
budaya dan politik, agama dan konflik, kebijakan AS, dan economi
politik dari konflik dan ras. Hingga saat ini, saya tidak mengenali
tanggung jawab pribadi saya dalam aspek-aspek kemasyarakatan ini. Di
satu sisi, saya ketakutan untuk menerima label saya sebagai seorang
Amerika Yahudi. Di sisi lain, saya menemukan hal yang membebaskan
dengan merangkul kenyataan siapa diri saya, membongkar cap-cap saya,
menilai tindakan-tindakan saya, dan melihat mereka sebagai pilihan-
pilihan politik yang penuh dengan peluang-peluang untuk menciptakan
perubahan.

Sekembalinya ke kuliah saya di New York University setelah musim
panas, saya ingin mengaitkan apa yang saya alami pada Program Visi
dengan apa yang saya pelajari dalam teater pendidikan, khususnya
dengan menggunakan teori Augusto Boal tentang "Teater Orang
Tertindas". Ia percaya bahwa sebuah sistem permainan dan teknik teater
dapat digunakan sebagai alat untuk memberdayakan orang bangkit melawan
segala bentuk penindasan dan diskriminasi.

Salah satu teknik tersebut, "Hipnosis Kolumbia", menciptakan sebuah
peluang untuk menggali akibat dari tindakan-tindakan kita terhadap
orang lain. Dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin terpilih pindah ke
tengah ruangan. Secara bertahap, anggota kelas yang tersisa bergabung,
satu demi satu memegang orang lain dalam satu kelompok pada kepala,
lengan, lutut, hidung, dll.... Ketika setiap orang telah bergabung
dengan orang lain, pemimpin tersebut mulai berjalan melintasi ruangan,
dan akibat-akibat tak kentara dari tindakan-tindakannya mempengaruhi
ke seluruh kelompok, setiap anggota bergerak dan karena itu
menggerakkan orang-orang di sekitar mereka. Kekuatan dari benar-benar
melihat dan merasakan akibat-akibat dari tindakan-tindakan tak kentara
dapat menghasilkan penemuan-penemuan pribadi yang besar.

Sebuah kegiatan seperti ini dapat diterapkan pada berbagai diskusi
yang terkait dengan konflik. Misalnya, orang dapat mulai menilai
kembali bagaimana simbol-simbol telah digunakan untuk menimbulkan
konflik dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita, dan lebih luas
lagi, untuk mempertimbangkan kemungkinan implikasi-implikasi politik
dan sosial lebih besar dari apa yang kelihatannya merupakan tindakan-
tindakan tak berarti yang kita lakukan sehari-hari.

Melihat peluang-peluang membawa pelatihan dan pengalaman praktis
tersebut ke dalam teater, seorang kawan Amerika Mesir dan saya mulai
membahas berbagai kemungkinan mengurangi konflik politik berkelanjutan
antara bangsa Arab dan Yahudi melalui teater pendidikan. Kolaborasi
kami yang menyusul sangat menarik dan menantang. Kami mengembangkan
Shalom Sahbity (Damai, Kawanku), sebuah keping pergelaran pendidikan
ragam segi dengan menggunakan drama, tarian, dan media untuk
menceritakan kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman pribadi kami dari
Timur Tengah. Saat ini kami sedang tampil di penjuru New York, dan
berencana untuk pentas keliling ke pusat-pusat masyarakat dan sekolah-
sekolah di Amerika - dan kemungkinan suatu hari di Timur Tengah. Kami
berharap untuk melibatkan para peserta melalui kegiatan-kegiatan
teater pendidikan dan merangsang dialog membangun tentang konflik Arab-
Israel.

Alat-alat teater pendidikan seperti ini dapat memberi sumbangan bagi
pembentukan sebuah lingkungan yang mendorong dialog membangun dan
transformasi konflik. Kami sedang melihat sendiri, dalam kerja kami
dengan Shalom Sahbity, dampak yang dimiliki teknik seperti itu
terhadap pribadi-pribadi, dan membayangkan terus-menerus bagaimana
mereplikasi kembali karya ini dalam skala yang lebih besar untuk
menjangkau orang-orang dan kelompok-kelompok lain yang terlibat dalam
konflik.

###

* Simnia Singer-Sayada mendapatkan gelar Master dari New York
University dalam bidang Teater Pendidikan, dengan fokus pada kesadaran
hak-hak asasi manusia dan perubahan sosial. Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service, 8 Januari 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Setelah Bhutto
John Esposito

Washington, DC - Dunia akan lama mengenang Benazir Bhutto sebagai
seorang perempuan Muslim modern yang menjabat dua kali sebagai perdana
menteri perempuan pertama Pakistan: cerdas, menarik, fasih berbicara,
berbakat, berani, karismatis, seorang politisi yang bijak, dan
pemimpin politik yang menyerukan sebuah Pakistan demokratis sekuler.
Itulah Benazir, tetapi - seperti ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, dan
sejumlah pemimpin politik Pakistan lain - ia juga meninggalkan jejak
rekam politik penuh kekurangan yang mencerminkan sekligus memberi
andil terhadap berbagai persoalan di Pakistan.

Benazir Bhutto menyatakan dirinya sebagai pembaru, namun dalam dua
kali masa jabatan sebagai perdana menteri, ia gagal membawa perubahan
politik atau sosial berarti; seorang pemimpin yang tidak banyak
berbuat bagi masyarakat miskin Pakistan yang sangat besar jumlahnya,
yang hidup dalam sebuah masyarakat feodal; seorang feminis terkenal
yang, tidak berbuat banyak memperbaiki kedudukan perempuan atau
membalikkan apa yang disebut kebijakan-kebijakan Islamisasi Zia ul-
Haq, terlepas dari janji-janjinya sebagai perdana menteri; seorang
demokrat sekuler yang kepemimpinannya atas Partai Penduduk Pakistan
(PPP) dan tata pemerintahannya sebagai perdana menteri mencerminkan
politik feodal Pakistan, dengan sebuah rekaman korupsi dan pelanggaran-
pelanggaran hak asasi manusia meluas yang sangat dikecam oleh berbagai
organisasi internasional.

Seperti ayahnya Zulfikar Ali Bhutto, ia menggunakan kekuasaan melalui
gaya otokratis yang semakin keras, dominasi atau kekuasaan satu orang.
Ia menyatakan dirinya sebagai ketua PPP seumur hidup, namun tidak
membuat ketetapan bagi kepemimpinan di kalangan pemimpin partai
berbakat, karena PPP tetap merupakan sebuah warisan keluarga yang
dapat dilihat dengan "pemilihan" anak dan suaminya.

Tanggapan-tanggapan politik belum lama ini terhadap pembunuhan Benazir
Bhutto menyorot permasalahan kunci atau garis-garis kesalahan umum
dari politik Pakistan dewasa ini, permasalahan yang telah diperburuk
dengan berlipat ganda dalam sebuah dunia pasca-9/11. Baik Presiden
Bush maupun Presiden Musharraf dengan cepat menyalahkan al-Qaeda dan
ekstremis-ekstremis Muslim lain, dan sekedar menempatkan pembunuhan
tersebut dalam konteks perang melawan terorism global dan kekuatan-
kekuatan penentang demokrasi.

Tetapi betapa pun berbahanyanya kekuatan-kekuatan ini, khususnya
dengan pertumbuhan pejuang-pejuang Pakistan dan bukannya asing,
skenario picik ini mengabaikan arus-arus yang saling berselisih sejak
lama dalam politik Pakistan: sebuah masalah identitas yang berakar
dalam dan tak terselesaikan mengenai hubungan Islam terhadap identitas
nasional dan politik Pakistan; peran partai-partai dan gerakan-gerakan
Islam, serta benturan-benturan mereka dengan elit yang kebarat-
baratan; sebuah militer kuat yang selama bertahun-tahun telah sering
menyebabkan berlangsungnya kekuasaan militer, bukannya demokratis; dan
peran para pemimpin politik feodal.

Walaupun Mohammed Ali Jinnah, pendiri dan pemimpin pertama Pakistan,
melihat Pakistan sebagai sebua tanah air Muslim, pengertiannya yang
lebih bersifat sosio-budaya berbeda dengan yang dipahami oleh banyak
pemimpin "berpikiran keagamaan". Akibatnya, sementara Pakistan
mengambil sebuah struktur politik Barat, banyak rakyat Pakistan
mengambil identitas negara Islam secara apa adanya dan dengan sungguh-
sungguh - sebagai dipelajari oleh Ayub Khan, seorang penguasa militer
dan modernis awal, ketika ia harus mengurungkan usahanya untuk
menghilangkan sebutan Pakistan sebagai Republik Islam Pakistan.
Zulfikar Ali Bhutto sendiri, seorang sosialis sekuler, berpaling ke
Islam setelah perang saudara Pakistan-Bangladesh pada 1971 dalam
rangka membangun jembatan ke negara-negara Arab, menangkal Jamaat-i-
Islami (Partai Islam) dan partai-partai keagamaan lainnya, serta
menguatkan basis massanya. Perpalingan ke Islam terbukti merupakan
sebuah pedang dua sisi, ketika panglima angkatan bersenjata yang
dipilih Bhutto, Jenderal Zia ul-Haq, justru menggunakan Islam untuk
mensahkan kudetanya, eksekusi terhadap Bhutto dan "Islamisasi"
Pakistan. Secara ironis, bertahun kemudian, Nawaz Sharif juga
menggunakan kartu agama dalam perjuangan politiknya dengan Benazir
Bhutto dan PPP.

Kemana kita selanjutnya melangkah? "Perang melawan terorisme" Pakistan-
US dan "promosi demokrasi" pada dasarnya telah menghasilkan
peningkatan yang membahayakan dari yang pertama dan ancaman bagi yang
kedua. Ekstermisme dan terorisme keagamaan telah tumbuh di Pakistan;
para ekstremis hanya akan memetik manfaat dari krisis saat ini. Para
politisi dan partai Islam (arus utama dan ekstremis) telah
meningkatkan pengaruh terhadap para pemilih mereka, baik pada
pemilihan 2002 maupun secara nasional, termasuk kendali terhadap
Propinsi North West Frontier dan Balukhistan. Promosi Musharraf
terhadap demokrasi paling hanya dapat dilihat sebagai selembar daun
ara, baik dalam arti manipulasi terhadap politik pemilihan maupun
peran militer. Walaupun Musharraf mencopot seragamnya, para jenderal
tetap merupakan kekuatan yang berkuasa dan berpengaruh, yang bisa
campur tangan setiap saat. Dan yang disesalkan, kematian tragis
Benazir Bhutto telah menghasilkan sebuah pentas baru dari kepemimpinan
feodal keluarga Bhutto dalam PPP, hanya kali ini dengan ketiadaan
karisma, bakat, dan pengalaman Benazir.

Kedepan akan dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang tercerahkan. Saat
penyebaran anti-Amerikaisme (lebih tepatnya, oposisi terhadap
pemerintah Bush) di Pakistan telah semakin menguat - seperti di
berbagai belahan dunia Muslim dan non-Muslim - orang setidaknya dapat
mengharapkan peletakan suatu landasan kerja bagi munculnya pemimpin-
pemimpin masa depan.

Musharraf seharusnya mulai dengan restorasi sebagian penampilan
demokasi dengan mengembalikan kekuasaan Mahkaman Agung Pakistan,
mengumumkan suatu jadwal yang lebih rinci dari pemilihan umum
nasional, dan berusaha bekerja lebih dekat dengan para pemimpin arus
utama dan politik, daripada sekedar mengeksploitasi situasi cair
sekarang ini, sehingga menyebabkan instabilitas lebih besar. Amerika
Serikat, mengingat kekuatan politik dan militernya, mempertahankan
kemampuan dan keunggulan untuk memainkan sebuah peran yang lebih
membangun di Pakistan - tetapi hal itu membutuhkan lebih dari sekedar
mencari seorang "kandidat Amerika" untuk menjadi pemimpin Pakistan.

###

* John L Esposito, seorang profesor universitas dan direktur pendiri
Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding di
Georgetown University, adalah salah seorang penulis Who Speaks for
Islam? What a Billion Muslims Really Think. Artikel ini disebarluaskan
oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di
www.commongroundnews.org.

Sumber: Social Science Research Council, 2 Januari 2008,
www.ssrc.org/blogs/immanent_frame
Telah memperoleh hak cipta.


4) Hadits Juga Memberikan Panduan
Amin Farzanefar

Bonn, Jerman - Dalam wacana publik di Barat, diasumsikan bahwa Qur'an
adalah satu-satunya pondasi keimanan Islam, dan sumber-sumber lainnya,
yang berkontribusi pada keragaman agama ini, diabaikan. Marco
Schöller, cendekiawan Muslim yang kini telah menerjemahkan kumpulan
hadits al-Nawawi yang populer ke Bahasa Jerman, menguraikan sumber
yang satu ini dalam wawancara berikut:

Mr. Schöller, apakah hadits itu?

Marco Schöller: Istilah ini mengacu pada pesan atau informasi yang
disampaikan dari mulut ke mulut. Sebagai istilah khusus, itu berarti
kisah oleh Muhammad atau tentang beliau - apa yang beliau katakan,
lakukan, atau bagaimana dia mengamati sesuatu, dst. Hadits ini telah
diturunkan kepada generasi selanjutnya secara oral dan hanya dicatat
secara tertulis jauh sesudah Rasulullah wafat, yang kemudian
disebarluaskan dan diturunkan dalam bentuk buku atau kumpulan catatan.

Seotentik apakah hadits itu?

Schöller: Cendekiawan Muslim di sini memiliki pandangan yang berbeda
secara fundamental dengan mereka yang berada di dunia Muslim. Ada
ratusan ribu hadits yang beredar. Kaum Muslim menganggap beberapa ribu
di antaranya otentik. Cendekiawan Muslim tidak bisa membuktikan
ataupun menyangkalnya, tapi mengenali bahwa, dalam banyak kasus, teks-
teks ini sudah sangat tua. Sejumlah kecil hadits telah mendapatkan
status resmi, sementara enam kumpulan - dan ada empat atau lima lagi -
dianggap fundamental bagi agama dan sekarang, secara prinsip, tidak
lagi dikritik.

Di luar semua ini ada ribuan kumpulan, menawarkan sejumlah besar
bahan. Jumlahnya yang amat besar membuat pengklasifikasian secara
historis amat sulit.

Apakah hadits masih dibaca saat ini? Apakah orang-orang yang
berselisih berkonsultasi dengan anggota keluarga yang mengetahui
hadits dengan baik? Apakah mereka meminta saran dari ahli hadits? Apa
peranan hadits dalam agama?

Schöller: Ya, semuanya benar. Hal terpenting yang perlu diingat adalah
hadits memainkan peranan penting dalam kehidupan orang-orang beriman -
tergantung pada setaat apa mereka, tentunya. Informasi tentang hadits
tersedia di mana-mana. Namun, banyak buku yang tidak menghadirkan
hadits-hadits itu dalam bentuk kumpulan aslinya dengan bahasanya yang
sulit, tapi berupa hadits-hadits pilihan saja. Tergantung pada derajat
literasi seseorang, belajar dengan cara menghafal juga masih
dipraktekkan di dunia Arab.

Orang-orang mengandalkan para ulama, guru-guru pribadi, atau sekolah-
sekolah negeri. Negara mempekerjakan ulama, seperti mufti, untuk
memberikan panduan mengenai isu-isu tertentu. Sulit untuk menemukan
seorang Muslim yang tidak akrab bahkan dengan beberapa hadits
Rasulullah saja.

Apakah generasi mudanya juga demikian?

Schöller: Di Eropa sini sudah tidak lagi, tentu saja, Tapi ini masih
dijalankan di negara-negara Islam, di mana hubungan lingkungan,
sekolah, dan keluarga, membantu untuk memelihara praktek ini. Saya
yakin tidak mungkin hidup di negara Islam dengan jenis pemisahan
antara urusan sosial-kemasyarakatan dengan agama seperti yang
ditemukan di Barat.

Sebaik apa hadits-hadits kuno ini bisa diterapkan dalam situasi masa
kini, pada masalah-masalah yang tidak diketahui dulu ketika hadits-
hadits itu dicatat? Bagaimana ini dilakukan?

Schöller: Hadits ditujukan untuk membantu orang-orang Islam menjalani
kehidupan sehari-hari mereka berdasarkan model dan contoh-contoh
spesifik. Masyarakat secara berkesinambungan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan baru - ini bisa berkisar dari menciptakan atau memakan
makanan hasil rekayasa genetik hingga aborsi. Inilah satu contoh
tentang bagaimana hadits yang berusia lebih dari 1000 tahun bisa
diterapkan di masa sekarang: embrio dalam rahim baru berisi ruh
setelah 40 hari. Dari sini banyak Muslim yang menafsirkan bahwa embrio
belum disebut manusia, dan karenanya bisa digugurkan dalam 40 hari
pertama.

Barat sekarang ini amat tertarik dengan pertanyaan tentang esensi
Islam. Jadi menurut anda hadits adalah spirit atau esensi khusus dari
Islam?

Schöller: Para pembaca Barat akan menemukan ayat-ayat yang --jika
tidak dapat dirujuk-- maka amat kontras. Hampir dalam kumpulan manapun
Anda akan menemukan hadits yang amat umum, yang dalam hal manapun
tampaknya tidak spesifik tentang Islam dan yang lebur dengan semangat
kemanusiaan di sekitarnya. Di lain pihak, ada hadits-hadits yang
memberikan peraturan yang amat ketat dan rinci yang berlaku baik untuk
perorangan maupun masyarakat luas. Ini tampaknya amat sulit untuk
didamaikan satu sama lain.

Sederhananya, latar belakang Judeo-Kristiani menawarkan dualisme -
Kristen sebagai agama etika yang melebihi hukum, dan Judaisme sebagai
agama hukum. Dalam Islam, kedua sisi ini berjalan beriringan. Akan
fatal akibatnya jika memisahkan keduanya; itu melanggar semangat
Islam.

###

* Amin Farzanefar adalah koresponden untuk Qantara.de. Marco Schöller
mengajar di Oriental Seminar of the University of Cologne di Jerman.
Artikel ringkas ini Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Untuk membaca artikel ini secara lengkap, kunjungi www.qantara.de.

Sumber: Qantara.de, 31 Desember 2007, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.
Diterjemahkan dari Bahasa Jerman oleh John Bergeron.


5) Masyarakat Saudi Kini Lebih Pro-Amerika
Kenneth Ballen

Washington, DC - Presiden Bush diharapkan untuk melakukan kunjungan
kenegaraan yang pertama kali ke Arab Saudi pada tanggal 14 Januari.
Arab Saudi adalah tempat lahirnya Islam dan kampung halaman dari
tempat-tempat sucinya. Negara tersebut juga merupakan negara asal
Osama bin Laden dan 15 dari 19 orang teroris 11 September.

Apa yang akan ditemukan Bush di Arab Saudi akan mengejutkan kebanyakan
orang Amerika.

Masyarakat Arab Saudi termasuk di antara mereka yang paling pro-
Amerika dan paling anti-teroris dari negara Islam manapun di dunia.

Ini hanya salah satu dari temuan-temuan mengejutkan dalam survei opini
langka yang dilaksanakan di Arab Saudi bulan lalu oleh kelompok poling
nirlaba yang saya pimpin, Terror Free Tomorrow, dengan Sistem D3.

Kurang dari satu banding sepuluh responden Saudi yang memiliki opini
yang baik tentang Al Qaeda, dan 88 persen menyetujui tindakan militer
AS yang mengejar para pejuang Al Qaeda. Hanya 15 persen dari responden
Saudi yang memiliki opini baik tentang Laden sendiri. (Poling Saudi
pada akhir 2003 menunjukkan 49 persen yang menyukainya.)

Bahkan bagi responden Saudi yang memiliki pandangan yang baik tentang
bin Laden dan Al Qaeda, penyelesaian masalah terorisme adalah satu
dari prioritas terpenting mereka; 90% responden memilih jawaban ini.
Hanya masalah pengangguran dan inflasi yang lebih penting dari masalah
terorisme di hadapan publik Saudi.

Para responden Saudi hampir dengan suara bulat menolak terorisme.
Mereka tidak menuntut aturan radikal dari bin Laden dan Al Qaeda.
Malah, lebih dari dua-pertiganya mendukung hubungan yang lebih kuat
dan lebih dekat dengan Amerika Serikat. Tiga-perempat dari responden
Saudi juga mengatakan bahwa opini mereka tentang Amerika akan
meningkat secara signifikan jika AS mengambil tindakan tertentu,
seperti meningkatkan visa atau menandatangani perjanjian perdagangan
bebas dengan Saudi Arabia. Ini adalah langkah-langkah yang praktis dan
bisa dicapai yang seharusnya tercatat dalam agenda Bush.

Bahkan, dibandingkan dengan negara-negara Islam yang paling banyak
penduduknya, Saudi adalah di antara mereka yang memiliki opini paling
baik tentang Amerika Serikat. Sementara hanya 40 persen yang saat ini
menunjukkan opini positif, angka itu dua kali lipat atau bahkan lebih
dibandingkan prosentase di Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Moroko,
dan Indonesia yang merasakan hal yang sama. Bagi masyarakat Saudi, ini
adalah perubahan yang amat besar dibandingkan satu setengah tahun
lalu, ketika dalam survei terbatas Terror Free Tomorrow, hanya 11
persen yang memiliki opini positif tentang AS. Angka tersebut kini
telah bertambah lebih dari tiga kali lipat, sementara peringkat yang
tidak menyenangkan telah menurun dari 89 persen ke hanya separuhnya
saja.

Dua faktor dapat membantu menjelaskan perubahan besar ini:
1) Kebijakan AS dirasa tidak begitu bermusuhan lagi, dan
2) Raja Saudi Abdullah mempromosikan sikap moderat.

Sementara rakyat Saudi dilaporkan oleh militer Amerika membuat hampir
setengah dari pengeboman bunuh diri di Irak, publik Saudi sendiri
sangat menentang keikutsertaan Saudi dalam perang di Irak. Enampuluh
tiga persen responden Saudi, Bahkan lebih tinggi lagi, yaitu 69% -
lebih menyukai Arab Saudi bekerjasama dengan Amerika Serikat untuk
menyelesaikan konflik Irak.

Dalam berbagai isu, responden Saudi menyalahkan agenda AS saat ini,
kadang-kadang bahkan agenda raja mereka sendiri. Terutama ketika
berhubungan dengan konflik Arab-Israel. Sepertiga dari responden Arab
Saudi mendukung rencana damai raja dan solusi negara ganda.

Namun, terhadap pertanyaan yang kerap dilontarkan orang Barat - "Di
manakah suara mayoritas Muslim moderat yang menentang Al Qaeda, bin
Laden dan terorisme?" - para responden Arab saudi telah memberikan
jawaban yang pasti.

Responden dari tempat asal spiritual Islam secara jelas dan tegas
menolak Al Qaeda, bin Laden, pemberontak Irak dan terorisme. Mereka
juga amat menantikan hari ketika Amerika Serikat dan Arab Saudi bisa
menjalin hubungan yang lebih dekat dan kuat.

Ini memberikan Bush kesempatan unik untuk menjalin kerjasama yang
lebih mendalam tidak saja dengan Raja Abdullah, tapi juga dengan
masyarakat Arab Saudi sendiri - dan Muslim di manapun.

###

* Kenneth Ballen adalah presiden Terror Free Tomorrow: Pusat Opini
Publik. Survei nasional Arab Saudi ini dilaksanakan bekerja sama
dengan Sistem D3 melalui telepon di Arab. Margin kesalahannya adalah
+/- 3 persen. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News
Service (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

Sumber: Christian Science Monitor, 8 Januari 2008, www.csmonitor.com
Hak cipta (c) The Christian Science Monitor. Untuk ijin penerbitan
ulang, hubungi lawrenced@csps.com.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.

Wednesday, January 9, 2008

[Berpikir Bebas 740] Mobile Marketing di Indonesia

All,

Peningkatan penetrasi komunikasi selular di Indonesia yang sangat
pesat (30%), menjadikan telepon selular cukup pantas diperhitungkan
sebagai salah satu media massa baru.

Namun, pelaksanaan tanpa perencanaan yang kurang matang telah membuat
dampak yang kontra-produktif bagi pemasang iklan.

Kalau berkenan, saya; hiro whardana (details: http://www.hirowhardana.com)
sebagai praktisi di industri selular ingin meminta partisipasi rekan-
rekan sebagai pemikir-pemikir yang memiliki objektivitas yang tinggi
untuk menjawab beberapa pertanyaan dan memberikan komentar di akhir
pertanyaan2 ini.

Tujuan dari 'survey' ini akan digunakan sebagai latar belakang dari
argumen-argumen yang saya tulis di blog (URL diatas), untuk membuat
batasan-batasan yang jelas kepada pelaku di industri ini dengan
menghargai etika komunikasi/marketing dan privasi.

umur :
jumlah nomor yang dimiliki:
jumlah HP yang dimiliki:

1. Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kalimat mobile
marketing?(a. pasti ini salah satu program yang akan menghabiskan
pulsa, b. gangguan privasi, c. ini pasti penipuan, d. masa bodoh, e.
jika relevan, pasti akan menarik)

2. Jika ada promosi melalui SMS, apa reaksi Anda? (a. baca sekilas -
jika menarik diteliti lebih lanjut, b. merasa sangat terganggu, c.
membaca dengan seksama siapa tahu menguntungkan, d. menghub. CS
operator, agar tidak menerima SMS serupa)

3. Seberapa penting pilihan untuk tidak menerima SMS promosi bagi
anda? (a. sangat penting, b biasa saja, c. tidak penting krn gratis)

4. Apakah program marketing melalui SMS yang menawarkan hadiah membuat
anda tertarik? (a. ya, b. tidak) mengapa?

5. Apakah anda pernah melakukan pembelian/pemakaian/mecoba promosi
yang ditawarkan melalui SMS? (a. pernah, b. tidak)

6. menurut anda, promosi melalui SMS sebaiknya .....


Terima kasih atas partisipasi teman-teman sekalian. Untuk informasi/
diskusi lebih lanjut, anda dapat menghubungi saya secara pribadi
melalui email hwhardana@gmail.com

terima kasih.

regards,
hiro