Tuesday, January 19, 2010

[Berpikir Bebas 869] [Berpikir bebas] Merindukan sosok Soeharto

Pak Harto dulu secara rutin mengadakan dialog langsung dengan rakyat kecil, jadi beliau bisa mendengarkan sendiri segala masukan dan keluhan masyarakat.

Pak Harto tak segan turun langsung ke desa-desa, ikut dalam kegiatan panen di sawah bersama petani.

Pemimpin kita sekarang cenderung menutup telinga dari suara rakyat. Banyaknya demo adalah bukti bahwa suara rakyat tidak terdengar oleh para pemimpin. Para pejabat lebih suka melakukan kunjungan keluar negeri mewah ketimbang mengunjungi rakyatnya.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Thursday, January 14, 2010

Re: [Berpikir Bebas 868] Re: "Tuhan Tidak Perlu Dibela" --Gus Dur--

Di dalam sistem pengadilan, seorang terdakwa harus didampingi seorang
pembela, tidak perduli apakah si terdakwa akhirnya terbukti bersalah
atau tidak bersalah. Yang penting (setidak-tidaknya di dalam teori),
si terdakwa harus diadili secara fair.

Apakah tujuan dari sistem pengadilan adalah untuk membela kebenaran?
Menurut saya tujuan pengadilan adalah untuk membela manusia. Untuk
dapat membela manusia, pengadilan harus berada di pihak kebenaran, dus
pengadilan adalah tempat di mana kebenaran membela manusia.

Membela manusia artinya setiap manusia harus diperlakukan secara fair,
adil, jujur, dan benar. Entah si manusia itu bersalah atau tidak
bersalah. Kalau koruptor lenggang kangkung dibebaskan oleh pengadilan
(yang juga korup), maka itu artinya kebenaran tidak membela manusia.
Sebab, membiarkan korupsi itu artinya tidak membela manusia. Si
manusia di sini bukan saja masyarakat yang dirugikan oleh tindak
korupsi, tetapi termasuk juga si koruptor itu sendiri!

2010/1/14 gatho <gatholoyo@yahoo.com>:
> kalau membela kebenaran itu benar apa tidak?
> Anehnya yang membela yang benar adalah yang salah mulu.
> he he he....
>
> On Jan 5, 3:28 am, T J <alatberpi...@gmail.com> wrote:
>> Tuhan perlu dibela?
>>
>> Tentu saja, tidak! Mosok makhluk yang sedemikian lemahnya kok membela
>> Makhluk Yang Maha Kuat ... ha ha .....
>>
>> Kalau Tuhan membela manusia, lha baru itu masuk akal.
>>
>> TJ
>

[Berpikir Bebas 867] Re: "Tuhan Tidak Perlu Dibela" --Gus Dur--

kalau membela kebenaran itu benar apa tidak?
Anehnya yang membela yang benar adalah yang salah mulu.
he he he....

On Jan 5, 3:28 am, T J <alatberpi...@gmail.com> wrote:
> Tuhan perlu dibela?
>
> Tentu saja, tidak! Mosok makhluk yang sedemikian lemahnya kok membela
> Makhluk Yang Maha Kuat ... ha ha .....
>
> Kalau Tuhan membela manusia, lha baru itu masuk akal.
>
> TJ

Monday, January 4, 2010

[Berpikir Bebas 866] "Tuhan Tidak Perlu Dibela" --Gus Dur--

Tuhan perlu dibela?


Tentu saja, tidak! Mosok makhluk yang sedemikian lemahnya kok membela
Makhluk Yang Maha Kuat ... ha ha .....


Kalau Tuhan membela manusia, lha baru itu masuk akal.


TJ

Re: [Berpikir Bebas 865] Re: Enaknya Jadi Anak Orang Gedean

2009/12/31 Dul Badung <kdharmawan@gmail.com>:
> Aku tdk begitu mengerti background Kartini sampai jadi tulisan ini
> Tapi rasanya energi kita akan lebih positif jika kita lebih care
> thd apa yg didepan kita utk dikerjakan sebaik2nya.

Setuju.

> Jika seseorang
> merasa kaya, he has something to lose. Jika kita merasa tidak punya,
> we have nothing to lose. Punya atau tidak itu adanya pada "begaimana
> kita menyetel"

Tergantung pada apa persisnya yang "dipunyai". Jika anda punya uang
banyak, mungkin memang punya "something to lose".

Tapi jika anda punya banyak ilmu, maka ilmu anda tidak akan berkurang
meskipun dibagi-bagikan ke semua orang.

>
> Jika seorang menilep atau whatever doing something wrong, he has to
> be responsible for what he's doing, baik secara hukum positiv ataupun
> etika moral.

Jika surga atau neraka ternyata tidak ada, maka koruptor bisa mati
tanpa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya ...:)

> Dan itu akan terjadi, apakah kita harus mengusahakannya,
> banyak tergantung keadaan, ngapain urusi orang lain kalau kita morat
> marit.
> Kita punya obligasi utk memanage diri kita sendiri dulu
> Saya sudah tdk terlalu percaya pada institusi agama soalnya,jadi agama
> itu slogan saja
>

Lagi-lagi tergantung pada apa yang dimaksud dengan "agama" itu ....

Kalau cuma lembaga (seperti kata anda) memang rentan sekali terhadap
pengaruh negatip dari segala kekurangan manusiawi.


TJ

Re: [Berpikir Bebas 864] Re: Enaknya Jadi Anak Orang Gedean

Tx 4 your comment

Pada 31 Desember 2009 18:13, Dul Badung <kdharmawan@gmail.com> menulis:
Aku tdk begitu mengerti background Kartini sampai jadi tulisan ini
Tapi rasanya energi kita akan lebih positif jika kita lebih care
thd apa yg didepan kita utk dikerjakan sebaik2nya. Jika seseorang
merasa kaya, he has something to lose. Jika kita merasa tidak punya,
we have nothing to lose. Punya atau tidak itu adanya pada "begaimana
kita menyetel"

Jika seorang menilep atau whatever doing something wrong, he has to
be responsible for what he's doing, baik secara hukum positiv ataupun
etika moral.Dan itu akan terjadi, apakah kita harus mengusahakannya,
banyak tergantung keadaan, ngapain urusi orang lain kalau kita morat
marit.
Kita punya obligasi utk memanage diri kita sendiri dulu
Saya sudah tdk terlalu percaya pada institusi agama soalnya,jadi agama
itu slogan saja


On Nov 30, 2:02 pm, kartini tini <ktkart...@gmail.com> wrote:
> Jika anak orang berada, pintar ini dan itu, punya banyak akses untuk
> kerja disana dan disitu, buat gue itu satu hal yang biasa malah ga ada
> kejutannya alias biasa saja. Jika anak orang berada,pintar ini dan
> itu,punya banyak kesempatan dan akses disana disini tapi mudah stress
> itu biasa dan...biarkan saja. Mereka tak mengenal susah apalagi
> menderita, yang terhampar di depan mata hanya kemudahan demi
> kemudahan. Kerikil kecil baginya besar, mudah merengek minta fasilitas
> ini dan itu. Ha 3x, jago kandang dan hanya tau kompetisi semu.
>
> Jika anak orang berada yang kekayaan bokap dan maknya entah dari mana,
> gak jelas asal usulnya, lebih suka ngebanggain kedudukan dan
> kehormatan semu ortunya...itu mah biasa aja atuh !, gede tapi bodong,
> pintar dari segi inteleknya tapi masih perlu dipertanyakan kepekaan
> sosial dan mentalitas ketangguhannya. Wauaahaaa 3x kasian sekali.
>
> Jika anak penggede jadi birokrat atau politisi karena keturunan lantas
> berulah yang memalukan ,....itu mah! bukan hal yang luar biasa lagi
> tapi emang biasa. Korup, manipulasi proyek ini - itu, itu mah....wajar
> - wajar aja. Itu belum seberapa yang lebih yahud mereka itu biasa
> tampil sempurna dan rakyat pun jadi terpesona. Bayangkan saja begitu
> mereka selesai merampas akses rakyat diluar kekroniaannya dan membunuh
> sumber mata pencarian jutaan rakyat yang bukan geng nya, mereka bisa
> dengan mudah menampilkan wajah bijak sambil tersenyum memikat . Hi 3x
> buat gue mereka cuma badut - badut intelek yang lucu.
>
> Jangan pertanyakan kadar nasionalisme mereka, lha wong menjual negara
> sendiri saja penuh dengan suka cita , lha kan yang masuk keperutnya,
> yang sudah membesarkan dan menyekolahkannya adalah uang negara yang
> tanpa rasa dosa sudah ditilep ortunya . Uang haram yang sudah mendarah
> daging, kualitas didikan yang diterima dari kedua orangtuanya sudah
> membentuk kepribadian dan mentalitas anak mami - papi sedemikian
> rupa ...hi 3x bukankah itu proses internalisasi penanaman nilai -
> nilai amoral yang berhasil ?
>
> Jika anak - anak penggede itu melakukan tindakan melawan hukum dan
> nilai nilai keadilan namun selalu bebas dari sentuhan hukum( karena
> ortunya juga selalu lolos dari jerat hukum) dan selalu dapat
> melenggang bebas tanpa beban malu dan perasaan berdosa,...sama aja itu
> juga ga ada anehnya. Pikir - pikir.....uenak sekali ya ?
>
> Jika bangsa yang mayoritas ini masih mau dikuasai oleh para penguasa
> yang lahir dan besar dilingkungan yang tak pernah merasakan betapa
> sulitnya kehidupan rakyat jelata, yang sudah sedemikian kerja kerasnya
> namun tetap saja kemakmuran masih sangat jauh dari jangkauan dan
> mata...., ??? apa jadinya ya????
>
> Kartini/Sari

Sunday, January 3, 2010

[Berpikir Bebas 863] REPUBLIK BADUT

REPUBLIK BADUT 1

Aku terlahir di negara yang oleh sang Kuasa dianugerahi keelokan dan
kekayaan alam yang benar - benar luarrrr biasa, terbentang diantara
banyaknya pulau - pulau eksotis yang membanggakan jiwa. Ibu pertiwi
kami menyimpan begitu banyak harta, harta kekayaan yang sesungguhnya
lebih dari cukup untuk menghidupi dan mencukupi hajat hidup ratusan
juta jiwa anak - anaknya, bangsa dari nagari dari ujung pulau satu ke
pulau paling terujung.tahukah kalian kami adalah bangsa kaya raya,
kaya akan bahan tambang, minyak bumi, gas alam hingga potensi dari
keanekaragaman hayati yang tersimpan dibelukarnya hutan nusantara.

Aku lahir di bumi pertiwi yang memiliki nama tak seelok dengan nama
sang bunda, bunda nan agung dan hanya pantas menyandang gelar - gelar
dan nama indah dan terhormat ini ternyata tak punya kedudukan mulia
dimata anak-anak buminya, anak -anak yang tega menyakiti sang bunda
dengan bertingkah seburuk-buruknya prilaku terhadap sesama saudara
mereka, sebangsa satu ibu pertiwi.

Hati ibu mana yang tak kan luka, jika anak-anak yang dilahirkannya
memakan sesama saudaranya, sedarah setanah air. Ajaran langit tak lagi
menarik, materi dan kekuasaan adalah agama baru bagi anak - anakmu.
anak - anakmu yang kemudian membentuk Republik Badut..nama dari Bumi
yang telah kau warisi ini...Ibu.

Aku terlahir di negara