Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh
16 - 22 Mei 2008
Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.
Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.
Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).
Dalam edisi ini
1) Orang Maroko Menjauhkan Diri dari Kekerasan Ekstremisme oleh
Vanessa Noël Brown dan Andrew Kessinger
Vanessa Noël Brown, rekan David L. Boren di Maroko, dan Andrew
Kessinger dari Search for Common Ground, berpendapat bahwa Maroko
memainkan peran dalam hubungan Muslim-Barat, bukan sebagai front baru
terhadap teror, tapi sebagai sekutu dalam perjuangan melawan
intoleransi religius dan ekstremisme.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Mei 2008)
2) Biarkan Diplomasi Teologi AS-Iran Berusaha oleh Uskup John Bryson
Chane
Dua kali mengunjungi Iran, Right Reverend John Bryson Chane, Uskup
episkopal Dioceses Washington, DC, menawarkan sudut pandangnya tentang
bagaimana hubungan AS-Iran bisa dijalin. Mengklaim bahwa "para
politikus telah bersikap kekanak-kanakan", Uskup Chane menegaskan
kebutuhan untuk jenis diplomasi baru sebagai penengah solusi damai
antara kedua negara.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Mei 2008)
3) Putri dan Gadis Facebook oleh Lawrence Pintak
Dalam menyorot kontroversi Facebook di Mesir baru-baru ini, Lawrence
Pintak, Direktur Kamal Adham Center untuk Jurnalisme Elektronik di
American University in Cairo, menggunakan narasi ala dongeng untuk
mengeksplorasi pembatasan pers di Timur Tengah dan Afrika Utara.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Mei 2008)
4) Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim oleh Hisham Hellyer
Dr. H. A. Hellyer, peneliti pada University of Warwick, anggota Pusat
Kajian Islam Oxford, mendekonstuksi Perdebatan Doha terakhir tentang
konflik Sunni-Syiah, yang menegaskan bahwa konflik sesungguhnya
terjadi di lain tempat.
(Sumber: The National, 1 Mei 2008)
5) Forum Musik Dunia "Babel Med Music" oleh David Siebert
Wartawan lepas David Siebert membahas bagaimana musik membawa orang-
orang dari seputaran Mediterania berkumpul di Marseille.
(Sumber: Qantara.de, 2 Mei 2008)
1) Orang Maroko Menjauhkan Diri dari Kekerasan Ekstremisme
Vanessa Noël Brown dan Andrew Kessinger
Rabat – Antara Afghanistan dan Amerika, di persimpangan peradaban
Timur dan Barat, terhampar negara sekutu dalam perang melawan
intoleransi religius dan ekstremisme: Maroko.
Meskipun berita-berita utama menggambarkan wilayah ini sebagai front
baru akan teror, rakyat maroko keberatan negara mereka dianggap
sebagai basis bagi ekstremisme yang berfokus ke Barat dan bertekad
mencegah al Qaeda bersarang di sudut Maghreb ini.
Meskipun negara ini telah menyaksikan bangkitnya ekstremisme kekerasan
selama beberapa tahun terakhir – dari pengeboman kereta api pada tahun
2004 yang dilakukan orang Maroko di Madrid, hingga serangan bunuh diri
berulang-ulang di Casablanca – publik tetap waspada. Di bulan
Februari, pemerintah berwenang berhasil membongkar jaringan
internasional yang berencana membunuh para menteri kabinet, tentara,
dan anggota komunitas Yahudi Maroko.
Sebagai tambahan dalam menghindari kekerasan berdasarkan agama,
masyarakat Maroko dengan bangga menyambut keragaman budaya mereka yang
unik – yang dibangun di atas tradisi lama Arab, Berber, Muslim, dan
Yahudi.
Lebih jauh, Maroko hanya memiliki sedikit kecemasan mengenai ikatan
sejarahnya yang kokoh dengan Barat, sebagai negara pertama yang
mengakui kemerdekaan AS pada 1777. Perasaan itu bersambut; Amerika
juga telah membuktikan komitmen untuk mempromosikan toleransi agama,
perkembangan ekonomi, dan solidaritas antara kedua negara tersebut.
Kini, warga kedua negara itu terus berperan aktif dalam melanjutkan
dialog konstruktif dan kolaboratif lintas Atlantik.
Salah satu prakarsa semacam itu, Institut Amerika-Maroko (AMI),
didirikan pada 2003 untuk meningkatkan ikatan budaya, akademik dan
ekonomi antara AS dan Maroko. AMI memperluas upaya-upaya diplomasi
tradisional dengan memfasilitasi wacana di antara akademisi, pembuat
kebijakan, dan masyarakat sipil mengenai sejumlah isu yang menyoroti
bagaimana Maroko – dengan keragaman tradisinya yang berasal dari
budaya Afrika, Amazigh, Arab, dan Eropa – berbagi nilai-nilai dan
tantangan yang sama dengan Amerika yang multikultur.
Memberantas kekerasan berdasarkan ideologi adalah salah satu kesamaan;
mempromosikan masyarakat pluralistik berdasarkan toleransi agama
adalah kesamaan yang lain. Amat kontras dengan konferensi sangkalan
terhadap Holokaus tahun lalu di Iran – yang meningkatkan ketegangan
antara Yahudi dan Muslim di seluruh dunia – satu lagi pesan penegasan
solidaritas Maroko-Amerika melawan ideologi-ideologi yang didorong
oleh kebencian dan komitmen yang diperbarui terhadap martabat manusia
yang berlangsung bulan lalu.
Pada bulan Maret, AMI memfasilitasi kemitraan antara Perpustakaan
Nasional Maroko dan United States Holocaust Memorial Museum (USHMM)
untuk pertukaran arsip-arsip berkenaan dengan reaksi Maroko terhadap
pembantaian. Pertukaran itu menandai keselarasan formal pertama antara
Museum USHM dan sebuah institusi di negara Arab yang Meyoritas Muslim.
Sebagai tambahan untuk memberikan akses publik ke dokumen-dokumen
sejarah di universitas dan perpustakaan di Maroko, pertukaran itu juga
memberikan isi untuk pameran USHMM di masa depan dan berjanji untuk
menyoroti peran positif Maroko selama Perang Dunia II. Tanpa diketahui
banyak orang, Raja Mohammed V secara aktif melindungi populasi Yahudi
kerajaan itu dari diskriminasi dan deportasi yang dipimpin oleh Nazi.
Upacara penandatanganan 11 Maret yang dilangsungkan di Perpustakaan
Nasional Maroko di Rabat, dihadiri oleh Direktur USHMM, Sara
Bloomfield, Direktur Perpustakaan Nasional Maroko, Driss Khrouz, Duta
Besar AS untuk Maroko, Thomas Riley, dan Penasehat Senior Raja
Mohammed V, André Azoulay.
Azoulay – pejabat tinggi Maroko yang telah menghabiskan waktu puluhan
tahun untuk mempromosikan ko-eksistensi antar agama – secara umum
mengakui bahwa, meskipun secara keyakinan ia Yahudi, dia
mengidentifikasikan dirinya begitu dalam dengan tradisi Muslim
negaranya. Dia juga menambahkan bahwa hal yang sama berlaku
sebaliknya: masyarakat Muslim Maroko telah dan akan terus merangkul
warisan Yahudinya.
Di antara kerangka kerja yang kerap mematahkan semangat tempat dunia
memandang hubungan antar agama, pertukaran sifat ini menawarkan
pandangan sekilas terhadap budaya utama Maroko yang merayakan
keragamannya, dan dengan melakukannya, menjembatani perbedaan Timur-
Barat.
###
* Vanessa Noël Brown adalah Rekanan David L. Boren di Maroko dan
mahasiswa di Institute for Conflict Analysis & Resolution, Universitas
George Mason. Andrew Kessinger bekerja untuk Search for Common Ground.
Keduanya adalah anggota Institut Amerika Maroko. Artikel ini ditulis
untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan aslinya diterbitkan di
kolom On Faith Washington Post/Newsweek.
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 13 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
2) Biarkan Diplomasi Teologi AS-Iran Berusaha
Uskup John Bryson Chane
Washington, DC - Para politikus baik di Iran maupun AS telah memecah-
belah, tak menghargai, dan menghasut dalam saling menyalahkan, yang
berakibat meningkatnya kemungkinan intervensi militer AS oleh Amerika
Serikat. Semenjak Uskup Episkopal Dioceses Washington, DC, yang telah
dua kali bepergian ke Iran dan menemukan persahabatan dan kesamaan
nilai-nilai dengan ulama Iran, saya rasa sudah waktunya bagi pemimpin
keagamaan di kedua negara mengambil inisiatif untuk menemukan solusi
damai terhadap masalah-masalah kompleks yang telah menyerang hubungan
AS-Iran selama bertahun-tahun.
Pemimpin agama di kedua pihak percaya bahwa rekonsiliasi harus datang
dari komunikasi yang saling menghargai. Tapi dialog semacam itu tidak
dapat muncul di lingkungan vakum, atau di lingkungan tempat orang-
orang saling menghujat. Pertaruhannya tinggi di Timur Tengah, dan
suara, serta wacana negatif administrasi politik kedua negara tak akan
melunakkan ketegangan yang meningkat antara kedua negara. Kita harus
merangkul toleransi dan dialog tulus untuk membalikkan tren ini.
Saya sudah dua kali ke Iran, pertama pada tahun 2006 atas undangan
mantan Presiden Khatami. Pada kedatangan kedua baru-baru ini, saya
mengadakan pertemuan selama lima hari dengan para pemimpin akademik
dan agama di Iran yang sangat peduli tentang kemungkinan serangan
militer AS terhadap tanah air mereka. Ketika di Teheran dan Qom, salah
satu kota tersuci di Iran, kami menghabiskan banyak waktu untuk
berdiskusi tentang persamaan nilai-nilai dan tema keagamaan yang lazim
dalam Kristen dan Islam. Persamaan kami terpusat pada masalah-masalah
perdamaian dan larangan moral untuk mengembangkan dan menggunakan
senjata pemusnah massal.
Selain sependapat bahwa para politisi telah bersikap kekanak-kanakan,
saya dan kolega Iran saya juga berpikir bahwa tingkat pengabaian agama
pada masyarakat Kristen dan Muslim sangat tidak membantu memperluas
dialog positif antara dua agama besar monoteis maupun kedua negara
kami.
Pemahaman yang lebih dalam tentang budaya kedua bangsa, juga kerelaan
untuk menghadapi labirin sejarah AS-Iran, merupakan langkah pertama
yang penting.
Iran menggunakan pengembangan energi nuklir dan mengimplikasikan
ketakutan senjata nuklir di masa depan sebagai isu mendesak dalam
hubungannya dengan AS. Dalam pembelaannya, Iran mengatakan bahwa
mereka satu-satunya negara berbahasa Farsi di wilayah negara-negara
Arab. Ribuan tahun lalu ia pernah memiliki kekuasaan besar dan kini,
di abad 21 ini, merupakan pemain yang mulai muncul di Timur Tengah.
Iran mengatakan bahwa masa depannya terancam oleh program nuklir dan
senjata nuklir di wilayah tersebut.
Iran juga bisa melihat sejarah keterlibatan AS yang tak diinginkan
pada urusan dalam negerinya. Penggulingan secara diam-diam Perdana
Menteri yang populer, Mosaddeq, pada 1953, dukungan terhadap Syah yang
tidak populer, dukungan militer AS kepada Sadaam Hussein dalam perang
Irak lawan Iran, dan kegagalan Administrasi Clinton untuk merangkul
munculnya kepemimpinan moderat Presiden Khatami (pada akhirnya
mengarah pada isolasi Khatami oleh pendukung garis keras dalam
pemerintahannya), semuanya merupakan kegagalan menyedihkan dari
kebijakan luar negeri AS.
Pada saat yang sama, AS memiliki hak untuk peduli tentang pernyataan
yang dibuat oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tentang Holokaus
dan eradikasi negara Israel, juga verifikasi senjata anti-personil
yang dibuat di Iran dan penggunaannya oleh militan Syiah Irak terhadap
pasukan AS. Dan kasus sandera 1979, ketika mahasiswa Iran militan
mengambil-alih Kedutaan Besar AS, masih menjadi luka menganga dalam
psikologi orang Amerika.
Banyak dari retorika anti-Israel Iran bisa dihubungkan dengan
kemarahan kepada AS untuk pelanggaran perjanjian parameter pendirian
negara Israel di bawah administrasi Roosevelt dan Truman, serta
pengembangan senjata nuklir Israel tanpa seizin AS. Pandangan bahwa AS
lebih berat ke Israel dalam konflik Israel-Palestina hanya memperparah
perasaan anti-Israel. (Perlu juga dicatat bahwa konsentrasi terbesar
Yahudi di Timur Tengah di luar Israel bisa ditemukan hidup dengan
damai di Iran.)
Tak boleh tidak, para pemimpin agama kedua negara, yang dihargai untuk
kecendekiawanan dan "diplomasi religius" mereka, melanjutkan dialog
teologis mereka yang fokus, tanpa terhalang oleh pembatasan visa yang
kerap dijatuhkan oleh AS dan Iran.
Para anggota korps diplomatik kedua pihak juga perlu mengetahui bahwa
mereka sudah tak mampu menjadi penengah solusi krisis antara kedua
negara saat ini dan bahwa inilah saat bagi solusi kreatif. Pemahaman
baru abad 21 tentang diplomasi Track II, yang diprakarsai melalui
diplomasi teologis, harus seiring-sejalan dengan diplomasi formal
pencarian akan perdamaian yang selalu berada di jantung kitab-kitab
suci Kristen maupun Islam.
###
* Right Reverend John Bryson Chane, D.D. adalah Uskup Episkopal
Dioceses Washington, DC. Dia dijuluki sebagai 150 pemimpin paling
berpengaruh di Distrik Kolombia oleh Washington Magazine. Artikel ini
ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 13 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
3) Putri dan Gadis Facebook
Lawrence Pintak
Kairo – Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan yang amat jauh,
tinggallah seorang putri cantik bernama Rym. Tapi sang putri sedang
bersedih hati, karena suara rakyatnya hanyalah bisikan semata. Sang
putri sungguh-sungguh ingin mendengar nyanyian di desa, mendengar
teriakan kota menyerukan kabar dari gedung tertinggi.
Tapi kekuatan jahat berkonspirasi melawan sang putri. Diketahui, dalam
rombongan raja sendiri terdapat orang-orang yang terlihat tunduk, tapi
diam-diam berencana menghancurkan mimpi sang putri.
Dengan sungguh-sungguh, sang putri mengumumkan kepada semua orang
tentang mimpi Utopianya "menyingkap selubung" dari subyeknya dan
menciptakan "jalan terhadap pemahaman" di antara orang-orang. Namun di
antara mereka yang terpesona oleh kata-katanya duduk seorang penulis
yang akan dihukum buang ke penjara bawah tanah karena keberaniannya
mengatakan tentang tindakan pengecut di antara para penguasa.
Tapi di kerajaan tetangga, hiduplah raja hitam dan menyedihkan yang
tidak sabar dengan putri-putri yang punya keinginan, dan bahkan lebih
tak sabar lagi kepada para pria yang memegang pena elektronik melawan
pedang bajanya. Penjara bawah tanahnya penuh dengan mereka yang
mengangkat suara untuk menentangnya, dan suatu ketika, di antara para
tawanan itu, ia memasukan seseorang yang kemudian dikenal sebagai
Gadis Facebook.
Berdiri di pusat kota elektronik, pemudi berani ini menyatakan bahwa
sang kaisar tak berpakaian, dan dengan segera menukar hukuman penjara
dengan gadis itu.
Para penguasa negeri tetangga berpihak pada pangeran hitam itu. Suatu
hari, mereka menuliskan piagam kerajaan yang menyatakan "hukuman
penggal" bagi jelata yang berani mempertanyakan peraturan mereka yang
lunak.
Para petani memberontak. Terutama mereka yang memiliki kamera televisi
dan koneksi internet….
Sayangnya, seperti yang disorot laporan terkini Freedom House,
hubungan antara media dan negara di Timur Tengah dan Afrika Utara
bukanlah dongeng. Tak satu pun negara Arab yang memiliki pers yang
bisa dikategorikan "bebas." Untuk setiap langkah maju, selalu ada
sedikitnya satu langkah mundur. Untuk setiap pejabat yang berkomitmen
melonggarkan kendali, selalu ada tuntuntan pengacara atau oknum polisi
dengan tongkat berlumur darah. Siksaannya mungkin sudah jadi sejarah,
tapi pemeriksaan elektrik merupakan alat persuasi yang lebih disukai
saat ini.
Kontras antara Putri Rym al-Ali, saudara ipar raja Yordania, dan
kesedihan Esraa Abdel Fattah, 27 tahun, "Gadis Facebook" Mesir, dengan
ringkas menyimpulkan kontradiksi yang melekat dalam hubungan
pemerintah-media di dunia Arab.
Putri Rym, mantan koresponden CNN, sedang berusaha mendirikan sekolah
tinggi jurnalisme berbahasa Arab yang pertama di wilayah tersebut.
Sementara itu, Gadis Facebook, menemukan dirinya ditangkap oleh
petugas keamanan Mesir setelah mendirikan kelompok pada situs jaringan
sosial populer yang menarik 75.000 anggota dan bertindak sebagai bunga
api atas demonstrasi terhadap Presiden Husni Mubarak baru-baru ini.
Memandang rendah – dan ketakutan akan – media di banyak rezim Arab
bisa dilihat dalam ukuran perlengkapan uplink satelit, pemblokiran
situs web, dan tuan rumah atas meningkatnya upaya untuk mengalahkan
jin media dan mengembalikannya ke dalam botol.
Piagam Penyiaran Satelit Arab yang baru memungkinkan pemerintah untuk
menutup saluran televisi yang dinilai ofensif. Liga Arab mengklaim
bahwa mereka mengarahkan pada saluran pemuda politik Islam radikal,
tapi rezim Mubarak tidak membuang waktu untuk menutup saluran oposisi
berbasis di London, meruntuhkan klaim tersebut.
Piagam tersebut merupakan lambang dari derajat di mana pemerintah Arab
berjuang mengatasi hiruk-pikuk kritisisme yang merembes ke dalam
negara mereka melalui televisi satelit, internet, dan SMS. Lawan tidak
saja sekadar berkumpul, kini mereka "berkicau." Mencekal kamera
televisi tidak lagi cukup ketika setiap ponsel merupakan senjata
potensial dalam perang media. Situs jaringan sosial di mana gadis-
gadis berusia 12 tahun saling bertukar rahasia riasan telah menjadi
tempat lahirnya revolusi.
Efek riak media menciptakan gelombang informasi, menerobos dinding-
dinding penyensoran yang dengannya para pemimpin Arab telah
mempertahankan kastil mereka sejak lama. Setiap kisah baru tentang
ketidakpuasan publik menguatkan yang terakhir.
Tapi, hati-hati juga terhadap para ksatria putih. Tanyakan saja pada
kameramen Al-Jazeera, Sami al-Hajj, yang akhirnya dibebaskan setelah
enam tahun dipenjara di Guantanamo Bay, dan fotografer Associated
Press, Bilal Hussein, yang menghabiskan 735 hari dalam penjara Amerika
di Irak. Tak ada bukti, Tak ada tuntutan, tak ada pengadilan pada
kedua kasus tersebut.
Tampaknya masih jauh bagi para jurnalis Arab bisa hidup bahagia
selamanya.
###
*Lawrence Pintak adalah direktur Kamal Adham Center untuk Jurnalisme
Elektronik di American University in Cairo dan penerbit/co-editor
www.ArabMediaSociety.org. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan tulisan aslinya diterbitkan di kolom Post
Global Washington Post/ Newsweek.
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 13 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
4) Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim
Hisham Hellyer
Oxford, Inggris – BBC World belum lama ini menyiarkan Perdebatan Doha
tentang usulan "Konflik Sunni-Syiah merusak reputasi Islam sebagai
sebuah agama damai ". Topik tersebut sudah waktunya dibicarakan;
sebuah topik yang sangat penting saat ini, karena ia adalah sebuah
pertanyaan yang hanya dapat diajukan sekarang. Bukan karena perpecahan
Sunni-Syiah merupakan sebuah fenomena baru: ia adalah sebuah
perpecahan yang telah berumur dan memiliki sejarah panjang, yang
muncul sebagai sebuah perpecahan politis, yang kemudian menjadi
bernuansa keagamaan. Tetapi sekarang merupakan saat ketika unsur
politisnya telah menyebabkan perpecahan tersebut menjadi begitu
dahsyat.
Saya mengakui hal itu, tetapi saya berbicara berlawanan dengan usulan
di Doha tersebut, karena perusakan terhadap reputasi Islam lebih
disebabkan oleh sensasionalisme media, dan pemusatan perhatian atas
kekerasan Muslim secara umum, daripada kekerasan Sunni-Syiah. Tetapi
usulan tersebut bagi saya membawa ke pertanyaan lain: di tengah
konflik Sunni-Syiah yang ada di beberapa kantung dunia Muslim, apa
yang dapat kita gambarkan tentang Islam sesungguhnya atau apa yang
sesungguhnya bukan Islam?
Mari kita terbuka: umat Muslim tidak selalu bersepakat tentang segala
hal. Kaum Sunni sendiri memiliki empat mazhab yang diakui, dan Syiah
memiliki tradisi khusus pembentukan keortodoksan. Dalam kedua
pengelompokan tersebut, ada konsep penghormatan terhadap perbedaan
pendapat, yang harus dirayakan dan dihargai dalam setiap kelompok.
Dalam diskusi-diskusi antara Sunni-Syiah, konsep tersebut mengambil
nada yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut ditenggang rasa dengan
keengganan, tetapi dengan sebuah persyaratan penting: kedua kelompok
tersebut sama-sama Muslim.
Para teolog Islam Sunni sejak lama telah menetapkan "posisi yang dapat
dipercaya" bagi umat Sunni bahwa umat Syiah sesungguhnya adalah sebuah
masyarakat Muslim. Status "yang dapat dipercaya" adalah sejenis
kedudukan ortodoks tertentu; sesuatu yang sulit untuk ditentukan,
mengingat keragaman dalam Islam Sunni. Tetapi dalam isu ini, hal
tersebut telah ditetapkan, dan telah menjadi bagian dari keortodoksan
sejarah yang begitu mencirikan Islam Sunni. Di pihak Syiah, hal yang
sama umumnya berlaku: umat Sunni mungkin disalahpahami, kata para
ulama, dan pandangan-pandangan mereka tentang Islam mungkin salah,
tetapi mereka tetap Muslim.
Dengan pertumbuhan gerakan Wahhabi di Najd Arab Saudi, ketegangan-
ketegangan tersebut semakin nyata (tidak hanya bagi kaum Syiah, tetapi
bagi kaum Muslim bukan-Wahhabi), tetapi tidak pernah sampai menjadi
kekerasan ekstrim seperti yang kita saksikan sekarang. Bahkan para
penguasa Wahhabi yang paling puritan sekalipun tidak melarang umat
Syiah datang ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan haji.
Beberapa tahun lalu, semakin menjadi jelas bagi para pemimpin Kerajaan
Hashemit dari Yordania bahwa pemisahan yang telah sama-sama dianut
kaum Sunni dan Syiah terancam bahaya penyalahgunaan oleh pihak-pihak
luar untuk membenarkan kekerasan, seperti yang telah menimpa umat
Kristen. Namun, tidak seperti dunia Kristen tempat perang-perang
keagamaan sejati berlangsung – seperti yang terjadi antara umat
Kristen dan Protestan – dunia Muslim menempuh jalur yang tak pernah
dilalui sebelumnya. Dengan melihat ideologi al Qaeda sebagai sebuah
ancaman bagi ko-eksistensi Sunni dan Syiah di Irak dan di mana pun,
para cendikiawan Muslim, baik yang beraliran Sunni maupun Syiah,
berkumpul bersama untuk menghalangi ideologi tersebut.
Para cendikiawan tersebut menciptakan sebuah kerangka tempat ratusan
cendikiawan paling terkemuka dari dunia Muslim, Sunni, dan Syiah,
termasuk al-Habib Ali al-Jifri dari Yayasan Tabah Abu Dhabi,
memutuskan bahwa "cukup sampai di sini". Mereka menyatakan bahwa kaum
Sunni dan Syiah adalah umat Muslim, dan bahwa kekerasan seharusnya
tidak pernah terjadi di antara mereka. Itu merupakan sebuah kerangka
kesatuan untuk mengalahkan nihilisme bernaluri pembunuh yang dijual al
Qaeda. Kerangka itu disebut Pesan Amman (www.ammanmessage.com), dan
ditandatangani pada bulan Juli 2005. Sejak saat itu, ratusan lagi
telah menandatangani deklarasi tersebut secara online.
Beberapa bulan kemudian, al Qaeda menyatakan perang habis-habisan
terhadap umat Syiah Irak, tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah Muslim. Dua bulan setelah itu, ia menetapkan Amman sebagai
sasaran dalam sebuah pembunuhan massal besar-besaran terhadap orang-
orang tak berdosa. Tetapi itu gagal menghentikan momentum. Banyak
orang dari seluruh dunia menandatangani Pesan Amman yang asli, dan
mengembangkan versi lokal mereka. Para pemimpin Politik di dunia Sunni
dan Syiah berbicara dengan jelas, baik dari kalangan Wahhabi Arab
Saudi atau umat Syiah Iran yang setia: keduanya mungkin berbeda satu
sama lain, tetapi mereka tidak akan membiarkan siapa pun, entah al
Qaeda entah siapa pun, Muslim atau non-Muslim, mengadu domba Sunni
melawan Syiah, atau sebaliknya.
Secara pribadi, saya tidak begitu tertarik dengan apakah Islam
didefinisikan sebagai sebuah agama damai, atau agama perang, atau apa
pun juga. Yang lebih penting adalah bahwa kita memperoleh definisi
yang memenuhi syarat dan memiliki kewenangan. Banyak yang mencoba
untuk merebut kewenangan tersebut: para ahli Amerika, ekstremis
radikal, Anda boleh pilih. Tetapi apa yang harus kita lakukan adalah
menyadari siapa yang telah memiliki kewenangan itu.
Definisi-definisi tersebut diuraikan oleh para ahli beragama Islam
sendiri: para cendikiawan, ulama, ahli fiqih dan spiritualis, yang
memperbarui sikap mereka melalui Pesan Amman dan berkata kepada satu
sama lain: "Kita mungkin berbeda satu dengan yang lain, tetapi
perbedaan-perbedaan itu seharusnya tidak pernah menjadi penyebab
kekerasan." Al Qaeda di Irak membalas dengan mencoba memaksakan
otoritas keagamaan mereka sendiri.
Bagi kita semua, pilihannya sederhana. Apakah kita mengakui bahwa para
radikal penuh kekerasan tersebut dapat menggambarkan Islam dengan
amarah berdarah mereka? Atau akankah kita mengirimkan pesan kepada
mereka bahwa tak peduli betapa kerasnya usaha mereka – di Amman, di
dunia Muslim, di New York, di London, di Madrid, atau di mana pun –
para ekstremis kriminal tidak akan pernah memiliki otoritas untuk
mendefinisikan apapun?
Saya tahu apa yang akan saya katakan keapda mereka: "Anda akan kalah.
Peradaban akan menang."
Perdebatan Doha diarsipkan di http://clients.mediaondemand.net/thedohadebates.
###
* Dr. H. A. Hellyer adalah peneliti pada University of Warwick,
anggota Pusat Kajian Islam Oxford, dan direktur pendiri Visionary
Consultants Group, (www.visionaryconsultantsgroup.com), sebuah
konsultan hubungan dunia Muslim-Barat. Artikel ini disebarluaskan oleh
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: The National, 1 Mei 2008, www.thenasional.ae
Telah memperoleh hak cipta.
5) Forum Musik Dunia "Babel Med Music"
David Siebert
Bonn, Germany – Siapapun yang berjalan melalui jalanan Marseille akan
mendengar bahasa dan musik dari setiap sudut dunia. Hanya beberapa
langkah dari La Canebière, jalan utama kota yang megah dan baru
diperbarui, Anda dapat salah sangka sedang berada di Afrika Utara. Di
gang-gang jalan yang gelap dan sempit, toko-toko Arab berjejer
berdampingan satu sama lain dan musik menggerung dari pengeras suara.
Sami Sadak, seorang ahli musik etnis Turki dan direktur artistik
"Babel Med Music," menganggap Marseille sebagai tempat yang ideal
untuk mementaskan sebuah festival musik dunia.
"Selama berabad-abad, Marseille telah menjadi tujuan para imigran dari
seluruh wilayah Mediterania. Tak seorangpun hidup terasing di sini.
Orang tidak menganggap diri mereka sebagai bangsa Prancis, Aljazair,
atau Maroko, tetapi yang pertama dan terutama sebagai warga kota
Marseille."
Selama empat tahun sejak pertama berlangsung, "Babel Med Music" telah
berkembang menjadi forum musik dunia Eropa terpenting setelah WOMEX
(World Music Expo) di kota Seville, Spanyol.
Selama tiga hari penuh di akhir bulan Maret, forum tersebut
menampilkan lebih dari 100 produser, perusahaan rekaman, dan
penyelenggara konser dan tur dari seluruh dunia ke hadapan penonton
internasional. Setiap malam, pintu dibuka bagi masyarakat luas.
Programnya adalah sebuah konser maraton yang menampilkan 30 kelompok
musik yang sebelumnya tidak terlalu dikenal di Eropa.
Yang diwakili adalah keluasan ragam budaya musik mulai dari ansambel
tradisional dari Mesir dan Yunani hingga para DJ. DJ Malian Mo,
misalnya, menawarkan sebuah campuran elektronik baru musik tradisional
Arab dan Afrika, yang menciptakan sebuah jawaban cerdas Afrika bagi
MTV.
Pusat perhatian festival ini adalah wilayah Mediterania. "Negara-
negara seperti Turki, dengan kancah musiknya yang begitu kaya, akan
terus memperoleh tempat yang sangat berarti," kata Helmut Bürgel,
direktur artistik Stimmen Festival di kota selatan Jerman, Lörrach,
dan anggota juri penyeleksi "Babel Med Music."
"Kita akan menghukum diri kita sendiri sebagai bangsa Eropa jika tidak
dapat mengatasi perbedaan artistik yang memisahkan kita dari budaya
Arab," tegas Bürgel. "Hanya dalam beberapa tahun, pertemuan budaya
Turki dan Arab akan menjadi hal yang biasa buat kita."
Peniup terompet kelahiran Lebanon Ibrahim Maalouf menunjukkan
bagaimana pertemuan antarbudaya ini dapat berfungsi. Pemusik yang
terlatih secara klasik ini mencuat dengan aksentuasi Arabnya yang
tidak biasa, dan bersama dengan kelompok musik fusi jazz -nya, telah
menarik antusiasme penonton.
Lokasi tontonan musik tiga hari tersebut adalah bekas sebuah daerah
pelabuhan "Docks de Sud." Secara keseluruhan, bangunan-bangunan baru
dan menara-menara perkantoran raksasa sedang dibangun. Marseille
menemukan dirinya di tengah proses Euromed, sebuah program yang
disponsori oleh Uni Eropa yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama
antara negara-negara Mediterania.
Saat ini, kota tersebut kelihatan seperti sebuah lokasi pembangunan
yang besar dan berlangsung tak kenal berhenti. Tiga miliar euro telah
disediakan bagi megaproyek-megaproyek tersebut oleh Prancis, UE, dan
para penanam modal swasta. Euromed membayangkan Marseille sebagai
"gerbang di selatan" dan sebuah pusat perekonomian masa depan. Ini
merupakan sebuah peluang besar bagi Marseille. Ia telah siap merebut
gelar "Ibukota Budaya Eropa" pada tahun 2013.
Sami Sadak melihat "Babel Med" sebagai sebuah "pemacu penting bagi
peremajaan kota. Banyaknya pengunjung memperkuat perekonomian. Dan
para penduduk kota dapat menemukan kelompok-kelompok musik baru yang
sebelumnya tidak dikenal, yang biasanya baru pertama kali tampil di
Prancis!"
Yang juga perlu disorot dari festival ini adalah kehadiran pemain
suling flut Mamar Kassey. Dalam sebuah babak diskusi tentang produksi
dan kondisi kerja bagi para musisi, ia menceritakan pengalaman di
negara asalnya, Niger. Selama bertahun-tahun, ia hanya menghasilkan
2,50 euro sebulan sebagai seorang anggota dari sebuah kelompok tari.
Entah itu festival hip-hop orang muda dari Dakar, sebuah perusahaan
rekaman musik dunia yang mengkhususkan diri dalam Tuareg kitsch, atau
jaringan klab musik akar rumput ARCI, suasana hati para peserta
festival mencerminkan rasa optimisme.
Seperti yang belum lama ini dilaporkan Le Monde, kancah musik dunia,
dibandingkan dengan seluruh industri musik, menikmati ruang-ruang
konser yang penuh. CD-CD musik dunia yang serius jarang melewati angka
20.000 keping, namun penjualannya terus bertahan.
Ini karena saluran-saluran distribusi alternatif digunakan. Toko-toko
khusus, prakarsa-prakarsa independen, dan masyarakat-masyarakat etnis
memainkan peran sangat penting dalam mempopulerkan musik.
Kiprah musik lokal, seperti sebuah paduan suara perempuan yang
bernyanyi dalam bahasa Occitan, juga ikut andil dalam forum"Babel Med
Music".
"Penting artinya bahwa sebuah forum internasional mempertahankan
akarnya di wilayah," kata Helmut Bürgel. "Jumlah orang dari Marseille
yang menyaksikan konser-konser tersebut sama banyaknya dengan para
pengunjung profesional dari kalangan industri musik."
Terlepas dari apakah Marseille terus menjadi lokasi yang ideal bagi
"Babel Med Music" masih harus dilihat. Pembangunan dalam kota dengan
cepat mengubah wajah kota. Banyak dari penduduk-penduduk miskinnya
yang berasal dari keturunan Afrika Utara dipaksa untuk pindah. Namun,
kantor-kantor dan apartemen-apartemen mewah sedang bermunculan.
Marseille sedang terancam bahaya kehilangan reputasinya sebagai sebuah
kota dengan sebuah identitas multibudaya.
###
* David Siebert adalah seorang wartawan lepas. Ringkasan artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org. Tulisan selengkapnya dapat dibaca
di www.qantara.de.
Sumber: Qantara.de, 2 Mei 2008, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.
Pandangan Kaum Muda
CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Nancy Batakji (nancybatakji@gmail.com)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.
Tentang CGNews-MK
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.
Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.
Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.
Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.
Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718
Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033
Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org
Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)
Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)
CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%%
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.