Monday, May 19, 2008

[Berpikir Bebas 763] Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim oleh Hisham Hellyer

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

16 - 22 Mei 2008

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Orang Maroko Menjauhkan Diri dari Kekerasan Ekstremisme oleh
Vanessa Noël Brown dan Andrew Kessinger
Vanessa Noël Brown, rekan David L. Boren di Maroko, dan Andrew
Kessinger dari Search for Common Ground, berpendapat bahwa Maroko
memainkan peran dalam hubungan Muslim-Barat, bukan sebagai front baru
terhadap teror, tapi sebagai sekutu dalam perjuangan melawan
intoleransi religius dan ekstremisme.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Mei 2008)

2) Biarkan Diplomasi Teologi AS-Iran Berusaha oleh Uskup John Bryson
Chane
Dua kali mengunjungi Iran, Right Reverend John Bryson Chane, Uskup
episkopal Dioceses Washington, DC, menawarkan sudut pandangnya tentang
bagaimana hubungan AS-Iran bisa dijalin. Mengklaim bahwa "para
politikus telah bersikap kekanak-kanakan", Uskup Chane menegaskan
kebutuhan untuk jenis diplomasi baru sebagai penengah solusi damai
antara kedua negara.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Mei 2008)

3) Putri dan Gadis Facebook oleh Lawrence Pintak
Dalam menyorot kontroversi Facebook di Mesir baru-baru ini, Lawrence
Pintak, Direktur Kamal Adham Center untuk Jurnalisme Elektronik di
American University in Cairo, menggunakan narasi ala dongeng untuk
mengeksplorasi pembatasan pers di Timur Tengah dan Afrika Utara.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Mei 2008)

4) Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim oleh Hisham Hellyer
Dr. H. A. Hellyer, peneliti pada University of Warwick, anggota Pusat
Kajian Islam Oxford, mendekonstuksi Perdebatan Doha terakhir tentang
konflik Sunni-Syiah, yang menegaskan bahwa konflik sesungguhnya
terjadi di lain tempat.
(Sumber: The National, 1 Mei 2008)

5) Forum Musik Dunia "Babel Med Music" oleh David Siebert
Wartawan lepas David Siebert membahas bagaimana musik membawa orang-
orang dari seputaran Mediterania berkumpul di Marseille.
(Sumber: Qantara.de, 2 Mei 2008)


1) Orang Maroko Menjauhkan Diri dari Kekerasan Ekstremisme
Vanessa Noël Brown dan Andrew Kessinger

Rabat – Antara Afghanistan dan Amerika, di persimpangan peradaban
Timur dan Barat, terhampar negara sekutu dalam perang melawan
intoleransi religius dan ekstremisme: Maroko.

Meskipun berita-berita utama menggambarkan wilayah ini sebagai front
baru akan teror, rakyat maroko keberatan negara mereka dianggap
sebagai basis bagi ekstremisme yang berfokus ke Barat dan bertekad
mencegah al Qaeda bersarang di sudut Maghreb ini.

Meskipun negara ini telah menyaksikan bangkitnya ekstremisme kekerasan
selama beberapa tahun terakhir – dari pengeboman kereta api pada tahun
2004 yang dilakukan orang Maroko di Madrid, hingga serangan bunuh diri
berulang-ulang di Casablanca – publik tetap waspada. Di bulan
Februari, pemerintah berwenang berhasil membongkar jaringan
internasional yang berencana membunuh para menteri kabinet, tentara,
dan anggota komunitas Yahudi Maroko.

Sebagai tambahan dalam menghindari kekerasan berdasarkan agama,
masyarakat Maroko dengan bangga menyambut keragaman budaya mereka yang
unik – yang dibangun di atas tradisi lama Arab, Berber, Muslim, dan
Yahudi.

Lebih jauh, Maroko hanya memiliki sedikit kecemasan mengenai ikatan
sejarahnya yang kokoh dengan Barat, sebagai negara pertama yang
mengakui kemerdekaan AS pada 1777. Perasaan itu bersambut; Amerika
juga telah membuktikan komitmen untuk mempromosikan toleransi agama,
perkembangan ekonomi, dan solidaritas antara kedua negara tersebut.
Kini, warga kedua negara itu terus berperan aktif dalam melanjutkan
dialog konstruktif dan kolaboratif lintas Atlantik.

Salah satu prakarsa semacam itu, Institut Amerika-Maroko (AMI),
didirikan pada 2003 untuk meningkatkan ikatan budaya, akademik dan
ekonomi antara AS dan Maroko. AMI memperluas upaya-upaya diplomasi
tradisional dengan memfasilitasi wacana di antara akademisi, pembuat
kebijakan, dan masyarakat sipil mengenai sejumlah isu yang menyoroti
bagaimana Maroko – dengan keragaman tradisinya yang berasal dari
budaya Afrika, Amazigh, Arab, dan Eropa – berbagi nilai-nilai dan
tantangan yang sama dengan Amerika yang multikultur.

Memberantas kekerasan berdasarkan ideologi adalah salah satu kesamaan;
mempromosikan masyarakat pluralistik berdasarkan toleransi agama
adalah kesamaan yang lain. Amat kontras dengan konferensi sangkalan
terhadap Holokaus tahun lalu di Iran – yang meningkatkan ketegangan
antara Yahudi dan Muslim di seluruh dunia – satu lagi pesan penegasan
solidaritas Maroko-Amerika melawan ideologi-ideologi yang didorong
oleh kebencian dan komitmen yang diperbarui terhadap martabat manusia
yang berlangsung bulan lalu.

Pada bulan Maret, AMI memfasilitasi kemitraan antara Perpustakaan
Nasional Maroko dan United States Holocaust Memorial Museum (USHMM)
untuk pertukaran arsip-arsip berkenaan dengan reaksi Maroko terhadap
pembantaian. Pertukaran itu menandai keselarasan formal pertama antara
Museum USHM dan sebuah institusi di negara Arab yang Meyoritas Muslim.

Sebagai tambahan untuk memberikan akses publik ke dokumen-dokumen
sejarah di universitas dan perpustakaan di Maroko, pertukaran itu juga
memberikan isi untuk pameran USHMM di masa depan dan berjanji untuk
menyoroti peran positif Maroko selama Perang Dunia II. Tanpa diketahui
banyak orang, Raja Mohammed V secara aktif melindungi populasi Yahudi
kerajaan itu dari diskriminasi dan deportasi yang dipimpin oleh Nazi.

Upacara penandatanganan 11 Maret yang dilangsungkan di Perpustakaan
Nasional Maroko di Rabat, dihadiri oleh Direktur USHMM, Sara
Bloomfield, Direktur Perpustakaan Nasional Maroko, Driss Khrouz, Duta
Besar AS untuk Maroko, Thomas Riley, dan Penasehat Senior Raja
Mohammed V, André Azoulay.

Azoulay – pejabat tinggi Maroko yang telah menghabiskan waktu puluhan
tahun untuk mempromosikan ko-eksistensi antar agama – secara umum
mengakui bahwa, meskipun secara keyakinan ia Yahudi, dia
mengidentifikasikan dirinya begitu dalam dengan tradisi Muslim
negaranya. Dia juga menambahkan bahwa hal yang sama berlaku
sebaliknya: masyarakat Muslim Maroko telah dan akan terus merangkul
warisan Yahudinya.

Di antara kerangka kerja yang kerap mematahkan semangat tempat dunia
memandang hubungan antar agama, pertukaran sifat ini menawarkan
pandangan sekilas terhadap budaya utama Maroko yang merayakan
keragamannya, dan dengan melakukannya, menjembatani perbedaan Timur-
Barat.

###

* Vanessa Noël Brown adalah Rekanan David L. Boren di Maroko dan
mahasiswa di Institute for Conflict Analysis & Resolution, Universitas
George Mason. Andrew Kessinger bekerja untuk Search for Common Ground.
Keduanya adalah anggota Institut Amerika Maroko. Artikel ini ditulis
untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan aslinya diterbitkan di
kolom On Faith Washington Post/Newsweek.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 13 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


2) Biarkan Diplomasi Teologi AS-Iran Berusaha
Uskup John Bryson Chane

Washington, DC - Para politikus baik di Iran maupun AS telah memecah-
belah, tak menghargai, dan menghasut dalam saling menyalahkan, yang
berakibat meningkatnya kemungkinan intervensi militer AS oleh Amerika
Serikat. Semenjak Uskup Episkopal Dioceses Washington, DC, yang telah
dua kali bepergian ke Iran dan menemukan persahabatan dan kesamaan
nilai-nilai dengan ulama Iran, saya rasa sudah waktunya bagi pemimpin
keagamaan di kedua negara mengambil inisiatif untuk menemukan solusi
damai terhadap masalah-masalah kompleks yang telah menyerang hubungan
AS-Iran selama bertahun-tahun.

Pemimpin agama di kedua pihak percaya bahwa rekonsiliasi harus datang
dari komunikasi yang saling menghargai. Tapi dialog semacam itu tidak
dapat muncul di lingkungan vakum, atau di lingkungan tempat orang-
orang saling menghujat. Pertaruhannya tinggi di Timur Tengah, dan
suara, serta wacana negatif administrasi politik kedua negara tak akan
melunakkan ketegangan yang meningkat antara kedua negara. Kita harus
merangkul toleransi dan dialog tulus untuk membalikkan tren ini.
Saya sudah dua kali ke Iran, pertama pada tahun 2006 atas undangan
mantan Presiden Khatami. Pada kedatangan kedua baru-baru ini, saya
mengadakan pertemuan selama lima hari dengan para pemimpin akademik
dan agama di Iran yang sangat peduli tentang kemungkinan serangan
militer AS terhadap tanah air mereka. Ketika di Teheran dan Qom, salah
satu kota tersuci di Iran, kami menghabiskan banyak waktu untuk
berdiskusi tentang persamaan nilai-nilai dan tema keagamaan yang lazim
dalam Kristen dan Islam. Persamaan kami terpusat pada masalah-masalah
perdamaian dan larangan moral untuk mengembangkan dan menggunakan
senjata pemusnah massal.

Selain sependapat bahwa para politisi telah bersikap kekanak-kanakan,
saya dan kolega Iran saya juga berpikir bahwa tingkat pengabaian agama
pada masyarakat Kristen dan Muslim sangat tidak membantu memperluas
dialog positif antara dua agama besar monoteis maupun kedua negara
kami.

Pemahaman yang lebih dalam tentang budaya kedua bangsa, juga kerelaan
untuk menghadapi labirin sejarah AS-Iran, merupakan langkah pertama
yang penting.

Iran menggunakan pengembangan energi nuklir dan mengimplikasikan
ketakutan senjata nuklir di masa depan sebagai isu mendesak dalam
hubungannya dengan AS. Dalam pembelaannya, Iran mengatakan bahwa
mereka satu-satunya negara berbahasa Farsi di wilayah negara-negara
Arab. Ribuan tahun lalu ia pernah memiliki kekuasaan besar dan kini,
di abad 21 ini, merupakan pemain yang mulai muncul di Timur Tengah.
Iran mengatakan bahwa masa depannya terancam oleh program nuklir dan
senjata nuklir di wilayah tersebut.

Iran juga bisa melihat sejarah keterlibatan AS yang tak diinginkan
pada urusan dalam negerinya. Penggulingan secara diam-diam Perdana
Menteri yang populer, Mosaddeq, pada 1953, dukungan terhadap Syah yang
tidak populer, dukungan militer AS kepada Sadaam Hussein dalam perang
Irak lawan Iran, dan kegagalan Administrasi Clinton untuk merangkul
munculnya kepemimpinan moderat Presiden Khatami (pada akhirnya
mengarah pada isolasi Khatami oleh pendukung garis keras dalam
pemerintahannya), semuanya merupakan kegagalan menyedihkan dari
kebijakan luar negeri AS.

Pada saat yang sama, AS memiliki hak untuk peduli tentang pernyataan
yang dibuat oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tentang Holokaus
dan eradikasi negara Israel, juga verifikasi senjata anti-personil
yang dibuat di Iran dan penggunaannya oleh militan Syiah Irak terhadap
pasukan AS. Dan kasus sandera 1979, ketika mahasiswa Iran militan
mengambil-alih Kedutaan Besar AS, masih menjadi luka menganga dalam
psikologi orang Amerika.

Banyak dari retorika anti-Israel Iran bisa dihubungkan dengan
kemarahan kepada AS untuk pelanggaran perjanjian parameter pendirian
negara Israel di bawah administrasi Roosevelt dan Truman, serta
pengembangan senjata nuklir Israel tanpa seizin AS. Pandangan bahwa AS
lebih berat ke Israel dalam konflik Israel-Palestina hanya memperparah
perasaan anti-Israel. (Perlu juga dicatat bahwa konsentrasi terbesar
Yahudi di Timur Tengah di luar Israel bisa ditemukan hidup dengan
damai di Iran.)

Tak boleh tidak, para pemimpin agama kedua negara, yang dihargai untuk
kecendekiawanan dan "diplomasi religius" mereka, melanjutkan dialog
teologis mereka yang fokus, tanpa terhalang oleh pembatasan visa yang
kerap dijatuhkan oleh AS dan Iran.

Para anggota korps diplomatik kedua pihak juga perlu mengetahui bahwa
mereka sudah tak mampu menjadi penengah solusi krisis antara kedua
negara saat ini dan bahwa inilah saat bagi solusi kreatif. Pemahaman
baru abad 21 tentang diplomasi Track II, yang diprakarsai melalui
diplomasi teologis, harus seiring-sejalan dengan diplomasi formal
pencarian akan perdamaian yang selalu berada di jantung kitab-kitab
suci Kristen maupun Islam.

###

* Right Reverend John Bryson Chane, D.D. adalah Uskup Episkopal
Dioceses Washington, DC. Dia dijuluki sebagai 150 pemimpin paling
berpengaruh di Distrik Kolombia oleh Washington Magazine. Artikel ini
ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 13 Mei 2008, www.commongroundnews.org

Telah memperoleh hak cipta.


3) Putri dan Gadis Facebook
Lawrence Pintak

Kairo – Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan yang amat jauh,
tinggallah seorang putri cantik bernama Rym. Tapi sang putri sedang
bersedih hati, karena suara rakyatnya hanyalah bisikan semata. Sang
putri sungguh-sungguh ingin mendengar nyanyian di desa, mendengar
teriakan kota menyerukan kabar dari gedung tertinggi.

Tapi kekuatan jahat berkonspirasi melawan sang putri. Diketahui, dalam
rombongan raja sendiri terdapat orang-orang yang terlihat tunduk, tapi
diam-diam berencana menghancurkan mimpi sang putri.

Dengan sungguh-sungguh, sang putri mengumumkan kepada semua orang
tentang mimpi Utopianya "menyingkap selubung" dari subyeknya dan
menciptakan "jalan terhadap pemahaman" di antara orang-orang. Namun di
antara mereka yang terpesona oleh kata-katanya duduk seorang penulis
yang akan dihukum buang ke penjara bawah tanah karena keberaniannya
mengatakan tentang tindakan pengecut di antara para penguasa.

Tapi di kerajaan tetangga, hiduplah raja hitam dan menyedihkan yang
tidak sabar dengan putri-putri yang punya keinginan, dan bahkan lebih
tak sabar lagi kepada para pria yang memegang pena elektronik melawan
pedang bajanya. Penjara bawah tanahnya penuh dengan mereka yang
mengangkat suara untuk menentangnya, dan suatu ketika, di antara para
tawanan itu, ia memasukan seseorang yang kemudian dikenal sebagai
Gadis Facebook.

Berdiri di pusat kota elektronik, pemudi berani ini menyatakan bahwa
sang kaisar tak berpakaian, dan dengan segera menukar hukuman penjara
dengan gadis itu.

Para penguasa negeri tetangga berpihak pada pangeran hitam itu. Suatu
hari, mereka menuliskan piagam kerajaan yang menyatakan "hukuman
penggal" bagi jelata yang berani mempertanyakan peraturan mereka yang
lunak.

Para petani memberontak. Terutama mereka yang memiliki kamera televisi
dan koneksi internet….

Sayangnya, seperti yang disorot laporan terkini Freedom House,
hubungan antara media dan negara di Timur Tengah dan Afrika Utara
bukanlah dongeng. Tak satu pun negara Arab yang memiliki pers yang
bisa dikategorikan "bebas." Untuk setiap langkah maju, selalu ada
sedikitnya satu langkah mundur. Untuk setiap pejabat yang berkomitmen
melonggarkan kendali, selalu ada tuntuntan pengacara atau oknum polisi
dengan tongkat berlumur darah. Siksaannya mungkin sudah jadi sejarah,
tapi pemeriksaan elektrik merupakan alat persuasi yang lebih disukai
saat ini.

Kontras antara Putri Rym al-Ali, saudara ipar raja Yordania, dan
kesedihan Esraa Abdel Fattah, 27 tahun, "Gadis Facebook" Mesir, dengan
ringkas menyimpulkan kontradiksi yang melekat dalam hubungan
pemerintah-media di dunia Arab.

Putri Rym, mantan koresponden CNN, sedang berusaha mendirikan sekolah
tinggi jurnalisme berbahasa Arab yang pertama di wilayah tersebut.
Sementara itu, Gadis Facebook, menemukan dirinya ditangkap oleh
petugas keamanan Mesir setelah mendirikan kelompok pada situs jaringan
sosial populer yang menarik 75.000 anggota dan bertindak sebagai bunga
api atas demonstrasi terhadap Presiden Husni Mubarak baru-baru ini.

Memandang rendah – dan ketakutan akan – media di banyak rezim Arab
bisa dilihat dalam ukuran perlengkapan uplink satelit, pemblokiran
situs web, dan tuan rumah atas meningkatnya upaya untuk mengalahkan
jin media dan mengembalikannya ke dalam botol.

Piagam Penyiaran Satelit Arab yang baru memungkinkan pemerintah untuk
menutup saluran televisi yang dinilai ofensif. Liga Arab mengklaim
bahwa mereka mengarahkan pada saluran pemuda politik Islam radikal,
tapi rezim Mubarak tidak membuang waktu untuk menutup saluran oposisi
berbasis di London, meruntuhkan klaim tersebut.

Piagam tersebut merupakan lambang dari derajat di mana pemerintah Arab
berjuang mengatasi hiruk-pikuk kritisisme yang merembes ke dalam
negara mereka melalui televisi satelit, internet, dan SMS. Lawan tidak
saja sekadar berkumpul, kini mereka "berkicau." Mencekal kamera
televisi tidak lagi cukup ketika setiap ponsel merupakan senjata
potensial dalam perang media. Situs jaringan sosial di mana gadis-
gadis berusia 12 tahun saling bertukar rahasia riasan telah menjadi
tempat lahirnya revolusi.

Efek riak media menciptakan gelombang informasi, menerobos dinding-
dinding penyensoran yang dengannya para pemimpin Arab telah
mempertahankan kastil mereka sejak lama. Setiap kisah baru tentang
ketidakpuasan publik menguatkan yang terakhir.

Tapi, hati-hati juga terhadap para ksatria putih. Tanyakan saja pada
kameramen Al-Jazeera, Sami al-Hajj, yang akhirnya dibebaskan setelah
enam tahun dipenjara di Guantanamo Bay, dan fotografer Associated
Press, Bilal Hussein, yang menghabiskan 735 hari dalam penjara Amerika
di Irak. Tak ada bukti, Tak ada tuntutan, tak ada pengadilan pada
kedua kasus tersebut.

Tampaknya masih jauh bagi para jurnalis Arab bisa hidup bahagia
selamanya.

###

*Lawrence Pintak adalah direktur Kamal Adham Center untuk Jurnalisme
Elektronik di American University in Cairo dan penerbit/co-editor
www.ArabMediaSociety.org. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan tulisan aslinya diterbitkan di kolom Post
Global Washington Post/ Newsweek.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 13 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim
Hisham Hellyer

Oxford, Inggris – BBC World belum lama ini menyiarkan Perdebatan Doha
tentang usulan "Konflik Sunni-Syiah merusak reputasi Islam sebagai
sebuah agama damai ". Topik tersebut sudah waktunya dibicarakan;
sebuah topik yang sangat penting saat ini, karena ia adalah sebuah
pertanyaan yang hanya dapat diajukan sekarang. Bukan karena perpecahan
Sunni-Syiah merupakan sebuah fenomena baru: ia adalah sebuah
perpecahan yang telah berumur dan memiliki sejarah panjang, yang
muncul sebagai sebuah perpecahan politis, yang kemudian menjadi
bernuansa keagamaan. Tetapi sekarang merupakan saat ketika unsur
politisnya telah menyebabkan perpecahan tersebut menjadi begitu
dahsyat.

Saya mengakui hal itu, tetapi saya berbicara berlawanan dengan usulan
di Doha tersebut, karena perusakan terhadap reputasi Islam lebih
disebabkan oleh sensasionalisme media, dan pemusatan perhatian atas
kekerasan Muslim secara umum, daripada kekerasan Sunni-Syiah. Tetapi
usulan tersebut bagi saya membawa ke pertanyaan lain: di tengah
konflik Sunni-Syiah yang ada di beberapa kantung dunia Muslim, apa
yang dapat kita gambarkan tentang Islam sesungguhnya atau apa yang
sesungguhnya bukan Islam?

Mari kita terbuka: umat Muslim tidak selalu bersepakat tentang segala
hal. Kaum Sunni sendiri memiliki empat mazhab yang diakui, dan Syiah
memiliki tradisi khusus pembentukan keortodoksan. Dalam kedua
pengelompokan tersebut, ada konsep penghormatan terhadap perbedaan
pendapat, yang harus dirayakan dan dihargai dalam setiap kelompok.
Dalam diskusi-diskusi antara Sunni-Syiah, konsep tersebut mengambil
nada yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut ditenggang rasa dengan
keengganan, tetapi dengan sebuah persyaratan penting: kedua kelompok
tersebut sama-sama Muslim.

Para teolog Islam Sunni sejak lama telah menetapkan "posisi yang dapat
dipercaya" bagi umat Sunni bahwa umat Syiah sesungguhnya adalah sebuah
masyarakat Muslim. Status "yang dapat dipercaya" adalah sejenis
kedudukan ortodoks tertentu; sesuatu yang sulit untuk ditentukan,
mengingat keragaman dalam Islam Sunni. Tetapi dalam isu ini, hal
tersebut telah ditetapkan, dan telah menjadi bagian dari keortodoksan
sejarah yang begitu mencirikan Islam Sunni. Di pihak Syiah, hal yang
sama umumnya berlaku: umat Sunni mungkin disalahpahami, kata para
ulama, dan pandangan-pandangan mereka tentang Islam mungkin salah,
tetapi mereka tetap Muslim.

Dengan pertumbuhan gerakan Wahhabi di Najd Arab Saudi, ketegangan-
ketegangan tersebut semakin nyata (tidak hanya bagi kaum Syiah, tetapi
bagi kaum Muslim bukan-Wahhabi), tetapi tidak pernah sampai menjadi
kekerasan ekstrim seperti yang kita saksikan sekarang. Bahkan para
penguasa Wahhabi yang paling puritan sekalipun tidak melarang umat
Syiah datang ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan haji.

Beberapa tahun lalu, semakin menjadi jelas bagi para pemimpin Kerajaan
Hashemit dari Yordania bahwa pemisahan yang telah sama-sama dianut
kaum Sunni dan Syiah terancam bahaya penyalahgunaan oleh pihak-pihak
luar untuk membenarkan kekerasan, seperti yang telah menimpa umat
Kristen. Namun, tidak seperti dunia Kristen tempat perang-perang
keagamaan sejati berlangsung – seperti yang terjadi antara umat
Kristen dan Protestan – dunia Muslim menempuh jalur yang tak pernah
dilalui sebelumnya. Dengan melihat ideologi al Qaeda sebagai sebuah
ancaman bagi ko-eksistensi Sunni dan Syiah di Irak dan di mana pun,
para cendikiawan Muslim, baik yang beraliran Sunni maupun Syiah,
berkumpul bersama untuk menghalangi ideologi tersebut.

Para cendikiawan tersebut menciptakan sebuah kerangka tempat ratusan
cendikiawan paling terkemuka dari dunia Muslim, Sunni, dan Syiah,
termasuk al-Habib Ali al-Jifri dari Yayasan Tabah Abu Dhabi,
memutuskan bahwa "cukup sampai di sini". Mereka menyatakan bahwa kaum
Sunni dan Syiah adalah umat Muslim, dan bahwa kekerasan seharusnya
tidak pernah terjadi di antara mereka. Itu merupakan sebuah kerangka
kesatuan untuk mengalahkan nihilisme bernaluri pembunuh yang dijual al
Qaeda. Kerangka itu disebut Pesan Amman (www.ammanmessage.com), dan
ditandatangani pada bulan Juli 2005. Sejak saat itu, ratusan lagi
telah menandatangani deklarasi tersebut secara online.

Beberapa bulan kemudian, al Qaeda menyatakan perang habis-habisan
terhadap umat Syiah Irak, tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah Muslim. Dua bulan setelah itu, ia menetapkan Amman sebagai
sasaran dalam sebuah pembunuhan massal besar-besaran terhadap orang-
orang tak berdosa. Tetapi itu gagal menghentikan momentum. Banyak
orang dari seluruh dunia menandatangani Pesan Amman yang asli, dan
mengembangkan versi lokal mereka. Para pemimpin Politik di dunia Sunni
dan Syiah berbicara dengan jelas, baik dari kalangan Wahhabi Arab
Saudi atau umat Syiah Iran yang setia: keduanya mungkin berbeda satu
sama lain, tetapi mereka tidak akan membiarkan siapa pun, entah al
Qaeda entah siapa pun, Muslim atau non-Muslim, mengadu domba Sunni
melawan Syiah, atau sebaliknya.

Secara pribadi, saya tidak begitu tertarik dengan apakah Islam
didefinisikan sebagai sebuah agama damai, atau agama perang, atau apa
pun juga. Yang lebih penting adalah bahwa kita memperoleh definisi
yang memenuhi syarat dan memiliki kewenangan. Banyak yang mencoba
untuk merebut kewenangan tersebut: para ahli Amerika, ekstremis
radikal, Anda boleh pilih. Tetapi apa yang harus kita lakukan adalah
menyadari siapa yang telah memiliki kewenangan itu.

Definisi-definisi tersebut diuraikan oleh para ahli beragama Islam
sendiri: para cendikiawan, ulama, ahli fiqih dan spiritualis, yang
memperbarui sikap mereka melalui Pesan Amman dan berkata kepada satu
sama lain: "Kita mungkin berbeda satu dengan yang lain, tetapi
perbedaan-perbedaan itu seharusnya tidak pernah menjadi penyebab
kekerasan." Al Qaeda di Irak membalas dengan mencoba memaksakan
otoritas keagamaan mereka sendiri.

Bagi kita semua, pilihannya sederhana. Apakah kita mengakui bahwa para
radikal penuh kekerasan tersebut dapat menggambarkan Islam dengan
amarah berdarah mereka? Atau akankah kita mengirimkan pesan kepada
mereka bahwa tak peduli betapa kerasnya usaha mereka – di Amman, di
dunia Muslim, di New York, di London, di Madrid, atau di mana pun –
para ekstremis kriminal tidak akan pernah memiliki otoritas untuk
mendefinisikan apapun?

Saya tahu apa yang akan saya katakan keapda mereka: "Anda akan kalah.
Peradaban akan menang."

Perdebatan Doha diarsipkan di http://clients.mediaondemand.net/thedohadebates.

###

* Dr. H. A. Hellyer adalah peneliti pada University of Warwick,
anggota Pusat Kajian Islam Oxford, dan direktur pendiri Visionary
Consultants Group, (www.visionaryconsultantsgroup.com), sebuah
konsultan hubungan dunia Muslim-Barat. Artikel ini disebarluaskan oleh
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: The National, 1 Mei 2008, www.thenasional.ae
Telah memperoleh hak cipta.


5) Forum Musik Dunia "Babel Med Music"
David Siebert

Bonn, Germany – Siapapun yang berjalan melalui jalanan Marseille akan
mendengar bahasa dan musik dari setiap sudut dunia. Hanya beberapa
langkah dari La Canebière, jalan utama kota yang megah dan baru
diperbarui, Anda dapat salah sangka sedang berada di Afrika Utara. Di
gang-gang jalan yang gelap dan sempit, toko-toko Arab berjejer
berdampingan satu sama lain dan musik menggerung dari pengeras suara.

Sami Sadak, seorang ahli musik etnis Turki dan direktur artistik
"Babel Med Music," menganggap Marseille sebagai tempat yang ideal
untuk mementaskan sebuah festival musik dunia.

"Selama berabad-abad, Marseille telah menjadi tujuan para imigran dari
seluruh wilayah Mediterania. Tak seorangpun hidup terasing di sini.
Orang tidak menganggap diri mereka sebagai bangsa Prancis, Aljazair,
atau Maroko, tetapi yang pertama dan terutama sebagai warga kota
Marseille."

Selama empat tahun sejak pertama berlangsung, "Babel Med Music" telah
berkembang menjadi forum musik dunia Eropa terpenting setelah WOMEX
(World Music Expo) di kota Seville, Spanyol.

Selama tiga hari penuh di akhir bulan Maret, forum tersebut
menampilkan lebih dari 100 produser, perusahaan rekaman, dan
penyelenggara konser dan tur dari seluruh dunia ke hadapan penonton
internasional. Setiap malam, pintu dibuka bagi masyarakat luas.
Programnya adalah sebuah konser maraton yang menampilkan 30 kelompok
musik yang sebelumnya tidak terlalu dikenal di Eropa.

Yang diwakili adalah keluasan ragam budaya musik mulai dari ansambel
tradisional dari Mesir dan Yunani hingga para DJ. DJ Malian Mo,
misalnya, menawarkan sebuah campuran elektronik baru musik tradisional
Arab dan Afrika, yang menciptakan sebuah jawaban cerdas Afrika bagi
MTV.

Pusat perhatian festival ini adalah wilayah Mediterania. "Negara-
negara seperti Turki, dengan kancah musiknya yang begitu kaya, akan
terus memperoleh tempat yang sangat berarti," kata Helmut Bürgel,
direktur artistik Stimmen Festival di kota selatan Jerman, Lörrach,
dan anggota juri penyeleksi "Babel Med Music."

"Kita akan menghukum diri kita sendiri sebagai bangsa Eropa jika tidak
dapat mengatasi perbedaan artistik yang memisahkan kita dari budaya
Arab," tegas Bürgel. "Hanya dalam beberapa tahun, pertemuan budaya
Turki dan Arab akan menjadi hal yang biasa buat kita."

Peniup terompet kelahiran Lebanon Ibrahim Maalouf menunjukkan
bagaimana pertemuan antarbudaya ini dapat berfungsi. Pemusik yang
terlatih secara klasik ini mencuat dengan aksentuasi Arabnya yang
tidak biasa, dan bersama dengan kelompok musik fusi jazz -nya, telah
menarik antusiasme penonton.

Lokasi tontonan musik tiga hari tersebut adalah bekas sebuah daerah
pelabuhan "Docks de Sud." Secara keseluruhan, bangunan-bangunan baru
dan menara-menara perkantoran raksasa sedang dibangun. Marseille
menemukan dirinya di tengah proses Euromed, sebuah program yang
disponsori oleh Uni Eropa yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama
antara negara-negara Mediterania.

Saat ini, kota tersebut kelihatan seperti sebuah lokasi pembangunan
yang besar dan berlangsung tak kenal berhenti. Tiga miliar euro telah
disediakan bagi megaproyek-megaproyek tersebut oleh Prancis, UE, dan
para penanam modal swasta. Euromed membayangkan Marseille sebagai
"gerbang di selatan" dan sebuah pusat perekonomian masa depan. Ini
merupakan sebuah peluang besar bagi Marseille. Ia telah siap merebut
gelar "Ibukota Budaya Eropa" pada tahun 2013.

Sami Sadak melihat "Babel Med" sebagai sebuah "pemacu penting bagi
peremajaan kota. Banyaknya pengunjung memperkuat perekonomian. Dan
para penduduk kota dapat menemukan kelompok-kelompok musik baru yang
sebelumnya tidak dikenal, yang biasanya baru pertama kali tampil di
Prancis!"

Yang juga perlu disorot dari festival ini adalah kehadiran pemain
suling flut Mamar Kassey. Dalam sebuah babak diskusi tentang produksi
dan kondisi kerja bagi para musisi, ia menceritakan pengalaman di
negara asalnya, Niger. Selama bertahun-tahun, ia hanya menghasilkan
2,50 euro sebulan sebagai seorang anggota dari sebuah kelompok tari.

Entah itu festival hip-hop orang muda dari Dakar, sebuah perusahaan
rekaman musik dunia yang mengkhususkan diri dalam Tuareg kitsch, atau
jaringan klab musik akar rumput ARCI, suasana hati para peserta
festival mencerminkan rasa optimisme.

Seperti yang belum lama ini dilaporkan Le Monde, kancah musik dunia,
dibandingkan dengan seluruh industri musik, menikmati ruang-ruang
konser yang penuh. CD-CD musik dunia yang serius jarang melewati angka
20.000 keping, namun penjualannya terus bertahan.

Ini karena saluran-saluran distribusi alternatif digunakan. Toko-toko
khusus, prakarsa-prakarsa independen, dan masyarakat-masyarakat etnis
memainkan peran sangat penting dalam mempopulerkan musik.

Kiprah musik lokal, seperti sebuah paduan suara perempuan yang
bernyanyi dalam bahasa Occitan, juga ikut andil dalam forum"Babel Med
Music".

"Penting artinya bahwa sebuah forum internasional mempertahankan
akarnya di wilayah," kata Helmut Bürgel. "Jumlah orang dari Marseille
yang menyaksikan konser-konser tersebut sama banyaknya dengan para
pengunjung profesional dari kalangan industri musik."

Terlepas dari apakah Marseille terus menjadi lokasi yang ideal bagi
"Babel Med Music" masih harus dilihat. Pembangunan dalam kota dengan
cepat mengubah wajah kota. Banyak dari penduduk-penduduk miskinnya
yang berasal dari keturunan Afrika Utara dipaksa untuk pindah. Namun,
kantor-kantor dan apartemen-apartemen mewah sedang bermunculan.
Marseille sedang terancam bahaya kehilangan reputasinya sebagai sebuah
kota dengan sebuah identitas multibudaya.

###

* David Siebert adalah seorang wartawan lepas. Ringkasan artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org. Tulisan selengkapnya dapat dibaca
di www.qantara.de.

Sumber: Qantara.de, 2 Mei 2008, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Nancy Batakji (nancybatakji@gmail.com)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%%
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.

Sunday, May 11, 2008

[Berpikir Bebas 762] Fiksi Bertemu Realitas di Mesir oleh Andrew Masloski

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

09 - 15 Mei 2008

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Fiksi Bertemu Realitas di Mesir oleh Andrew Masloski
Dengan mengambil contoh Esra Fattah, seorang perempuan Mesir yang
ditangkap pada bulan April karena mendorong sebuah protes terhadap
lonjakan harga lewat Facebook, Andrew Masloski, asisten peneliti
senior Pusat Kebijakan Timur Tengah Saban di Brookings Institution,
mempertimbangkan peran yang dimainkan forum online ini dalam
perpolitikan Mesir.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

2) Perjalanan Carter: Untung atau Buntung? oleh Paul Scham
Paul Scham, seorang asisten peneliti pada Institut Timur Tengah,
menganalisis apa arti perjalanan mantan Presiden Jimmy Carter belum
lama ini ke Damaskus bagi proses perdamaian Timur Tengah.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

3) Sudah Saatnyakah Berunding dengan Iran? oleh Steven Kull
Steven Kull, direktur WorldPublicOpinion.org, sebuah proyek penelitian
internasional yang dikelola oleh Program Sikap Kebijakan
Internasional, University of Maryland, membahas hasil-hasil
mengejutkan dari sebuah jajak pendapat masyarakat di Iran dan Amerika
Serikat, berikut dampak-dampaknya bagi interaksi lebih besar antara
kedua negara.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

4) Memahami Wilayah-wilayah Kesukuan Pakistan oleh Frankie Martin dan
Hailey Woldt
Lulusan American University, Frankie Martin dan Hailey Woldt,
mahasiswa senior Georgetown University, menyorot kesalahan-persepsi
seputar keistimewaan suku dan etnis Pakistan Barat Laut yang
menghalangi perlawanan terhadap terorisme di wilayah tersebut.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

5) Sastra Arab Jadi Pusat Perhatian di London oleh Susannah Tarbush
Jurnalis lepas Susannah Tarbush melihat meningkatnya minat Barat
belakangan ini terhadap penulis dan sastra Arab, seperti yang
ditunjukan oleh panel dan acara yang digelar pada London Book Fair
selama tiga hari, pertengahan April lalu.
(Sumber: Qantara.de, 30 April 2008)


1) Fiksi Bertemu Realitas di Mesir
Andrew Masloski

Washington, DC – Tiga puluh empat tahun lalu, penulis Mesir paling
terkenal, Naguib Mahfouz, menerbitkan sebuah novela berjudul Karnak
Café (Kafe Karnak). Berlatar belakang Mesir pada akhir tahun 1960-an,
novela tersebut menceritakan kisah sekelompok mahasiswa muda idealis
sangat menyadari kesenjangan antara apa yang dicita-citakan sosialisme
pan-Arab Nasser dan kenyataan sehari-hari di Mesir. Mahasiswa-
mahasiswa itu ditahan dan ditakut-takuti karena menyerukan perhatian
terhadap kesenjangan ini, jika tidak dituduh sebagai anggota partai
Komunis, maka anggota Ikhwanul Muslimin.

Dewasa ini, skenario mimpi buruk yang digambarkan Mahfouz tersebut
terancam menjadi kenyataan. Pada tanggal 12 April, pemerintah menahan
seorang perempuan muda Mesir, karena membuat sebuah kelompok di
Facebook (situs web jejaring sosial) yang mendorong warga di kota
industri Mahalla menuntut kenaikan upah.

Nama perempuan Mesir ini adalah Esra Abdel Fattah. Berusia 28 tahun,
cerdas, dan berkesadaran sosial. Ia telah menyaksikan secara langsung
penderitaan yang dirasakan penduduk Mahalla akibat peningkatan harga
bahan-bahan pangan, seperti roti dan minyak goreng.

Bulan Maret lalu ia membuat sebuah kelompok Facebook yang mendorong
orang agar mogok sehari untuk menunjukkan kepada pabrik – juga
pemerintah – sejauh mana rakyat Mesir menderita akibat harga-harga
yang melonjak, sementara upah tidak berubah. Pemogokan tersebut
rencananya dilaksanakan pada tanggal 6 April, tetapi ditekan dengan
penuh kekerasan oleh pemerintah dengan menurunkan sejumlah besar
kekuatan keamanan di jalanan. Enam hari kemudian, Fattah ditahan,
dituduh sebagai otak dibalik rencana kerusuhan.

Pengacara Fattah bersikeras bahwa tuduhan-tuduhan kepadanya tidak
beralasan, namun pengadilan menolak pembelaan tersebut. Harian Mesir
ad-Dustur memberitakan pengakuan Fattah bahwa ia menerima informasi
tentang mogok kerja pada tanggal 6 April tersebut dan hanya membahas
gagasan itu dengan yang lain lewat internet.

Kelompok Facebook yang ia bentuk masih ada dan telah dimutakhirkan,
kemungkinan oleh salah seorang rekan kerja atau teman, untuk
merenungkan berbagai peristiwa yang telah terjadi sejak penangkapan
Fattah. Kelompok tersebut sekarang telah memiliki lebih dari 73.000
anggota, atau sekitar 17 persen dari 440.000 orang yang tergabung
dalam jejaring Mesir di Facebook.

Penangkapan Fattah menjadi penting karena dua alasan. Pertama,
reaksinya terhadap ketidakadilan yang diderita tetangga-tetangganya
sama sekali tak mengandung kekerasan, namun pemerintah memperlakukan
rencana pemogokan tersebut seolah-olah sebuah upaya kudeta berdarah.
Terlepas dari apakah Fattah mendorong orang-orang mogok pada tanggal 6
April atau sekedar membahas gagasan tersebut, tak satupun yang
menunjukkan bahwa ia melakukan hal lebih dari sekedar membantu
penduduk Mahalla hidup bermartabat.

Alasan kedua dan yang lebih penting adalah penangkapan Fattah
menunjukkan bahwa alat yang ia gunakan untuk mengumumkan pemogokan
tersebut sangat efektif. Hanya segelintir orang dari 80 juta warga
Mesir yang akrab dengan Facebook. Namun kelompok onlinenya, yang
menyerukan pemogokan tersebut, dengan cepat menarik perhatian para
pemakai Facebook Mesir – yang sebagian memang para aktivis sejati,
namun sebagian lagi bukan.

Dari sana, berita tentang rencana protes tersebut menyebar begitu
luas, sehingga sebagian besar Kairo tampak tenang pada tanggal 6 April
itu, karena banyak orang yang tinggal di rumah, baik karena
solidaritas maupun takut. Seperti yang telah dilakukan sebelumnya oleh
satelit televisi dan telepon genggam berkamera, maupun SMS, situs-
situs jejaring sosial seperti Facebook telah menyingkap celah dalam
kemampuan pemerintah untuk mencegah warganya berserikat dan
menunjukkan ketidakpuasan mereka secara terbuka.

Penangkapan dan penahanan Fattah mendorong ibunya menerbitkan sebuah
surat terbuka kepada Mubarak pada tanggal 21 April di harian populer
Mesir Al-Masry Al-Yowm yang meminta sang presiden untuk campur tangan
dan membebaskan puterinya. Fattah pun dibebaskan pada tanggal 23
April.

Mimpi buruk yang ditulis Naguib Mahfouz lebih dari tiga dekade lalu
tetap mengancam, meski akhir kisahnya masih kabur. Masih harus dilihat
apakah pemerintah akan terus meniru peran yang ia mainkan dalam novela
Mahfouz, atau apakah rakyat Mesir akan berhasil menuliskan sebuah
akhir berbeda yang lebih baik bagi realitas dan masa depan mereka.

###

* Andrew Masloski adalah asisten peneliti senior Pusat Kebijakan Timur
Tengah Saban di Brookings Institution. Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


2) Perjalanan Carter: Untung atau Buntung?
Paul Scham

Washington, DC – Tidak jelas hasil-hasil apa yang diperkirakan Jimmy
Carter akan dicapainya setelah pertemuan-pertemuan terakhirnya dengan
para pemimpin Hamas di Timur Tengah. Mengingat pengalaman politiknya,
ia tidak mungkin percaya bahwa perjalanannya ke Damaskus akan begitu
saja berhasil memicu sebuah proses yang akan dengan cepat
mengikutsertakan Hamas dalam perundingan-perundingan perdamaian yang
nyata. Yang lebih mungkin, ia memutuskan bahwa ia berada pada sebuah
posisi unik untuk membawa perhatian Barat terhadap kemungkinan
keterlibatan Hamas, dan menyimpulkan bahwa provokasi merupakan alat
yang paling efektif, seperti yang telah dilakukannya dengan judul
bukunya yang terbit pada tahun 2006, Palestine: Peace Not Apartheid
(Palestina: Damai Bukan Apartheid). Kegemparan terjadi di kedua belah
pihak. Sekarang, ia telah membantu menyediakan sebuah perspektif yang
lebih jelas terhadap ambang batas Hamas saat ini, yang dapat menjadi
landasan penting bagi upaya-upaya keterlibatannya di masa depan.

Dapat dicatat bahwa tidak banyak dari pengecam Carter yang dapat
mengajukan alternatif masuk akal dalam berurusan dengan Hamas. Tak
satu pun yang kelihatannya percaya bahwa Hamas akan lenyap, atau bahwa
aksi militer akan menghancurkan atau menjinakkannya. Pada
kenyataannya, sebagian siap mengakui bahwa cepat atau lambat Israel
akan harus berurusan dengan Hamas–tidak ada pilihan lain. Lalu mengapa
sebagian orang menyerang Carter sedemikian hebatnya?

Alasan sesungguhnya adalah karena ia mematahkan pendapat yang berlaku
dalam konsensus internasional, yang menggolongkan Hamas sebagai sebuah
organisasi teroris; bahwa perjalanannya memberikan Hamas keabsahan
internasional secara de facto. Carter meletakkan sebuah karangan bunga
di pusara Yasser Arafat dan berpelukan di depan umum dengan pemimpin
Hamas, Khaled Meshal, yang memberikan pesan bahwa ia anti-Israel dan
benar-benar mendukung Hamas. Seorang profesor di Harvard, Alan
Dershowitz, juga telah menengarai bahwa uang yang diterima pusat
Carter dari sumber-sumber Arab merupakan pendorong bagi prakarsa-
prakarsa "anti-Israel" tersebut. Namun, para pengecamnya yang ternyata
bejibun tampak hanya dapat mendaur ulang penghinaan-penghinaan yang
hanya didasarkan pada ketidaksukaan terhadap Carter belaka.

Yang lebih penting, sejumlah besar rakyat Israel–termasuk mantan-
mantan kepala kekuatan keamanan–telah mendesak pemerintah untuk
menerima keberadaan Hamas sebagai kenyataan dan menemukan cara untuk
melibatkannya. Dalam sebuah jajak pendapat terakhir, 64 persen
masyarakat Israel menunjukkan kesediaan untuk melibatkan Hamas.
Kelihatannya, hanya di Amerika Serikat yang hampir secara umum
memiliki pendapat negatif.

Kalau begitu, di mana kedudukan kita sekarang dalam kemajuan
perdamaian Timur Tengah?

Sekarang ini kelihatannya sudah menjadi kenyataan yang diterima bahwa
Hamas tidak akan lenyap, tak peduli apa pun yang dilakukan Israel,
Amerika Serikat atau masyarakat internasional. Kepopuleran Hamas
bergantung pada beberapa faktor, termasuk kejijikan bangsa Palestina
terhadap korupsi Fatah, kebangkitan Islam politis di penjuru Timur
Tengah, persepsi (yang sama-sama dimiliki oleh kebanyakan pengamat)
bahwa proses pasca Annapolis tidak akan berhasil, dan sebuah anggapan
umum bangsa Palestina (terlepas dari benar atau salahnya) bahwa Israel
tidak akan pernah rela menerima sebuah negara Palestina berdasarkan
perbatasan tahun 1967.

Selanjutnya, keberhasilan Hamas dalam berbagai konfrontasinya dengan
Fatah, baik secara politis maupun militer, dan meningkatnya
ketidaksabaran internasional terhadap blokade Israel di Jalur Gaza
telah membantu Hamas menciptakan sebuah peran yang tidak dapat
disingkirkan dengan mudah.

Hamas telah memberikan indikasi-indikasi memperlunak tuntutan
tradisionalnya bahwa pengakuan formal atau penerimaan terhadap
kedaulatan Israel adalah sesuatu yang dilarang agama. Ia kelihatannya
bersungguh-sungguh mencoba untuk mengembangkan mekanisme teologis dan
politis yang memungkinkannya berurusan dengan kenyataan yang sangat
kuat dan tak terelakkan, yaitu keberadaan sebuah negara Yahudi.
Sungguh sebuah kemajuan, ditinjau dari konteks saat ini.

Kenyataan yang tidak dapat disangkal adalah bahwa Hamas telah
mengukuhkan "kedaulatan"-nya dengan cara yang dilakukan oleh setiap
kekuatan politik baru: mengumpulkan kekuasaan politik dan militer,
hingga ia tidak mungkin diacuhkan. Sudah bukan saatnya lagi menyangkal
hal ini; pertanyaan bagi Israel, Amerika Serikat, dan Barat adalah
dengan cara apa berhubungan dengannya. Ini bukanlah suatu
Machiavellianisme tak bermoral; ini adalah penerimaan terhadap sebuah
kenyataan.

Ada saat-saat ketika pihak yang berkuasa pun harus menelan pil pahit;
dan inilah salah satunya. Sementara perjalanan Carter terus memancing
pernyataan politis, kenyataan yang ada sedang memperoleh pengakuan.
Pada tanggal 30 April, Mesir mengumumkan bahwa Hamas dan 11 faksi
lebih kecil Palestina telah sepakat untuk menghormati gencatan senjata
enam bulan dengan Israel. Kesepakatan tersebut sekarang hanya mencakup
Gaza, tetapi mungkin meluas hingga Tepi Barat. Kepala Intelijen Mesir,
Omar Suleiman, saat ini sedang mencoba untuk memperoleh persetujuan
Israel.

Jika gencatan senjata ini bertahan, maka peluang-peluang lain besar
kemungkinan akan terbuka, bahkan jika sebuah persetujuan perdamaian
formal belum dapat diraih saat ini. Ada preseden-preseden penting bagi
koeksistensi dengan musuh bebuyutan. Pada tahun 1948, empat tetangga
Israel bersumpah untuk menghancurkannya, tetapi dewasa ini dua telah
menandatangani perjanjian damai dan yang ketiga menegaskan
kesiapannya. Demikian juga, Uni Soviet dan Amerika Serikat (serta para
sekutunya) yang saling berhadapan pada dekade-dekade Perang Dingin,
secara mengejutkan, ternyata menghindari sebuah perang terbuka.

Ketika pembunuhan berhenti, peluang-peluang pun membentang.

###

* Paul Scham adalah seorang asisten peneliti pada Institut Timur
Tengah dan ko-editor buku Shared Histories: A Palestinian-Israeli
Dialogue (Sejarah Bersama: Sebuah Dialog Palestina-Israel). Artikel
ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.
Pernyataan: Pernyataan dan pendapat dalam tulisan ini tidak serta
merta mencerminkan pandangan Institut Timur Tengah, yang secara
terbuka tidak mengambil sikap apapun menyangkut kebijakan Timur
Tengah.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Sudah Saatnyakah Berunding dengan Iran?
Steven Kull

College Park, Maryland – Sejumlah suara serius berkata bahwa sudah
saatnya bagi pendekatan baru terhadap Iran. Senator Diane Feinstein
dan mantan para pejabat tinggi pemerintah AS telah menyerukan Amerika
Serikat untuk masuk ke dalam perundingan dengan Iran tanpa prasyarat.
Mereka juga mengusulkan gagasan-gagasan untuk mengatasi kebuntuan-
kebuntuan dalam persoalan program nuklir Iran. Dipadu dengan jajak
pendapat baru yang mengisyaratkan bahwa pendapat masyarakat Iran dan
Amerika Serikat menggemakan pandangan-pandangan ini, keadaan tampaknya
telah ranum bagi pembaharuan upaya-upaya memperbaiki hubungan AS-Iran.

Sebuah jajak pendapat oleh WorldPublicOpinion.org yang bermitra dengan
Search for Common Ground pada bulan Februari menemukan bahwa sejumlah
mayoritas besar rakyat Iran (57 persen) menyatakan sebaiknya bangsa
Iran dan Amerika untuk terlibat dalam "pembicaraan langsung tentang
berbagai permasalahan kedua belah pihak", dan 69 persen menyatakan
juga sebaiknya pembicaraan yang memusatkan perhatian pada upaya
penstabilisan situasi di Irak.

Rakyat Iran juga mendukung berbagai langkah perbaikan hubungan Iran-
US, dengan mayoritas besar memilih meningkatkan perdagangan (64
persen), "meningkatkan akses bagi wartawan dari kedua belah pihak" (70
persen), dan " meningkatkan pertukaran kebudayaan, pendidikan, dan
olah raga" (63 persen). Semua angka ini naik tajam dibandingkan
setahun yang lalu.

Walaupun pandangan-pandangan terhadap Amerika Serikat masih cukup
negatif, jajak pendapat itu menemukan tanda-tanda mencairnya sikap
mereka. Mereka yang memiliki pandangan tidak menyenangkan terhadap
Amerika Serikat telah turun dari dua pertiga menjadi setengah. Dan
sejumlah mayoritas yang terus tumbuh (sekarang 64 persen) percaya
bahwa "budaya Muslim dan Barat" dapat "menemukan landasan bersama".

Hasil-hasil ini mungkin terkait dengan penerbitan Penilaian Intelijen
Nasional AS, yang menyimpulkan bahwa Iran saat ini tidak sedang
membangun sebuah program persenjataan nuklir. Beberapa jajak pendapat
menunjukan bahwa bangsa Iran kelihatannya telah menafsirkan ini
sebagai menurunnya ancaman AS untuk menggunakan kekuatan militer
terhadap mereka.

Masyarakat Amerika mempertontonkan kesiapan serupa untuk masuk ke
dalam hubungan yang lebih akrab. Mayoritas besar dalam jajak-jajak
pendapat WorldPublicOpinion.org yang dilakukan oleh Knowledge Networks
menunjukkan dukungan bagi semua langkah yang disebutkan di atas,
dengan 82 persen responden memilih pembicaraan langsung.

Ketika rakyat Amerika ditanya bagaimana Amerika Serikat seharusnya
berhubungan dengan pemerintah Iran, hanya 22 persen yang memilih
"memberi ancaman tidak langsung bahwa Amerika Serikat mungkin
menggunakan kekerasan terhadap mereka" sementara 75 persen memilih
"mencoba membangun hubungan lebih baik."

Tentu saja, isu paling berduri adalah program nuklir Iran, dengan
kemampuannya yang terus meningkat untuk menghasilkan bahan bakar
nuklir yang dapat digunakan sebagai energi nuklir dan, dengan
pengayaan lebih maju, persenjataan nuklir.

Delapan dari 10 responden Iran cukup mantap bahwa Iran seharusnya
memiliki kemampuan menghasilkan bahan bakar nuklir untuk energi
nuklir. Namun, kebanyakan mendorong pemerintah pada posisi bahwa ia
tidak seharusnya menghasilkan persenjataan nuklir. Yang lebih penting,
enam dari 10 orang berkata bahwa menghasilkan persenjataan nuklir
berarti bertentangan dengan Islam – konsisten dengan fatwa atau
pendapat hukum yang telah dikeluarkan oleh sejumlah ulama terkemuka
Iran.

Ini tidak lantas membantah gagasan bahwa sebagian anggota pemerintah
Iran mungkin memiliki keinginan membuat persenjataan seperti itu,
namun mengungkapkan bahwa dalam lingkungan moral dan politik Iran
dewasa ini, sebuah pelarangan terhadap persenajtaan nuklir telah
secara umum terbentuk dan mengubah posisi ini akan cenderung
menghadapi perlawanan masyarakat. Demikian juga, proposal-proposal
yang dipredikatkan atas Iran untuk tidak memiliki persenjataan nuklir,
walaupun masih dapat menghasilkan energi nuklir, mungkin sulit ditolak
begitu saja oleh pemerintah.

Sebuah proposal yang didukung oleh Senator AS Diane Feinstein telah
diajukan oleh para mantan pejabat pemerintah William Luers, Thomas
Pickering, dan Jim Walsh. Proposal ini menyerukan sebuah fasilitas
pengayaan multi-nasional di dalam Iran di bawah pengawasan ekstensif
internasional, dan memberikan Iran kemampuan untuk menghasilkan bahan
bakar nuklir bagi energi tetapi bukan untuk persenjataan nuklir.

Para responden Iran dalam jajak pendapat ini disodori sebuah
kemungkinan kesepakatan bahwa Iran akan memiliki sebuah hak yang
terbatas untuk menghasilkan bahan bakar nuklir selama IAEA memiliki
akses penuh dan permanen untuk memastikan bahwa Iran tidak
menghasilkan persenjataan nuklir. Lima puluh delapan persen berkata
mereka mendukung kesepakatan semacam itu, hanya 26 persen yang
menentang.

Kesepakatan seperti itu juga didukung oleh rakyat Amerika dan lainnya
dalam sebuah jajak pendapat BBC World Service di 31 negara, yang
dilaksanakan oleh GlobeScan dan PIPA. Kesepakatan tersebut didukung
oleh 55 persen rakyat Amerika, 71 persen rakyat Inggris, 56 persen
rakyat Prancis, dan sebagian mayoritas bangsa-bangsa lain yang
dijajak. Jajak pendapat BBC juga menemukan bahwa pilihan-pilihan yang
lebih keras dalam berhubungan dengan Iran, seperti sanksi-sanksi
ekonomi atau serangan militer, memperoleh tingkat dukungan yang sangat
rendah.

Pemerintahan George W. Bush hanya memiliki sisa waktu sedikit dan
menghadapi penolakan luas terhadap kebijakan luar negerinya. Sebuah
pendekatan baru terhadap tantangan Iran mungkin merupakan satu dari
pilihan terakhir dan terbaik bagi pemerintah tersebut untuk menopang
warisannya di tanah air dan luar negeri dengan memberi sumbangan bagi
sebuah dunia yang lebih stabil.

###

* Steven Kull adalah direktur WorldPublicOpinion.org, sebuah proyek
penelitian internasional yang dikelola oleh Program Sikap Kebijakan
Internasional, University of Maryland. Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) Memahami Wilayah-wilayah Kesukuan Pakistan
Frankie Martin dan Hailey Woldt

Washington, DC – Sumpah pemerintahan koalisi baru Pakistan untuk
memulai dialog dengan militan telah menarik perhatian banyak orang.
Washington khawatir, pemerintahan baru yang dipimpin oleh Nawaz Syarif
dan suami almarhumah Benazir Bhutto, Asif Ali Zardari tampaknya
memiliki perspektif yang berbeda dalam melawan terorisme. Inilah
alasan mengapa kita harus memberi perhatian.

Sekarang ini kita berada dalam kekacauan militer dan budaya yang
mendatangkan malapetaka di Waziristan, wilayah kesukuan Pakistan Barat
Daya yang rawan. Tuntutan Amerika kepada militer Pakistan untuk
menggunakan kekuatan yang lebih besar di area tersebut sejauh ini
tidak berhasil, meskipun Presiden Pervez Musharraf memenuhi permintaan
itu. Pengeboman bunuh diri terjadi di luar kendali dan kekerasan telah
menyebar dari wilayah kesukuan ke kota-kota seperti lahore dan
Islamabad.

Hasil yang menyedihkan tersebut ditafsirkan sebagai refleksi dari
kelembutan tindakan itu, tapi sebenarnya pendekatannyalah yang harus
disalahkan.

Para pembuat kebijakan di Washington mengatakan bahwa kita harus
memilih antara menyerah atau menangkan "pertempuran" di wilayah-
wilayah kesukuan. Dengan menyerah, Taliban akan membentuk kekhalifahan
baru, dan dengan memenangkan "pertempuran", seluruh negara itu akan
jadi puing besar dengan Osama bin Laden terkubur di suatu tempat di
dalamnya.

Namun ini adalah dikotomi salah yang diciptakan oleh ketidakmampuan
belajar dari pengalaman masa lalu atau melakukan analisa budaya yang
sederhana.

Wilayah-wilayah kesukuan di Pakistan, yang didiami oleh etnik Pashtun,
telah amat disalahpahami oleh Barat, bahkan oleh berbagai kelompok
urban Pakistan selama bertahun-tahun. Sedikit yang memahami bahwa
Taliban adalah kelompok yang amat baru dalam sejarah wilayah tersebut,
dan ia dilihat sebagai entitas yang terlalu berkuasa dan tidak
disambut dalam budaya tradisional lokal.

Secara historis, para pemimpin keagamaan diawasi oleh para kepala suku
dan pejabat pemerintah, tapi setelah 9/11 sistem yang sudah runtuh ini
berurusan dengan jurus maut terakhir Musharraf dan AS yang berbentuk
pengeboman tiada henti. Sebagai konsekuensinya, pemerintah layanan
masyarakat lama yang ada di Waziristan menghilang—dibongkar oleh
Musharraf yang mendukung tentara – dan kepemimpinan suku tradisional
pun berhenti.

Mullah Taliban telah mengisi kekosongan, memanfaatkan pidato mereka
yang berapi-api untuk membangkitkan semangat masyarakat yang telah
kehilangan keyakinan bahwa pemerintah Pakistan akan memahami masalah
mereka.

AS juga telah membantu memicu hal tersebut dengan mendukung pemerintah
yang dijalankan oleh non-Pashtun di Pakistan dan Afghanistan.
Masyarakat suku Pashtun merasa dikepung dari berbagai bidang – hingga
mereka berpikir bahwa mereka diserang hanya karena etnisitas mereka.
Karena mereka Muslim, mereka juga merasa Islam sedang diserang dan
berusaha untuk mempertahankannya.

Masalah diperparah dengan kebingungan kita dalam menamai musuh. Saat
ini garis definisi antara masyarakat suku Pashtun, Taliban, dan Al
Qaeda tetap kabur.

AS dan sekutunya berada dalam masalah besar. Dengan setiap hari
berlalu tanpa memahami posisi kesukuan dan apa yang mereka
perjuangkan, tujuan menangkap bin Laden dan mengamankan perbatasan
dengan Afghanistan jadi semakin sulit.

Ini tidak berarti "menenangkan" mereka yang berusaha mengganggu
Amerika tapi malah "mengaturnya" secara lebih efektif. Ini berarti
menggabungkan ancaman kekuatan dengan upaya meraih kepercayaan dari
suku, menjangkau mereka serta bekerja dalam kerangka budaya dan agama
mereka. Situasi ini juga bisa meningkat pesat jika sejumlah besar
bantuan Amerika didedikasikan untuk pendidikan dan pengembangan, bukan
pengeluaran militer sia-sia yang telah menghabiskan lebih dari 10
milyar dolar AS sejak 9/11.

Sejarah menunjukkan bahwa memimpin wilayah-wilayah kesukuan terbukti
mustahil–baik untuk Inggris maupun Pakistan–ketika metode ini tidak
diikuti. Pendekatan ini juga harus diterapkan pada masyarakat kesukuan
lainnya di mana AS terlibat, dari Afghanistan dan Irak hingga Somalia.

Jika tindakan baru tidak diambil, AS akan terus meluncur menuju
malapetaka. Mengebom masyarakat suku Muslim tanpa henti tanpa memahami
siapa yang sebenarnya kita serang dan mengapa, bukanlah "realisme",
tapi kebijakan buruk.

'Penyerbuan' hebat terhadap musuh-musuhnya telah menghancurkan
reputasi global AS, dan jika dilanjutkan, dapat menghancurkan masa
depan kita sendiri. Karena pemuda Amerika peduli terhadap masa depan,
kita tak bisa membiarkan kebijakan gagal ini terus merusak abad yang
akan datang.

###

* Frankie Martin adalah lulusan American University dan asisten riset
di School of International Service dari universitas tersebut. Hailey
Woldt adalah mahasiswa senior Georgetown University. Keduanya
melakukan kerja lapangan untuk buku Journey into Islam: The Crisis of
Globalization oleh Akbar Ahmed (Brookings, 2007). Artikel ini ditulis
untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa dibaca di
www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


5) Sastra Arab Jadi Pusat Perhatian di London
Susannah Tarbush

Bonn, Jerman – Ketika penulis novel Mesir Naguib Mahfouz pada 1988
menjadi penulis Arab pertama (dan satu-satunya, sejauh ini) yang
memenangkam Hadiah Nobel Sastra di Barat, muncul harapan bahwa sastra
Arab akan menembus dunia Barat, termasuk Inggris. Tapi selama bertahun-
tahun semua itu tetaplah mimpi.

Benar, beberapa penulis Arab mencapai sukses dalam penerjemahan ke
Bahasa Inggris, tapi itu tak dapat dibandingkan dengan percintaan para
pembaca Inggris dengan, katakanlah, realisme magis Amerika Latin,
literatur Rusia dan Eropa Timur, serta novel-novel karya penulis asal
India.

Kini gambaran mengenai publikasi literatur Arab di Inggris berubah
secara dramatis. Ini dibuktikan pada London Book Fair (LBF) yang
dilangsungkan selama tiga hari, dari 14-16 April lalu dan memilih
dunia Arab sebagai fokus pasarnya.

Sekitar 100 penerbit dan institusi budaya Arab berpameran di acara
tersebut. Tambahan lagi, LBF, bersama dengan British Council, membuat
program seminar yang panelisnya termasuk 60 penulis, penerbit, dan
cendekiawan Arab, kebanyakan diundang dari luar negeri.

Penawaran lainnya termasuk "Breakfast with Bahaa Taher" di English PEN
Literary Café, yang di sana jurnalis Maya Jaggi mewawancarai veteran
novelis Mesir yang belakangan ini jadi pemenang pertama International
Prize for Arabic Fiction (IPAF) untuk karyanya Sunset Oasis.

IPAF, yang total hadiahnya 60.000 dolar, didanai oleh Emirates
Foundation of Abu Dhabi dan diinagurasikan bersama dengan Booker Prize
Foundation. LBF dan British Council membawa enam penulis untuk IPAF ke
pameran tersebut. IPAF memberikan dorongan segar untuk penerjemahan,
karena jaminan penerjemahan buku yang menang ke bahasa Inggris.

Selain menerjemahkan dari bahasa Arab, LBF membawa dua proyek ambisius
penerjemahan buku ke bahasa Arab di Uni Emirat Arab. Kalima, sebuah
inisiatif Departemen Kebudayaan dan Warisan Budaya Abu Dhabi, berniat
menerjemahkan 100 volume setahun. Program Tarjem dari Mohammad Bin
Rashid Al-Maktoum Foundation di Dubai bermaksud menerjemahkan 1000
karya terlaris ke bahasa Arab selama tiga tahun.

Di LBF, kehadiran novelis Mesir (dan dokter gigi) Alaa Al-Aswany,
membangkitkan minat yang besar. Al-Aswany telah menikmati kesuksesan
di dunia Arab dan sekitarnya dengan novelnya The Yacoubian Building
dan film yang dibuat berdasarkan novel tersebut. Dia "penulis hari
ini" pada hari kedua pameran tersebut. Publikasi terjemahan bahasa
Inggris novel kedua Al-Aswany pada bulan September amat dinantikan.

Al-Aswany belajar kedokteran gigi di Illinois University, Chicago,
sama dengan Saudi Raja Alsanea, novelis Arab terlaris yang menarik
banyak perhatian di LBF. Novel pertamanya, Girls of Riyadh mendapat
sukses dengan mudah di Arab, dan telah diterjemahkan ke 23 bahasa.
Edisi bahasa Inggris bersampul tipis akan diterbitkan oleh Penguin
pada bulan Juni. Para penerbit, baik Arab maupun Barat, menantikan
karya berikutnya dari Al-Aswany dan Alsanea.

Margaret Obank, editor majalah sastra Arab modern, Banipal, mencatat:
"Kini makin banyak penerbit UK yang menerbitkan terjemahan karya
penulis Arab, ditambah satu lagi yang baru, Arabia Books, didirikan
bersama oleh Arcadia Books dan Haus Publishing untuk fokus secara
khusus pada karya-karya fiksi dunia Arab, dengan perhatian khusus pada
daftar panjang American University of Cairo (AUC) Press."

Salah satu alasan pertumbuhan penerjemahan literatur Arab adalah
diluncurkannya Banipal sepuluh tahun lalu. Banipal telah membuat
cabang untuk menerbitkan fiksi terjemahan, dan membuat Saif Ghobash-
Banipal prize untuk Terjemahan Sastra Arab. Proyek terbarunya adalah
membuat perpustakaan sastra Arab modern di London bersama Arab-British
Centre.

Indikasi menyolok akan meningkatnya sastra Arab secara global adalah
hadiah literatur internasional terbesar dan paling komprehensif, yakni
International IMPAC Dublin Literary Award, memiliki tak kurang dari
tiga novel karya penulis Arab dalam daftar 8 novel pemenang yang baru-
baru ini diumumkan. Hadiahnya, senilai 100.000 Euro, terbuka untuk
novel-novel yang ditulis, atau diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Salah satu novel tersebut, De Niro's Game, karya Rawi Hage, campuran
Kanada-Lebanon, ditulis dalam bahasa Inggris. The Attack, karya
Yasmina Khadra (nama pena mantan tentara Aljajair, Mohammed
Moulessehoul), diterjemahkan dari bahasa Prancis, sementara penulis
Palestina, Sayed Kashua, yang tinggal di Israel, menulis Let it be
Morning dalam bahasa Yahudi. Semua ini menunjukkan betapa kaya dan
beragamnya sastra Arab modern.

###

* Claudia Isabel adalah jurnalis lepas. Artikel ini disebarluaskan
oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa dibaca di
www.commongroundnews.org.

Sumber: Qantara.de, 30 April 2008, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Nancy Batakji (nancybatakji@gmail.com)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%%
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.

Friday, May 9, 2008

[Berpikir Bebas 761] tri Suci Waisak 2552 (20 Mei 2008)

Namo Buddhaya, Teman2 se-Dharma UIB, Buktikan tingkat kepedulian anda
terhadap masyarakat. Mari kita isi Bulan TRI SUCI WAISAK dengan
kegiatan-kegiatan yang bermakna :

1. Donor Darah

Dalam rangka menyambut Hari TRISUCI WAISAK 2552 BE/ 2008 ini, kami
menyelenggarakan Donor Darah . Donor darah merupakan suatu kegiatan
menyumbangkan darah yang dilakukan secara sukarela dari penyumbang
darah untuk tujuan transfusi darah. Mendonorkan darah merupakan
perbuatan mulia. Karena Darah dapat menyelamatkan jiwa orang lain.

Tujuan kegiatan ini yaitu meningkatkan rasa suka rela dan kepedulian
terhadap masyarakat yang sedang memerlukan transfusi darah serta
membantu PMI (Palang Merah Indonesia) dalam penyaluran dan penyediaan
darah bersih kepada masyarakat yang memerlukan bantuan.


2. Bakti Sosial ke Panti Asuhan

Dalam rangka menyambut Hari TRISUCI WAISAK 2552 BE/2008 ini, kami
menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di panti asuhan yang ada di
kota Batam, yakni Yayasan Hizbul Wathani. Tujuan dari penyelengaraan
acara tersebut adalah untuk mengembangkan rasa kepedulian terhadap
masyarakat yang memerlukan bantuan.


3. Pelepasan Makhluk Hidup ( FANG SHEN)

Acara yang ketiga yaitu kami akan menyelenggarakan kegiatan pelepasan
makhluk hidup, yang lebih dikenal dengan istilah "Fang Sheng". Tujuan
dari pelaksanaan acara tersebut adalah untuk menumbuhkan rasa kasih
sayang terhadap semua makhluk hidup.

Dengan diadakannya acara ini, dapat menumbuhkan rasa cinta kasih dan
kasih sayang kepada semua makhluk hidup serta melatih diri kita untuk
tidak melukai makhluk hidup lainnya.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

1. Donor Darah ( stand dibuka pada tanggal 05 s/d 09 Mei 2008)

Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI)

Hari/Tanggal : Minggu / 11 Mei 2008

Waktu : 13.00 WIB s/d selesai

Tempat : UIB Lt. 1 Ruang 108 dan 109

2. Bakti Sosial ke Panti Asuhan

( stand dibuka pada tanggal 05 s/d 16 Mei 2008)

Bekerja sama dengan Yayasan Hizbul Wathani (Batu Aji)

Hari/Tanggal : Minggu / 18 Mei 2008

Waktu : 13.00 WIB s/d selesai

Tempat : Yayasan Hizbul Wathani

Barang – barang yang dapat di sumbangkan :

v Buku Pelajaran,Buku Bacaan & Buku Pengetahuan Umum.

v Pakaian yang layak dipakai, Sembako, dll.

3. Puja Bakti Detik-detik Waisak 2552 BE / 2008

Hari/Tanggal : Selasa / 20 Mei 2008

Waktu : 08.00 WIB s/d selesai

Tempat : UIB Lt. 4 Ruang 417

4. Pelepasan Makhluk Hidup ( Fang Sheng )

( stand dibuka pada tanggal 05 s/d 16 Mei 2008)

Hari/Tanggal : Selasa / 20 Mei 2008

Waktu : 11.00 WIB s/d selesai

Tempat : Sei Ladi

STAND Kami di UIB Lt. Dasar : ( Stand dibuka pada jam 17.00 s/d 18.00
WIB )

Z Daftar sebagai Donatur

Z Sumbangan Dana untuk Donor Darah, Baksos ke Panti Asuhan, dan
Sumbangan untuk Pelepasan Makhluk Hidup ( FANG SHEN )

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi :

Erwin (0856 657 6428) Julianti (0856 6847 7166) Februyung (0856 6813
7879)

Note : Stand ditutup pada hari sabtu & minggu