Friday, November 30, 2007

[Berpikir Bebas 731] Artikel

J A T I D I R I

Apakah itu untuk diri pribadi atau untuk arti kebangsaan, banyak warga
bangsa kita yang kurang memahami, bahkan [mungkin] sebahagian besar
yang "tidak tau" atau tidak me -
ngerti sama sekali apa itu sesungguhnya j a t i d i r i
---------------------------------- ,

Boy Dana beranggapan, jatidiri adalah jatidiri, bukan dan tidak j a t
i - d i r i, Boy ber -
anggapan jatidiri yang dimaksud disini adalah jatidiri yang satu dan
utuh yang tidak di -
pisahkan atau terpisahkan, bahkan si Boy sejak tau dan kenalan dengan
j a t i d i r i -----,
dia merasakan dan berpikir.......nah ini dia temuan kedua versi
pancasila dahulu kala [?!]

Hingga saat kinipun Boy Dana masih merasa asing-, kagok-, bahkan
sungkan untuk men
jabarkan, apalagi meresapkan arti - makna - kaidah atas hikmah j a
t i d i r i ------,

Suatu ketika dipenghujung tahun tujuhpuluhan Boy Dana bertanya kepada
penulis .........;
Mas, emangnya jatidiri itu identitas manusia "dunia akhirat".........,
jawab penulis, lho kenapa Boy berpendapat atau merasa seperti
itu......., jatidiri itu Boy [penulis sok coba menjelaskan] semacam
identitas manusia lahir bathin yang t i d a k memiliki batas
waktu atau batas masa berlakunya ........, nah makanya kata si Boy,
itulah saya berpendapat bahwa jatidiri itu identitas manusia dunia
akhirat..............[memang si Boy kalau berucap atau menyatakan
dunia akhirat selalu tanpa kata perantara " d a n "] ini juga menarik
ketika suatu waktu penulis yang balik bertanya.........Boy-, kenapa
sih kau ini kalau ngomong atau nulis kalimat dunia akhirat tanpa kata
antara " d a n ", kenapa kamu ini mau lain sendiri atas format kata
dalam kalimat, bukankah sangat wajar dan identik sekali bila kita
berucap atau menulis "dunia dan akhirat".........emmangnya pemahaman
Boy atas keyakinan "itu" harus dihilangkan kata antara
"dan" ..................[?!]
Ala Mas [kata si Boy]-, beribu ribu tahun sudah sejak manusia merasa
dirinya CERDAS mereka atau kita kita inilah.........ngomong meyakini
"sesuatu" yang t i d a k ada ujung juntrungnya.........ngomonglah
kita ini sekarang didunia.......natinya disana kita ini berada
diakhirat........-, DUNIA aja kita belum tau persis, jelas dan tandas,
mau maunya kita berinterprestasi disana itu lho.......akhirat-, karena
[tapi] kita ini absolute turunan sejati manusia b e r a g a m a-,
maka pendapat saya kita langsungkan saja makna "itu" menjadi
dunia akhirat t a n p a "dan" sebagai perantara, atau yang
memperantarakan .............[?!}
Pendapat saya Mas, didalam "dan" itulah banayak spekulasi dan
manipulasinya yang selama sekian ribu tahun lamanya "manusia keenakan"
berbohong diri didalam kata dan-,
mungkin........jatidiri itulah Mas, yang dapat mengembalikan manusia
untuk menemukan
d i r i n y a -, itulah Mas, mengapa saya sangat menggandrungi dan
mendambakan atas arti dan makna serta ujud j a t i d i r i yang
sesungguhnya agar kita lebih cepat dan cermat dalam memahami dan
memaknai arti kata dalam kalimat d u n i a a k h i r a t [!]

Kata Si Boy dalam catatan usangnya-, dunia akhirat patut direnungkan
dan jangan ragu untuk di reminding bahwasanya "sekat" yang ada itu,
bukanlah sekat yang penuh misteri ataupun absolute abstract, inga
inga.....apa yang ada dalam kitab kitab suci w a h y u khususnya
Alquran dan Alkitab ............. K E H E N D A K M U J A D I L A
H [!}----,
Masya Allah, tidak habis pikir kata orang jaman sekarang, bagaimana
manusia keblinger-
[minjem istilah Bung Karno], selama beribu ribu tahun kkeyakinan itu
l e p a s dari diri kita yang katanya u t u h dan diciptakan
sebagai insan t e r m u l i a dari insan insan
ciptaanNYA.........bahkan di Alkitab dinyatakan tandas s e s u a i
dengan p e t a N Y A-,
Mas Bagus [panggilan Boy kpd penulis]-, sebenarnya atau sesungguhnya,
banyak para pemikir kita atau katakanlah pemikir "kelas dunia" yang
sebenarnya mereka mempunyai pendapat atau kesimpulan bahwa a p a
dunia itu sekaligus dengan akhiratnya.........[?!]
Kata si Boy selanjutnya-; saya heran Mas Bagus, manusia secara pro
rata hampir seluruhnya mereka merasa t a k u t atas sesuatu yang
berasal dari hak mutlak TUHAN -,
nah lucunya Mas, ketika manusia merenungkan dan menghayati "rasa
takut" itu, lucunya-
adalah t e r n y a t a mereka cuma takut atas kematian, apalagi
kematian yang disertai timbunan dosa selama masa
kehidupannya........., bukankah ini sangat lucu Mas, takut atas
kkematian, sedangkan kematian itu sendiri adalah a w a l
sesungguhnya dari KEHENDAKMU JADILAH.............awal dari kehidupan
akhirat yang sesungguhnya......,

Kembali pada j a t i d i r i -, jatidiri yang dimaksud disini adalah
bukan jatidiri dalam arti
yang "biasa dan sederhana", tapi lebih dari pengertian dan pemaknaan
yang lebih tinggi dan luas bahkan s a k r a l adanya. Sebagai suatu
contoh adanya kesakralan pada arti atau tanda jatidiri adalah; s e t e
l a h jatidiri itu "terbentuk & terujud" pada diri seseorang, maka
orang [pribadi] tersebut tidak pernah lepas atau lekang dari dua d a
s a r
[prinsip] jatidiri sejati yakni r a m a h & h o r m a t [ramah
tamah & hormat menghormati], dua prinsip dasar itulah yang menjadi
"darah daging" dalam bentuk dan
ujud jatidiri sejati sesuai kadar kesempurnaan perwujudannya bagi
pribadi seseorang [!] .

RAMAH & HORMAT-, atau dalam jabaran santun kita sering menyebutnya
dengan ramah tamah & hormat menghormati, arti dan makna kalimat ini,
bagi setiap pribadi bangsa Indonesia [sesungguhnya patut diberlakukan
bagi setiap umat manusia] kalimat ini selain bermakna sakral dan
mulia, j u g a menjadi tanda & bias bagi setiap pribadi yang telah
mendapatkan dan "merasa" terujudnya jatidiri yang sejati pada kadar
dirinya-,

Ramah tamah & hormat menghormati sesama umat pada tingkat apapun dan
dimanapun,
"hal inilah" sesungguhnya yang patut menjadi landasan utama bagi
setiap perilaku manusia didalam kehidupan sehari hari setiap detiknya,
bahkan bagi umat Muslim bangsa
Indonesia, dua kalimat jatidiri tersebut patut dijadikan sebagai
pendukung dan penyempurna atas kemuliaan kita setelah menyebut dan
melafaskan dua kalimat
syahdat-,
Tentunya yang dimaksud disini adalah seluruh umat bangsa Indonesia
siapapun adanya[!]

Dua kalimat sakral j a t i d i r i tersebut diatas, dapat
dibayangkan kalau sudah tertanam-
dan sepenuhnya menjiwai setiap insan bangsa Indonesia, dapat
dibayangkan bagaimana indah dan damainya "suasana masarakat" dalam
kehidupan sehari harinya, tentu dengan -
dengan catatan; ramah tamah dan hormat menghormati yang t i d a k
dan bukan cuma ekspresi lahiriah semata, tapi mendalam yang berasal
dari kalbu dan "sebersih hati" seper
ti yang dimaksud dan dikehendaki oleh Sang Chaliq Allah Tuhan Yang
Maha Esa -----,
j a n g a n l a h [haramkan!] dalam ramah tamah yang kita bersitkan
itu terlihat atau apa
lagi sarat dengan "kemunafikan" yang terselubung atau yang tidak
terselu bung bahkan-
[apalagi] yang disengaja atau belakangan merasa "tidak
disengaja" [?!], pendapat saya Mas Bagus, masih banyak sekali kaum
beragama bukan hanya di Indonesia, tapi hampir-
diseluruh penjuru dunia [terutama kaum kita, kaum muslim] dalam
pembawaan kehidupan sehari harinya "sadar atau tidak" mereka masih
[sangat jelas] terbungkus bahkan terbiasa dengan rasa dan sikap
munafik yang sangat sangat kental dan dalam--.

Masih dalam catatan usangnya si Boy-, dia menulis dan menyatakan
[seolah olah dia menyampaikan bukan hanya kepada penulis semata] Mas
Bagus-, saya heran, saya yang demikian masih mudanya, saya itu sadar
sesadar sadarnya bahwa munafik itu l e b i h
jahat dan lebih berbahaya dari bahaya laten komunis ataupun atheist
dan terorist yang bagaimanapun dahsyatnya, saya sudah sejak masa bocah
sudah menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa munafik itu keenakan
nongkrong dan ngejogrok didalam bathin diri kita masing masing, bahkan
bangsat dan durjananya, kadangkala munafik itu merasa lebih dari
kesempurnaan bathin yang ada pada diri kita, maka itu Mas, disinilah
saya sangat mengharapkan dan mendambakan jatidiri seutuhnya yang patut
dan mutlak dimiliki oleh setiap insan manusia yang percaya dan
hakulyakin atas ekeberadaan kita sebagai ciptaanNYA............mas
Bagus-, kalau boleh Boy berandai andai.......jangan jangan jatidiri
itulah yang mungkin dimaksud oleh sebagian besar umat manusia yang
keblinger yang selalu dan suka meletakan kata antara d a n dalam
kalimat dunia akhirat, tapi karena mereka tidak tau [boro boro kenal]
apa sesungguhnya itu jatidiri, maka seenaknyalah mereka "ber dan
danan" dengan kata d a n dalam dunia dan akhirat .

Kembali [ke laptop] jatidiri-, kalau kita renungkan bersama mas
Bagus-, sepertinya untuk
mencari dan menemukan [penemuan] dan mengenal serta memahami
[pembentukan] jatidiri sebagaimana yang kita maksudkan bersama
[katakanlah seperti yang Boy maksudkan], sepertinya norma dan kaidah
kaidah a g a m a banyak sekali patut dijadikan sebagai "dasar &
kerangka konstruksi" pada ujud bangunan j a t i d i r i ---[!].

Memang sih kata si Boy-, jatidiri pada setiap manusia itu "tidak ada
yang sama" satu sama lainnya sangat berbeda ibarat sidik jari paada
setiap manusia, karena dalam memahami dan menguasai "jatidiri kita"-,
kita patut terlebih dahulu untuk mencari dan mencari "diri kita
sesungguhnya" [kadangkala bertahun tahun lamanya], kemudian setelah
ditemukan, kita patut mengenal dan mengakui serta m e m v o n i s
diri kita sebagaimana yang ditemukan dan dikenalinya, dimoment itulah
kita diwajibkan untuk memulai membentuk dan mewujudkan jatidiri yang
tanda tandanya ada [hanya] pada diri kita sendiri. Singkat kata, atau
kata kuncinya-, jatidiri itu seprtinya tidak dapat kita ajarkan
apalagi berupa doktrin, jatidiri itu sepertinya harus dicari dan
diketemukan oleh -
diri sendiri yang katanya alim,soleh,tekun dalam ajaran2
agama,berpendidikan, cakep dan cakap dalam pergaulan, d i r i
yang [telah] memiliki "pondasi & kerangka" yang
dapat diterima "orang banyak" dan santun serta dibanggakan dalam
pergaulan sehari hari,
perwujudan diri seperti itulah modal dasar kita untuk
menemukan&membentuk jatidiri !

[Berpikir Bebas 729] Re: Akal Budi dan keberadaan Tubuh Manusia

Setuju, saya juga pernah membaca kisah seperti dibawah ini, yang saya
coba kutip sesuai aslinya........ salam....

Alkisah penjelajah itu pulang ke kampung halamannya, Penduduk ingin
tahu segala sesuatu tentang sungai Amazon. Tetapi bagaimana mungkin
mengungkapkannya dalam kata-kata perasaan yang memenuhi hatinya,
ketika ia melihat bunga-bunga begitu indah memukau dan mendengar
seribu satu suara penghuni rimba diwaktu malam? Bagaimana menjelaskan
perasaan hatinya ketika menghadapi binatang buas atau ketika mendayung
perahu kecilnya melewati arus sungai yang sangat berbahaya?

Ia berkata, 'Pergi dan temukanlah sendiri! Tidak ada yang dapat
menggantikan pertaruhan nyawa dan pengalaman pribadi', namun sebagai
pedoman bagi mereka, ia menggambarkan peta sungai Amazon.

Mereka berpegang pada peta itu. Peta itu dibingkai dan diletakkan di
kantor kotapraja. mereka masing-masing menyalin peta itu. dan setiap
orang yang mempunyai peta, menganggap dirinya seorang ahli tentang
sungai amazon. sebab bukankah ia tahu setiap kelokan dan pusaran
sungai, berapa lebar dan dalamnya, dimana air mengalir deras dan
dimana terdapat air terjun?

Penjelajah itu selama hidupnya menyesalkan peta yang telah dibuatnya.
Mungkin lebih baik jika dulu dia tidak menggambarkan apa-apa.

Katanya Buddha tidak mau dipancing untuk berbicara tentang Tuhan,
rupanya ia menyadari bahaya-bahaya menggambar peta bagi para
cendekiawan dimasa mendatang.

(kutipan dari 'Burung berkicau' oleh A.de Mello SJ)


On Nov 29, 8:16 pm, AMR <abel.rud...@gmail.com> wrote:
> Orang yg sehat Akal Budinya pasti menyetujui bahwa Hukum2 Tuhan itu
> benar adanya dan menyukakan hatinya, tetapi di sisi yang lain, orang
> yg sehat Akal Budinya dan kesukaannya ialah pada Hukum2 Tuhan
> tersebut, tidak secara otomatis bisa diartikan bahwa orang tersebut
> bisa tunduk kepada Hukum2 Tuhan yg disetujui/disukainya.
>
> Tubuh Manusia atau katakanlah keberadaan manusia (tidak ada manusia yg
> sempurna!!) bisa dijadikan sebagai sebuah ukuran dan perbandingan,
> bahwa Hukum2 Tuhan itu sempurna dan Mulia didalam maksud dan
> tujuaanNYA, semakin disetujui dan disukai kebenaranNYA semakin
> tertampak bahwa sesuatu yg sempurna hanya dapat terpenuhi tuntutanNYA
> oleh sesuatu yg sempurna.
>
> Saya ambil sebuah contoh, seindah dan sebenar apapun sebuah kosa kata
> yg tersusun, entah dalam bahasa apapun juga, selama terdiri dari
> huruf2 yg ditulis oleh tangan manusia, paling jauh hanya
> mengisyaratkan bahwa si penulis hanya sanggup bersaksi dari segala
> kekurangannya. Saya memakai "istilah" kekurangan hanya sebagai sebuh
> pesan pengingat bahwa sekaliber Nabi- pun tetap manusia yg punya
> kekurangan, yg intinya ada sebuah kesaksian dalam bentuk tulisan2
> tangan manusia yg punya "pengalaman" merasakan semua yg telah
> disaksikannya dalam bentuk tulisan2 itu sendiri yg tentu kedalaman
> makna dan artinya hanya bisa dipahami oleh si penulis.
>
> Tetapi saya yakin, sedahsyat apapun pengalaman tersebut, akan tetap
> menjadi sebuah harga mati bahwa si penulis bukanlah tokoh tanpa cacat
> dalam pengertian, sudah melakukan secara sempurna semua yg
> disaksikannya.
>
> Didalam tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging ada sebuah
> Hukum yg lain yg tidak kalah kuatnya dengan Hukum Akal Budi yg juga
> ada didalam diri manusia, yaitu Hukum Dosa!!!
> yang membuat semua manusia setingkat nabi sekalipun menjadi terbungkam
> argumennya oleh keberadaan Akal Budinya masing2.....
>
> Maranatha

Thursday, November 29, 2007

[Berpikir Bebas 727] Akal Budi dan keberadaan Tubuh Manusia

Orang yg sehat Akal Budinya pasti menyetujui bahwa Hukum2 Tuhan itu
benar adanya dan menyukakan hatinya, tetapi di sisi yang lain, orang
yg sehat Akal Budinya dan kesukaannya ialah pada Hukum2 Tuhan
tersebut, tidak secara otomatis bisa diartikan bahwa orang tersebut
bisa tunduk kepada Hukum2 Tuhan yg disetujui/disukainya.

Tubuh Manusia atau katakanlah keberadaan manusia (tidak ada manusia yg
sempurna!!) bisa dijadikan sebagai sebuah ukuran dan perbandingan,
bahwa Hukum2 Tuhan itu sempurna dan Mulia didalam maksud dan
tujuaanNYA, semakin disetujui dan disukai kebenaranNYA semakin
tertampak bahwa sesuatu yg sempurna hanya dapat terpenuhi tuntutanNYA
oleh sesuatu yg sempurna.

Saya ambil sebuah contoh, seindah dan sebenar apapun sebuah kosa kata
yg tersusun, entah dalam bahasa apapun juga, selama terdiri dari
huruf2 yg ditulis oleh tangan manusia, paling jauh hanya
mengisyaratkan bahwa si penulis hanya sanggup bersaksi dari segala
kekurangannya. Saya memakai "istilah" kekurangan hanya sebagai sebuh
pesan pengingat bahwa sekaliber Nabi- pun tetap manusia yg punya
kekurangan, yg intinya ada sebuah kesaksian dalam bentuk tulisan2
tangan manusia yg punya "pengalaman" merasakan semua yg telah
disaksikannya dalam bentuk tulisan2 itu sendiri yg tentu kedalaman
makna dan artinya hanya bisa dipahami oleh si penulis.

Tetapi saya yakin, sedahsyat apapun pengalaman tersebut, akan tetap
menjadi sebuah harga mati bahwa si penulis bukanlah tokoh tanpa cacat
dalam pengertian, sudah melakukan secara sempurna semua yg
disaksikannya.

Didalam tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging ada sebuah
Hukum yg lain yg tidak kalah kuatnya dengan Hukum Akal Budi yg juga
ada didalam diri manusia, yaitu Hukum Dosa!!!
yang membuat semua manusia setingkat nabi sekalipun menjadi terbungkam
argumennya oleh keberadaan Akal Budinya masing2.....

Maranatha

Monday, November 26, 2007

[Berpikir Bebas 726] Re: Dimanakah sorga itu?

Surga bagi saya ga bisa didefinisikan dan ditentukan keberadaannya yg
sebenarnya, perumpamaan sekalipun jika dikaji dengan lebih teliti,
justru semakin membuat keberadaan surga menjadi tidak tepat seperti
keberadaan nya yg sesungguhnya. Semua uppaya manusia tuk menggambarkan
keberadaan dan keadaan surga selalu tidak bisa tidak harus menyertakan
contoh2 diseputar benda2 alamiah.

Kita hanya dapat sejauh percaya bahwa surga itu ada, cukup dengan
melihat semua contoh2nya saja.

On Nov 24, 8:23 am, Tjipto Juwono <tji...@gmail.com> wrote:
> Agama dirancang sebagai konsep yang mudah dicerna oleh akal orang
> kebanyakan. Dengan demikian, orang kebanyakan bisa diarahkan untuk
> hidup yang relatif cukup baik, tidak anarkis. Agama semacam ini bisa
> menjadi motivator yang cukup kuat melalui iming-iming hadiah surga,
> atau ancaman hukuman neraka.
>
> Kalau orang-orang yang berada di surga dibandingkan dengan orang-orang
> di muka bumi, maka relatif tidak ada perbedaan spiritual yang berarti
> (selain bahwa surga yang tadinya diterima melalui iman, sekarang
> tampak sebagai realita).
>
> Di dalam agama semacam ini, surga adalah proyeksi kenikmatan duniawi,
> dan neraka adalah proyeksi penderitaan di dunia.
>
> Kalau di dunia ada rumah mewah, maka di surga ada rumah yang super
> mewah. Kalau di dunia ada makanan lezat, maka di surga ada makanan
> super lezat tanpa batas. Kalau di dunia seorang pria berhubungan
> dengan seorang wanita cantik, maka di surga ada banyak sekali bidadari
> ... yang super cantik.
>
> Dengan demikian, manusianya sama, tempatnya-lah yang berbeda. Yang
> satu di dunia, yang lain di surga. Bahkan konsep tentang surga
> sebenarnya tidak lebih daripada kelanjutan kenikmatan duniawi, dalam
> versi yang "ekstrim".
>
> Seperti halnya tontonan Sepak Bola Dunia, McDonald Hamburger, atau
> sebungkus rokok kretek, agama menjadi hiburan yang mudah, tidak
> membutuhkan perjuangan intelektual atau batin. Bahkan berbeda dengan
> McDonald Hamburger yang mungkin tidak terjangkau rakyat yang paling
> miskin, maka agama adalah hiburan murah yang terjangkau oleh semua
> lapisan.
>
> --
> salam
> tj

Sunday, November 25, 2007

[Berpikir Bebas 728] Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

23 - 29 Nopember 2007

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di
sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Saat Menciptakan Musik,Keyakinan adalah Perkara Insidental oleh Ani
Zonneveld
Dalam artikel keempat dari serial bisnis gabungan antara Muslim-Barat
ini, Ani Zonneveld, seorang penyanyi, penulis lagu, dan Presiden
Muslims for Progressive Values, menggambarkan beberapa hubungan
pribadi yang berkembang antara penulis lagu dan artis, dapat
bermanfaat untuk menciptakan musik yang " bermakna dan bernuansa".
Zonneveld menulis bahwa "kesediaan kami mendengarkan cerita-cerita
yang beragam, memupuk sebuah proses kreatif organik."
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

2) Kebijakan Luar Negeri Tarik Menarik Turki oleh Gürcan Koçan dan
Jason J. Nash
Gürcan Koçan, profesor di Istanbul Technical Universtiy, dan Jason J.
Nash, analis hubungan Timur Tengah dan Turki yang tinggal di Istanbul,
membahas faktor-faktor domestik dan internasional yang mempengaruhi
kebijakan Timur Tengah Turki, khususnya ketika menyangkut kehadiran
Partiya Karkaren Kurdistan (Partai Karyawan Kurdi--PKK) yang
kontroversial di Irak.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

3) Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak oleh César Chelala
Pada Hari Anak-Anak Internasional kali ini, César Chelala, peraih
penghargaan Overseas Press Club of America dan koresponden asing untuk
Middle East Times International, membahas penderitaan anak-anak Irak
yang harus merasakan akibat-akibat perang di negara mereka.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

4) Manakah Perempuan dalam Politik Timur Tengah? oleh Rafi'ah Al
Tal'ei
Penulis berkebangsaan Oman dan direktur program Gulf Forum for
Citizenship, Rafi'ah Al Tal'ei membahas perjuangan kaum perempuan
Timur Tengah untuk meningkatkan jumlah mereka dalam arena politik.
Dengan menggambarkan hambatan-hambatan politik, ekonomi, dan sosial
yang mereka hadapi, ia menguraikan penyelesaian-penyelesaian yang
memungkinkan partisipasi perempuan yang lebih besar.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

5) Masih Ada Waktu untuk Mundur Dari Bibir Jurang oleh Editorial Daily
Times
Editorial Daily Times ini membahas hubungan yang dimainkan antara
aktor-aktor di panggung politik Pakistan dan mempertimbangkan beberapa
pilihan yang tersedia bagi mereka, sementara mereka mempersiapkan
pemilihan presiden di bawah pengumuman kekuasaan darurat Presiden
Musharaf belum lama ini.
(Sumber: Daily Times, 20 Nopember 2007)


1) Saat Menciptakan Musik,Keyakinan adalah Perkara Insidental
Ani Zonneveld

Los Angeles - Sebagai seorang pencipta lagu, pekerjaan saya adalah
menuliskan lagu yang sesuai dengan gaya dari artis tertentu. Para
penerbit memberi tahu saya tentang label rekaman dan artis mana yang
sedang mencari lagu bagi album mereka yang akan datang, dan dengan
informasi itu saya duduk di depan komputer, yang penuh dengan program
piranti lunak dan suara, untuk menuangkan apa yang ada di dalam kepala
saya. Dalam satu hari, saya biasanya menyelesaikan irama dan baris
melodi. Dalam dua hari, liriknya telah selesai.

Dalam sebuah proses kolaboratif, sebuah lingkungan kreatif yang ideal
adalah lingkungan yang memungkinkan sebuah gagasan yang dilemparkan
menjadi lebih baik, memicu gagasan lain yang mengembangkan gagasan
pertama, dan seterusnya. Karena keterbatasan waktu, latar belakang,
agama, atau politik seseorang jarang dibahas. Jika ada kecocokan
antara para penulis lagu, hal itu berasal dari reaksi kimia yang
dipancarkan musik. Dengan kata lain, agama, warna kulit, umur dan
jenis kelamin seseorang menjadi tak relevan.

Kenyataan bahwa saya adalah seorang perempuan Muslim hanyalah pokok
insidental dalam proses ini. Saya dinilai berdasarkan keberhasilan
saya sebagai seorang penulis lagu, jumlah karya yang telah saya
hasilkan, dan penghargaan yang saya dapatkan.

Walaupun agama saya tak berkaitan sama sekali dengan pekerjaan saya,
kadang-kadang dalam sebuah percakapan, mitra saya dalam menuliskan
lagu mengetahui bahwa saya adalah seorang Muslim. Ketika ini terjadi,
mereka pun menanyakan, "Ah, coba saya ajukan padanya berbagai
pertanyaan yang ingin saya ketahui tentang Islam". Topik-topik yang
dibahas mulai dari jilbab, laki-laki Muslim yang menikahi empat istri,
hingga pendapat saya tentang politik di Timur Tengah.

Menulis dengan artis yang berada dalam satu ruangan merupakan sebuah
proses yang sangat berbeda dengan tanpa sang artis. Sebagai seorang
penulis, saya memiliki gaya saya sendiri dalam menyusun rangkaian
melodi, memadukan kata dengan musik, dan seterusnya, jadi ketika saya
bekerja dengan sang artis, saya harus membiarkan mereka "menghidupkan"
gagasan yang telah saya sumbangkan; yaitu, dengan mempersonalisasikan
sebuah gagasan musik berdasarkan interpretasi musik mereka sendiri.

Dua artis yang pernah bekerja sama dengan saya adalah Keb' Mo' dan
Melissa Manchester. Kami biasanya memulai dengan bertukar kabar satu
sama lain, bertukar cerita tentang industri musik, hingga membahas
masalah politik dan agama. Jenis musik mereka membutuhkan banyak
pendalaman dan perenungan, dan hubungan pribadi yang telah kami
kembangkan selama bertahun-tahun ini membantu proses penciptaan musik
yang penuh makna dan nuansa.

Sebuah contoh ketika agama ikut berperan adalah lagu Thank You for
Your Faith in Me, yang saya tulis bersama dengan Melissa Manchester.
Lagu tersebut merupakan ucapan syukur kepada Tuhan yang mepercayai
kita dan tidak berputus asa menghadapi kita. Dalam hal ini,
spiritualitas kami berasal dari ruang yang sama, ia dari keyakinan
Yahudinya dan saya dari Islam.

Hubungan saya dengan Keb' Mo', artis Blues Kontemporer peraih banyak
Grammy, berawal sejak 15 lalu, ketika ia biasa merekam bagian gitar
pada lagu-lagu saya di studio. Hubungan profesional saya tak terasa
seperti hubungan bisnis, karena ia telah berkembang menjadi sebuah
hubungan yang penuh saling pengertian dan persahabatan berdasarkan
keyakinan bersama dalam "melakukan hal yang benar" - sebuah nilai
spiritual yang dijalani Keb' Mo'. Satu hari ia mengundang saya tampil
ke atas panggung Disney Concert Hall di Los Angeles untuk membicarakan
proses pembuatan lagu kami dan kemudian tanpa disangka-sangka ia
mengirimkan cek sebagara ucapan terima kasih atas jerih payah saya.
Tindakan bijak seperti itu jarang terjadi.

Dengan artis-artis seperti Melissa Manchester dan Keb' Mo', saya
merasa nyaman membicarakan berbagai hal di luar kehidupan profesional
saya - aktivitas sosial saya sebagai seorang Muslim, dan mendengarkan
pandangan-pandangan keagamaan dan politik mereka. Mungkin yang
mengejutkan, berbagai percakapan pribadi yang luas dan penerimaan
terhadap keragaman satu sama lain ini, sering memicu sebuah judul lagu
atau tema. Kesediaan kami untuk mendengarkan cerita-cerita yang
beragam memupuk sebuah proses kreatif organik.

Walaupun kita mungkin terlibat dalam sebuah hubungan bisnis, pada
akhirnya kita semua merupakan bagian dari kemanusiaan. Dan landasan
bagi hubungan penuh damai, tak peduli bentuknya, adalah rasa
penghormatan dan penerimaan kita akan kesetaraan satu sama lain.

###

* Ani Zonneveld adalah seorang penyanyi/penulis lagu di Los Angeles
(www.a-n-i.net) dan salah seorang pendiri dan Presiden Muslims for
Progressive Values (www.mpvusa.org). Artikel ini merupakan bagian dari
serial tentang bisnis gabungan antara Muslim-Barat, disebarluaskan
oleh Kantor Berita Common Ground dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org Telah memperoleh hak cipta.


2) Kebijakan Luar Negeri Tarik Menarik Turki
Gürcan Koçan dan Jason J. Nash

Istanbul - Turki belum lama meningkatkan tekanan atas pihak-pihak
berwenang AS dan Irak untuk mengakhiri kehadiran kelompok separatis,
Partiya Karkaren Kurdistan (Partai Karyawan Kurdi--PKK), di bagian
utara Irak.

Perkembangan secara bertahap hingga menjadi krisis yang sedang terjadi
saat ini telah melibatkan lebih dari kebutuhan keamanan Turki di
perbatasan wilayah selatan dan bagi kesatuan internalnya. Ada
keseimbangan hubungan yang sedang terjadi antara tuntutan-tuntutan
berbagai aktor domestik Turki di satu sisi, dan kepentingan-
kepentingan mitra-mitra regional dan strategis Turki di sisi lain.

Isu Irak utara mulai membajak agenda kebijakan luar negeri Turki.
Pihak militer dan birokrasi Turki secara tradisional mengatasi ancaman-
ancaman keamanan terhadap wilayah Turki. Dan pemerintah koalisi Turki
masa lalu, yang umumnya tidak stabil, biasanya menyerahkan pembuatan
keputusan seperti itu kepada para pembuat kebijakan yang telah berdiri
sejak lama tersebut.

Kedua aktor politik utama ini - militer dan birokrasi - dengan
pembagian-pembagian internal mereka sendiri dalam tanggapan kebijakan,
telah berusaha untuk menempatkan kepentingan-kepentingan domestik
Turki sambil melihat kedudukannya dalam kerangka kerja kewajiban
internasional dan pengaturan perjanjian dengan UE, Amerika Serikat,
dan NATO.

Hingga belum lama ini, boleh dibilang, kebijakan-kebijakan Timur
Tengah Turki merupakan hasil dari hubungan antara faktor-faktor
strategis lebih besar dan tidak mempertimbangkan dampak-dampaknya
terhadap lingkungan regional. Hubungan dekat yang dikembangkan Turki
dengan Israel merupakan satu indikasi bagaimana aktor luar telah
mempengaruhi kebijakan Timur Tengahnya seiring dengan garis-garis
strategis, namun jauh dari pertimbangan rakyat, seperti rasa
persaudaraan Muslim di kalangan masyarakat.

Adalet ve Kalkinma Partisi (Partai Pembangunan Keadilan--AKP) Turki,
yang kini tengah berkuasa, sedang mengevaluasi kembali faktor-faktor
tersebut. Bertentangan dengan keinginan pemerintah Bush, pemerintah
Turki telah membangun hubungan yang semakin dekat dengan Suriah dan
Iran, terlepas dari risiko tergganggunya jaringan strategis
persekutuan Barat yang telah menentukan banyak kepentingan kebijakan
luar negeri Turki sejak Perang Dunia II.

Namun yang menarik, dan berbeda dari pemerintah-pemerintah Turki
sebelumnya, adalah upaya AKP untuk melegitimasi tindakan-tindakannya
sembari berusaha membela berbagai kepentingannya. Tindakan unilateral
melawan PKK di Irak utara, dengan kata lain, tidak lagi mungkin
terjadi.

Pemerintah Bush berada pada posisi tidak nyaman akibat dorongan
mendadak dari Turki tersebut, terperangkap karena Bush berada dalam
jaringan persekutuan oportunistis dengan para pemimpin Irak utara. Di
Turki, mereka sekarang menghadapi sekutu NATO yang menggunakan isu
terorisme PKK sebagai dasar balasan tindakan bersenjata mereka, sama
seperti yang dilakukan Amerika Serikat ketika membenarkan campur
tangannya sendiri di Afghanisan dan Irak.

Namun, tidak hanya pemerintah AS yang berada dalam keadaan terdesak.
Pemerintah Turki juga mendapatkan dirinya tertarik ke dalam
kepentingan untuk bertindak sesuai dengan tingkat tuntutan rakyat.
Karena keinginan untuk mengintervensi Irak utara semakin menguat dalam
pendapat publik Turki, pemerintah AKP telah mencari berbagai cara
untuk mengurangi tuntutan penggunaan kekerasan ini. Pemerintah telah
mencoba untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan penggunaan
kekuatan fisik dengan kekuatan maya dari media, baik di tingkat
nasional dan internasional.

Penggunaan kekerasan di Irak utara diperpanas oleh pertimbangan-
pertimbangan ekonomi dan pemimpin bisnis Turki. Hubungan dagang yang
luas antara Irak utara dan sebagian besar Timur Tengah, terkait dengan
pemulihan ekonomi Turki sendiri, khususnya di wilayah tenggara yang
penuh permasalahan, dapat terancam oleh tindak balasan yang terlalu
keras.

Tingkah laku berlebihan pihak berwenang Turki dapat mengumpani
kecurigaan-kecurigaan UE terkait dengan keanggotaan negara tersebut
dalam "klab Uni Eropa". Kebangkitan nasionalisme sebagai sebuah
kekuatan dalam politik Turki berada dalam kedudukan yang tidak nyaman,
tidak hanya dengan mitra-mitra luar negerinya, tetapi juga dengan
partai berkuasa. Dengan meminta media lokal mengurangi tingkat
kesensasionalan liputan terhadap serangan-serangan di tenggara Turki,
pemerintah sedang bertindak untuk melindungi kendaraan kekuatan "maya"
ini dan mempertahankan hubungan strategis yang telah lama terjalin,
dengan menyelesaikan keadaan, tanpa harus memilih kekuatan "fisik"
yang mungkin mengancam kepentingan-kepentingan AS di Irak.

Pembentukan kebijakan luar negeri Turki telah melewati sebuah
perubahan penting dalam lima tahun terakhir, walaupun sedang mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan -kenyataan
regional. Kehadiran Amerika Serikat di Irak memperumit pilihan balasan
bersenjata tradisional, demikian juga dengan peningkatan hubungan
ekonomi dan strategis dengan Timur Tengah, dan UE memaksa para pembuat
kebijakan luar negeri di Ankara untuk mempertimbangkan batasan-batasan
ini dalam kaitannya dengan tindakan militer.

Di dalam negeri, pemerintah Turki juga sedang menghadapi keinginan
yang saling bertentangan antara kelompok yang menginginkan sebuah aksi
dengan mereka yang menyarankan pengendalian diri. Kekuatan "maya"
pelan-pelan digunakan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan ini, sambil
menghalangi penggunaan kekuatan "fisik". Namun, walaupun pengendalian
diri yang lebih terukur tercapai, hal ini tidak serta merta
menyelesaikan isu-isu jangka panjang yang disebabkan oleh munculnya
kekerasan PKK. Pemangku kepentingan yang berbeda, baik pada tingkat
domestik maupun regional, juga perlu dilibatkan untuk memastikan
stabilitas yang lebih berjangka panjang di wilayah tersebut.

Jika wajah monolitis dari perumusan kebijakan luar negeri dari Ankara
memang benar-benar ada, maka boleh dibilang bahwa masa itu pasti telah
berakhir. Tanggapan Turki terhadap peristiwa-peristiwa terakhir
menunjukkan bahwa ia sedang belajar untuk menyesuaikan pembuatan
kebijakan luar negerinya dengan memperhitungkan hubungan kompleks yang
sekarang harus dihadapinya. Bagi UE, sudah tiba saatnya untuk
menangani hubungannya dengan Turki dengan cara yang lebih konstruktif.
Bagi Amerika Serikat dan kebijakan Timur Tengahnya yang bermasalah,
hal itu juga semakin penting.

###

* Gürcan Koçan adalah seorang profesor pada departemen ilmu-ilmu
humaniora dan sosial pada Istanbul Technical University, dan Jason J.
Nash adalah analis hubungan Timur Tengah dan Turki yang tinggal di
Istanbul. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak
César Chelala

New York - Hari Anak-Anak Internasional akan dirayakan di penjuru
dunia pada tanggal 20 Nopember. Perserikatan Bangsa-Bangsa menandai
hari ini sebagai "sebuah hari persaudaraan dan pengertian antara anak-
anak seluruh dunia ". Di Irak, sayangnya, hari ini tidak akan
dirayakan dengan banyak kemeriahan, karena anak-anak telah menjadi
korban paling rentan dari sebuah perang orang dewasa yang tak
bermoral. Sekali melihat foto-foto anak-anak Irak yang menjadi cacat
akibat perang, kita akan terus dihantui oleh mereka.

Seorang anak meninggal setiap lima belas menit di Irak. Lebih banyak
lagi yang cacat seumur hidup mereka. Dari prakiraan, 4 juta bangsa
Irak - sebuah angka yang setara dengan jumlah seluruh penduduk
Irlandia - yang telah terlantar di dalam negeri atau telah
meninggalkan Irak, 1,5 juta di antaranya adalah anak-anak. Kebanyakan
dari mereka tidak memiliki jalur terhadap perawatan kesehatan dasar,
pendidikan, tempat tinggal, air atau kebersihan.

70 persen rakyat tidak memiliki akses terhadap persediaan air yang
memadai, dan 80 persen tidak memiliki sarana kebersihan yang baik,
kondisi-kondisi yang menciptakan lahan pengembangan infeksi-infeksi
usus dan pernafasan yang umumnya menyerang anak-anak. "Anak-anak
meninggal setiap hari karena kurangnya dukungan medis dasar. Sistem
pembuangan yang buruk dan kurangnya air bersih, khususnya di pedesaan,
telah menjadi masalah serius yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-
tahun untuk mengatasinya," Ahmed Obeid, seorang pejabat kesehatan
Irak, mengingatkan.

Keprihatinan utama lain adalah kekurangan gizi. Tingkat penyebarannya
di kalangan anak-anak terus meningkat; berbagai bahaya kekurangan gizi
telah berlipat ganda sejak serangan yang dipimpin AS, sehingga Irak
sekarang setara dengan Burundi, negara Afrika Tengah yang terpecah
oleh perang saudara yang penuh kekejaman, dan lebih tinggi daripada
Haiti, negara termiskin di Amerika.

Jumlah anak-anak yang lahir dengan berat badan kurang juga lebih
tinggi daripada sebelum serangan, menurut sebuah laporan yang
diterbitkan oleh OXFAM dan 80 badan bantuan lain. Sekitar 8 juta orang
- sekitar sepertiga jumlah penduduk - membutuhkan bantuan darurat, dan
lebih dari 4 juta rakyat Irak bergantung pada bantuan pangan.

"Anak-anak sakit atau terluka yang seharusnya dapat dirawat dengan
peralatan ala kadarnya dibiarkan meninggal dalam jumlah ratusan karena
mereka tidak memiliki akses terhadap obat-obatan dasar atau sumber-
sumber daya lain. Anak-anak yang telah kehilangan tangan, kaki, dan
tungkai, dibiarkan tanpa indra buatan. Anak-anak dengan keadaan
pikologis yang parah, dibiarkan tak dirawat." Ini adalah penilaian
dari sekitar 100 dokter Inggris dan Irak.

Beragam penyakit yang berhubungan dengan lingkungan, menyerang
kalangan anak-anak karena keterbukaan mereka dengan bahan-bahan
pencemar tersebut. Banyak kasus cacat lahir dan kanker di kalangan
anak-anak dipercaya merupakan akibat-akibat dari bahan-bahan kimia dan
radioaktif. Belum lagi apa yang secara eufimisme disebut sebagai
"kerusakan nyata", yang berarti ribuan anak-anak yang terbunuh oleh
bom-bom yang meledak di tepi jalanan, serangan-serangan bunuh diri,
atau operasi-operasi militer dan keamanan.

Yang juga mengkhawatirkan adalah peningkatan jumlah anak-anak, baik
perempuan maupun laki-laki, yang diculik dan diperdagangkan demi
eksploitasi seksual. Ini adalah sebagian akibat dari bangkitnya
kelompok-kelompok bersenjata di seluruh penjuru negeri.

Hal ini menuntut masyarakat Internasional - termasuk pemain Barat
maupun regional - mengambil langkah-langkah untuk bersama-sama
mengakhiri pilinan kekerasan di Irak demi kemanusiaan kita sendiri.
Ketika kita membaca atau mendengar tentang laporan tanpa akhir dari
berbagai peristiwa kekerasan di Irak, berapa sering kita berhenti
untuk berpikir bagaimana caranya sebuah peristiwa tunggal seperti itu
mempengaruhi tubuh, pikiran, hati, kehidupan keseharian dan masa depan
orang-orang yang disentuhnya, langsung maupun tidak?

Saya melihat sekali lagi foto seorang anak Irak tak dikenal, sebuah
foto karya Dan Chung untuk Guardian, ciri-cirinya terbakar hingga
tidak dapat dikenali, yang mata sedihnya kelihatan ingin berkata, "Apa
yang telah saya lakukan sampai menanggung ini?" Orang-orang kecil itu,
yang menanggung dampak-dampak tragis perang di pundak mereka yang
rapuh.

###

* César Chelala, MD, PhD, adalah salah seorang pemenang penghargaan
Overseas Press Club of America. Ia juga seorang koresponden asing
untuk Middle East Times International (Australia). Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) Manakah Perempuan dalam Politik Timur Tengah?
Rafi'ah Al Tal'ei

Washington, DC - Walaupun kaum perempuan berjuang untuk berperan serta
dalam politik di seluruh dunia, jumlahnya masih rendah di Timur
Tengah. Kaum perempuan telah memiliki jalur ke kantor politik selama
berabad-abad, tetapi kemajuannya, yang semangati dari tepian oleh
berbagai organisasi dari Barat, sangat lambat. Apa yang menanahan kaum
perempuan hingga tak bisa memiliki perwakilan lebih besar di dunia
politik dan apa yang dapat dilakukan untuk mendorong partisipasi
mereka?

Hasil dari pemilihan umum di Maroko belum lama ini melahirkan
perdebatan tentang perwakilan politik perempuan ke arena politik.
Hanya 34 perempuan yang memenangkan majelis rendah parlemen,
dibandingkan dengan 35 perempuan pada pemilihan sebelumnya, hanya
sekitar 5% dari semua wakil.

Di Turki, perempuan memenangkan 50 dari 550 kursi di parlemen Turki.
Walaupun baru mencakup 9% dari keseluruhan, ini pertanda yang
membesarkan hati, karena jumlah perempuan yang terpilih berlipat ganda
dibandingkan dengan pemilihan parlemen terakhir. Persentase perwakilan
perempuan ini merupakan yang kedua terbesar di wilayah tersebut
setelah Irak, yang memiliki 70 wakil perempuan dalam parlemennya yang
beranggotakan 275 orang.

Perempuan di Timur Tengah sering mengalami kondisi-kondisi politik,
sosial, dan budaya yang sensitif dan rumit, yang membatasi kemampuan
mereka untuk terlibat dalam arena politik. Banyak perempuan yang
menjauhkan diri dari partisipasi politik demi menghindari kontroversi.
Tafsiran-tafsiran keagamaan konservatif kadang membatasi partisipasi
perempuan dalam kehidupan masyarakat, atau mencegah mereka bercampur
dengan kaum pria, atau menduduki jabatan pemerintahan. Juga ada
dimensi keluarga yang perlu dipertimbangkan, yang masih menjadikan
perempuan secara tradisional bertanggung jawab terhadap tugas-tugas
rumah tangga.

Perempuan juga sering dilihat kurang berpengalaman dalam urusan-urusan
kemasyarakatan, akibatnya, para pemilih - baik laki-laki maupun
perempuan - cenderung tidak akan memilih mereka. Jadi, meskipun
perempuan tidak menahan diri dari pencalonan jabatan politik, ia pun
kalah sejak awal karena kurangnya dukungan masyarakat.

Ini biasanya membantu menjelaskan mengapa hanya sejumlah kecil
kandidat perempuan yang mencalonkan diri untuk jabatan publik.
Misalnya, dari 800 kandidat pada pemilihan umum Oman 27 Oktober lalu,
hanya 25 di antaranya perempuan.

Sebagai tambahan, ada faktor lain yang menghambat perempuan untuk
mencalonkan diri bagi jabatan politik. Termasuk di antaranya beragam
tingkat demokrasi yang sering kali tidak memuaskannya, kebebasan
berpendapat, kemajemukan, penghormatan terhadap keragaman, dan dialog
terbuka.

Walaupun faktor-faktor ini mempengaruhi baik perempuan maupun laki-
laki, namun ketika ditambah dengan struktur sosial dan budaya yang
lebih mendukung laki-laki daripada perempuan dalam arena politik, yang
paling parah terkena dampaknya adalah perempuan. Ini cenderung
mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kesadaran politik di
kalangan warga negara.

Memajukan partisipasi efektif dan perwakilan perempuan yang murni
dalam politik berarti mengangkat kesadaran akan peran perempuan dalam
kehidupan masyarakat, melatih perempuan untuk menduduki jabatan
publik, dan melibatkan mereka untuk masuk arena politik dalam rangka
memperkaya pengalaman mereka, meraih kepercayaan pemilih dan
mempersiapkan generasi-generasi perempuan di masa depan untuk
berpartisipasi dalam jumlah yang lebih besar.

Satu sarana perbaikan partisipasi perempuan adalah dengan sebuah
sistem kuota, yang mengalokasikan sejumlah persentase kursi bagi
perempuan. Di negara-negara tempat langkah tersebut telah diterapkan,
seperti Tunisia, Irak dan Yordania, kita melihat lebih banyak
perempuan dalam politik. Belum lama ini, kaum perempuan telah berjuang
untuk memenangkan 15% kuota dalam pemilihan umum Yaman yang akan
datang.

Selain menerapkan kuota, para pemimpin partai politik dan ketua-ketua
organisasi sipil seharusnya dibujuk untuk mencalonkan perempuan dalam
daftar pemilihan mereka dan menugaskan mereka dalam kedudukan-
kedudukan dengan wewenang yang lebih besar. Memajukan sebuah budaya
pencarian dana untuk mendukung kandidat juga merupakan cara yang
efektif untuk mengatasi situasi kesulitan ekonomi, yang mungkin
menghalangi perempuan berpartisipasi, karena dalam banyak masyarakat
tradisional kaum laki-laki menangani kebanyakan urusan keuangan
keluarga.

Di kebanyakan negara Timur Tengah, ada beberapa organisasi yang peduli
dengan isu-isu perempuan dan hak-hak asasi manusia. Jejaring di
kalangan lembaga-lembaga masyarakat madani yang peduli dengan
partisipasi perempuan, entah dalam suatu negeri entah di tingkat
regional, maupun internasional, akan membantu memperkaya dan mendukung
perempuan secara politik.

Banyak negara Timur Tengah yang memiliki Menteri Urusan Perempuan.
Walaupun ini kelihatannya merupakan sebuah langkah menuju arah yang
tepat, lembaga-lembaga ini sering bekerja secara independen dari
kementerian-kementerian lain daripada mengambil manfaat dari peran
yang dimainkan setiap kementerian untuk memajukan sebuah strategi
nasional yang kohesif untuk meningkatkan keterwakilan perempuan.

Pada tingkat internasional, sejumlah organisasi telah berurusan dengan
organisasi-organisasi lokal di Timur Tengah untuk melatih perempuan
berpolitik, selain membantu mereka mengatasi sebagian permasalahan
yang mereka hadapi. Selama ini, lembaga-lembaga swadaya masyarakat
Amerika seperti National Democratic Institute (NDI) dan International
Republican Institute (IRI) telah menjadi tuan rumah bagi kegiatan-
kegiatan gabungan ini, seperti pelatihan politik perempuan di Levant,
Teluk, dan Afrika Utara selama kampanye-kampanye pemilihan terakhir.
NDI dan IRI juga terus menyelenggarakan berbagai konferensi dan
lokakarya untuk membantu perempuan memperoleh pengalaman dalam bidang
ini.

Koordinasi dan jejaring gabungan dari berbagai organisasi dan individu
ini akan membantu menyelesaikan halangan-halangan partisipan politik
perempuan pada tingkat akar rumput. Dengan membantu perempuan
menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam politik, akan mendorong
partisipasi perempuan yang lebih besar pada semua tingkat.

Jalan untuk menyempurnakan kesetaraan jender politik masih panjang,
perjuangan belum selesai. Langkah-langkah kecil ini merupakan pertanda
bahwa ada banyak orang yang bekerja di belakang layar untuk mengubang
keseimbangan tersebut di masa depan.

###

* Rafi'ah Al Tal'ei adalah seorang penulis berkebangsaan Oman dan
direktur program Gulf Forum for Citizenship. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


5) Masih Ada Waktu untuk Mundur Dari Bibir Jurang
Editorial Daily Times

Lahore - Pakistan sedang melalui sebuah masa yang penuh ketegangan
yang akut antara dua buah pilihan - sebuah transisi yang kooperatif
tetapi relatif tidak sempurna dari pemerintahan militer ke demokrasi,
atau suatu konfrontasi terbuka tetapi relatif tidak efektif. Apapun
pilihannya, ia harus membiarkan keping tersebut jatuh dan berharap
ketika debu reruntuhan telah dibersihkan, Pakistan akan tetap tegak
berdiri.

Berbicara kepada CNN, Benazir Bhutto mengatakan bahwa ia masih
menunggu jawaban dari Jenderal Musharaf. Merasakan tekanan masyarakat,
ia telah meminta sang jenderal untuk melepaskan seragam militernya,
mengakhiri keadaan gawat darurat, memulihkan Komisi Pemilihan Umum dan
pemerintah interim, media yang bebas, dan mengharuskan pemerintah
lokal memudahkan pemilihan umum yang bebas dan adil pada bulan
Januari. Jika ia tidak setuju, ia harus bersiap-siap menghadapi protes
masyarakat dan kemungkinan boikot kolektif pihak oposisi terhadap
pemilihan umum. Tetapi jika ia telah menolak rekomendasi terakhir
Amerika, yang dibawa ke Islamabad oleh Deputi Menteri Luar Negeri John
Negroponte, berapa besar peluang Musharaf akan menanggapi Bhutto?

Jenderal Musharaf secara bertahap telah memangkas layarnya untuk
mengakomodasi berbagai kecaman, tetapi ia masih enggan untuk membuat
kesepakatan yang dapat mewujudkan transisi yang masih ia inginkan. Ia
telah menetapkan tanggal 8 Januari sebagai hari pemilihan umum,
setelah sebelumnya mengatakan "sebelum 15 Februari" dan kemudian
"sebelum 9 Januari". Ia telah memulai proses pencabutan larangan
terhadap media, setelah diterapkannya kekuasaan darurat, dan
pemerintah menciptakan suara-suara yang mendamaikan tentang membiarkan
dua jaringan besar TV melanjutkan pekerjaan mereka.

Kemungkinan besar ia juga akan membubarkan pemerintahan-pemerintahan
lokal. Walaupun ia tetap bersikap samar tentang kapan ia akan mencabut
keadaan darurat tersebut - karena awalnya. ia menginginkan dirinya
disahkan sebagai presiden untuk masa lima tahun lagi - ia bisa jadi
akan mencabut keadaan daurat sebelum akhir bulan ini, setelah mengubah
Undang-Undang Dasar Sementara untuk memastikannya bebas dari tuntutan.
Jika ia ia membuat keputusan yang benar sekarang, ia setidaknya masih
dapat memulihkan diri dari situasi; jika tidak, daftar tuntutan dari
oposisi akan terus bertambah, hingga ia menjadi satu pokok tantangan
yang bertujuan menyingkirkannya.

Bhutto menghadapi tantangan-tantangannya sendiri menghadapi pihak-
pihak oposisi lain di Gerakan Seluruh Partai Demokratis (All Parties
Democratic Movement--APDM). Pengaruhnya terhadap Jenderal Musharaf akan
meningkat sementara ia merundingkan arah tindakan masa depan dengan
pemimpin Liga Muslim Pakistan, Nawaz Sharif, dan sekutu-sekutu APDM-
nya. Tetapi untuk memperoleh pengaruh dalam menghadapi Jenderal ini,
ia harus menyetujui beberapa tuntutan mendasar Nawaz.

Tuntutan paling utama dari sekutu enam partai adalah untuk memboikot
pemilihan bulan Januari. Persekutuan tersebut tidak akan datang ke
konferensi semua partai yang diserukan Bhutto, kecuali ia menjelaskan
kedudukannya tentang rencana pemboikotan tersebut. Pemboikotan
tersebut diserukan ketika APDM merasa bahwa Bhutto masih mencoba untuk
membuat Jenderal Musharaf setuju dengan pengaturan "pembagian
kekuasaan" sehingga ia harus dengan cepat memilih antara gagasan
boikot yang untung-untungan sifatnya dan gagasan melanjutkan pemilihan
umum tanpa kesetaraan tingkat permainan.

Adalah Jenderal Musharaf yang akan harus "memberi". Ia memiliki
kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan lain dan menolak
konfrontasi. Jika Jenderal Musharaf berpikir ia dapat lolos dari
bahaya karena keretakan dalam golongan oposisi, ia seharusnya berpikir
ulang.

Tidak sulit untuk melihat ke arah mana negara tersebut melangkah,
walaupun jika Jenderal Musharaf mengandalkan gambar-gambar Pakistan
Television Corporation yang menunjukkan apa yang sedang terjadi di
jalanan. Partai Rakyat Pakistan (Pakistan Peoples Party-PPP) sedang
mendemonstrasi para maksimalis di APDM bahwa ia memiliki kemampuan
untuk mengguncang dan menghadapi pemerintah, tuntutan-tuntutannya
semakin hari semakin mengeras, sesuai dengan emosi rakyat. Tetapi
dengan mengamankan suaranya dari keberpihakan kepada lawan-lawan
oposisi yang lebih radikal, sejauh menyangkut perundingan dengan
Jenderal Musharaf, ia juga secara bertahap menarik permadani dari
kakinya sendiri.

Tentara akhirnya berhadap-hadapan secara langsung dengan Al Qaeda di
wilayah-wilayah pedalaman, tetapi perang ini akan sangat sulit
dilaksanakan di tengah ketiadaan dukungan politik, seperti yang
terlihat pada operasi-operasi militer sebelumnya. Al Qaeda
mengendalikan jalur wilayah yang luas, yang penduduknya sekarang
sedikit banyak menerima kekuasaannya dan tampak disiapkan untuk
melawan tentara Pakistan seolah mereka merupakan kekuatan penyerbu.
Jika Jenderal Musharaf memilih konfrontasi, ia mungkin harus
menghadapi dua perang pada saat bersamaan: satu melawan Al Qaeda dan
yang lainnya melawan rakyat Pakistan.

Setelah itu, kemenangan atau kekalahan akan kehilangan artinya. Jika
rakyat menang dan Jenderal Musharaf pergi, para politikus yang
mengambil alih harus berunding dengan Al Qaeda menggunakan dasar
pemikiran yang sama sekali berbeda. Mereka harus berunding menggunakan
persyaratan-persyaratan Al Qaeda, tanpa dukungan partai-partai agama.
Jadi, demi Pakistan, Jenderal Musharaf harus membuka jalan bagi sebuah
pemilihan yang bebas dan adil seperti tuntutan pihak oposisi.

###

* Artikel ini adalah editorial harian Daily Times Pakistan dan
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews), dapat dibaca
di www.commongroundnews.org.

Sumber: Daily Times, 20 Nopember 2007, www.dailytimes.com.pk
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Rami Assali (Jerusalem)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Sireen Hashweh (Jerusalem)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.

Friday, November 23, 2007

[Berpikir Bebas 725] Re: Dimanakah sorga itu?

Agama dirancang sebagai konsep yang mudah dicerna oleh akal orang
kebanyakan. Dengan demikian, orang kebanyakan bisa diarahkan untuk
hidup yang relatif cukup baik, tidak anarkis. Agama semacam ini bisa
menjadi motivator yang cukup kuat melalui iming-iming hadiah surga,
atau ancaman hukuman neraka.

Kalau orang-orang yang berada di surga dibandingkan dengan orang-orang
di muka bumi, maka relatif tidak ada perbedaan spiritual yang berarti
(selain bahwa surga yang tadinya diterima melalui iman, sekarang
tampak sebagai realita).

Di dalam agama semacam ini, surga adalah proyeksi kenikmatan duniawi,
dan neraka adalah proyeksi penderitaan di dunia.

Kalau di dunia ada rumah mewah, maka di surga ada rumah yang super
mewah. Kalau di dunia ada makanan lezat, maka di surga ada makanan
super lezat tanpa batas. Kalau di dunia seorang pria berhubungan
dengan seorang wanita cantik, maka di surga ada banyak sekali bidadari
... yang super cantik.

Dengan demikian, manusianya sama, tempatnya-lah yang berbeda. Yang
satu di dunia, yang lain di surga. Bahkan konsep tentang surga
sebenarnya tidak lebih daripada kelanjutan kenikmatan duniawi, dalam
versi yang "ekstrim".

Seperti halnya tontonan Sepak Bola Dunia, McDonald Hamburger, atau
sebungkus rokok kretek, agama menjadi hiburan yang mudah, tidak
membutuhkan perjuangan intelektual atau batin. Bahkan berbeda dengan
McDonald Hamburger yang mungkin tidak terjangkau rakyat yang paling
miskin, maka agama adalah hiburan murah yang terjangkau oleh semua
lapisan.


--
salam
tj

Thursday, November 22, 2007

[Berpikir Bebas 724] Re: Dimanakah sorga itu?

Ga tau datangnya darimana, dan kemana perginya, yg jelas bisa datang
karena bisa pergi

On Nov 22, 11:58 am, edward <edward...@gmail.com> wrote:
> Kini marak sekali adanya "aliran agama sesat", ada yang menjual sorga
> cukup dengan Rp. 500,000.- dan cara pengembangannyapun mirip dengan
> multi level marketing yang sedang marak dinegeri kita sekarang ini,
> awal ceritanya semua terdengar sangat manis, hingga saat anda telah
> bergabung dan terikat didalamnya, mulailah keluar sedikit demi sedikit
> segala syarat yang menjerat dan mencekik leher, kekuatannya mendekati
> narkoba yang tidak pernah lagi melepaskan korbannya dengan kenikmatan
> sorga sesaat yang begitu menggairahkan, tahu bila tetap bertahan
> terasa makin terjerumus, tapi jalan keluarnya sangatlah menyakitkan,
> akhirnya tetap terombang-ambing jadi sapi perahan sementara pihak.
> .
> Sebenarnya dimanakah sorga itu? Apakah sorga benar-benar ada seperti
> yang diceritakan orang secara turun temurun? Semua bangsa didunia ini
> mengenal sorga dengan cara interpretasinya yang berbeda, semuanya
> sangat indah dan sempurna, padahal tidak seorangpun tahu akan
> kebenaran sorga karena "belum meninggal", sepertinya sorga adalah
> suatu cita-cita hidup yang sangat sempurna, suatu utopia yang tidak
> pernah kita dapatkan dimuka bumi ini. Manusia umumnya merasa hidup
> didunia ini sangat menyakitkan dan tidaklah sempurna seperti yang
> diharapkan, musibah dan kesulitan datang silih berganti, jangan bilang
> untuk kehidupan mereka yang melarat, bahkan bagi mereka yang hidupnya
> sangat berkecukupan dalam hal materi, tetap merasa kurang karena
> minimal mereka tidak akan pernah terhindar dari kematian yang
> memisahkannya dari keluarga terkasihnya yang masih hidup.
>
> Akibatnya semua orang menciptakan bayangan yang sangat menyejukan akan
> adanya sorga dikehidupan mendatang setelah lepas dari kehidupan yang
> fana ini. Cara yang ditempuhnyapun bermacam-macam, ada yang mengambil
> jalan pintas dan langsung bunuh diri, ada yang coba beramal
> dikehidupannya supaya tidak terjatuh dalam neraka setelah meninggal
> nanti.
>
> Ini pulalah yang sangat menarik bagi para jenius untuk menciptakan
> agama, menawarkan jalan kehidupan menuju sorga, dengan harapan
> kehidupan didunia inipun akan mendekati kehidupan sorga. Awal dari
> tujuan penciptaan agama tersebut semua sangat baik dan tulus untuk
> kedamaian, dan kehidupan yang aman sentosa bersama sesama umat manusia
> lain dimuka bumi ini, hingga sampai pada suatu kondisi, dimana manusia
> mulai haus kekuasaan, merasa dirinya yang paling benar, sehingga perlu
> adanya penyeragaman seluruh umat dimuka bumi ini, dengan ajarannya
> yang dia percaya adalah yang terbaik, termulia, dan ter yang lainnya.
>
> Bahkan saking bernafsunya mereka menjadi sedemikian fanatik, merasa
> pendapat dirinya atau kelompoknya sebagai yang paling benar tak
> terbantahkan, sehingga mereka begitu "terluka harga dirinya" begitu
> ada pendapat lain yang tidak sejalan dengan jalan pemikirannya, yang
> mulai melenceng dari tujuan awalnya semula............. segala macam
> carapun diambil dari persuasi yang paling halus, hingga cara perang
> yang sangat brutalpun ditempuhnya, begitu bersemangatnya hingga berani
> membunuh dan meledakkan manusia lain sambil berteriak ini demi
> Allah..............
>
> Seandainya saja semua agama dimuka bumi ini, bisa berjalan bersama
> saling memperbaiki, saling membina, terus berkembang dengan benar,
> lurus dan bersih, tanpa dikotori oleh nafsu keserakahan, kekuasaan,
> dan lain sebagainya..................... semoga..................

Wednesday, November 21, 2007

[Berpikir Bebas 723] Dimanakah sorga itu?

Kini marak sekali adanya "aliran agama sesat", ada yang menjual sorga
cukup dengan Rp. 500,000.- dan cara pengembangannyapun mirip dengan
multi level marketing yang sedang marak dinegeri kita sekarang ini,
awal ceritanya semua terdengar sangat manis, hingga saat anda telah
bergabung dan terikat didalamnya, mulailah keluar sedikit demi sedikit
segala syarat yang menjerat dan mencekik leher, kekuatannya mendekati
narkoba yang tidak pernah lagi melepaskan korbannya dengan kenikmatan
sorga sesaat yang begitu menggairahkan, tahu bila tetap bertahan
terasa makin terjerumus, tapi jalan keluarnya sangatlah menyakitkan,
akhirnya tetap terombang-ambing jadi sapi perahan sementara pihak.
.
Sebenarnya dimanakah sorga itu? Apakah sorga benar-benar ada seperti
yang diceritakan orang secara turun temurun? Semua bangsa didunia ini
mengenal sorga dengan cara interpretasinya yang berbeda, semuanya
sangat indah dan sempurna, padahal tidak seorangpun tahu akan
kebenaran sorga karena "belum meninggal", sepertinya sorga adalah
suatu cita-cita hidup yang sangat sempurna, suatu utopia yang tidak
pernah kita dapatkan dimuka bumi ini. Manusia umumnya merasa hidup
didunia ini sangat menyakitkan dan tidaklah sempurna seperti yang
diharapkan, musibah dan kesulitan datang silih berganti, jangan bilang
untuk kehidupan mereka yang melarat, bahkan bagi mereka yang hidupnya
sangat berkecukupan dalam hal materi, tetap merasa kurang karena
minimal mereka tidak akan pernah terhindar dari kematian yang
memisahkannya dari keluarga terkasihnya yang masih hidup.

Akibatnya semua orang menciptakan bayangan yang sangat menyejukan akan
adanya sorga dikehidupan mendatang setelah lepas dari kehidupan yang
fana ini. Cara yang ditempuhnyapun bermacam-macam, ada yang mengambil
jalan pintas dan langsung bunuh diri, ada yang coba beramal
dikehidupannya supaya tidak terjatuh dalam neraka setelah meninggal
nanti.

Ini pulalah yang sangat menarik bagi para jenius untuk menciptakan
agama, menawarkan jalan kehidupan menuju sorga, dengan harapan
kehidupan didunia inipun akan mendekati kehidupan sorga. Awal dari
tujuan penciptaan agama tersebut semua sangat baik dan tulus untuk
kedamaian, dan kehidupan yang aman sentosa bersama sesama umat manusia
lain dimuka bumi ini, hingga sampai pada suatu kondisi, dimana manusia
mulai haus kekuasaan, merasa dirinya yang paling benar, sehingga perlu
adanya penyeragaman seluruh umat dimuka bumi ini, dengan ajarannya
yang dia percaya adalah yang terbaik, termulia, dan ter yang lainnya.

Bahkan saking bernafsunya mereka menjadi sedemikian fanatik, merasa
pendapat dirinya atau kelompoknya sebagai yang paling benar tak
terbantahkan, sehingga mereka begitu "terluka harga dirinya" begitu
ada pendapat lain yang tidak sejalan dengan jalan pemikirannya, yang
mulai melenceng dari tujuan awalnya semula............. segala macam
carapun diambil dari persuasi yang paling halus, hingga cara perang
yang sangat brutalpun ditempuhnya, begitu bersemangatnya hingga berani
membunuh dan meledakkan manusia lain sambil berteriak ini demi
Allah..............

Seandainya saja semua agama dimuka bumi ini, bisa berjalan bersama
saling memperbaiki, saling membina, terus berkembang dengan benar,
lurus dan bersih, tanpa dikotori oleh nafsu keserakahan, kekuasaan,
dan lain sebagainya..................... semoga..................

[Berpikir Bebas 722] Re: Keanekaragaman, Keseragaman, dan Kesamaan

On Nov 14, 2007 11:15 PM, AMR <abel.rudolf@gmail.com> wrote:
> bukan penyusunan kata2 yg
> masuk akal, tapi sebuah totalitas dalam mengalami bacaan dan tulisan
> itu sendiri.
>

Menulis adalah sebuah proses. Kadang-kala orang sudah punya satu set
konsep yang sudah jadi, dan tinggal dituangkan saja di dalam tulisan.
Ada kalanya juga, orang belum mempunyai konsep yang jelas ketika
proses menulis dimulai. Dengan demikian, proses menulis itu menjadi
bagian dari proses pencarian itu sendiri.\

--
salam
tj

Sunday, November 18, 2007

[Berpikir Bebas 721] Kebangkitan Arab Ketiga oleh Yang Mulia Pangeran El Hasan bin Talal

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

16 - 22 Nopember 2007

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di
sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Sebuah Majalah yang Menautkan Suriah dan Amerika oleh Andrew Tabler
Dalam artikel ketiga dari serial bisnis gabungan Muslim-Barat ini,
Andrew Tabler, seorang pensiunan peneliti pada Institute of Curent
World Affairs yang bermarkas di Washington dan pemimpin redaksi Syria
Today, melihat bagaimana sebuah majalah berita bulanan membantu
memenuhi kebutuhan Suriah dan Amerika "akan laporan yang baik dan
mendalam tentang dan dari Suriah".
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)

2) Harapan di Lingkungan Asing oleh Rev. Doug Peters
Doug Peters, seorang pastur Kristen, penulis lagu dan esai,
menceritakan kembali peran sertanya dalam konferensi Interfaith Youth
Core yang diselenggarakan oleh Eboo Patel. Terilhami oleh pertemuannya
dengan orang-orang dari berbagai agama, ia menggambarkan janji besar
dari menjalani "perjalanan agama kita dalam kemitraan dengan agama-
agama lain."
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)

3) Teknologi Memberdayakan Kaum Muda, Kaum Muda Memberdayakan Turki
oleh Itir Akdogan
Kandidat PhD dan dosen di University of Helsinki, Itir Akdogan
membahas berbagai prakarsa yang telah diambil kelompok-kelompok
masyarakat madani Turki untuk memberdayakan generasi muda bangsa dan
menjembatani kesenjangan digital yang membagi dunia menjadi mereka
yang memiliki akses ke teknologi informasi dan yang tidak.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)

4) "Domba Hitam" Berperan Serta dalam Debat Politik oleh Tamara Al-
Rifai
Tamara Al-Rifai, warga Suriah yang tinggal di Kairo, yang bekerja
dalam isu-isu kemanusiaan, pembangunan, dan komunikasis bagi sebuah
organisasi internasional, mempertimbangkan apa yang terjadi ketika
"kambing hitam" sebuah negara dapat berperan serta secara bebas dalam
arena politik.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)

5) Kebangkitan Arab Ketiga oleh Yang Mulia Pangeran El Hasan bin Talal
Pangeran El Hasan bin Talal, saudara laki-laki almarhum Raja Husein
dari Yordania, membahas arti pentingnya kewarganegaraan Arab - sebuah
gagasan yang menghimbau setiap bangsa Arab seharusnya menjadi "pemilik
di negaranya, tidak hanya sekedar secara konsep, tetapi juga secara
fisik." Ia menyerukan pembuatan sebuah piagam yang menjadi
pengejawantahan konsep ini, dengan menyarankan bahwa tindakan seperti
itu dapat merangsang kebangkitan kembali Arab.
(Sumber: Al-Ahram, 7 Oktober 2007)


1) Sebuah Majalah yang Menautkan Suriah dan Amerika
Andrew Tabler

Damaskus - Ketika saya memutuskan untuk mendirikan sebuah majalah
berita di Damaskus, teman-teman saya mengatakan bahwa edisi pertama
juga akan menjadi yang terakhir. Bulan Oktober ini majalah bulanan
kami, Syria Today - sebuah usaha patungan Suriah-Amerika, merayakan
ulang tahunnya yang ketiga.

Berdasarkan sejarah, Suriah merupakan salah satu lingkungan yang
paling represif bagi media di Timur Tengah, jadi meluncurkan sebuah
publikasi swasta berbahasa Inggris oleh sebuah tim gabungan Suriah-
Amerika merupakan sebuah usaha yang unik dan patut dicatat.
Keberhasilan Syria Today hingga hari ini berdasarkan atas kebutuhan
bersama, baik bangsa Amerika maupun Suriah, akan sebuah laporan yang
mendalam tentang dan dari Suriah.

Ketegangah-ketegangan dengan Barat pada tahun 1980-an yang menyebabkan
pemerintah Suriah menutup hampir semua kantor media asing, dan karena
tindakan sapu bersih ini, hubungan Suriah dengan seluruh dunia -
khususnya dalam hal bisnis dan jurnalisme - pun menjadi terbatas.
Sebagai hasil dari keterasingan relatif ini, standar jurnalistik
menurun dibandingkan dengan standar internasional, dan bahkan menteri-
menteri pemerintahan mengatakan bahwa berita-berita di negara tersebut
"tidak dapat dibaca". Para pembaca Barat juga putus asa memperoleh
informasi tentang Suriah dari sumber lain, selain harian berbahasa
Inggris milik pemerintah, Syria Times, yang terus mencampurkan
propaganda 'ribet' bergaya Orwellian.

Keberhasilan kami juga berkat pengertian yang kuat, baik dari mitra-
mitra Suriah maupun Amerika kami, tentang kekuatan dan kelemahan
masing-masing. Para pemilik dari Suriah - perempuan pengusaha Kinda
Kanbar dan dua orang pria pengusaha dari Damaskus - menyadari sejak
awal bahwa urusan editorial sebuah publikasi berbahasa Inggris
seharusnya diserahkan kepada pengujar bahasa Inggris asli. Hal ini
memberikan saya dan atau para jurnalis Anglo-Sakson yang bekerja di
Syria Today kendaraan yang bertujuan untuk membantu para jurnalis
Suriah mengembangkan keterampilan menulis yang memungkinkan mereka
mencapai para pembaca Barat lebih efektif.

Namun, teknik-teknik jurnalistik yang cakap tanpa fakta-fakta yang
relevan dan kutipan-kutipan dari para ahli setempat tidaklah cukup.
Dalam hal ini pengetahuan setempat dan penetrasi sosial menjadi kunci.
Para mitra Suriah kami menggunakan koneksi-koneksi sosial mereka untuk
membantu para penulis Syria Today mengatur wawancara kunci. Mereka
juga membaca artikel-artikel para penulis dan menyarankan suntingan
yang membantu kami meliput isu-isu sensitif tanpa bertentangan dengan
sensor media Suriah yang ketat.

Kenyataan bahwa kami dapat terbit setiap bulan, sementara pemerintah
Assad Suriah berjuang di bawah tekanan kuat internasional, sanga
ajaib. Sebagai mitra Amerika Syria Today, saya tidak terlalu
memusatkan perhatian pada sisi buruk dan lebih melihat keuntungan-
keuntungan dari kolaborasi bersama kami. Karena Washington memasukkan
Suriah ke dalam daftar negara yang mendukung terorisme internasional,
bantuan pembangunan AS dilarang, dan perusahaan-perusahaan AS
menghindarkan diri membangun usaha bisnis dan kemitraan di Suriah
karena sanksi-sanki ekonomi AS.

Jadi walaupun pasar Suriah dipenuhi oleh barang-barang selundupan dari
Amerika, Amerika tidak dapat memindahkan keterampilan-keterampilan
profesional yang sangat dibutuhkan rakyat Suriah dengan berbagai cara
yang terorganisasi. Lebih dari 40 tahun sosialisme bergaya Soviet yang
diperintah dengan buruk, menyebabkan orang-orang terbaik dan tercerdas
negara tersebut pergi, dan mereka yang tersisa tidak terlatih dengan
baik dan tidak terbiasa dengan norma-norma internasional. Saat ini,
Syria Today mungkin merupakan satu-satunya lembaga swasta di Suriah
yang menjadi kendaraan bagi pengkomunikasian berbagai gagasan dan
nilai di balik produk-produk Amerika secara tertatur, dan dengan
demikian merupakan sebuah alat yang jarang ditemukan bagi penyebaran
berita bisnis dan pembaruan antara kedua negara.

Karena kuatnya kesetiaan pemerintah Suriah terhadap politik sekuler,
kami jarang mengangkat isu agama dalam Syria Today. Tetapi kami dapat
terlibat dalam perdebatan yang kaya dan tetap berpijak pada budaya
yang sangat berbeda. Budaya Amerika bersifat terbuka, mencintai
kebebasan, dan langsung. Budaya Suriah lebih tidak langsung,
bernuansa, dan hirarkis - yang tidak hanya disebabkan oleh sistem
pemerintah otoritarian Suriah, tetapi juga karena struktur keluarga
patriarkat tradisional. Mungkin ini sebabnya orang di Suriah jarang
mendengar tentang usaha bisnis Barat dengan para pengusaha Arab; yang
secara pelik sesuai dengan rakyat Suriah, karena keterlibatan dengan
orang Barat dapat digunakan melawan mereka. Di Barat, kami sering
berteriak tentang hal-hal tersebut dari atap. Hal tersebut hanya
merupakan masalah gaya, bukan inti.

Di masa lalu, perubahan politik radikal di negara-negara otoritarian
harus diawali dengan keterlibatan Amerika dengan perekonomian yang
dikuasai negara tersebut. Namun, dengan kemajuan globalisasi dan
gerakan negara-negara seperti Suriah menuju pasar kapitalis, sektor
swasta Amerika sekarang dapat terlibat bisnis Suriah secara langsung
tanpa melalui rezim Suriah. Tetapi untuk melakukannya secara benar,
Washington perlu memikirkan kembali kebijakan sanksinya terjadap
Suriah dan negara-negara seperti itu, serta mendorong sektor swasta
Amerika menggunakan kekuatan lunaknya demi hubungan yang lebih baik.
Pendekatan ini harus menempuh jalan panjang untuk dapat memperbaiki
reputasi Amerika di dunia dan mendorong saling pengertian.

Syria Today dan usaha-usaha seperti ini lebih dari sekedar bisnis -
mereka merupakan kendaraan untuk melibatkan publik dalam negara-negara
tersebut yang tanpanya tidak banyak berhubungan satu dengan yang lain.

###

* Andrew Tabler adalah seorang pensiunan peneliti pada Institute of
Curent World Affairs yang bermarkas di Washington dan pemimpin redaksi
majalah Syria Today Damaskus. Artikel ini merupakan bagian dari serial
bisnis gabungan Muslim-Barat yang disebarluaskan oleh Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


2) Harapan di Lingkungan Asing
Rev. Doug Peters

Des Moines - Para pengunjung dari negara-negara bagian dan atau negara-
negara lain sering terkejut mengetahui bahwa tidak seluruh Iowa
merupakan dataran dan bahwa ada sesuatu yang lebih dari negara bagian
tersebut daripada sekedar ladang jagung. Mungkin penjelajahan kami
yang paling kuat datang setiap empat tahun sekali, ketika para
kandidat presiden membuat pernyataannya kepada bangsa dengan berusaha
mengenal kami terlebih dulu. Mereka yang tinggal di luar Iowa
keheranan dengan tarian politik ini, tetapi jika seorang asli Iowa
belum berbicara secara langsung dengan sekurang-kurangnya tiga orang
kandidat sebelum pemilihan umum, mereka pasti sedang bersembunyi.

Saya mengatakan semua ini karena di Iowa kami mendengar dari para
kandidat tentang bagaimana Amerika seharusnya lebih dari sekedar
pemimpin yang memberikan harapan dan membawa perdamaian bagi dunia.
Sebagai seorang pastur Kristen, saya sangat setuju. Setelah
mendengarkan beberapa berita tentang pemilihan di National Public
Radio beberapa bulan lalu, saya menangkap sebuah wawancara dengan Eboo
Patel, seorang pemikir Muslim muda masa depa. Ia mendirikan Interfaith
Youth Core, sebuan percobaan yang sedang mengarah menjadi sebuah
gerakan. Tujuannya adalah untuk mengajak kaum muda dari berbagai
agama, bersama-sama, melayani satu sama lain. Saya terperangah
mendengar gagasan jenius tersebut dan segera membeli bukunya, Acts of
Faith.

Dua tahun lalu, Walnut Hills United Methodist Church, tempat saya
melayani sebagai pendeta senior, menyelesaikan sebuah proses untuk
mengembangkan visi kami bagi gereja di masa depan. Saya tidak tahu apa
yang dapat diharapkan dari proses itu, tetapi hasilnya adalah
serangkaian prinsip yang melaluinya kami bertujuan untuk mengungkapkan
keyakinan kami - keadilan sosial, spiritualitas yang dalam dan pada
urutan teratas, kemitraan antar agama. Visi kami tidak hanya bersikap
baik dengan umat dari berbagai agama, tetapi untuk menegaskan
perjalanan Kristen kami melalui hubungan yang penting dengan umat
Muslim, Yahudi, Hindu, Buddhis, Unitarian dan seterusnya.

Ketika saya mendengar tentang konferensi Interfaith Youth Core di
Chicago pada akhir bulan Oktober, saya mengundang direktur organisasi
kaum muda kami, Julie Stone, untuk bersama-sama saya turut kegiatan
tersebut.

500 peserta mewakili setiap kelompok umur, setiap model pakaian,
setiap aksen dan setiap hubungan keagamaan. Makanan direncanakan
dengan penuh kehati-hatian agar sesuai dengan kebutuhan makanan dari
begitu banyak agama. Doa dan ibadah yang mendahului setiap saat makan
sama beragamnya dengan bahasa-bahasa yang digunakan untuk
melafalkannya.

Tetapi itu bukanlah kesan pertama saya. Kesan pertama saya adalah
bahwa perbedaan-perbedaan ini tidak berarti apa-apa. Oh, tentu saja
itu berarti bagi pengalaman keagaman kita masing-masing. Kita
menikmati makanan, berdoa, dan melaksanakan ibadah-ibadah yang
memberikan kita kejelasan dalam seruan agama kita masing-masing,
Hindu, Muslim, Yahudi, atau Kristen.

Tetapi ketika kami semua berkumpul, menakjubkan buat saya betapa
cepatnya kami menemukan cara untuk terbuka dengan liyan, dan betapa
cepatnya perbedaan-perbedaan tersebut dianggap sebagai rahmat dan
bukan halangan. Namun, agar kesadaran ini dapat terjadi, kita semua
harus berkumpul bersama.

Saya ingat satu malam ketika Eboo memperkenalkan seorang pembicara
yang sangat dikaguminya. Ia berkata bahwa di dunia Muslim laki-laki
tersebut memiliki banyak pengikut. Namanya adalah Syekh Hamza Yusuf.
Julie dan saya saling bertatapan. Kami tidak pernah mendengar namanya,
tetapi ketika kami mendengarkan Yusuf, kami menjadi begitu terdorong
dan gembira. Di sebuah dunia, yang sayangnya, lebih berkeinginan untuk
membuka kekurangan-kekurangan dalam berbagai tradisi keagamaan, ada
seorang lelaki Muslim yang berbagi harapan yang sama tentang dunia
dengan kami.

Dalam perjalanan bus menuju hotel, kami mengungkapkan ketidaktahuan
kami tentang Yusuf kepada seorang perempuan Muslim yang baru saja kami
temui. Ia cukup baik hati untuk bercerita lebih banyak tentangnya.
Seperti yang sering terjadi dalam pertemuan ini, kami menemukan area-
area lain tentang tradisi keagamaan yang lain, ketika kami sama sekali
tidak dapat lagi bersikap masa bodoh. Saya pikir ada sebuah harapan
besar ketika kita melalui perjalanan agama kita dalam kemitraan dengan
agama-agama lain.

Pada makan siang terakhir, Julie dan saya didudukkan dengan beberapa
kaum muda - dua Yahudi, tiga Muslim, dan seorang Buddhis. Laki-laki
muda Buddhis mengatakan kepada kami betapa gembiranya ia dapat bertemu
dengan kami saat makan siang. Ia berkata ia ingin mengambil foto kami.
Saya berpikir sendiri betapa berartinya bahwa ia ingin mengenangdua
orang Kristen yang telah ia temui.

Oh bukan, jawabnya, ia kenal banyak orang Kristen; namun kami
merupakan orang dari Iowa pertama yang pernah ia temui.

###

* Doug Peters adalah seorang pastur Kristen, penulis lagu dan esai.
Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews)
dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Teknologi Memberdayakan Kaum Muda, Kaum Muda Memberdayakan Turki
Itir Akdogan

Helsinki - Sekarang lebih mudah untuk memperoleh informasi kapanpun
Anda membutuhkannya. Anda dapat menemukan sebuah hotel pada sebuah
peta interaktif, dan memesan sebuah kamar hotel dari manapun di dunia.
Anda dapat membayar tagihan di tengah malam dengan mengenakan piyama
Anda dan berbagi foto dengan teman-teman di seluruh dunia, semua
kurang dalam sedetik. Sepertiga penduduk dunia memiliki jalur ke situs-
situs web yang memungkinkan proses-proses ini melalui internet.
Mengagumkan, bukan?

Yang tidak kalah mengagumkan adalah karena peralatan bernilai ratusan
juta dolar tersebut merupakan hal yang alami bagi orang muda, dan
dalam banyak hal, orang-orang dalam usia dua puluhanlah yang mendorong
pembaruan-pembaruan ini. Orang-orang dewasa muda, yang dilahirkan
sebagai generasi Teknologi Informasi dan Komunikas (TIK), telah
memusatkan pengetahuan, energi dan gagasan inovatif mereka untuk lebih
memanfaatkan teknologi online.

Kaum dewasa muda merupakan kelompok yang paling penting dalam jejaring
masyarakat pada jaman Informasi kita. Mereka tumbuh besar dengan
teknologi informasi dan, dengan tingkat kenyamanan dan kemampuan ini,
mereka telah berkembang dari anak-anak yang terobsesi dengan permainan
video menjadi para ahli teknologi dan pengusaha.

Penggunaan TIK dengan cara yang bermanfaat saat ini merupakan kunci
emas keberhasilan bagi kaum muda. "e" dari kata "elektronik" yang kita
letakkan di depan begitu banyak kata dewasa ini juga menekankan kata-
kata vital lain yang berawalan "e", seperti pendidikan (education),
pekerjaan (employment), kewirausahaan (entrepreneurship), dan hiburan
(entertainment). Karena itu penting artinya untuk memberdayakan kaum
muda melalui TIK, khususnya di dunia berkembang, dalam upaya
menjembatani kesenjangan digital.

Kita dapat meringkas kesenjangan digital sebagai jarak antara mereka
yang memiliki TIK dan mereka yang tidak. Orang mungkin memiliki
kesenjangan secara digital karena berbagai alasan: mereka mungkin
tidak mampu memiliki piranti keras dan piranti lunak; tempat mereka
tinggal mungkin tidak memiliki infrastruktur yang dibutuhkan; atau
mereka mungkin kurang memiliki pendidikan dan keterampilan untuk
menggunakan teknologi tersebut dalam cara yang bermanfaat. Terlebih
jika Anda tidak dapat berbahasa Inggris, mereka tidak dapat memetik
keuntungan dari kebanyakan informasi online.

Di banyak negara, kaum laki-laki dan perempuan tidak memiliki akses
yang setara terhadap TIK. Kesenjangan gender ini merupakan sebuah
masalah besar, khususnya di masyarakat tempat perempuan tidak dapat
menikmati hak-hak yang sama dengan laki-laki.

Kurangnya akses ke TIK umumnya terjadi di dunia berkembang, dan, jika
tidak diatasi, kesenjangan digital akan tumbuh secepat teknologi itu
sendiri.

Akibatnya, pelatihan teknologi bagi kaum muda di dunia berkembang
sangat penting. Pemberdayaan kaum muda dalam TIK tidak hanya akan
memungkinkan kaum muda untuk memperoleh informasi lebih baik dan
memperbaiki komunikasi tetapi juga dapat memungkinkan mereka memetik
keuntungan dari peluang-pekuang e-learning dan e-employment. Mereka
dapat meraih kualitas pendidikan yang setara dengan rekan-rekan
internasional mereka melalui program-program e-learning. Mereka juga
dapat memasang CV mereka, memperoleh nasihat profesional, menemukan
pekerjaan, bahkan bekerja secara online. Yang terpenting, mereka dapat
memperoleh pelatihan yang memungkinkan mereka sendiri menjadi
pengusaha dan pembaharu TIK.

Masyarakat madani di Turki sangat menyadari arti penting teknologi.
Organisasi pemuda nirlaba terkemuka di Turki, Youth Association for
Habitat (www.youthforhab.org.tr), telah menjadi pelopor dalam bidang
kepemudaan di negara tersebut, sejak ia berdiri pada tahun 1996.
Mereka telah mendirikan gelanggang-gelanggang dan dewan-dewan remaja,
serta berbagai prakarsa yang selaras dengan tujuan mereka
memberdayakan kaum muda melalui kesadaran dan proyek-proyek
pembangunan kapasitas di penjuru negeri.

Youth Association for Habitat telah melaksanakan beberapa proyek
pemberdayaan kaum muda dalam kemitraan dengan aktor-aktor sektor
pemerintah, swasta, dan masyarakat pada tingkat nasional. Proyek-
proyek ini memberdayakan kaum muda Turki dengan keterampilan-
keterampilan bagi karir masa depan mereka dalam sektor komunikasi dan
teknologi.

Satu proyek, Pemberdayaan Kaum Muda bagi Tata Pemerintahan Elektronik
(e-Governance) di Turki, telah dilaksanakan dalam kemitraan dengan
UNDP. Proyek tersebut memperkuat gelanggang-gelanggang dan dewan-dewan
remaja setempat yang didirikan melalui Program 21Agenda Lokal Turki,
sebuah prakarsa yang bertujuan memberikan pembangunan berkelanjutan
melalui program-program lokal. Dalam kerangka ini, pelatihan komputer
dasar telah diberikan bagi 2.500 kaum muda - baik laki-laki maupun
perempuan - dalam beberapa tahun terakhir. Tahun ke-2, yang mulai pada
bulan Maret 2006, akan memberikan pelatihan bagi sejumlah 100.000 kaum
muda yang memiliki masalah sosial hingga 3 tahun mendatang. Pelatihan
yang saat ini sedang berlangsung di 43 kota di seluruh Turki, dan
hasil-hasil awal telah menunjukkan bahwa banyak lulusan program
tersebut yang telah memperoleh pekerjaan dalam industri teknologi
Turki.

Selain dari keuntungan pendidikan dan ekonomi yang diperoleh sebagai
hasil dari program-program ini, jalur ke TIK dapat juga memberi
sumbangan bagi kelangsungan sebuah demokrasi. Berbeda dengan media
tradisional, seperti televisi dan radio, TIK dan media baru menawarkan
komunikasi dua arah. Ini berarti bahwa masyarakat tidak hanya memiliki
jalur yang lebih baik ke informasi, tetapi juga dapat menyumbangkan
informasi. Informasi memberdayakan rakyat. Hal ini memperbaiki
komunikasi antara warga negara dan para wakil mereka yang terpilih,
memungkinkan mereka berperan serta sebagai warga negara yang aktif dan
mengutarakan pandangan-pandangan mereka terhadap berbagai kebijakan
dan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka, yang membawa kepada
peningkatan tingkat keikutsertaan demokrasi.

Dalam sebuah negara yang mayoritas penduduknya berusia di bawah 25
tahun, pemberdayaan kaum muda dalam wahana teknologi akan menghasilkan
penguatan demokrasi dan perbaikan perekonomian di Turki.

###

* Itir Akdogan adalah seorang kandidat PhD dan dosen di University of
Helsinki. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) "Domba Hitam" Berperan Serta dalam Debat Politik
Tamara Al-Rifai

Kairo - Di ujung antrian, saya bertanya-tanya berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk memperoleh boarding pass. Terminal bandara penuh
dengan orang. Sebagian menuju Mekkah untuk melakukan umrah pada awal
Ramadhan, bulan ketika umat Muslim berpuasa dari matahari terbit
hingga terbenam. Yang lain, dengan bercelana pendek dan kaos oblong,
pulang ke rumah mereka di Eropa, setelah liburan berjemur matahari
dekat piramida.

Ketika antrian tersebut terhenti selama beberapa menit, saya
melongokkan badan untuk melihat apa yang menghambatnya. Sekelompok
laki-laki memakai turban dan jubah kaftan kelihatannya bermasalah
dalam pemeriksaan barang mereka. Saya bertanya-tanya ke mana mereka
akan pergi.

Satu jam kemudian, ketika saya telah menaiki pesawat menuju Eropa,
saya melihat kelompok laki-laki tersebut duduk di belakang pesawat.
Terbelah antara rasa ingin tahu dan rasa malu saya mencampuri urusan
pribadi mereka, saya mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada
orang yang tampaknya paling tua di antara mereka, kemanakah gerangan
tujuan mereka. Ia tersenyum lebar, seakan-akan bertanya, "Mengapa Anda
terkejut kami pergi ke Eropa?"

Para pria ini adalah ulama-ulama Muslim dari Tanta, Mesir (di utara
Kairo) dan sedang dalam kunjungan resmi ke sebuah negara di Eropa yang
dikenal karena coklat, keju, dan anggurnya. Sementara berada di sana,
mereka bertangungjawab untuk "membangkitkan Ramadhan", sebuah ekspresi
bahasa Arab yang digunakan untuk menjelaskan tindakan yang melibatkan
banyak doa sepanjang bulan suci Muslim tersebut.

Ketika kami tiba, negara tersebut sedang mempersiapkan diri menyambut
pemilihan parlemen yang akan datang, dan selama perjalanan dengan
taksi menuju hotel, saya mencatat banyaknya papan reklame di penjuru
kota yang mengiklankan berbagai partai politik.

Satu papan tampak menonjol. Papan tersebut dipasang oleh sebuah partai
politik tertentu dan menggambarkan sekelompok domba yang berdiri di
atas bendera negara. Tiga domba putih sedang menendangi seekor domba
hitam keluar dari kelompok tersebut, keluar dari bendera, dan jelas -
walaupun hanya secara metaforik - keluar dari negara tersebut. Di
bawah gambar tersebut, slogan partai tersebut berbunyi: Bagi keamanan
yang lebih baik ... rumah kita, negara kita.

Saya sangat terkejut, begitu juga teman-teman saya, baik orang asing
maupun masyarakat setempat. Tetapi saya menemukan bahwa partai yang
bertanggung jawab atas "poster domba" tersebut telah memenangkan lebih
dari 25% kursi Parlemen dalam pemilihan sebelumnya. Orang dapat
berkilah bahwa "domba hitam" merupakan ekspresi yang menggambarkan apa
pun yang aneh atau berbeda, dan tidak serta merta mempunyai makna
etnis. Ini, setidaknya, merupakan argumen yang digunakan oleh partai
politik ketika berhadapan dengan tuduhan-tuduhan ketakutan terhadap
orang asing oleh media dan asosias-asosiasi anti-rasisme.

Selama seminggu masa kunjungan saya, banyak terdengar pembahasan
tentang poster tersebut dan nilai-nilai yang diangkatnya. Sebagian
mendukung pesan itu, yang lain menentangnya.

Bahwa negara tersebut memungkinkan terjadinya perdebatan seperti itu,
setidaknya, membawa angin segar. Bahwa orang dapat mengutarakan
kecenderungan politiknya dalam cara yang begitu terbuka membuat saya,
sebagai seorang Arab, merasa iri. Di tempat yang menghargai pendapat
orang, orang dapat membela keyakinan politiknya dan menemukan partai-
partai yang mewakili dirinya. Kadang seekor domba hitam memiliki
tempat di bawah matahari.

Bangsa Arab sering dianggap sangat terpolitisasi; namun kenyataannya,
kebanyakan dari kami jarang merasa terwakili dalam sistem politik
kami. Banyak dari kami yang merasa bernafsu terhadap konflik Arab-
Israel, atau berpikir kami mempunyai gagasan yang jelas tentang
bagaimana menyelesaikan berbagai permasalahan di Irak. Namun, kami
tidak dapat menyalurkan nafsu ini melalui partai-partai politik kami.
Tidak seperti di sistem-sistem demokrasi, kesadaran politik, dan
perasaan kami tidak memberi sumbangan terhadap pembuatan kebijakan
atau bahkan mempengaruhi politik di banyak negara kami.

Tetapi di negara Eropa ini, orang bersikap terbuka dengan
kecenderungan politik mereka - setidaknya politik internal mereka -
ketika mereka berperan serta melalui saluran-saluran resmi dalam
pembuatan kebijakan di negara mereka, sesuatu yang banyak bangsa Arab
tak dapat lakukan. Jadi ketika jajak-jajak pendapat nasional
menunjukkan bahwa hampir setengah dari penduduk negara ini akan
memilih partai yang memasang papan reklame tersebut, pada saat yang
sama negara tersebut masih secara resmi menyambut sekelompok ulama
Muslim untuk mendorong warganya melaksanakan ibadah-ibadah keagamaaan.

Hanya karena sebuah negara memiliki sebuah partai politik yang
mengiklankan sebuah poster ofensif tidak berarti kurangnya
penghormatan terhadap keragaman dan perbedaan pendapat. Hanya ketika
sebuah negara tidak mengijinkan suara-suara yang berlawanan maka ia
kehilangan kekayaannya dalam arena politik, karena kkayaan datang
dengan keberagaman.

Tentu saja merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan ketika sejumlah
besar penduduk di sebuah negara memandang sekelompok warga lain
sebagai domba hitam. Tetapi lebih membahayakan lagi ketika perdebatan
publik tentang isu-isu seperti ini ditekan atau dilarang.

###

* Tamara Al-Rifai adalah warga Suriah yang tinggal di Kairo, ia
bekerja dalam isu-isu kemanusiaan, pembangunan, dan komunikasi bagi
sebuah organisasi internasional. Artikel ini disebarluaskan oleh
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


5) Kebangkitan Arab Ketiga
Yang Mulia Pangeran El Hasan bin Talal

Amman - Hampir tak seorangpun akan menolak pendapat bahwa keadaan
bangsa Arab memiliki banyak hal yang diinginkan, dan bahwa masyarakat
Arab kita terus mati suri. Wacana dan inspirasi kita akan sebuah
kebangkitan kembali Arab tetap bersifat teoritis. Apakah unsur yang
hilang?

Mari kita ingat bahwa kebangkitan kembali Arab yang pertama mengangkat
semangat harapan dari jiwa nenek moyang kita pada saat-saat yang
sangat sulit. Para pelopor seperti Al Yazijy, Al Rihani, Al Bustany,
Mohammad Abduh, Al Kawakiby, dan lain-lainnya, yang layak memperoleh
tempat dalam daftar yang mengagumkan ini, meletakkan dasar bagi apa
yang akan datang. Hasil dari kecerdasan mereka itu diuraikan dalam
bentuk "kebangkitan kembali pertama" yang agung, yang terus merasuki
jiwa bangsa Arab. Saya berharap kita akan kembali ke ayat-ayat
tersebut, yang diwariskan oleh orang-orang besar ini, bagi inspirasi
kita di masa sekarang dan masa depan.

Mari kita coba untuk mengerti kecerdasan visi yang diwakili dalam
sebuah ungkapan terkenal: "Agama adalah untuk Tuhan, dan tanah air
adalah untuk semua orang". Para pelopor tersebut telah menyentuh
sesuatu yang vital, kelihatannya memperingatkan kita terhadap segala
perselisihan etnis, sektarian, keagamaan, atau yang lainnya.
Malapetaka dan bencana telah menantang kita dari dalam dan luar, yang
menutupi kebangkitan kembali pertama kita, walaupun ia tetap merupakan
sebuah sumber pencerahan bagi harapan, yang membimbing banyak orang
melalui kenyataan suram dewasa ini.

Kebangkitan kembali bangsa Arab mengambil bentuk yang berbeda dan
mendunia - Revolusi Arab Besar yang mendorong berbagai bangsa
bertindak dan sekali lagi membangkitkan harapan. Dan apa, biar
bagaimana, sebuah kebangkitan kembali jika bukan sebuah revolusi,
sebuah perubahan menyeluruh dalam pola pikir yang mengubah selamanya
apa yang terjadi sebelumnya? Kebangkitan kembali kedua ini membawa
obor yang dibawa pendahulunya ketika ia berusaha untuk mengabsahkan
modernitas dan memodernisasi apa yang nyata dalam kehidupan bangsa-
bangsa Arab.

Sedihnya, kebingungan dan kekecewaan sekali lagi berkuasa dan
kebangkitan kembali kedua ini mengikuti jejak yang pertama: ketiadaan
nilai dan standar menghancurkan manfaat-manfaatnya.

Setelah berbagai kekecewaan ini, telah tiba saatnya bagi kebangkitan
kembali ketiga yang lebih dalam akarnya, yang dapat mempelajari dan
memetik pelajaran dari kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran
masa lalu.

Saya percaya bahwa suatu kebangkitan kembali seperti itu seharusnya
berawal dengan konsep kewarganegaraan dan seharusnya berpuncak pada
sebuah piagam harapan: sebuah Piagam Warga Arab, sebuah dokumen yang
memperjelas tugas, hak, dan tanggung jawab berbagai pribadi dan
kelompok. Inilah yang kami harapkan dapat dicapai, bahkan walaupun
dalam pemahaman yang luas, pada konferensi "Kewarganegaraan Bangsa
Arab", yang diselenggarakan oleh Annual Intellectual Symposium of the
Arab Thought Forum pada bulan April 2008 di Kerajaan Maroko. Saya
merasa terhormat karena membawakan konsep ini, dan beberapa ayat
Piagam yang relevan, di Forum's Annual Intellectual Symposium yang
diselenggarakan Qatar pada bulan Januari 2007.

Lalu, apakah kewarganegaraan tersebut? Kewarganegaraan penuh, dalam
arti sesungguhnya, mempunyai banyak dimensi.

Dimensi Kemanusiaan: Kasih sayang; solidaritas; kerja sama; kesetaraan
gender; penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi; kebebasan;
serta hak untuk memilih dan menjalankan agama seseorang.

Dimensi Demokratis: Kebebasan untuk memilih penguasa politik;
pertukaran pendapat secara damai tentang kewenangan; penekanan konsep
keikutsertaan - baik dalam dimensi publik maupun swasta; pemberdayaan
aktor-aktor demokrasi dan publik, serta perluasan iklim demokratis
dalam berbagai cara, sehingga demokrasi tidak hanya menjadi sebuah
slogan semata atau sebuah istilah kosong; yang menghormati prinsip dan
praktik kemajemukan, berdasarkan sebuah kesadaraan mendalam tentang
keragaman dan perbedaan di dalam sebuah kerangka kerja yang beradab,
yang menyerap segala perbedaan kebudayaan, agama, etnis, kesukuan, dan
sekte: keragaman dalam kerangka kesatuan.

Dimensi Lingkungan: Pemeliharaan dan penjagaan lingkungan; memelihara
bumi; dan menyadari kapasitas dan keterbatasannya.

Dimensi Hukum dan Konstitusional: Rasa hormat terhadap hukum,
konstitusi, dan standard yang menjamin setiap orang dan kelompok
kebebasan berekspresi.

Sederhananya, kita harus membuat setiap warga negara menjadi pemilik
negaranya, tidak hanya sekedar secara konsep, tetapi juga secara
fisik. Ia seharusnya memikul sebagian beban bagi masa sekarang dan
masa depan negaranya.

Kita dapat memetik manfaat dari pengalaman Muslim Eropa Selatan yang
pertama kali menyusun Piagam bagi Muslim di Eropa, dengan
mengidentifikasi hak-hak kewarganegaraan bagi 30 juta umat Muslim.
Melalui Piagam ini, mereka menyerukan prinsip-prinsip toleransi, nilai-
nilai demokrasi, dan hak-hak asasi manusia pada Uni Eropa, pada
seluruh Muslim di Eropa dan dunia Muslim, berdasarkan ketaatan
terhadap aturan hukum; juga dengan menekankan nilai-nilai kehidupan,
agama, kebebasan, kepemilikan, dan harga diri.

Saya menyerukan bagi pengembangan sebuah Piagam Warga Arab sejalan
dengan Piagam Muslim Eropa Selatan. Kami ingin mendirikan sebuah
kewarganegaran yang utuh dan penuh arti, dengan sebuah piagam yang
menjamin kesetaraan hak-hak bagi para individu dan kelompok-kelompok
untuk berperan serta dalam pembuatan kebijakan, berbagi kekayaan
negara, dan menikmati keberadaan yang setara di ruang publik. Konsep
kewarganegaraan ini berasal dari sebuah bangsa Arab yang mengambil
sebuah kebijakan yang berkumpul di bawah payung aturan bersikap.
"Bangsa" adalah sebuah konsep yang melampaui negara, berawal dari
dasar piramida, dan bergerak ke atas.

Marilah kita, paling tidak, mempertimbangkan sebuah kewarganegaran
transisi, bersama dengan konsep-konsep demokrasi transisional dan
keadilan, dalam rangka membuka sebuah jendela harapan, sehingga
gagasan-gagasan ini menyebar ke seluruh warga negara Arab.

###

* Pangeran El Hasan bin Talal, saudara laki-laki almarhum Raja Husein
dari Yordania, adalah ketua dari beberapa organisasi dalam bidang
termasuk diplomasi, kajian antaragama, sumber-sumber daya manusia, dan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor
Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Al-Ahram, 7 October 2007, http://weekly.ahram.org.eg
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Rami Assali (Jerusalem)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Sireen Hashweh (Jerusalem)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.