Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh
16 - 22 Nopember 2007
Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di
sini.
Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.
Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).
Dalam edisi ini
1) Sebuah Majalah yang Menautkan Suriah dan Amerika oleh Andrew Tabler
Dalam artikel ketiga dari serial bisnis gabungan Muslim-Barat ini,
Andrew Tabler, seorang pensiunan peneliti pada Institute of Curent
World Affairs yang bermarkas di Washington dan pemimpin redaksi Syria
Today, melihat bagaimana sebuah majalah berita bulanan membantu
memenuhi kebutuhan Suriah dan Amerika "akan laporan yang baik dan
mendalam tentang dan dari Suriah".
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)
2) Harapan di Lingkungan Asing oleh Rev. Doug Peters
Doug Peters, seorang pastur Kristen, penulis lagu dan esai,
menceritakan kembali peran sertanya dalam konferensi Interfaith Youth
Core yang diselenggarakan oleh Eboo Patel. Terilhami oleh pertemuannya
dengan orang-orang dari berbagai agama, ia menggambarkan janji besar
dari menjalani "perjalanan agama kita dalam kemitraan dengan agama-
agama lain."
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)
3) Teknologi Memberdayakan Kaum Muda, Kaum Muda Memberdayakan Turki
oleh Itir Akdogan
Kandidat PhD dan dosen di University of Helsinki, Itir Akdogan
membahas berbagai prakarsa yang telah diambil kelompok-kelompok
masyarakat madani Turki untuk memberdayakan generasi muda bangsa dan
menjembatani kesenjangan digital yang membagi dunia menjadi mereka
yang memiliki akses ke teknologi informasi dan yang tidak.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)
4) "Domba Hitam" Berperan Serta dalam Debat Politik oleh Tamara Al-
Rifai
Tamara Al-Rifai, warga Suriah yang tinggal di Kairo, yang bekerja
dalam isu-isu kemanusiaan, pembangunan, dan komunikasis bagi sebuah
organisasi internasional, mempertimbangkan apa yang terjadi ketika
"kambing hitam" sebuah negara dapat berperan serta secara bebas dalam
arena politik.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007)
5) Kebangkitan Arab Ketiga oleh Yang Mulia Pangeran El Hasan bin Talal
Pangeran El Hasan bin Talal, saudara laki-laki almarhum Raja Husein
dari Yordania, membahas arti pentingnya kewarganegaraan Arab - sebuah
gagasan yang menghimbau setiap bangsa Arab seharusnya menjadi "pemilik
di negaranya, tidak hanya sekedar secara konsep, tetapi juga secara
fisik." Ia menyerukan pembuatan sebuah piagam yang menjadi
pengejawantahan konsep ini, dengan menyarankan bahwa tindakan seperti
itu dapat merangsang kebangkitan kembali Arab.
(Sumber: Al-Ahram, 7 Oktober 2007)
1) Sebuah Majalah yang Menautkan Suriah dan Amerika
Andrew Tabler
Damaskus - Ketika saya memutuskan untuk mendirikan sebuah majalah
berita di Damaskus, teman-teman saya mengatakan bahwa edisi pertama
juga akan menjadi yang terakhir. Bulan Oktober ini majalah bulanan
kami, Syria Today - sebuah usaha patungan Suriah-Amerika, merayakan
ulang tahunnya yang ketiga.
Berdasarkan sejarah, Suriah merupakan salah satu lingkungan yang
paling represif bagi media di Timur Tengah, jadi meluncurkan sebuah
publikasi swasta berbahasa Inggris oleh sebuah tim gabungan Suriah-
Amerika merupakan sebuah usaha yang unik dan patut dicatat.
Keberhasilan Syria Today hingga hari ini berdasarkan atas kebutuhan
bersama, baik bangsa Amerika maupun Suriah, akan sebuah laporan yang
mendalam tentang dan dari Suriah.
Ketegangah-ketegangan dengan Barat pada tahun 1980-an yang menyebabkan
pemerintah Suriah menutup hampir semua kantor media asing, dan karena
tindakan sapu bersih ini, hubungan Suriah dengan seluruh dunia -
khususnya dalam hal bisnis dan jurnalisme - pun menjadi terbatas.
Sebagai hasil dari keterasingan relatif ini, standar jurnalistik
menurun dibandingkan dengan standar internasional, dan bahkan menteri-
menteri pemerintahan mengatakan bahwa berita-berita di negara tersebut
"tidak dapat dibaca". Para pembaca Barat juga putus asa memperoleh
informasi tentang Suriah dari sumber lain, selain harian berbahasa
Inggris milik pemerintah, Syria Times, yang terus mencampurkan
propaganda 'ribet' bergaya Orwellian.
Keberhasilan kami juga berkat pengertian yang kuat, baik dari mitra-
mitra Suriah maupun Amerika kami, tentang kekuatan dan kelemahan
masing-masing. Para pemilik dari Suriah - perempuan pengusaha Kinda
Kanbar dan dua orang pria pengusaha dari Damaskus - menyadari sejak
awal bahwa urusan editorial sebuah publikasi berbahasa Inggris
seharusnya diserahkan kepada pengujar bahasa Inggris asli. Hal ini
memberikan saya dan atau para jurnalis Anglo-Sakson yang bekerja di
Syria Today kendaraan yang bertujuan untuk membantu para jurnalis
Suriah mengembangkan keterampilan menulis yang memungkinkan mereka
mencapai para pembaca Barat lebih efektif.
Namun, teknik-teknik jurnalistik yang cakap tanpa fakta-fakta yang
relevan dan kutipan-kutipan dari para ahli setempat tidaklah cukup.
Dalam hal ini pengetahuan setempat dan penetrasi sosial menjadi kunci.
Para mitra Suriah kami menggunakan koneksi-koneksi sosial mereka untuk
membantu para penulis Syria Today mengatur wawancara kunci. Mereka
juga membaca artikel-artikel para penulis dan menyarankan suntingan
yang membantu kami meliput isu-isu sensitif tanpa bertentangan dengan
sensor media Suriah yang ketat.
Kenyataan bahwa kami dapat terbit setiap bulan, sementara pemerintah
Assad Suriah berjuang di bawah tekanan kuat internasional, sanga
ajaib. Sebagai mitra Amerika Syria Today, saya tidak terlalu
memusatkan perhatian pada sisi buruk dan lebih melihat keuntungan-
keuntungan dari kolaborasi bersama kami. Karena Washington memasukkan
Suriah ke dalam daftar negara yang mendukung terorisme internasional,
bantuan pembangunan AS dilarang, dan perusahaan-perusahaan AS
menghindarkan diri membangun usaha bisnis dan kemitraan di Suriah
karena sanksi-sanki ekonomi AS.
Jadi walaupun pasar Suriah dipenuhi oleh barang-barang selundupan dari
Amerika, Amerika tidak dapat memindahkan keterampilan-keterampilan
profesional yang sangat dibutuhkan rakyat Suriah dengan berbagai cara
yang terorganisasi. Lebih dari 40 tahun sosialisme bergaya Soviet yang
diperintah dengan buruk, menyebabkan orang-orang terbaik dan tercerdas
negara tersebut pergi, dan mereka yang tersisa tidak terlatih dengan
baik dan tidak terbiasa dengan norma-norma internasional. Saat ini,
Syria Today mungkin merupakan satu-satunya lembaga swasta di Suriah
yang menjadi kendaraan bagi pengkomunikasian berbagai gagasan dan
nilai di balik produk-produk Amerika secara tertatur, dan dengan
demikian merupakan sebuah alat yang jarang ditemukan bagi penyebaran
berita bisnis dan pembaruan antara kedua negara.
Karena kuatnya kesetiaan pemerintah Suriah terhadap politik sekuler,
kami jarang mengangkat isu agama dalam Syria Today. Tetapi kami dapat
terlibat dalam perdebatan yang kaya dan tetap berpijak pada budaya
yang sangat berbeda. Budaya Amerika bersifat terbuka, mencintai
kebebasan, dan langsung. Budaya Suriah lebih tidak langsung,
bernuansa, dan hirarkis - yang tidak hanya disebabkan oleh sistem
pemerintah otoritarian Suriah, tetapi juga karena struktur keluarga
patriarkat tradisional. Mungkin ini sebabnya orang di Suriah jarang
mendengar tentang usaha bisnis Barat dengan para pengusaha Arab; yang
secara pelik sesuai dengan rakyat Suriah, karena keterlibatan dengan
orang Barat dapat digunakan melawan mereka. Di Barat, kami sering
berteriak tentang hal-hal tersebut dari atap. Hal tersebut hanya
merupakan masalah gaya, bukan inti.
Di masa lalu, perubahan politik radikal di negara-negara otoritarian
harus diawali dengan keterlibatan Amerika dengan perekonomian yang
dikuasai negara tersebut. Namun, dengan kemajuan globalisasi dan
gerakan negara-negara seperti Suriah menuju pasar kapitalis, sektor
swasta Amerika sekarang dapat terlibat bisnis Suriah secara langsung
tanpa melalui rezim Suriah. Tetapi untuk melakukannya secara benar,
Washington perlu memikirkan kembali kebijakan sanksinya terjadap
Suriah dan negara-negara seperti itu, serta mendorong sektor swasta
Amerika menggunakan kekuatan lunaknya demi hubungan yang lebih baik.
Pendekatan ini harus menempuh jalan panjang untuk dapat memperbaiki
reputasi Amerika di dunia dan mendorong saling pengertian.
Syria Today dan usaha-usaha seperti ini lebih dari sekedar bisnis -
mereka merupakan kendaraan untuk melibatkan publik dalam negara-negara
tersebut yang tanpanya tidak banyak berhubungan satu dengan yang lain.
###
* Andrew Tabler adalah seorang pensiunan peneliti pada Institute of
Curent World Affairs yang bermarkas di Washington dan pemimpin redaksi
majalah Syria Today Damaskus. Artikel ini merupakan bagian dari serial
bisnis gabungan Muslim-Barat yang disebarluaskan oleh Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
2) Harapan di Lingkungan Asing
Rev. Doug Peters
Des Moines - Para pengunjung dari negara-negara bagian dan atau negara-
negara lain sering terkejut mengetahui bahwa tidak seluruh Iowa
merupakan dataran dan bahwa ada sesuatu yang lebih dari negara bagian
tersebut daripada sekedar ladang jagung. Mungkin penjelajahan kami
yang paling kuat datang setiap empat tahun sekali, ketika para
kandidat presiden membuat pernyataannya kepada bangsa dengan berusaha
mengenal kami terlebih dulu. Mereka yang tinggal di luar Iowa
keheranan dengan tarian politik ini, tetapi jika seorang asli Iowa
belum berbicara secara langsung dengan sekurang-kurangnya tiga orang
kandidat sebelum pemilihan umum, mereka pasti sedang bersembunyi.
Saya mengatakan semua ini karena di Iowa kami mendengar dari para
kandidat tentang bagaimana Amerika seharusnya lebih dari sekedar
pemimpin yang memberikan harapan dan membawa perdamaian bagi dunia.
Sebagai seorang pastur Kristen, saya sangat setuju. Setelah
mendengarkan beberapa berita tentang pemilihan di National Public
Radio beberapa bulan lalu, saya menangkap sebuah wawancara dengan Eboo
Patel, seorang pemikir Muslim muda masa depa. Ia mendirikan Interfaith
Youth Core, sebuan percobaan yang sedang mengarah menjadi sebuah
gerakan. Tujuannya adalah untuk mengajak kaum muda dari berbagai
agama, bersama-sama, melayani satu sama lain. Saya terperangah
mendengar gagasan jenius tersebut dan segera membeli bukunya, Acts of
Faith.
Dua tahun lalu, Walnut Hills United Methodist Church, tempat saya
melayani sebagai pendeta senior, menyelesaikan sebuah proses untuk
mengembangkan visi kami bagi gereja di masa depan. Saya tidak tahu apa
yang dapat diharapkan dari proses itu, tetapi hasilnya adalah
serangkaian prinsip yang melaluinya kami bertujuan untuk mengungkapkan
keyakinan kami - keadilan sosial, spiritualitas yang dalam dan pada
urutan teratas, kemitraan antar agama. Visi kami tidak hanya bersikap
baik dengan umat dari berbagai agama, tetapi untuk menegaskan
perjalanan Kristen kami melalui hubungan yang penting dengan umat
Muslim, Yahudi, Hindu, Buddhis, Unitarian dan seterusnya.
Ketika saya mendengar tentang konferensi Interfaith Youth Core di
Chicago pada akhir bulan Oktober, saya mengundang direktur organisasi
kaum muda kami, Julie Stone, untuk bersama-sama saya turut kegiatan
tersebut.
500 peserta mewakili setiap kelompok umur, setiap model pakaian,
setiap aksen dan setiap hubungan keagamaan. Makanan direncanakan
dengan penuh kehati-hatian agar sesuai dengan kebutuhan makanan dari
begitu banyak agama. Doa dan ibadah yang mendahului setiap saat makan
sama beragamnya dengan bahasa-bahasa yang digunakan untuk
melafalkannya.
Tetapi itu bukanlah kesan pertama saya. Kesan pertama saya adalah
bahwa perbedaan-perbedaan ini tidak berarti apa-apa. Oh, tentu saja
itu berarti bagi pengalaman keagaman kita masing-masing. Kita
menikmati makanan, berdoa, dan melaksanakan ibadah-ibadah yang
memberikan kita kejelasan dalam seruan agama kita masing-masing,
Hindu, Muslim, Yahudi, atau Kristen.
Tetapi ketika kami semua berkumpul, menakjubkan buat saya betapa
cepatnya kami menemukan cara untuk terbuka dengan liyan, dan betapa
cepatnya perbedaan-perbedaan tersebut dianggap sebagai rahmat dan
bukan halangan. Namun, agar kesadaran ini dapat terjadi, kita semua
harus berkumpul bersama.
Saya ingat satu malam ketika Eboo memperkenalkan seorang pembicara
yang sangat dikaguminya. Ia berkata bahwa di dunia Muslim laki-laki
tersebut memiliki banyak pengikut. Namanya adalah Syekh Hamza Yusuf.
Julie dan saya saling bertatapan. Kami tidak pernah mendengar namanya,
tetapi ketika kami mendengarkan Yusuf, kami menjadi begitu terdorong
dan gembira. Di sebuah dunia, yang sayangnya, lebih berkeinginan untuk
membuka kekurangan-kekurangan dalam berbagai tradisi keagamaan, ada
seorang lelaki Muslim yang berbagi harapan yang sama tentang dunia
dengan kami.
Dalam perjalanan bus menuju hotel, kami mengungkapkan ketidaktahuan
kami tentang Yusuf kepada seorang perempuan Muslim yang baru saja kami
temui. Ia cukup baik hati untuk bercerita lebih banyak tentangnya.
Seperti yang sering terjadi dalam pertemuan ini, kami menemukan area-
area lain tentang tradisi keagamaan yang lain, ketika kami sama sekali
tidak dapat lagi bersikap masa bodoh. Saya pikir ada sebuah harapan
besar ketika kita melalui perjalanan agama kita dalam kemitraan dengan
agama-agama lain.
Pada makan siang terakhir, Julie dan saya didudukkan dengan beberapa
kaum muda - dua Yahudi, tiga Muslim, dan seorang Buddhis. Laki-laki
muda Buddhis mengatakan kepada kami betapa gembiranya ia dapat bertemu
dengan kami saat makan siang. Ia berkata ia ingin mengambil foto kami.
Saya berpikir sendiri betapa berartinya bahwa ia ingin mengenangdua
orang Kristen yang telah ia temui.
Oh bukan, jawabnya, ia kenal banyak orang Kristen; namun kami
merupakan orang dari Iowa pertama yang pernah ia temui.
###
* Doug Peters adalah seorang pastur Kristen, penulis lagu dan esai.
Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews)
dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
3) Teknologi Memberdayakan Kaum Muda, Kaum Muda Memberdayakan Turki
Itir Akdogan
Helsinki - Sekarang lebih mudah untuk memperoleh informasi kapanpun
Anda membutuhkannya. Anda dapat menemukan sebuah hotel pada sebuah
peta interaktif, dan memesan sebuah kamar hotel dari manapun di dunia.
Anda dapat membayar tagihan di tengah malam dengan mengenakan piyama
Anda dan berbagi foto dengan teman-teman di seluruh dunia, semua
kurang dalam sedetik. Sepertiga penduduk dunia memiliki jalur ke situs-
situs web yang memungkinkan proses-proses ini melalui internet.
Mengagumkan, bukan?
Yang tidak kalah mengagumkan adalah karena peralatan bernilai ratusan
juta dolar tersebut merupakan hal yang alami bagi orang muda, dan
dalam banyak hal, orang-orang dalam usia dua puluhanlah yang mendorong
pembaruan-pembaruan ini. Orang-orang dewasa muda, yang dilahirkan
sebagai generasi Teknologi Informasi dan Komunikas (TIK), telah
memusatkan pengetahuan, energi dan gagasan inovatif mereka untuk lebih
memanfaatkan teknologi online.
Kaum dewasa muda merupakan kelompok yang paling penting dalam jejaring
masyarakat pada jaman Informasi kita. Mereka tumbuh besar dengan
teknologi informasi dan, dengan tingkat kenyamanan dan kemampuan ini,
mereka telah berkembang dari anak-anak yang terobsesi dengan permainan
video menjadi para ahli teknologi dan pengusaha.
Penggunaan TIK dengan cara yang bermanfaat saat ini merupakan kunci
emas keberhasilan bagi kaum muda. "e" dari kata "elektronik" yang kita
letakkan di depan begitu banyak kata dewasa ini juga menekankan kata-
kata vital lain yang berawalan "e", seperti pendidikan (education),
pekerjaan (employment), kewirausahaan (entrepreneurship), dan hiburan
(entertainment). Karena itu penting artinya untuk memberdayakan kaum
muda melalui TIK, khususnya di dunia berkembang, dalam upaya
menjembatani kesenjangan digital.
Kita dapat meringkas kesenjangan digital sebagai jarak antara mereka
yang memiliki TIK dan mereka yang tidak. Orang mungkin memiliki
kesenjangan secara digital karena berbagai alasan: mereka mungkin
tidak mampu memiliki piranti keras dan piranti lunak; tempat mereka
tinggal mungkin tidak memiliki infrastruktur yang dibutuhkan; atau
mereka mungkin kurang memiliki pendidikan dan keterampilan untuk
menggunakan teknologi tersebut dalam cara yang bermanfaat. Terlebih
jika Anda tidak dapat berbahasa Inggris, mereka tidak dapat memetik
keuntungan dari kebanyakan informasi online.
Di banyak negara, kaum laki-laki dan perempuan tidak memiliki akses
yang setara terhadap TIK. Kesenjangan gender ini merupakan sebuah
masalah besar, khususnya di masyarakat tempat perempuan tidak dapat
menikmati hak-hak yang sama dengan laki-laki.
Kurangnya akses ke TIK umumnya terjadi di dunia berkembang, dan, jika
tidak diatasi, kesenjangan digital akan tumbuh secepat teknologi itu
sendiri.
Akibatnya, pelatihan teknologi bagi kaum muda di dunia berkembang
sangat penting. Pemberdayaan kaum muda dalam TIK tidak hanya akan
memungkinkan kaum muda untuk memperoleh informasi lebih baik dan
memperbaiki komunikasi tetapi juga dapat memungkinkan mereka memetik
keuntungan dari peluang-pekuang e-learning dan e-employment. Mereka
dapat meraih kualitas pendidikan yang setara dengan rekan-rekan
internasional mereka melalui program-program e-learning. Mereka juga
dapat memasang CV mereka, memperoleh nasihat profesional, menemukan
pekerjaan, bahkan bekerja secara online. Yang terpenting, mereka dapat
memperoleh pelatihan yang memungkinkan mereka sendiri menjadi
pengusaha dan pembaharu TIK.
Masyarakat madani di Turki sangat menyadari arti penting teknologi.
Organisasi pemuda nirlaba terkemuka di Turki, Youth Association for
Habitat (www.youthforhab.org.tr), telah menjadi pelopor dalam bidang
kepemudaan di negara tersebut, sejak ia berdiri pada tahun 1996.
Mereka telah mendirikan gelanggang-gelanggang dan dewan-dewan remaja,
serta berbagai prakarsa yang selaras dengan tujuan mereka
memberdayakan kaum muda melalui kesadaran dan proyek-proyek
pembangunan kapasitas di penjuru negeri.
Youth Association for Habitat telah melaksanakan beberapa proyek
pemberdayaan kaum muda dalam kemitraan dengan aktor-aktor sektor
pemerintah, swasta, dan masyarakat pada tingkat nasional. Proyek-
proyek ini memberdayakan kaum muda Turki dengan keterampilan-
keterampilan bagi karir masa depan mereka dalam sektor komunikasi dan
teknologi.
Satu proyek, Pemberdayaan Kaum Muda bagi Tata Pemerintahan Elektronik
(e-Governance) di Turki, telah dilaksanakan dalam kemitraan dengan
UNDP. Proyek tersebut memperkuat gelanggang-gelanggang dan dewan-dewan
remaja setempat yang didirikan melalui Program 21Agenda Lokal Turki,
sebuah prakarsa yang bertujuan memberikan pembangunan berkelanjutan
melalui program-program lokal. Dalam kerangka ini, pelatihan komputer
dasar telah diberikan bagi 2.500 kaum muda - baik laki-laki maupun
perempuan - dalam beberapa tahun terakhir. Tahun ke-2, yang mulai pada
bulan Maret 2006, akan memberikan pelatihan bagi sejumlah 100.000 kaum
muda yang memiliki masalah sosial hingga 3 tahun mendatang. Pelatihan
yang saat ini sedang berlangsung di 43 kota di seluruh Turki, dan
hasil-hasil awal telah menunjukkan bahwa banyak lulusan program
tersebut yang telah memperoleh pekerjaan dalam industri teknologi
Turki.
Selain dari keuntungan pendidikan dan ekonomi yang diperoleh sebagai
hasil dari program-program ini, jalur ke TIK dapat juga memberi
sumbangan bagi kelangsungan sebuah demokrasi. Berbeda dengan media
tradisional, seperti televisi dan radio, TIK dan media baru menawarkan
komunikasi dua arah. Ini berarti bahwa masyarakat tidak hanya memiliki
jalur yang lebih baik ke informasi, tetapi juga dapat menyumbangkan
informasi. Informasi memberdayakan rakyat. Hal ini memperbaiki
komunikasi antara warga negara dan para wakil mereka yang terpilih,
memungkinkan mereka berperan serta sebagai warga negara yang aktif dan
mengutarakan pandangan-pandangan mereka terhadap berbagai kebijakan
dan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka, yang membawa kepada
peningkatan tingkat keikutsertaan demokrasi.
Dalam sebuah negara yang mayoritas penduduknya berusia di bawah 25
tahun, pemberdayaan kaum muda dalam wahana teknologi akan menghasilkan
penguatan demokrasi dan perbaikan perekonomian di Turki.
###
* Itir Akdogan adalah seorang kandidat PhD dan dosen di University of
Helsinki. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
4) "Domba Hitam" Berperan Serta dalam Debat Politik
Tamara Al-Rifai
Kairo - Di ujung antrian, saya bertanya-tanya berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk memperoleh boarding pass. Terminal bandara penuh
dengan orang. Sebagian menuju Mekkah untuk melakukan umrah pada awal
Ramadhan, bulan ketika umat Muslim berpuasa dari matahari terbit
hingga terbenam. Yang lain, dengan bercelana pendek dan kaos oblong,
pulang ke rumah mereka di Eropa, setelah liburan berjemur matahari
dekat piramida.
Ketika antrian tersebut terhenti selama beberapa menit, saya
melongokkan badan untuk melihat apa yang menghambatnya. Sekelompok
laki-laki memakai turban dan jubah kaftan kelihatannya bermasalah
dalam pemeriksaan barang mereka. Saya bertanya-tanya ke mana mereka
akan pergi.
Satu jam kemudian, ketika saya telah menaiki pesawat menuju Eropa,
saya melihat kelompok laki-laki tersebut duduk di belakang pesawat.
Terbelah antara rasa ingin tahu dan rasa malu saya mencampuri urusan
pribadi mereka, saya mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada
orang yang tampaknya paling tua di antara mereka, kemanakah gerangan
tujuan mereka. Ia tersenyum lebar, seakan-akan bertanya, "Mengapa Anda
terkejut kami pergi ke Eropa?"
Para pria ini adalah ulama-ulama Muslim dari Tanta, Mesir (di utara
Kairo) dan sedang dalam kunjungan resmi ke sebuah negara di Eropa yang
dikenal karena coklat, keju, dan anggurnya. Sementara berada di sana,
mereka bertangungjawab untuk "membangkitkan Ramadhan", sebuah ekspresi
bahasa Arab yang digunakan untuk menjelaskan tindakan yang melibatkan
banyak doa sepanjang bulan suci Muslim tersebut.
Ketika kami tiba, negara tersebut sedang mempersiapkan diri menyambut
pemilihan parlemen yang akan datang, dan selama perjalanan dengan
taksi menuju hotel, saya mencatat banyaknya papan reklame di penjuru
kota yang mengiklankan berbagai partai politik.
Satu papan tampak menonjol. Papan tersebut dipasang oleh sebuah partai
politik tertentu dan menggambarkan sekelompok domba yang berdiri di
atas bendera negara. Tiga domba putih sedang menendangi seekor domba
hitam keluar dari kelompok tersebut, keluar dari bendera, dan jelas -
walaupun hanya secara metaforik - keluar dari negara tersebut. Di
bawah gambar tersebut, slogan partai tersebut berbunyi: Bagi keamanan
yang lebih baik ... rumah kita, negara kita.
Saya sangat terkejut, begitu juga teman-teman saya, baik orang asing
maupun masyarakat setempat. Tetapi saya menemukan bahwa partai yang
bertanggung jawab atas "poster domba" tersebut telah memenangkan lebih
dari 25% kursi Parlemen dalam pemilihan sebelumnya. Orang dapat
berkilah bahwa "domba hitam" merupakan ekspresi yang menggambarkan apa
pun yang aneh atau berbeda, dan tidak serta merta mempunyai makna
etnis. Ini, setidaknya, merupakan argumen yang digunakan oleh partai
politik ketika berhadapan dengan tuduhan-tuduhan ketakutan terhadap
orang asing oleh media dan asosias-asosiasi anti-rasisme.
Selama seminggu masa kunjungan saya, banyak terdengar pembahasan
tentang poster tersebut dan nilai-nilai yang diangkatnya. Sebagian
mendukung pesan itu, yang lain menentangnya.
Bahwa negara tersebut memungkinkan terjadinya perdebatan seperti itu,
setidaknya, membawa angin segar. Bahwa orang dapat mengutarakan
kecenderungan politiknya dalam cara yang begitu terbuka membuat saya,
sebagai seorang Arab, merasa iri. Di tempat yang menghargai pendapat
orang, orang dapat membela keyakinan politiknya dan menemukan partai-
partai yang mewakili dirinya. Kadang seekor domba hitam memiliki
tempat di bawah matahari.
Bangsa Arab sering dianggap sangat terpolitisasi; namun kenyataannya,
kebanyakan dari kami jarang merasa terwakili dalam sistem politik
kami. Banyak dari kami yang merasa bernafsu terhadap konflik Arab-
Israel, atau berpikir kami mempunyai gagasan yang jelas tentang
bagaimana menyelesaikan berbagai permasalahan di Irak. Namun, kami
tidak dapat menyalurkan nafsu ini melalui partai-partai politik kami.
Tidak seperti di sistem-sistem demokrasi, kesadaran politik, dan
perasaan kami tidak memberi sumbangan terhadap pembuatan kebijakan
atau bahkan mempengaruhi politik di banyak negara kami.
Tetapi di negara Eropa ini, orang bersikap terbuka dengan
kecenderungan politik mereka - setidaknya politik internal mereka -
ketika mereka berperan serta melalui saluran-saluran resmi dalam
pembuatan kebijakan di negara mereka, sesuatu yang banyak bangsa Arab
tak dapat lakukan. Jadi ketika jajak-jajak pendapat nasional
menunjukkan bahwa hampir setengah dari penduduk negara ini akan
memilih partai yang memasang papan reklame tersebut, pada saat yang
sama negara tersebut masih secara resmi menyambut sekelompok ulama
Muslim untuk mendorong warganya melaksanakan ibadah-ibadah keagamaaan.
Hanya karena sebuah negara memiliki sebuah partai politik yang
mengiklankan sebuah poster ofensif tidak berarti kurangnya
penghormatan terhadap keragaman dan perbedaan pendapat. Hanya ketika
sebuah negara tidak mengijinkan suara-suara yang berlawanan maka ia
kehilangan kekayaannya dalam arena politik, karena kkayaan datang
dengan keberagaman.
Tentu saja merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan ketika sejumlah
besar penduduk di sebuah negara memandang sekelompok warga lain
sebagai domba hitam. Tetapi lebih membahayakan lagi ketika perdebatan
publik tentang isu-isu seperti ini ditekan atau dilarang.
###
* Tamara Al-Rifai adalah warga Suriah yang tinggal di Kairo, ia
bekerja dalam isu-isu kemanusiaan, pembangunan, dan komunikasi bagi
sebuah organisasi internasional. Artikel ini disebarluaskan oleh
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Nopember 2007,
www.commongroudnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
5) Kebangkitan Arab Ketiga
Yang Mulia Pangeran El Hasan bin Talal
Amman - Hampir tak seorangpun akan menolak pendapat bahwa keadaan
bangsa Arab memiliki banyak hal yang diinginkan, dan bahwa masyarakat
Arab kita terus mati suri. Wacana dan inspirasi kita akan sebuah
kebangkitan kembali Arab tetap bersifat teoritis. Apakah unsur yang
hilang?
Mari kita ingat bahwa kebangkitan kembali Arab yang pertama mengangkat
semangat harapan dari jiwa nenek moyang kita pada saat-saat yang
sangat sulit. Para pelopor seperti Al Yazijy, Al Rihani, Al Bustany,
Mohammad Abduh, Al Kawakiby, dan lain-lainnya, yang layak memperoleh
tempat dalam daftar yang mengagumkan ini, meletakkan dasar bagi apa
yang akan datang. Hasil dari kecerdasan mereka itu diuraikan dalam
bentuk "kebangkitan kembali pertama" yang agung, yang terus merasuki
jiwa bangsa Arab. Saya berharap kita akan kembali ke ayat-ayat
tersebut, yang diwariskan oleh orang-orang besar ini, bagi inspirasi
kita di masa sekarang dan masa depan.
Mari kita coba untuk mengerti kecerdasan visi yang diwakili dalam
sebuah ungkapan terkenal: "Agama adalah untuk Tuhan, dan tanah air
adalah untuk semua orang". Para pelopor tersebut telah menyentuh
sesuatu yang vital, kelihatannya memperingatkan kita terhadap segala
perselisihan etnis, sektarian, keagamaan, atau yang lainnya.
Malapetaka dan bencana telah menantang kita dari dalam dan luar, yang
menutupi kebangkitan kembali pertama kita, walaupun ia tetap merupakan
sebuah sumber pencerahan bagi harapan, yang membimbing banyak orang
melalui kenyataan suram dewasa ini.
Kebangkitan kembali bangsa Arab mengambil bentuk yang berbeda dan
mendunia - Revolusi Arab Besar yang mendorong berbagai bangsa
bertindak dan sekali lagi membangkitkan harapan. Dan apa, biar
bagaimana, sebuah kebangkitan kembali jika bukan sebuah revolusi,
sebuah perubahan menyeluruh dalam pola pikir yang mengubah selamanya
apa yang terjadi sebelumnya? Kebangkitan kembali kedua ini membawa
obor yang dibawa pendahulunya ketika ia berusaha untuk mengabsahkan
modernitas dan memodernisasi apa yang nyata dalam kehidupan bangsa-
bangsa Arab.
Sedihnya, kebingungan dan kekecewaan sekali lagi berkuasa dan
kebangkitan kembali kedua ini mengikuti jejak yang pertama: ketiadaan
nilai dan standar menghancurkan manfaat-manfaatnya.
Setelah berbagai kekecewaan ini, telah tiba saatnya bagi kebangkitan
kembali ketiga yang lebih dalam akarnya, yang dapat mempelajari dan
memetik pelajaran dari kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran
masa lalu.
Saya percaya bahwa suatu kebangkitan kembali seperti itu seharusnya
berawal dengan konsep kewarganegaraan dan seharusnya berpuncak pada
sebuah piagam harapan: sebuah Piagam Warga Arab, sebuah dokumen yang
memperjelas tugas, hak, dan tanggung jawab berbagai pribadi dan
kelompok. Inilah yang kami harapkan dapat dicapai, bahkan walaupun
dalam pemahaman yang luas, pada konferensi "Kewarganegaraan Bangsa
Arab", yang diselenggarakan oleh Annual Intellectual Symposium of the
Arab Thought Forum pada bulan April 2008 di Kerajaan Maroko. Saya
merasa terhormat karena membawakan konsep ini, dan beberapa ayat
Piagam yang relevan, di Forum's Annual Intellectual Symposium yang
diselenggarakan Qatar pada bulan Januari 2007.
Lalu, apakah kewarganegaraan tersebut? Kewarganegaraan penuh, dalam
arti sesungguhnya, mempunyai banyak dimensi.
Dimensi Kemanusiaan: Kasih sayang; solidaritas; kerja sama; kesetaraan
gender; penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi; kebebasan;
serta hak untuk memilih dan menjalankan agama seseorang.
Dimensi Demokratis: Kebebasan untuk memilih penguasa politik;
pertukaran pendapat secara damai tentang kewenangan; penekanan konsep
keikutsertaan - baik dalam dimensi publik maupun swasta; pemberdayaan
aktor-aktor demokrasi dan publik, serta perluasan iklim demokratis
dalam berbagai cara, sehingga demokrasi tidak hanya menjadi sebuah
slogan semata atau sebuah istilah kosong; yang menghormati prinsip dan
praktik kemajemukan, berdasarkan sebuah kesadaraan mendalam tentang
keragaman dan perbedaan di dalam sebuah kerangka kerja yang beradab,
yang menyerap segala perbedaan kebudayaan, agama, etnis, kesukuan, dan
sekte: keragaman dalam kerangka kesatuan.
Dimensi Lingkungan: Pemeliharaan dan penjagaan lingkungan; memelihara
bumi; dan menyadari kapasitas dan keterbatasannya.
Dimensi Hukum dan Konstitusional: Rasa hormat terhadap hukum,
konstitusi, dan standard yang menjamin setiap orang dan kelompok
kebebasan berekspresi.
Sederhananya, kita harus membuat setiap warga negara menjadi pemilik
negaranya, tidak hanya sekedar secara konsep, tetapi juga secara
fisik. Ia seharusnya memikul sebagian beban bagi masa sekarang dan
masa depan negaranya.
Kita dapat memetik manfaat dari pengalaman Muslim Eropa Selatan yang
pertama kali menyusun Piagam bagi Muslim di Eropa, dengan
mengidentifikasi hak-hak kewarganegaraan bagi 30 juta umat Muslim.
Melalui Piagam ini, mereka menyerukan prinsip-prinsip toleransi, nilai-
nilai demokrasi, dan hak-hak asasi manusia pada Uni Eropa, pada
seluruh Muslim di Eropa dan dunia Muslim, berdasarkan ketaatan
terhadap aturan hukum; juga dengan menekankan nilai-nilai kehidupan,
agama, kebebasan, kepemilikan, dan harga diri.
Saya menyerukan bagi pengembangan sebuah Piagam Warga Arab sejalan
dengan Piagam Muslim Eropa Selatan. Kami ingin mendirikan sebuah
kewarganegaran yang utuh dan penuh arti, dengan sebuah piagam yang
menjamin kesetaraan hak-hak bagi para individu dan kelompok-kelompok
untuk berperan serta dalam pembuatan kebijakan, berbagi kekayaan
negara, dan menikmati keberadaan yang setara di ruang publik. Konsep
kewarganegaraan ini berasal dari sebuah bangsa Arab yang mengambil
sebuah kebijakan yang berkumpul di bawah payung aturan bersikap.
"Bangsa" adalah sebuah konsep yang melampaui negara, berawal dari
dasar piramida, dan bergerak ke atas.
Marilah kita, paling tidak, mempertimbangkan sebuah kewarganegaran
transisi, bersama dengan konsep-konsep demokrasi transisional dan
keadilan, dalam rangka membuka sebuah jendela harapan, sehingga
gagasan-gagasan ini menyebar ke seluruh warga negara Arab.
###
* Pangeran El Hasan bin Talal, saudara laki-laki almarhum Raja Husein
dari Yordania, adalah ketua dari beberapa organisasi dalam bidang
termasuk diplomasi, kajian antaragama, sumber-sumber daya manusia, dan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor
Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Al-Ahram, 7 October 2007, http://weekly.ahram.org.eg
Telah memperoleh hak cipta.
Pandangan Kaum Muda
CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.
Tentang CGNews-MK
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.
Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.
Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.
Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.
Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718
Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033
Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org
Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Rami Assali (Jerusalem)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Sireen Hashweh (Jerusalem)
CGNews adalah kantor berita nir-laba.