Sunday, November 25, 2007

[Berpikir Bebas 728] Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

23 - 29 Nopember 2007

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di
sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Saat Menciptakan Musik,Keyakinan adalah Perkara Insidental oleh Ani
Zonneveld
Dalam artikel keempat dari serial bisnis gabungan antara Muslim-Barat
ini, Ani Zonneveld, seorang penyanyi, penulis lagu, dan Presiden
Muslims for Progressive Values, menggambarkan beberapa hubungan
pribadi yang berkembang antara penulis lagu dan artis, dapat
bermanfaat untuk menciptakan musik yang " bermakna dan bernuansa".
Zonneveld menulis bahwa "kesediaan kami mendengarkan cerita-cerita
yang beragam, memupuk sebuah proses kreatif organik."
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

2) Kebijakan Luar Negeri Tarik Menarik Turki oleh Gürcan Koçan dan
Jason J. Nash
Gürcan Koçan, profesor di Istanbul Technical Universtiy, dan Jason J.
Nash, analis hubungan Timur Tengah dan Turki yang tinggal di Istanbul,
membahas faktor-faktor domestik dan internasional yang mempengaruhi
kebijakan Timur Tengah Turki, khususnya ketika menyangkut kehadiran
Partiya Karkaren Kurdistan (Partai Karyawan Kurdi--PKK) yang
kontroversial di Irak.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

3) Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak oleh César Chelala
Pada Hari Anak-Anak Internasional kali ini, César Chelala, peraih
penghargaan Overseas Press Club of America dan koresponden asing untuk
Middle East Times International, membahas penderitaan anak-anak Irak
yang harus merasakan akibat-akibat perang di negara mereka.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

4) Manakah Perempuan dalam Politik Timur Tengah? oleh Rafi'ah Al
Tal'ei
Penulis berkebangsaan Oman dan direktur program Gulf Forum for
Citizenship, Rafi'ah Al Tal'ei membahas perjuangan kaum perempuan
Timur Tengah untuk meningkatkan jumlah mereka dalam arena politik.
Dengan menggambarkan hambatan-hambatan politik, ekonomi, dan sosial
yang mereka hadapi, ia menguraikan penyelesaian-penyelesaian yang
memungkinkan partisipasi perempuan yang lebih besar.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

5) Masih Ada Waktu untuk Mundur Dari Bibir Jurang oleh Editorial Daily
Times
Editorial Daily Times ini membahas hubungan yang dimainkan antara
aktor-aktor di panggung politik Pakistan dan mempertimbangkan beberapa
pilihan yang tersedia bagi mereka, sementara mereka mempersiapkan
pemilihan presiden di bawah pengumuman kekuasaan darurat Presiden
Musharaf belum lama ini.
(Sumber: Daily Times, 20 Nopember 2007)


1) Saat Menciptakan Musik,Keyakinan adalah Perkara Insidental
Ani Zonneveld

Los Angeles - Sebagai seorang pencipta lagu, pekerjaan saya adalah
menuliskan lagu yang sesuai dengan gaya dari artis tertentu. Para
penerbit memberi tahu saya tentang label rekaman dan artis mana yang
sedang mencari lagu bagi album mereka yang akan datang, dan dengan
informasi itu saya duduk di depan komputer, yang penuh dengan program
piranti lunak dan suara, untuk menuangkan apa yang ada di dalam kepala
saya. Dalam satu hari, saya biasanya menyelesaikan irama dan baris
melodi. Dalam dua hari, liriknya telah selesai.

Dalam sebuah proses kolaboratif, sebuah lingkungan kreatif yang ideal
adalah lingkungan yang memungkinkan sebuah gagasan yang dilemparkan
menjadi lebih baik, memicu gagasan lain yang mengembangkan gagasan
pertama, dan seterusnya. Karena keterbatasan waktu, latar belakang,
agama, atau politik seseorang jarang dibahas. Jika ada kecocokan
antara para penulis lagu, hal itu berasal dari reaksi kimia yang
dipancarkan musik. Dengan kata lain, agama, warna kulit, umur dan
jenis kelamin seseorang menjadi tak relevan.

Kenyataan bahwa saya adalah seorang perempuan Muslim hanyalah pokok
insidental dalam proses ini. Saya dinilai berdasarkan keberhasilan
saya sebagai seorang penulis lagu, jumlah karya yang telah saya
hasilkan, dan penghargaan yang saya dapatkan.

Walaupun agama saya tak berkaitan sama sekali dengan pekerjaan saya,
kadang-kadang dalam sebuah percakapan, mitra saya dalam menuliskan
lagu mengetahui bahwa saya adalah seorang Muslim. Ketika ini terjadi,
mereka pun menanyakan, "Ah, coba saya ajukan padanya berbagai
pertanyaan yang ingin saya ketahui tentang Islam". Topik-topik yang
dibahas mulai dari jilbab, laki-laki Muslim yang menikahi empat istri,
hingga pendapat saya tentang politik di Timur Tengah.

Menulis dengan artis yang berada dalam satu ruangan merupakan sebuah
proses yang sangat berbeda dengan tanpa sang artis. Sebagai seorang
penulis, saya memiliki gaya saya sendiri dalam menyusun rangkaian
melodi, memadukan kata dengan musik, dan seterusnya, jadi ketika saya
bekerja dengan sang artis, saya harus membiarkan mereka "menghidupkan"
gagasan yang telah saya sumbangkan; yaitu, dengan mempersonalisasikan
sebuah gagasan musik berdasarkan interpretasi musik mereka sendiri.

Dua artis yang pernah bekerja sama dengan saya adalah Keb' Mo' dan
Melissa Manchester. Kami biasanya memulai dengan bertukar kabar satu
sama lain, bertukar cerita tentang industri musik, hingga membahas
masalah politik dan agama. Jenis musik mereka membutuhkan banyak
pendalaman dan perenungan, dan hubungan pribadi yang telah kami
kembangkan selama bertahun-tahun ini membantu proses penciptaan musik
yang penuh makna dan nuansa.

Sebuah contoh ketika agama ikut berperan adalah lagu Thank You for
Your Faith in Me, yang saya tulis bersama dengan Melissa Manchester.
Lagu tersebut merupakan ucapan syukur kepada Tuhan yang mepercayai
kita dan tidak berputus asa menghadapi kita. Dalam hal ini,
spiritualitas kami berasal dari ruang yang sama, ia dari keyakinan
Yahudinya dan saya dari Islam.

Hubungan saya dengan Keb' Mo', artis Blues Kontemporer peraih banyak
Grammy, berawal sejak 15 lalu, ketika ia biasa merekam bagian gitar
pada lagu-lagu saya di studio. Hubungan profesional saya tak terasa
seperti hubungan bisnis, karena ia telah berkembang menjadi sebuah
hubungan yang penuh saling pengertian dan persahabatan berdasarkan
keyakinan bersama dalam "melakukan hal yang benar" - sebuah nilai
spiritual yang dijalani Keb' Mo'. Satu hari ia mengundang saya tampil
ke atas panggung Disney Concert Hall di Los Angeles untuk membicarakan
proses pembuatan lagu kami dan kemudian tanpa disangka-sangka ia
mengirimkan cek sebagara ucapan terima kasih atas jerih payah saya.
Tindakan bijak seperti itu jarang terjadi.

Dengan artis-artis seperti Melissa Manchester dan Keb' Mo', saya
merasa nyaman membicarakan berbagai hal di luar kehidupan profesional
saya - aktivitas sosial saya sebagai seorang Muslim, dan mendengarkan
pandangan-pandangan keagamaan dan politik mereka. Mungkin yang
mengejutkan, berbagai percakapan pribadi yang luas dan penerimaan
terhadap keragaman satu sama lain ini, sering memicu sebuah judul lagu
atau tema. Kesediaan kami untuk mendengarkan cerita-cerita yang
beragam memupuk sebuah proses kreatif organik.

Walaupun kita mungkin terlibat dalam sebuah hubungan bisnis, pada
akhirnya kita semua merupakan bagian dari kemanusiaan. Dan landasan
bagi hubungan penuh damai, tak peduli bentuknya, adalah rasa
penghormatan dan penerimaan kita akan kesetaraan satu sama lain.

###

* Ani Zonneveld adalah seorang penyanyi/penulis lagu di Los Angeles
(www.a-n-i.net) dan salah seorang pendiri dan Presiden Muslims for
Progressive Values (www.mpvusa.org). Artikel ini merupakan bagian dari
serial tentang bisnis gabungan antara Muslim-Barat, disebarluaskan
oleh Kantor Berita Common Ground dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org Telah memperoleh hak cipta.


2) Kebijakan Luar Negeri Tarik Menarik Turki
Gürcan Koçan dan Jason J. Nash

Istanbul - Turki belum lama meningkatkan tekanan atas pihak-pihak
berwenang AS dan Irak untuk mengakhiri kehadiran kelompok separatis,
Partiya Karkaren Kurdistan (Partai Karyawan Kurdi--PKK), di bagian
utara Irak.

Perkembangan secara bertahap hingga menjadi krisis yang sedang terjadi
saat ini telah melibatkan lebih dari kebutuhan keamanan Turki di
perbatasan wilayah selatan dan bagi kesatuan internalnya. Ada
keseimbangan hubungan yang sedang terjadi antara tuntutan-tuntutan
berbagai aktor domestik Turki di satu sisi, dan kepentingan-
kepentingan mitra-mitra regional dan strategis Turki di sisi lain.

Isu Irak utara mulai membajak agenda kebijakan luar negeri Turki.
Pihak militer dan birokrasi Turki secara tradisional mengatasi ancaman-
ancaman keamanan terhadap wilayah Turki. Dan pemerintah koalisi Turki
masa lalu, yang umumnya tidak stabil, biasanya menyerahkan pembuatan
keputusan seperti itu kepada para pembuat kebijakan yang telah berdiri
sejak lama tersebut.

Kedua aktor politik utama ini - militer dan birokrasi - dengan
pembagian-pembagian internal mereka sendiri dalam tanggapan kebijakan,
telah berusaha untuk menempatkan kepentingan-kepentingan domestik
Turki sambil melihat kedudukannya dalam kerangka kerja kewajiban
internasional dan pengaturan perjanjian dengan UE, Amerika Serikat,
dan NATO.

Hingga belum lama ini, boleh dibilang, kebijakan-kebijakan Timur
Tengah Turki merupakan hasil dari hubungan antara faktor-faktor
strategis lebih besar dan tidak mempertimbangkan dampak-dampaknya
terhadap lingkungan regional. Hubungan dekat yang dikembangkan Turki
dengan Israel merupakan satu indikasi bagaimana aktor luar telah
mempengaruhi kebijakan Timur Tengahnya seiring dengan garis-garis
strategis, namun jauh dari pertimbangan rakyat, seperti rasa
persaudaraan Muslim di kalangan masyarakat.

Adalet ve Kalkinma Partisi (Partai Pembangunan Keadilan--AKP) Turki,
yang kini tengah berkuasa, sedang mengevaluasi kembali faktor-faktor
tersebut. Bertentangan dengan keinginan pemerintah Bush, pemerintah
Turki telah membangun hubungan yang semakin dekat dengan Suriah dan
Iran, terlepas dari risiko tergganggunya jaringan strategis
persekutuan Barat yang telah menentukan banyak kepentingan kebijakan
luar negeri Turki sejak Perang Dunia II.

Namun yang menarik, dan berbeda dari pemerintah-pemerintah Turki
sebelumnya, adalah upaya AKP untuk melegitimasi tindakan-tindakannya
sembari berusaha membela berbagai kepentingannya. Tindakan unilateral
melawan PKK di Irak utara, dengan kata lain, tidak lagi mungkin
terjadi.

Pemerintah Bush berada pada posisi tidak nyaman akibat dorongan
mendadak dari Turki tersebut, terperangkap karena Bush berada dalam
jaringan persekutuan oportunistis dengan para pemimpin Irak utara. Di
Turki, mereka sekarang menghadapi sekutu NATO yang menggunakan isu
terorisme PKK sebagai dasar balasan tindakan bersenjata mereka, sama
seperti yang dilakukan Amerika Serikat ketika membenarkan campur
tangannya sendiri di Afghanisan dan Irak.

Namun, tidak hanya pemerintah AS yang berada dalam keadaan terdesak.
Pemerintah Turki juga mendapatkan dirinya tertarik ke dalam
kepentingan untuk bertindak sesuai dengan tingkat tuntutan rakyat.
Karena keinginan untuk mengintervensi Irak utara semakin menguat dalam
pendapat publik Turki, pemerintah AKP telah mencari berbagai cara
untuk mengurangi tuntutan penggunaan kekerasan ini. Pemerintah telah
mencoba untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan penggunaan
kekuatan fisik dengan kekuatan maya dari media, baik di tingkat
nasional dan internasional.

Penggunaan kekerasan di Irak utara diperpanas oleh pertimbangan-
pertimbangan ekonomi dan pemimpin bisnis Turki. Hubungan dagang yang
luas antara Irak utara dan sebagian besar Timur Tengah, terkait dengan
pemulihan ekonomi Turki sendiri, khususnya di wilayah tenggara yang
penuh permasalahan, dapat terancam oleh tindak balasan yang terlalu
keras.

Tingkah laku berlebihan pihak berwenang Turki dapat mengumpani
kecurigaan-kecurigaan UE terkait dengan keanggotaan negara tersebut
dalam "klab Uni Eropa". Kebangkitan nasionalisme sebagai sebuah
kekuatan dalam politik Turki berada dalam kedudukan yang tidak nyaman,
tidak hanya dengan mitra-mitra luar negerinya, tetapi juga dengan
partai berkuasa. Dengan meminta media lokal mengurangi tingkat
kesensasionalan liputan terhadap serangan-serangan di tenggara Turki,
pemerintah sedang bertindak untuk melindungi kendaraan kekuatan "maya"
ini dan mempertahankan hubungan strategis yang telah lama terjalin,
dengan menyelesaikan keadaan, tanpa harus memilih kekuatan "fisik"
yang mungkin mengancam kepentingan-kepentingan AS di Irak.

Pembentukan kebijakan luar negeri Turki telah melewati sebuah
perubahan penting dalam lima tahun terakhir, walaupun sedang mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan -kenyataan
regional. Kehadiran Amerika Serikat di Irak memperumit pilihan balasan
bersenjata tradisional, demikian juga dengan peningkatan hubungan
ekonomi dan strategis dengan Timur Tengah, dan UE memaksa para pembuat
kebijakan luar negeri di Ankara untuk mempertimbangkan batasan-batasan
ini dalam kaitannya dengan tindakan militer.

Di dalam negeri, pemerintah Turki juga sedang menghadapi keinginan
yang saling bertentangan antara kelompok yang menginginkan sebuah aksi
dengan mereka yang menyarankan pengendalian diri. Kekuatan "maya"
pelan-pelan digunakan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan ini, sambil
menghalangi penggunaan kekuatan "fisik". Namun, walaupun pengendalian
diri yang lebih terukur tercapai, hal ini tidak serta merta
menyelesaikan isu-isu jangka panjang yang disebabkan oleh munculnya
kekerasan PKK. Pemangku kepentingan yang berbeda, baik pada tingkat
domestik maupun regional, juga perlu dilibatkan untuk memastikan
stabilitas yang lebih berjangka panjang di wilayah tersebut.

Jika wajah monolitis dari perumusan kebijakan luar negeri dari Ankara
memang benar-benar ada, maka boleh dibilang bahwa masa itu pasti telah
berakhir. Tanggapan Turki terhadap peristiwa-peristiwa terakhir
menunjukkan bahwa ia sedang belajar untuk menyesuaikan pembuatan
kebijakan luar negerinya dengan memperhitungkan hubungan kompleks yang
sekarang harus dihadapinya. Bagi UE, sudah tiba saatnya untuk
menangani hubungannya dengan Turki dengan cara yang lebih konstruktif.
Bagi Amerika Serikat dan kebijakan Timur Tengahnya yang bermasalah,
hal itu juga semakin penting.

###

* Gürcan Koçan adalah seorang profesor pada departemen ilmu-ilmu
humaniora dan sosial pada Istanbul Technical University, dan Jason J.
Nash adalah analis hubungan Timur Tengah dan Turki yang tinggal di
Istanbul. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak
César Chelala

New York - Hari Anak-Anak Internasional akan dirayakan di penjuru
dunia pada tanggal 20 Nopember. Perserikatan Bangsa-Bangsa menandai
hari ini sebagai "sebuah hari persaudaraan dan pengertian antara anak-
anak seluruh dunia ". Di Irak, sayangnya, hari ini tidak akan
dirayakan dengan banyak kemeriahan, karena anak-anak telah menjadi
korban paling rentan dari sebuah perang orang dewasa yang tak
bermoral. Sekali melihat foto-foto anak-anak Irak yang menjadi cacat
akibat perang, kita akan terus dihantui oleh mereka.

Seorang anak meninggal setiap lima belas menit di Irak. Lebih banyak
lagi yang cacat seumur hidup mereka. Dari prakiraan, 4 juta bangsa
Irak - sebuah angka yang setara dengan jumlah seluruh penduduk
Irlandia - yang telah terlantar di dalam negeri atau telah
meninggalkan Irak, 1,5 juta di antaranya adalah anak-anak. Kebanyakan
dari mereka tidak memiliki jalur terhadap perawatan kesehatan dasar,
pendidikan, tempat tinggal, air atau kebersihan.

70 persen rakyat tidak memiliki akses terhadap persediaan air yang
memadai, dan 80 persen tidak memiliki sarana kebersihan yang baik,
kondisi-kondisi yang menciptakan lahan pengembangan infeksi-infeksi
usus dan pernafasan yang umumnya menyerang anak-anak. "Anak-anak
meninggal setiap hari karena kurangnya dukungan medis dasar. Sistem
pembuangan yang buruk dan kurangnya air bersih, khususnya di pedesaan,
telah menjadi masalah serius yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-
tahun untuk mengatasinya," Ahmed Obeid, seorang pejabat kesehatan
Irak, mengingatkan.

Keprihatinan utama lain adalah kekurangan gizi. Tingkat penyebarannya
di kalangan anak-anak terus meningkat; berbagai bahaya kekurangan gizi
telah berlipat ganda sejak serangan yang dipimpin AS, sehingga Irak
sekarang setara dengan Burundi, negara Afrika Tengah yang terpecah
oleh perang saudara yang penuh kekejaman, dan lebih tinggi daripada
Haiti, negara termiskin di Amerika.

Jumlah anak-anak yang lahir dengan berat badan kurang juga lebih
tinggi daripada sebelum serangan, menurut sebuah laporan yang
diterbitkan oleh OXFAM dan 80 badan bantuan lain. Sekitar 8 juta orang
- sekitar sepertiga jumlah penduduk - membutuhkan bantuan darurat, dan
lebih dari 4 juta rakyat Irak bergantung pada bantuan pangan.

"Anak-anak sakit atau terluka yang seharusnya dapat dirawat dengan
peralatan ala kadarnya dibiarkan meninggal dalam jumlah ratusan karena
mereka tidak memiliki akses terhadap obat-obatan dasar atau sumber-
sumber daya lain. Anak-anak yang telah kehilangan tangan, kaki, dan
tungkai, dibiarkan tanpa indra buatan. Anak-anak dengan keadaan
pikologis yang parah, dibiarkan tak dirawat." Ini adalah penilaian
dari sekitar 100 dokter Inggris dan Irak.

Beragam penyakit yang berhubungan dengan lingkungan, menyerang
kalangan anak-anak karena keterbukaan mereka dengan bahan-bahan
pencemar tersebut. Banyak kasus cacat lahir dan kanker di kalangan
anak-anak dipercaya merupakan akibat-akibat dari bahan-bahan kimia dan
radioaktif. Belum lagi apa yang secara eufimisme disebut sebagai
"kerusakan nyata", yang berarti ribuan anak-anak yang terbunuh oleh
bom-bom yang meledak di tepi jalanan, serangan-serangan bunuh diri,
atau operasi-operasi militer dan keamanan.

Yang juga mengkhawatirkan adalah peningkatan jumlah anak-anak, baik
perempuan maupun laki-laki, yang diculik dan diperdagangkan demi
eksploitasi seksual. Ini adalah sebagian akibat dari bangkitnya
kelompok-kelompok bersenjata di seluruh penjuru negeri.

Hal ini menuntut masyarakat Internasional - termasuk pemain Barat
maupun regional - mengambil langkah-langkah untuk bersama-sama
mengakhiri pilinan kekerasan di Irak demi kemanusiaan kita sendiri.
Ketika kita membaca atau mendengar tentang laporan tanpa akhir dari
berbagai peristiwa kekerasan di Irak, berapa sering kita berhenti
untuk berpikir bagaimana caranya sebuah peristiwa tunggal seperti itu
mempengaruhi tubuh, pikiran, hati, kehidupan keseharian dan masa depan
orang-orang yang disentuhnya, langsung maupun tidak?

Saya melihat sekali lagi foto seorang anak Irak tak dikenal, sebuah
foto karya Dan Chung untuk Guardian, ciri-cirinya terbakar hingga
tidak dapat dikenali, yang mata sedihnya kelihatan ingin berkata, "Apa
yang telah saya lakukan sampai menanggung ini?" Orang-orang kecil itu,
yang menanggung dampak-dampak tragis perang di pundak mereka yang
rapuh.

###

* César Chelala, MD, PhD, adalah salah seorang pemenang penghargaan
Overseas Press Club of America. Ia juga seorang koresponden asing
untuk Middle East Times International (Australia). Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) Manakah Perempuan dalam Politik Timur Tengah?
Rafi'ah Al Tal'ei

Washington, DC - Walaupun kaum perempuan berjuang untuk berperan serta
dalam politik di seluruh dunia, jumlahnya masih rendah di Timur
Tengah. Kaum perempuan telah memiliki jalur ke kantor politik selama
berabad-abad, tetapi kemajuannya, yang semangati dari tepian oleh
berbagai organisasi dari Barat, sangat lambat. Apa yang menanahan kaum
perempuan hingga tak bisa memiliki perwakilan lebih besar di dunia
politik dan apa yang dapat dilakukan untuk mendorong partisipasi
mereka?

Hasil dari pemilihan umum di Maroko belum lama ini melahirkan
perdebatan tentang perwakilan politik perempuan ke arena politik.
Hanya 34 perempuan yang memenangkan majelis rendah parlemen,
dibandingkan dengan 35 perempuan pada pemilihan sebelumnya, hanya
sekitar 5% dari semua wakil.

Di Turki, perempuan memenangkan 50 dari 550 kursi di parlemen Turki.
Walaupun baru mencakup 9% dari keseluruhan, ini pertanda yang
membesarkan hati, karena jumlah perempuan yang terpilih berlipat ganda
dibandingkan dengan pemilihan parlemen terakhir. Persentase perwakilan
perempuan ini merupakan yang kedua terbesar di wilayah tersebut
setelah Irak, yang memiliki 70 wakil perempuan dalam parlemennya yang
beranggotakan 275 orang.

Perempuan di Timur Tengah sering mengalami kondisi-kondisi politik,
sosial, dan budaya yang sensitif dan rumit, yang membatasi kemampuan
mereka untuk terlibat dalam arena politik. Banyak perempuan yang
menjauhkan diri dari partisipasi politik demi menghindari kontroversi.
Tafsiran-tafsiran keagamaan konservatif kadang membatasi partisipasi
perempuan dalam kehidupan masyarakat, atau mencegah mereka bercampur
dengan kaum pria, atau menduduki jabatan pemerintahan. Juga ada
dimensi keluarga yang perlu dipertimbangkan, yang masih menjadikan
perempuan secara tradisional bertanggung jawab terhadap tugas-tugas
rumah tangga.

Perempuan juga sering dilihat kurang berpengalaman dalam urusan-urusan
kemasyarakatan, akibatnya, para pemilih - baik laki-laki maupun
perempuan - cenderung tidak akan memilih mereka. Jadi, meskipun
perempuan tidak menahan diri dari pencalonan jabatan politik, ia pun
kalah sejak awal karena kurangnya dukungan masyarakat.

Ini biasanya membantu menjelaskan mengapa hanya sejumlah kecil
kandidat perempuan yang mencalonkan diri untuk jabatan publik.
Misalnya, dari 800 kandidat pada pemilihan umum Oman 27 Oktober lalu,
hanya 25 di antaranya perempuan.

Sebagai tambahan, ada faktor lain yang menghambat perempuan untuk
mencalonkan diri bagi jabatan politik. Termasuk di antaranya beragam
tingkat demokrasi yang sering kali tidak memuaskannya, kebebasan
berpendapat, kemajemukan, penghormatan terhadap keragaman, dan dialog
terbuka.

Walaupun faktor-faktor ini mempengaruhi baik perempuan maupun laki-
laki, namun ketika ditambah dengan struktur sosial dan budaya yang
lebih mendukung laki-laki daripada perempuan dalam arena politik, yang
paling parah terkena dampaknya adalah perempuan. Ini cenderung
mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kesadaran politik di
kalangan warga negara.

Memajukan partisipasi efektif dan perwakilan perempuan yang murni
dalam politik berarti mengangkat kesadaran akan peran perempuan dalam
kehidupan masyarakat, melatih perempuan untuk menduduki jabatan
publik, dan melibatkan mereka untuk masuk arena politik dalam rangka
memperkaya pengalaman mereka, meraih kepercayaan pemilih dan
mempersiapkan generasi-generasi perempuan di masa depan untuk
berpartisipasi dalam jumlah yang lebih besar.

Satu sarana perbaikan partisipasi perempuan adalah dengan sebuah
sistem kuota, yang mengalokasikan sejumlah persentase kursi bagi
perempuan. Di negara-negara tempat langkah tersebut telah diterapkan,
seperti Tunisia, Irak dan Yordania, kita melihat lebih banyak
perempuan dalam politik. Belum lama ini, kaum perempuan telah berjuang
untuk memenangkan 15% kuota dalam pemilihan umum Yaman yang akan
datang.

Selain menerapkan kuota, para pemimpin partai politik dan ketua-ketua
organisasi sipil seharusnya dibujuk untuk mencalonkan perempuan dalam
daftar pemilihan mereka dan menugaskan mereka dalam kedudukan-
kedudukan dengan wewenang yang lebih besar. Memajukan sebuah budaya
pencarian dana untuk mendukung kandidat juga merupakan cara yang
efektif untuk mengatasi situasi kesulitan ekonomi, yang mungkin
menghalangi perempuan berpartisipasi, karena dalam banyak masyarakat
tradisional kaum laki-laki menangani kebanyakan urusan keuangan
keluarga.

Di kebanyakan negara Timur Tengah, ada beberapa organisasi yang peduli
dengan isu-isu perempuan dan hak-hak asasi manusia. Jejaring di
kalangan lembaga-lembaga masyarakat madani yang peduli dengan
partisipasi perempuan, entah dalam suatu negeri entah di tingkat
regional, maupun internasional, akan membantu memperkaya dan mendukung
perempuan secara politik.

Banyak negara Timur Tengah yang memiliki Menteri Urusan Perempuan.
Walaupun ini kelihatannya merupakan sebuah langkah menuju arah yang
tepat, lembaga-lembaga ini sering bekerja secara independen dari
kementerian-kementerian lain daripada mengambil manfaat dari peran
yang dimainkan setiap kementerian untuk memajukan sebuah strategi
nasional yang kohesif untuk meningkatkan keterwakilan perempuan.

Pada tingkat internasional, sejumlah organisasi telah berurusan dengan
organisasi-organisasi lokal di Timur Tengah untuk melatih perempuan
berpolitik, selain membantu mereka mengatasi sebagian permasalahan
yang mereka hadapi. Selama ini, lembaga-lembaga swadaya masyarakat
Amerika seperti National Democratic Institute (NDI) dan International
Republican Institute (IRI) telah menjadi tuan rumah bagi kegiatan-
kegiatan gabungan ini, seperti pelatihan politik perempuan di Levant,
Teluk, dan Afrika Utara selama kampanye-kampanye pemilihan terakhir.
NDI dan IRI juga terus menyelenggarakan berbagai konferensi dan
lokakarya untuk membantu perempuan memperoleh pengalaman dalam bidang
ini.

Koordinasi dan jejaring gabungan dari berbagai organisasi dan individu
ini akan membantu menyelesaikan halangan-halangan partisipan politik
perempuan pada tingkat akar rumput. Dengan membantu perempuan
menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam politik, akan mendorong
partisipasi perempuan yang lebih besar pada semua tingkat.

Jalan untuk menyempurnakan kesetaraan jender politik masih panjang,
perjuangan belum selesai. Langkah-langkah kecil ini merupakan pertanda
bahwa ada banyak orang yang bekerja di belakang layar untuk mengubang
keseimbangan tersebut di masa depan.

###

* Rafi'ah Al Tal'ei adalah seorang penulis berkebangsaan Oman dan
direktur program Gulf Forum for Citizenship. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


5) Masih Ada Waktu untuk Mundur Dari Bibir Jurang
Editorial Daily Times

Lahore - Pakistan sedang melalui sebuah masa yang penuh ketegangan
yang akut antara dua buah pilihan - sebuah transisi yang kooperatif
tetapi relatif tidak sempurna dari pemerintahan militer ke demokrasi,
atau suatu konfrontasi terbuka tetapi relatif tidak efektif. Apapun
pilihannya, ia harus membiarkan keping tersebut jatuh dan berharap
ketika debu reruntuhan telah dibersihkan, Pakistan akan tetap tegak
berdiri.

Berbicara kepada CNN, Benazir Bhutto mengatakan bahwa ia masih
menunggu jawaban dari Jenderal Musharaf. Merasakan tekanan masyarakat,
ia telah meminta sang jenderal untuk melepaskan seragam militernya,
mengakhiri keadaan gawat darurat, memulihkan Komisi Pemilihan Umum dan
pemerintah interim, media yang bebas, dan mengharuskan pemerintah
lokal memudahkan pemilihan umum yang bebas dan adil pada bulan
Januari. Jika ia tidak setuju, ia harus bersiap-siap menghadapi protes
masyarakat dan kemungkinan boikot kolektif pihak oposisi terhadap
pemilihan umum. Tetapi jika ia telah menolak rekomendasi terakhir
Amerika, yang dibawa ke Islamabad oleh Deputi Menteri Luar Negeri John
Negroponte, berapa besar peluang Musharaf akan menanggapi Bhutto?

Jenderal Musharaf secara bertahap telah memangkas layarnya untuk
mengakomodasi berbagai kecaman, tetapi ia masih enggan untuk membuat
kesepakatan yang dapat mewujudkan transisi yang masih ia inginkan. Ia
telah menetapkan tanggal 8 Januari sebagai hari pemilihan umum,
setelah sebelumnya mengatakan "sebelum 15 Februari" dan kemudian
"sebelum 9 Januari". Ia telah memulai proses pencabutan larangan
terhadap media, setelah diterapkannya kekuasaan darurat, dan
pemerintah menciptakan suara-suara yang mendamaikan tentang membiarkan
dua jaringan besar TV melanjutkan pekerjaan mereka.

Kemungkinan besar ia juga akan membubarkan pemerintahan-pemerintahan
lokal. Walaupun ia tetap bersikap samar tentang kapan ia akan mencabut
keadaan darurat tersebut - karena awalnya. ia menginginkan dirinya
disahkan sebagai presiden untuk masa lima tahun lagi - ia bisa jadi
akan mencabut keadaan daurat sebelum akhir bulan ini, setelah mengubah
Undang-Undang Dasar Sementara untuk memastikannya bebas dari tuntutan.
Jika ia ia membuat keputusan yang benar sekarang, ia setidaknya masih
dapat memulihkan diri dari situasi; jika tidak, daftar tuntutan dari
oposisi akan terus bertambah, hingga ia menjadi satu pokok tantangan
yang bertujuan menyingkirkannya.

Bhutto menghadapi tantangan-tantangannya sendiri menghadapi pihak-
pihak oposisi lain di Gerakan Seluruh Partai Demokratis (All Parties
Democratic Movement--APDM). Pengaruhnya terhadap Jenderal Musharaf akan
meningkat sementara ia merundingkan arah tindakan masa depan dengan
pemimpin Liga Muslim Pakistan, Nawaz Sharif, dan sekutu-sekutu APDM-
nya. Tetapi untuk memperoleh pengaruh dalam menghadapi Jenderal ini,
ia harus menyetujui beberapa tuntutan mendasar Nawaz.

Tuntutan paling utama dari sekutu enam partai adalah untuk memboikot
pemilihan bulan Januari. Persekutuan tersebut tidak akan datang ke
konferensi semua partai yang diserukan Bhutto, kecuali ia menjelaskan
kedudukannya tentang rencana pemboikotan tersebut. Pemboikotan
tersebut diserukan ketika APDM merasa bahwa Bhutto masih mencoba untuk
membuat Jenderal Musharaf setuju dengan pengaturan "pembagian
kekuasaan" sehingga ia harus dengan cepat memilih antara gagasan
boikot yang untung-untungan sifatnya dan gagasan melanjutkan pemilihan
umum tanpa kesetaraan tingkat permainan.

Adalah Jenderal Musharaf yang akan harus "memberi". Ia memiliki
kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan lain dan menolak
konfrontasi. Jika Jenderal Musharaf berpikir ia dapat lolos dari
bahaya karena keretakan dalam golongan oposisi, ia seharusnya berpikir
ulang.

Tidak sulit untuk melihat ke arah mana negara tersebut melangkah,
walaupun jika Jenderal Musharaf mengandalkan gambar-gambar Pakistan
Television Corporation yang menunjukkan apa yang sedang terjadi di
jalanan. Partai Rakyat Pakistan (Pakistan Peoples Party-PPP) sedang
mendemonstrasi para maksimalis di APDM bahwa ia memiliki kemampuan
untuk mengguncang dan menghadapi pemerintah, tuntutan-tuntutannya
semakin hari semakin mengeras, sesuai dengan emosi rakyat. Tetapi
dengan mengamankan suaranya dari keberpihakan kepada lawan-lawan
oposisi yang lebih radikal, sejauh menyangkut perundingan dengan
Jenderal Musharaf, ia juga secara bertahap menarik permadani dari
kakinya sendiri.

Tentara akhirnya berhadap-hadapan secara langsung dengan Al Qaeda di
wilayah-wilayah pedalaman, tetapi perang ini akan sangat sulit
dilaksanakan di tengah ketiadaan dukungan politik, seperti yang
terlihat pada operasi-operasi militer sebelumnya. Al Qaeda
mengendalikan jalur wilayah yang luas, yang penduduknya sekarang
sedikit banyak menerima kekuasaannya dan tampak disiapkan untuk
melawan tentara Pakistan seolah mereka merupakan kekuatan penyerbu.
Jika Jenderal Musharaf memilih konfrontasi, ia mungkin harus
menghadapi dua perang pada saat bersamaan: satu melawan Al Qaeda dan
yang lainnya melawan rakyat Pakistan.

Setelah itu, kemenangan atau kekalahan akan kehilangan artinya. Jika
rakyat menang dan Jenderal Musharaf pergi, para politikus yang
mengambil alih harus berunding dengan Al Qaeda menggunakan dasar
pemikiran yang sama sekali berbeda. Mereka harus berunding menggunakan
persyaratan-persyaratan Al Qaeda, tanpa dukungan partai-partai agama.
Jadi, demi Pakistan, Jenderal Musharaf harus membuka jalan bagi sebuah
pemilihan yang bebas dan adil seperti tuntutan pihak oposisi.

###

* Artikel ini adalah editorial harian Daily Times Pakistan dan
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews), dapat dibaca
di www.commongroundnews.org.

Sumber: Daily Times, 20 Nopember 2007, www.dailytimes.com.pk
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Rami Assali (Jerusalem)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Sireen Hashweh (Jerusalem)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.

No comments: