Friday, November 23, 2007

[Berpikir Bebas 725] Re: Dimanakah sorga itu?

Agama dirancang sebagai konsep yang mudah dicerna oleh akal orang
kebanyakan. Dengan demikian, orang kebanyakan bisa diarahkan untuk
hidup yang relatif cukup baik, tidak anarkis. Agama semacam ini bisa
menjadi motivator yang cukup kuat melalui iming-iming hadiah surga,
atau ancaman hukuman neraka.

Kalau orang-orang yang berada di surga dibandingkan dengan orang-orang
di muka bumi, maka relatif tidak ada perbedaan spiritual yang berarti
(selain bahwa surga yang tadinya diterima melalui iman, sekarang
tampak sebagai realita).

Di dalam agama semacam ini, surga adalah proyeksi kenikmatan duniawi,
dan neraka adalah proyeksi penderitaan di dunia.

Kalau di dunia ada rumah mewah, maka di surga ada rumah yang super
mewah. Kalau di dunia ada makanan lezat, maka di surga ada makanan
super lezat tanpa batas. Kalau di dunia seorang pria berhubungan
dengan seorang wanita cantik, maka di surga ada banyak sekali bidadari
... yang super cantik.

Dengan demikian, manusianya sama, tempatnya-lah yang berbeda. Yang
satu di dunia, yang lain di surga. Bahkan konsep tentang surga
sebenarnya tidak lebih daripada kelanjutan kenikmatan duniawi, dalam
versi yang "ekstrim".

Seperti halnya tontonan Sepak Bola Dunia, McDonald Hamburger, atau
sebungkus rokok kretek, agama menjadi hiburan yang mudah, tidak
membutuhkan perjuangan intelektual atau batin. Bahkan berbeda dengan
McDonald Hamburger yang mungkin tidak terjangkau rakyat yang paling
miskin, maka agama adalah hiburan murah yang terjangkau oleh semua
lapisan.


--
salam
tj

No comments: