Thursday, December 31, 2009

[Berpikir Bebas 862] Re: Enaknya Jadi Anak Orang Gedean

Aku tdk begitu mengerti background Kartini sampai jadi tulisan ini
Tapi rasanya energi kita akan lebih positif jika kita lebih care
thd apa yg didepan kita utk dikerjakan sebaik2nya. Jika seseorang
merasa kaya, he has something to lose. Jika kita merasa tidak punya,
we have nothing to lose. Punya atau tidak itu adanya pada "begaimana
kita menyetel"

Jika seorang menilep atau whatever doing something wrong, he has to
be responsible for what he's doing, baik secara hukum positiv ataupun
etika moral.Dan itu akan terjadi, apakah kita harus mengusahakannya,
banyak tergantung keadaan, ngapain urusi orang lain kalau kita morat
marit.
Kita punya obligasi utk memanage diri kita sendiri dulu
Saya sudah tdk terlalu percaya pada institusi agama soalnya,jadi agama
itu slogan saja


On Nov 30, 2:02 pm, kartini tini <ktkart...@gmail.com> wrote:
> Jika anak orang berada, pintar ini dan itu, punya banyak akses untuk
> kerja disana dan disitu, buat gue itu satu hal yang biasa malah ga ada
> kejutannya alias biasa saja. Jika anak orang berada,pintar ini dan
> itu,punya banyak kesempatan dan akses disana disini tapi mudah stress
> itu biasa dan...biarkan saja. Mereka tak mengenal susah apalagi
> menderita, yang terhampar di depan mata hanya kemudahan demi
> kemudahan. Kerikil kecil baginya besar, mudah merengek minta fasilitas
> ini dan itu. Ha 3x, jago kandang dan hanya tau kompetisi semu.
>
> Jika anak orang berada yang kekayaan bokap dan maknya entah dari mana,
> gak jelas asal usulnya, lebih suka ngebanggain kedudukan dan
> kehormatan semu ortunya...itu mah biasa aja atuh !, gede tapi bodong,
> pintar dari segi inteleknya tapi masih perlu dipertanyakan kepekaan
> sosial dan mentalitas ketangguhannya. Wauaahaaa 3x kasian sekali.
>
> Jika anak penggede jadi birokrat atau politisi karena keturunan lantas
> berulah yang memalukan ,....itu mah! bukan hal yang luar biasa lagi
> tapi emang biasa. Korup, manipulasi proyek ini - itu, itu mah....wajar
> - wajar aja. Itu belum seberapa yang lebih yahud mereka itu biasa
> tampil sempurna dan rakyat pun jadi terpesona. Bayangkan saja begitu
> mereka selesai merampas akses rakyat diluar kekroniaannya dan membunuh
> sumber mata pencarian jutaan rakyat yang bukan geng nya, mereka bisa
> dengan mudah menampilkan wajah bijak sambil tersenyum memikat . Hi 3x
> buat gue mereka cuma badut - badut intelek yang lucu.
>
> Jangan pertanyakan kadar nasionalisme mereka, lha wong menjual negara
> sendiri saja penuh dengan suka cita , lha kan yang masuk keperutnya,
> yang sudah membesarkan dan menyekolahkannya adalah uang negara yang
> tanpa rasa dosa sudah ditilep ortunya . Uang haram yang sudah mendarah
> daging, kualitas didikan yang diterima dari kedua orangtuanya sudah
> membentuk kepribadian dan mentalitas anak mami - papi sedemikian
> rupa ...hi 3x bukankah itu proses internalisasi penanaman nilai -
> nilai amoral yang berhasil ?
>
> Jika anak - anak penggede itu melakukan tindakan melawan hukum dan
> nilai nilai keadilan namun selalu bebas dari sentuhan hukum( karena
> ortunya juga selalu lolos dari jerat hukum) dan selalu dapat
> melenggang bebas tanpa beban malu dan perasaan berdosa,...sama aja itu
> juga ga ada anehnya. Pikir - pikir.....uenak sekali ya ?
>
> Jika bangsa yang mayoritas ini masih mau dikuasai oleh para penguasa
> yang lahir dan besar dilingkungan yang tak pernah merasakan betapa
> sulitnya kehidupan rakyat jelata, yang sudah sedemikian kerja kerasnya
> namun tetap saja kemakmuran masih sangat jauh dari jangkauan dan
> mata...., ??? apa jadinya ya????
>
> Kartini/Sari

Thursday, December 10, 2009

Re: [Berpikir Bebas 861] Re: PEGAWAI NEGERINYA SENDIRI

Saya berpendapat agak lain, yaitu bahwa etos kerja dan korupsi bersumber dari dirinya sendiri.
Orang malas bila ditaruh di lingkungan kerja yang rajin kemungkinan malah tidak kuat dan segera cabut.

Mungkin kinerja yang buruk ini salah satunya karena input yang buruk pula. Dari masuknya saja sudah main suap, surat sakti, nepotisme dsb. Sangat mungkin inputnya adalah orang yang sama sekali tidak punya kompetensi, tapi punya kesempatan.

Akan lebih baik bila PNS dijadikan tenaga kontrak lima tahunan. Kinerjanya diawasi oleh tim independen dari unsur masyarakat dan hasil auditnya dibuka untuk umum. Misalnya X selama tahun 2009 tidak masuk sekian kali dsb. Kita berhak untuk itu, karena gaji PNS itu sesungguhnya kita juga yang membayar, dan PNS itu abdi masyarakat bukannya abdi negara. Pegawai yang kinerjanya buruk tidak perlu diperpanjang kontraknya.

Saya jadi ingat seorang famili saya. Dia sudah beberapa kali tersangkut tindakan melawan hukum dan diproses hingga kepolisian, tapi ybs hanya dimutasi bukannya dipecat. Pemerintah membiarkan saja ada pegawai dengan kualitas seburuk ini.

Jumlah dan anggaran untuk mereka juga saya rasa terlalu banyak. Tapi kita tahu, yang namanya efisiensi berujung pada PHK dan meningkatnya pengangguran. Dan tidak mungkin akan ada efisiensi selama pengambil keputusannnya adalah PNS juga.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

[Berpikir Bebas 860] Re: PEGAWAI NEGERINYA SENDIRI

Kalau pegawai negri yang males, korupsi, nepotisme, dll dipindah ke
luar negri dan harus bekerja di perusahaan swasta besar, apa yang
terjadi?

Etos kerja dan perilakunya mungkin akan berubah total, karena tekanan
dari lingkungannya.

Saya percaya bahwa orang akan cenderung korupsi, apabila kesempatan
untuk korupsi memang tersedia di depan mata.

Jika pengawasan sangat baik dan canggih, dan hukum berjalan secara
kuat dan baik, maka orang tidak korupsi. Karena memang kesempatan
tidak terbuka,

TJ

2009/12/10 abdul hamid <abdulh639@gmail.com>:
>
> Buetull...,
> Nah trus gmn dunk cara menghilangkan tradisi diatas ???
>

[Berpikir Bebas 859] Re: PEGAWAI NEGERINYA SENDIRI

Buetull...,
Nah trus gmn dunk cara menghilangkan tradisi diatas ???

On 12/9/09, kartini tini <ktkartini@gmail.com> wrote:
>
>
> Kepanjangan PNS adalah Pegawai "Negerinya Sendiri".
>
> Karena memang dibuat sistem yang sedemikian rupa sehingga semua yang
> berhubungan dengan akses kepegawaian dan kesejahteraannya memang
> dibuat untuk dinikmati oleh kalangan sendiri. Kalangan sendiri yang
> berputar antara anak, kerabat atau famili dekat dan jauh ( koneksi
> karena pertemanan ).
>
> Masalah nepotisme selagi tidak ada aturan yang mengharamkannya ya
> tentu syah - syah saja . Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah
> rekomendasi, buat saya rekomendasi boleh - boleh saja selagi yang
> direkomendasikan itu memang kompeten dan profesional. Tak dipungkiri
> di negeri ini banyak yang menyalahgunakan kedudukan dan kedekatan
> untuk memberi dan mendapat rekomendasi . Ketebelece itu mungkin
> istilah yang tepat untuk rekomendasi dalam arti sempit ( dalam arti/
> intrepertasi para birokrat ) .
>
> Nepotisme di negeri ini memang satu hal yang lumrah, yang ternyata
> tidak hanya dilakukan dijajaran eksekutif, badan yudikatif dan
> legislatif pun sama saja. Tak dapat ditutupi nepotisme di negeri tidak
> membawa banyak manfaat tapi banyak mudharat . Akses kesempatan kerja,
> mendapatkan modal, kesempatan berusaha dan perlindungan hukum hanya
> berputar - putar dilingkungan kekerabatan. Ketebelece hanya berlaku
> untuk pertemanan atau kongsi - kongsi mereka. Luas dan kayanya hasil
> bumi ini cuma jadi asset penghasil duit negara yang ujung - ujungnya
> cuma memenuhi isi perut dan kantong - kantong mereka.
>
> Saya jadi teringat Teori Mendel , kalau perkawinan dilakukan oleh
> mereka yang masih berkerabat dekat dan dilakukan secara terus menerus
> maka akan dihasilkan keturunan yang buruk, rentan penyakit dan
> kemungkinan cacat. Implementasi Hukum memang berbeda dengan teori
> Mendel tapi untuk aplikasi hukum di lapangan rasanya boleh lah sedikit
> menganalogikan dengan teori Mendel.
>
> Di ranah Pegawai Negeri Sendiri ( Kerajaannya sendiri ), hukum telah
> mati, ia cuma jadi retorika penguasa yang juga kebal hukum, si Anu
> sungkan menegur apalagi memberi sangsi ke si Ani karena si Ani anaknya
> sendiri, bapaknya sendiri, kerabat, temen atau sahabatnya sendiri.
> jadi berputar pada itu - itu saja. Ada pakewuh, sungkan atau hutang
> budi untuk menerapkan aturan/hukum sebagaimana mestinya.
>
> Akhir dari kepakewuhan, kesungkanan dan rasa hutang budi tadi adalah
> out put yang jelek berupa kemandulan hukum yang berlangsung terus
> menerus dan ndilalahnya ini menyangkut masalah kepengurusan negara
> yang sebegini besarnya, yang masalahnya tidak kecil atau cuma selevel
> teori hereditas milik Mendel. Ini masalah masa depan negeri dan bangsa
> ini. Sepertinya dinegeri inilah yang Pegawai Negerinya benar - benar
> merasa bahwa ini adalah negaranya sendiri, uang sendiri yang lain
> numpang. Jadi syah - syah saja buat mereka untuk memakan, menikmati,
> mengkorup dan menghabiskannya.
>
>

Wednesday, December 9, 2009

[Berpikir Bebas 858] APATIS

Mungkin negara ini akan adil makmur gemah ripah loh jinawi jika negara
ini diurus oleh para orang pintar yang bijak dan punya niat yang lurus
semata - mata mengabdi buat negara dan bangsa, dengan berpijak pada
nilai - nilai keadilan yang substansi formulasinya paling tidak
terdiri atas teologi keTuhanan, filsafat, dan kebenaran - kebenaran
praktis yang universal . Namun sayangnya kepengurusan ini hanya
dipegang oleh sekelompok elit yang itu - itu saja, yang sudah jelas
dari dulunya cuma pintar dislogan, kaya retroika tapi miskin
implementasi.

Prek !, sejatinya banyak sudah kemuakkan yang harus terus ditahan,
saya kadang mikir apa nasib bangsa ini harus seperti ini terus ?.
Terus menerus disusahin oleh persoalan klasik ( pangan, papan, akses
permodalan dan kesempatan untuk ber-eksis dengan cara - cara yang
fair ) . Saya bukan orang yang gampang yakin dan percaya sama laporan
- laporan ekonomi makro yang njelimet, yang cuma bisa kasih angka -
angka gede tentang kenaikan / kemajuan ini itu di sektor makro. Sy
cuma orang bodoh yang taunya cuma keadaan riel di lapangan yang
ngadepin langsung hasil dari kebijakkan dan tipuan para setan intelek
yang katanya pintar ngurus negara itu , persetan ama grafik - grafik
makro yang ( kelihatannya naik ), keparat ! itu serapah yang paling
sering sy lemparkan ke orang - orang gendeng itu, wong gendeng yang
ingin terus menerus menguasai negara dan apa yang sudah dihasilkan
oleh perut negara ini untuk dimasukkan ke perut mereka dan kroninya.

Kata saya yang apatis, orang - orang pinggiran macam saya akhirnya
harus menghadapi dua pilihan hidup untuk terus hidup. Pilihan pertama
adalah mau ga mau harus ikut arus, arus dari sistem yang sudah dengan
sengaja diciptakan oleh sekumpulan setan, iblis berwujud manusia.
Sistim tipu muslihat yang dibungkus slogan - slogan kerakyatan,
keadilan dan kesetaraan hukum tapi prakteknya cuma bisa ngeduk duit
dan ngabisin duit buat para pemainnya. Pilihan kedua adlah tetap
dengan pijakan idialisme walaupun harus tutup mata dan siap terluka.

[Berpikir Bebas 857] PEGAWAI NEGERINYA SENDIRI

Kepanjangan PNS adalah Pegawai "Negerinya Sendiri".

Karena memang dibuat sistem yang sedemikian rupa sehingga semua yang
berhubungan dengan akses kepegawaian dan kesejahteraannya memang
dibuat untuk dinikmati oleh kalangan sendiri. Kalangan sendiri yang
berputar antara anak, kerabat atau famili dekat dan jauh ( koneksi
karena pertemanan ).

Masalah nepotisme selagi tidak ada aturan yang mengharamkannya ya
tentu syah - syah saja . Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah
rekomendasi, buat saya rekomendasi boleh - boleh saja selagi yang
direkomendasikan itu memang kompeten dan profesional. Tak dipungkiri
di negeri ini banyak yang menyalahgunakan kedudukan dan kedekatan
untuk memberi dan mendapat rekomendasi . Ketebelece itu mungkin
istilah yang tepat untuk rekomendasi dalam arti sempit ( dalam arti/
intrepertasi para birokrat ) .

Nepotisme di negeri ini memang satu hal yang lumrah, yang ternyata
tidak hanya dilakukan dijajaran eksekutif, badan yudikatif dan
legislatif pun sama saja. Tak dapat ditutupi nepotisme di negeri tidak
membawa banyak manfaat tapi banyak mudharat . Akses kesempatan kerja,
mendapatkan modal, kesempatan berusaha dan perlindungan hukum hanya
berputar - putar dilingkungan kekerabatan. Ketebelece hanya berlaku
untuk pertemanan atau kongsi - kongsi mereka. Luas dan kayanya hasil
bumi ini cuma jadi asset penghasil duit negara yang ujung - ujungnya
cuma memenuhi isi perut dan kantong - kantong mereka.

Saya jadi teringat Teori Mendel , kalau perkawinan dilakukan oleh
mereka yang masih berkerabat dekat dan dilakukan secara terus menerus
maka akan dihasilkan keturunan yang buruk, rentan penyakit dan
kemungkinan cacat. Implementasi Hukum memang berbeda dengan teori
Mendel tapi untuk aplikasi hukum di lapangan rasanya boleh lah sedikit
menganalogikan dengan teori Mendel.

Di ranah Pegawai Negeri Sendiri ( Kerajaannya sendiri ), hukum telah
mati, ia cuma jadi retorika penguasa yang juga kebal hukum, si Anu
sungkan menegur apalagi memberi sangsi ke si Ani karena si Ani anaknya
sendiri, bapaknya sendiri, kerabat, temen atau sahabatnya sendiri.
jadi berputar pada itu - itu saja. Ada pakewuh, sungkan atau hutang
budi untuk menerapkan aturan/hukum sebagaimana mestinya.

Akhir dari kepakewuhan, kesungkanan dan rasa hutang budi tadi adalah
out put yang jelek berupa kemandulan hukum yang berlangsung terus
menerus dan ndilalahnya ini menyangkut masalah kepengurusan negara
yang sebegini besarnya, yang masalahnya tidak kecil atau cuma selevel
teori hereditas milik Mendel. Ini masalah masa depan negeri dan bangsa
ini. Sepertinya dinegeri inilah yang Pegawai Negerinya benar - benar
merasa bahwa ini adalah negaranya sendiri, uang sendiri yang lain
numpang. Jadi syah - syah saja buat mereka untuk memakan, menikmati,
mengkorup dan menghabiskannya.

Monday, December 7, 2009

[Berpikir Bebas 856] Re: Enaknya Jadi Anak Orang Gedean

Dear Farhan,
 
tx alot 4 comentnya and about that.. I think so
 
Pada 30 November 2009 16:38, <farhan386@gmail.com> menulis:
Emmm, saya selalu berpendapat bahwa "tidak punya uang" adalah masalah termudah dalam hidup ini. Saya bersyukur bahwa yang saya pusingkan adalah bagaimana makan bulan depan, bayar kontrakan dan aneka tagihan, hingga merampungkan kuliah.

Beruntungnya bahwa saya tidak punya penyakit yang -tidak peduli berapapun uang yang saya miliki- tidak dapat disembuhkan, seperti AIDS.

Saya juga berpendapat bahwa setiap orang punya jumlah masalah yang sama, hanya berbeda bentuk. Masalah orang kecil seperti saya adalah, tidak punya uang. Orang gedean tentu juga punya masalah sendiri. Bisa saja kemana-mana naik mobil mewah, tapi tubuhnya digerogoti penyakit. Punya uang segunung tapi pusing karena tak ada dokter yang mampu menyembuhkan. Minta apapun pada ortu selalu dipenuhi, kecuali minta ortu berada dirumah berkumpul hangat sekeluarga.

Urusan sifat rasanya kita tidak bisa melakukan generalisasi. Banyak kenalan saya yang masuk kategori orang kaya sejak lahir, namun punya kepedulian sosial tinggi serta taat hukum. Dan banyak juga orang kecil yang menggunakan alasan "kesulitan ekonomi" sebagai dalih untuk menganiaya orang lain, mulai dari tukang tambal ban yang sengaja menebar paku dijalan hingga tukang parkir yang menaikkan tarif seenaknya plus menggunakan karcis bekas berkali-kali.

Bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, karena yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik bagi kita. Memang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, tapi sebenarnya sama saja.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone