Tuesday, July 20, 2010

[Berpikir Bebas 849] Minyak Tak Lagi Tumpah di Teluk Meksiko - oleh Reza Ramayana


July, 20 2010
bumi yang kita pijak adalah warisan anak cucu di masa depan, kita pinjam dari mereka tanpa rasa tanggungjawab memelihara, sungguh perbuatan yang tak tahu malu.

Minyak Tak Lagi Tumpah di Teluk Meksiko

Editorial 19 Juli 2010

Episode yang sangat panjang dan melelahkan di Teluk Meksiko telah berakhir.  Walaupun dampak tumpahan minyak selama lebih dari 80 hari itu masih akan lama tetap mengganggu, namun sumber tumpahan itu sendiri telah berhasil disumbat.  Sebuah operasi rekayasa teknik yang sangat canggih telah dinyatakan mengakhiri salah satu bencana lingkungan paling dahsyat yang pernah disaksikan umat manusia. 

Banyak pihak menyatakan bahwa kata 'tumpahan' atau 'spill' sama sekali tidak tepat untuk menggambarkan skala bencana yang ditimbulkan oleh rusaknya sumur eksploitasi milik British Petroleum (BP) yang dioperasikan oleh Transocean.  Bayangkan saja, perkiraan terbaiknya menyatakan bahwa sekitar 70.000-100.000 barel minyak mentah terlepas ke lautan lepas. Sebelumnya, salah satu bencana terkait minyak yang paling terkenal adalah tumpahnya minyak dari tanker Exxon-Valdez.  Dibandingkan dengan bencana Teluk Meksiko, tumpahan itu tak ada apa-apanya,  Dengan volume yang dihitung secara independen itu, setiap hampir 10 hari bencana Exxon-Valdez itu terulang.  Oleh karena itu, majalah elektronik lingkungan paling terkenal, Grist, baru saja meminta pembacanya untuk memberikan saran untuk nama yang lebih cocok dengan skala bencana itu.

Dengan bencana di Teluk Meksiko ini, sejarah bencana lingkungan memang menjadi wajib ditulis ulang.  Belum terlalu lama buku Robert Emmet Hernan bertajuk This Borrowed Earth diterbitkan.  Sejarah detail dari 15 bencana lingkungan paling parah yang dialami oleh umat manusia dibeberkan di situ, untuk diambil pelajarannya.  Tampaknya, edisi kedua buku itu terpaksa harus dibuat dengan segera.  Bukan saja karena skalanya, namun juga karena signifikansinya terhadap banyak hal. 

Salah satu hal yang menjadi hikmah dari bencana tersebut adalah desakan untuk semakin mempercepat transformasi ke berbagai energi terbarukan.  Chris Goodall telah menulis dengan kejelian luar biasa mengenai berbagai teknologi yang telah diketahui oleh umat manusia untuk keluar dari ketergantungan atas bahan bakar fosil dalam Ten Technologies to Fix Energy and Climate.  Pesannya jelas: kita bisa meninggalkan energi fosil yang kotor itu sekarang.  Yang diperlukan 'hanya' kemauan politik.  Amerika Serikat kini telah berpikir keras untuk menerapkan depletion cost sejumlah USD2/barel minyak untuk membiayai riset dan penerapan energi terbarukan.  Gedung Putih juga tengah didesak untuk meningkatkan pembelian energi terbarukan oleh lembaga-lembaga pemerintah.  Para kontraktor pemerintah wajib mengukur emisi karbonnya dan menurunkan lewat pembelian energi yang bersih.  Sayangnya, jajak pendapat terakhir masih saja menyatakan bahwa 71% warga AS tidak menginginkan pembatasan atas pengeboran minyak laut dalam.  Artinya, kemauan politik Pemerintah Obama itu pasti terganjal oleh hitung-hitungan popularitas lagi.

Hikmah penting lainnya adalah bahwa dengan kemauan keras dan human ingenuity, bencana maha dahsyat itu bisa dihentikan sumbernya.  Memang, sekali lagi, dampaknya masih akan lama dirasakan.  Namun sangat jelas bahwa upaya sungguh-sungguh untuk menyelesaikan bencana itu telah dilakukan oleh BP.  Orang bisa berargumentasi soal apakah 80an hari itu adalah waktu yang lama atau sebentar, namun yang jelas sumber 'tumpahan' telah dihentikan, dan semua orang 'tahu' bahwa hasil itu bukanlah hal yang mudah dicapai.  Tantangannya sangat besar: kedalaman kebocoran itu adalah 1,6 km di bawah permukaan laut, dan minyak terus tersembur dari tempat sedalam 5,5 km di bawah tempat yang bocor itu. 

Sementara, di Indonesia mungkin sebagian besar orang sudah 'melupakan' bahwa ada bencana kebocoran yang juga luar biasa dahsyat, dan setelah lebih dari 1000 hari tak juga kunjung jelas bagaimana itu akan dihentikan.  Dahulu, terdengar pembicaraan mengenai berbagai teknik yang mungkin menghentikannya, namun kemudian lalu bersama angin.  Tampaknya pihak-pihak yang terlibat di dalam penanganannya telah bersepakat bahwa semburan lumpur itu 'tidak mungkin' dihentikan.  Padahal, dalam pandangan orang awam, jelas bencana di Teluk Meksiko itu jauh lebih rumit.  Jadi, tak salah kalau setelah keberhasilan BP di Teluk Meksiko kemudian banyak orang kemudian beropini bahwa seharusnya kita juga berhasil menghentikan semburan lumpur di Sidoarjo.             

Reza Ramayana
Lingkar Studi CSR/A+ CSR Indonesia
Jln. Danau Sentani Blok C VII No. 9 Duta Pakuan
Bogor 16144 Indonesia
Phone: +62 251 8336 349, HP+ 62 817 8000 94
email: office@csrindonesia .com; reza.ramayana@ gmail.com

Artikel menarik dari Mas Reza tentang bencana eksplorasi minyak,...saya jadi berandai andai ...seandainya yang ngebor di Siring Sidoarjo dulu adalah BP, kira2 saat ini sudah teratasi atau belum ya?

Anda sudah pernah pergi ke Siring Sidoarjo, meninjau bencana lumpur Lapindo? Saya pernah beberapa kali, dan satu kali (paling berkesan) naik helikopter TNL AL untuk meninjau dari atas.

Tahukan anda kalau akar penyebab bencana lumpur Lapindo adalah "budaya korupsi yang berurat akar di bangsa ini"?


semoga menjadi bahan renungan kita

Salam Sejahtera Dan Selamat Berkarya  

Sapto T Poedjanarto 
Trainer, Facilitator
Program Manager 
Dinamika Lintasnusa Initiative (DLI)
Phone0888 321 8199 , 0813 28 199001 , E-mail stpweb@gmail.comstpweb@live.comstpweb@ymail.com
Facebook: http://www.facebook.com/sapto.poedjanarto?ref=profile
Linkedinhttp://www.linkedin.com/pub/sapto-tanoyo-poedjanarto/11/7ab/142
Instant Messenger Yahoo ID : s_t_poedjanarto /stpweb@ymail.com 
MSN/windowslive : stpweb@live.comGoogle Talk : stpweb@gmail.comICQ : 390021249 ,  Jabber :stpweb@jabber.org
AIM : stpweb, Skype : stpweb.skype

Website & Group Community :
Dinamika Lintasnusa Initiative | Fasilitator Indonesia | FPESD Jateng | RDC Indonesia |Forum LED Indonesia | SME's Cluster Development | Regulatory Impact Analysis | My Blog

© 2010 Sapto T Poedjanarto Mail- This email was sent from stpweb@gmail.com. To ensure that you continue receiving my emails, please add me to your address book or safe list.