Thursday, December 27, 2007

[Berpikir Bebas 739] Re: Mama dan Harga Diri yang T'lah Habis

On 27 Des, 10:09, odets <d_b...@telkom.net> wrote:
> > Ada kalanya kenyataan seperti ini merupakan bentuk perhatian Tuhan
> > kepada seseorang dalam hal ini anda!!!, bersukacitalah, diatas Mamamu
> > masih ada DIA (Tuhan)
>
> Mungkin yang dikatakan benar juga... thanks dah ingetin aku pada tuhan

Orang yg percaya kepada Tuhan dalam tingkatan tertentu, percaya bahwa
mengaharapkan Kasih Tuhan berarti siap mengundang bencana dari
lingkungan terdekatnya, hal mana sangat sulit ditrima kebenarannya
bagi orang yg mengharapkan/mengartikan Tuhan itu identik dengan
ketenangan yg semu.

Wednesday, December 26, 2007

[Berpikir Bebas 737] Re: Natal yang tak terlupakan.....

Saya pikir Makna Natal sudah harus diperbaharui terutama dalam
pandangan para umat yg mengaku percaya kepada Yesus, saya terkesan
pada Figur Yesus, lahir di kandang binatang (bukan darama!), n mati
diantara para penjahat, bahkan Alkitab mengatakan "Terkutuklah Dia yg
terpaku diatas kayu salib", sebuah keadaan hidup yg serba susah dalam
pandangan Manusia, tetapi itulah Hakekat dari Natal, Paskah
dlsbnya ..... yg sekarang sudah banyak menjadi ritual2 agama yg
diarahkan kepada kelepasan menuju hura2 surga yg menyesatkan banyak
umat, semoga Tuhan berkati

On Dec 26, 7:37 pm, edward <edward...@gmail.com> wrote:
> Tgl.26/12 pagi kemarin gw dapat hadiah natal terbesar, air datang
> berlimpah dalam waktu pendek menggenangi rumah , gw cuma sempat
> ngeluarin mobil dan motor, karena gak ngira air bakal sebanyak apa, gw
> gak bawa banyak brg, cuma sebagian surat penting dan sedikit pakaian,
> sisanya tinggal sejarah doang, karena terakhir gw balik ngecek, semua
> barang sudah mengapung keliling rumah macam film titanic, karena air
> sudah setinggi leher........ jadilah gw sekarang tuna wisma keren,
> karena sementara masih bisa tinggal dihotel, sekalipun gak tau sampe
> kapan...........
>
> Gw masih bersyukur gak tinggal dilereng bukit Tawangmangu, yang
> seluruh keluarganya tersapu bersih longsor dalam sekejap, entah berapa
> jiwa melayang sia2............. terakhir gw denger 64 orang???
>
> Hal yang paling gw sesalin, tidak ada informasi apapun buat warga,
> listrik mati sehingga gak bisa dengerin radio atau nonton tv cari
> berita, petugas juga gak ada yang memperingatkan warga kira2 separah
> apa air yang dikirim dari waduk Jatimungkur Wonogiri yang belakangan
> gw dengar dibuka karena tidak kuat lagi menahan air, mengapa tidak ada
> pengumuman, lewat pengeras suara atau lewat mesjid dll.????? Bahkan
> penanganan penanggulangan korban terkesan sporadis serta kurang
> terorganisasi, jalanan macet total dengan org yg nonton banjir?? Atau
> kelompok yang minta sumbangan pada orang yang lewat dan sedang sibuk
> menyelamatkan barang2?? Padahal daerah gw termasuk yang paling parah
> terendam di Solo........
>
> Kapan ya pemerintah kita punya SOP untuk penanganan banjir seperti
> ini, semua orang bilang ini baru awal musim hujan, bagaimana nanti???
> Gimana lagi dengan perencanaan penanggulangan jangka panjang semacam
> PELITA supaya bencana tidak terulang dan korban berjatuhan..........
> mungkin juga perlu disisipkan pengalakan program KB lagi, jadi tidak
> ada lagi penambahan jumlah penduduk dan alasan penggundulan hutan,
> pembebasan lahan dll untuk rumah atau usaha yang buntutnya merusak
> lingkungan..........

[Berpikir Bebas 736] Natal yang tak terlupakan.....

Tgl.26/12 pagi kemarin gw dapat hadiah natal terbesar, air datang
berlimpah dalam waktu pendek menggenangi rumah , gw cuma sempat
ngeluarin mobil dan motor, karena gak ngira air bakal sebanyak apa, gw
gak bawa banyak brg, cuma sebagian surat penting dan sedikit pakaian,
sisanya tinggal sejarah doang, karena terakhir gw balik ngecek, semua
barang sudah mengapung keliling rumah macam film titanic, karena air
sudah setinggi leher........ jadilah gw sekarang tuna wisma keren,
karena sementara masih bisa tinggal dihotel, sekalipun gak tau sampe
kapan...........

Gw masih bersyukur gak tinggal dilereng bukit Tawangmangu, yang
seluruh keluarganya tersapu bersih longsor dalam sekejap, entah berapa
jiwa melayang sia2............. terakhir gw denger 64 orang???

Hal yang paling gw sesalin, tidak ada informasi apapun buat warga,
listrik mati sehingga gak bisa dengerin radio atau nonton tv cari
berita, petugas juga gak ada yang memperingatkan warga kira2 separah
apa air yang dikirim dari waduk Jatimungkur Wonogiri yang belakangan
gw dengar dibuka karena tidak kuat lagi menahan air, mengapa tidak ada
pengumuman, lewat pengeras suara atau lewat mesjid dll.????? Bahkan
penanganan penanggulangan korban terkesan sporadis serta kurang
terorganisasi, jalanan macet total dengan org yg nonton banjir?? Atau
kelompok yang minta sumbangan pada orang yang lewat dan sedang sibuk
menyelamatkan barang2?? Padahal daerah gw termasuk yang paling parah
terendam di Solo........

Kapan ya pemerintah kita punya SOP untuk penanganan banjir seperti
ini, semua orang bilang ini baru awal musim hujan, bagaimana nanti???
Gimana lagi dengan perencanaan penanggulangan jangka panjang semacam
PELITA supaya bencana tidak terulang dan korban berjatuhan..........
mungkin juga perlu disisipkan pengalakan program KB lagi, jadi tidak
ada lagi penambahan jumlah penduduk dan alasan penggundulan hutan,
pembebasan lahan dll untuk rumah atau usaha yang buntutnya merusak
lingkungan..........

[Berpikir Bebas 738] Re: Mama dan Harga Diri yang T'lah Habis

>
> Ada kalanya kenyataan seperti ini merupakan bentuk perhatian Tuhan
> kepada seseorang dalam hal ini anda!!!, bersukacitalah, diatas Mamamu
> masih ada DIA (Tuhan)


Mungkin yang dikatakan benar juga... thanks dah ingetin aku pada tuhan

Monday, December 24, 2007

[Berpikir Bebas 735] Re: Mama dan Harga Diri yang T'lah Habis

On Dec 19, 5:00 pm, odets <d_b...@telkom.net> wrote:
> Berapa besar nilai harga diri dan pengorbanannya? Entah, yang pasti
> setiap orang memiliki  penilaian berbeda tentang itu. Nilai harga diri
> terkadang menjadi tolak ukur pandangan seseorang, ya walaupun harus
> mengorbankan segalanya, termasuk keluarga, seperti yang aku alami.
>
> Harga diri dalam keluargaku melebihi segalanya, sayang Mama tidak
> pernah mengerti apa itu harga diri. Di lubuk Mama hanya ada harta dan
> kebencian, terutama terhadap aku dan Istriku. Setidaknya itu yang aku
> rasakan hingga saat ini. Apapun yang Mama katakan sungguh tidak masuk
> akal, malaupun demikian aku berusaha untuk memahami walaupun sangat
> menyakitkan, aku tetap sabar memendam semua kebusukan ini.
>
> Sebagai seorang Ibu, seharusnya Mama bersifat netral terhadap anak-
> anaknya, termasuk aku. Mama harus bisa menjadi hakim yang adil untuk
> anak-anaknya, Mama juga harus bisa mendengarkan semua keluh kesah
> semua anaknya, tidak pilih-pilih. Tetapi dalam keluarga ku semua itu
> tidak berlaku, siapa pintar menjilat dia akan Mama puja, melebihi
> siapa pun tidak peduli anaknya maling, atau pembunuh. Hal ini telah
> aku alami bertahun-tahun, dan kebenciannya semakin menjadi setelah aku
> berkenalan dengan seorang wanita yang menurut anaknya yang lain dan
> seorang temannya merupakan wanita tidak baik. Yang belakangan aku
> ketahui kalau teman kakakku itu diam-diam menyimpan rasa terhadap
> wanita itu yang kini menjadi istriku. Padahal selama ini aku telah
> mencoba membuka pintunya yang mulai berdebu tebal. Sayang debu itu
> telah begitu lama menutup pintu Mama, hingga Mama tidak dapat lagi
> melihat dan menikmati indahnya matahari yang setiap hari menerangi.
>
> Di mata Mama aku lumpur yang telah bercampur ta'i. Tak ada yang indah
> untuk dibanggakan, bau dan kotor. Terkadang aku berpikir, "Apakah aku
> ini anak tiri?", jika bukan, kenapa aku selalu yang menjadi korban.
> "Apa karena aku tidak pintar menjual harga diri keluarga", seperti
> yang telah dilakukan kakak kedua dan adikku. Tapi anehnya apa yang
> telah mereka berdua lakukan untuk menikah, Mama tidak pernah malu
> bahkan merasa terinjak harga dirinya, walaupun sudah menjadi rahasia
> umum bahwa anak keduanya telah memperkosa sedangkan anak bungsunya
> telah diperkosa.
>
> Berbeda dengan apa yang aku dan kakak pertamaku alami dalam
> pernikahan, walaupun pada akhirnya Mama menerima tetapi itu butuh
> waktu yang cukup lama setelah mengarungi lautan air mata. Pernikahan
> Kakak pertamaku yang direstui setengah hati tetao berjalan walaupun
> harus berlangsung di tempat nenek. Hal itu terjadi karena Mama tidak
> menyetujui pernikahan itu, jadi mereka tidak diijinkan menikah di
> rumah yang kini telah menjadi puing. Hal yang sama terjadi dengan
> diriku, pernikahanku tidak pernah mendapat restu, walau Mama datang
> dalam akad nikah, tetapi Mama tidak mau ada dalam resepsi pernikahan
> itu. Seandainya saat itu aku menghamili lebih dulu mungkin Mama akan
> berbeda pandangan, aku yakin Mama akan sayang kepada aku dan juga
> istriku.
>
> Tadinya aku mau membatalkan pernikahan ini, karena takut dosa kepada
> orang tua. Tetapi setelah aku berbicara dengan beberapa teman dan
> rekan di kantor akhirnya aku beranikan diri maju dengan niat ibadah.
> Bahkan seorang temanku, ustad Herry meyakinkan bahwa apa yang aku
> lakukan itu tidak melanggar hukum agama. Menurutnya jika orang tua
> meminta yang aku melakukan perbuatan tidak baik dan tidak aku lakukan,
> maka aku tidak akan merima dosa. Tetapi jika orang tua meminta aku
> melakukan hal yang baik dan tidak aku lakukan, maka aku akan menerima
> azab dari Allah. Menurutnya pernikahan itu merupan salah satu dari
> ibadah, jika kita dilarang melaksanakan ibadah, maka kita berhak tidak
> melaksanakan perintah itu, walaupun datangnya dari orang tua, seperti
> Nabi Ibrahim, katanya memberikan contoh.
>
> Aku tidak tau apa yang membuat Mama buta dan tidak dapat berpikir
> jernih. Mama selama ini menilai seseorang hanya dari ekonominya saja.
> Jika ekonominya berada dibawah Mama pasti akan menilai keluarga itu
> tidak baik. Seharusnya Mama yang telah banyak menelam asam garam
> kehidupan dapat belajar dari apa yang telah menimpa keluarganya selama
> ini. Setelah itu baru memutuskan apakah kita lebih hina atau lebih
> baik. Maaf Ma, aku tulis ini karena aku sayang Mama**

Ada kalanya kenyataan seperti ini merupakan bentuk perhatian Tuhan
kepada seseorang dalam hal ini anda!!!, bersukacitalah, diatas Mamamu
masih ada DIA (Tuhan)

Wednesday, December 19, 2007

[Berpikir Bebas 734] Mama dan Harga Diri yang T'lah Habis

Berapa besar nilai harga diri dan pengorbanannya? Entah, yang pasti
setiap orang memiliki penilaian berbeda tentang itu. Nilai harga diri
terkadang menjadi tolak ukur pandangan seseorang, ya walaupun harus
mengorbankan segalanya, termasuk keluarga, seperti yang aku alami.

Harga diri dalam keluargaku melebihi segalanya, sayang Mama tidak
pernah mengerti apa itu harga diri. Di lubuk Mama hanya ada harta dan
kebencian, terutama terhadap aku dan Istriku. Setidaknya itu yang aku
rasakan hingga saat ini. Apapun yang Mama katakan sungguh tidak masuk
akal, malaupun demikian aku berusaha untuk memahami walaupun sangat
menyakitkan, aku tetap sabar memendam semua kebusukan ini.

Sebagai seorang Ibu, seharusnya Mama bersifat netral terhadap anak-
anaknya, termasuk aku. Mama harus bisa menjadi hakim yang adil untuk
anak-anaknya, Mama juga harus bisa mendengarkan semua keluh kesah
semua anaknya, tidak pilih-pilih. Tetapi dalam keluarga ku semua itu
tidak berlaku, siapa pintar menjilat dia akan Mama puja, melebihi
siapa pun tidak peduli anaknya maling, atau pembunuh. Hal ini telah
aku alami bertahun-tahun, dan kebenciannya semakin menjadi setelah aku
berkenalan dengan seorang wanita yang menurut anaknya yang lain dan
seorang temannya merupakan wanita tidak baik. Yang belakangan aku
ketahui kalau teman kakakku itu diam-diam menyimpan rasa terhadap
wanita itu yang kini menjadi istriku. Padahal selama ini aku telah
mencoba membuka pintunya yang mulai berdebu tebal. Sayang debu itu
telah begitu lama menutup pintu Mama, hingga Mama tidak dapat lagi
melihat dan menikmati indahnya matahari yang setiap hari menerangi.

Di mata Mama aku lumpur yang telah bercampur ta'i. Tak ada yang indah
untuk dibanggakan, bau dan kotor. Terkadang aku berpikir, "Apakah aku
ini anak tiri?", jika bukan, kenapa aku selalu yang menjadi korban.
"Apa karena aku tidak pintar menjual harga diri keluarga", seperti
yang telah dilakukan kakak kedua dan adikku. Tapi anehnya apa yang
telah mereka berdua lakukan untuk menikah, Mama tidak pernah malu
bahkan merasa terinjak harga dirinya, walaupun sudah menjadi rahasia
umum bahwa anak keduanya telah memperkosa sedangkan anak bungsunya
telah diperkosa.

Berbeda dengan apa yang aku dan kakak pertamaku alami dalam
pernikahan, walaupun pada akhirnya Mama menerima tetapi itu butuh
waktu yang cukup lama setelah mengarungi lautan air mata. Pernikahan
Kakak pertamaku yang direstui setengah hati tetao berjalan walaupun
harus berlangsung di tempat nenek. Hal itu terjadi karena Mama tidak
menyetujui pernikahan itu, jadi mereka tidak diijinkan menikah di
rumah yang kini telah menjadi puing. Hal yang sama terjadi dengan
diriku, pernikahanku tidak pernah mendapat restu, walau Mama datang
dalam akad nikah, tetapi Mama tidak mau ada dalam resepsi pernikahan
itu. Seandainya saat itu aku menghamili lebih dulu mungkin Mama akan
berbeda pandangan, aku yakin Mama akan sayang kepada aku dan juga
istriku.

Tadinya aku mau membatalkan pernikahan ini, karena takut dosa kepada
orang tua. Tetapi setelah aku berbicara dengan beberapa teman dan
rekan di kantor akhirnya aku beranikan diri maju dengan niat ibadah.
Bahkan seorang temanku, ustad Herry meyakinkan bahwa apa yang aku
lakukan itu tidak melanggar hukum agama. Menurutnya jika orang tua
meminta yang aku melakukan perbuatan tidak baik dan tidak aku lakukan,
maka aku tidak akan merima dosa. Tetapi jika orang tua meminta aku
melakukan hal yang baik dan tidak aku lakukan, maka aku akan menerima
azab dari Allah. Menurutnya pernikahan itu merupan salah satu dari
ibadah, jika kita dilarang melaksanakan ibadah, maka kita berhak tidak
melaksanakan perintah itu, walaupun datangnya dari orang tua, seperti
Nabi Ibrahim, katanya memberikan contoh.

Aku tidak tau apa yang membuat Mama buta dan tidak dapat berpikir
jernih. Mama selama ini menilai seseorang hanya dari ekonominya saja.
Jika ekonominya berada dibawah Mama pasti akan menilai keluarga itu
tidak baik. Seharusnya Mama yang telah banyak menelam asam garam
kehidupan dapat belajar dari apa yang telah menimpa keluarganya selama
ini. Setelah itu baru memutuskan apakah kita lebih hina atau lebih
baik. Maaf Ma, aku tulis ini karena aku sayang Mama**

Friday, December 14, 2007

[Berpikir Bebas 733] Kekuatan sebuah mimpi

Si A ke 2 tangannya terikat
Si B ke 2 kakinya terikat
Si C mBacaian ayat2 Kitab Suci

Si A kepada si B:"Tanganmu kan yang bebas......!"
Si B kepada si A:"Tidaaak!!! kakimu yang bebas..........!"
Si C kepada si A+B:"Knapa seh kalian ga mau dengarkan aku.....?"
Si A+B kepada si C:"Lho?, apa kamu ga dengerin yg sedang kami
percakapkan......?"
Si C mlanjutkan pembacaan ayat Kitab Suci dengan suara lebih keras
lagi....!,


..... dan begitulah sterusnya, semakin nyaring suara ke 3 Narapidana
sepanjang hari di Lembaga Pemasyarakatan "KATA-KATA" .... tiba2????:"
Pa ....Papaaaaa bangun Paaaa!!!!, ini udah sianaaaaang, koq ga kerja
seh? Papa mimpi apaan seh???, tidur koq kayak orang debat? (teriak-
teriak),... malu agh,...tuh liat tetangga pada nyerbu msk ke rumah
kita, kirain apaan, mandi giiii!!!, uuugggh! (sambil manyun).

Sunday, December 9, 2007

[Berpikir Bebas 732] Pasca Islamisme

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

07 - 13 Desember 2007

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Di Balik Darurat Negara Musharaf oleh Ershad Mahmud
Dalam artikel ini, peneliti yang tinggal di Islamabad, Ershad Mahmud,
mengkhawatirkan media dan pembuat kebijakan Barat, yang di bawah
keadaan darurat negara Pakistan, disibukkan oleh ancaman persenjataan
nuklir yang jatuh ke tangan para ekstremis, sampai kerusakan yang
ditimbulkan oleh persoalan-persoalan demokrasi di negara tersebut.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Desember 2007)

2) Kasus Perkosaan Qatif: Sebuah Katalis bagi Perubahan? oleh César
Chelala
César Chelala, salah seorang pemenang penghargaan Overseas Press Club
of America, adalah koresponden asing bagi Middle East Times
International di Australia membahas kasus pemerkosaan Qatif dalam
konteks hak-hak perempuan di Arab Saudi yang lebih luas.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Desember 2007)

3) Tak Ada Demokrasi tanpa Kewarganegaraan Muslim oleh Asef Bayat
Asef Bayat, direktur akademis International Institute for Study of
Islam in the Modern World (ISIM) dan seorang pengajar di Leiden
University, Belanda, mempertanyakan, "Apakah Islam sesuai dengan
demokrasi", dan membahas, "Bagaimana umat Muslim memandang agama
mereka dalam hubungannya dengan gagasan demokrasi dalam praktek".
(Sumber: ISIM Review, Musim Gugur 2007)

4) Pasca Islamisme oleh Ali Eteraz
Ali Eteraz, seorang pengulas sosial dan wartawan lepas, mengkaji
gerakan baru pasca Islamisme yang bertujuan "untuk mendamaikan
demokrasi liberalisme dengan Islam". Bersifat pluralistik dan
inklusif, partai-partai politik pasca Islamis mengakui bahwa "walaupun
agama memberikan keselamatan dalam kehidupan akhirat, politiklah yang
akan memberikan kesejahteraan dalam kehidupan dunia".
(Sumber: Guardian, 31 Oktober 2007)

5) Berjabat Tangan Memperpanjang Tali Persahabatan oleh Khaleej Times
Pada awal tahun ini, 138 cendikiawan Muslim menulis sebuah surat
terbuka kepada dunia Kristen yang mengulurkan tangan persahabatan
berdasarkan kesamaan-kesamaan antar kedua agama. Minggu lalu, para
pemimpin Kristen menanggapinya.
(Sumber: Khaleej Times, 27 Nopember 2007)


1) Di Balik Darurat Negara Musharaf
Ershad Mahmud

Islamabad - Banyak media dan pembuat kebijakan Barat kelihatannya
sibuk dengan bahaya jatuhnya persenjataan nuklir Pakistan ke tangan
para ekstremis - entah kelompok-kelompok teroris kecil atau partai-
partai politik terorganisasi yang berusaha merebut kekuasaan dalam
pemilihan mendatang. Keprihatinan mendesak mereka, bukanlah kebebasan
peradilan atau pembentukan demokrasi, tetapi lebih stabilitas internal
Pakistan dalam jangka waktu dekat, dan perlindungan bagi kepentingan-
kepentingan khusus Barat di luar negeri.

Itu adalah sebuah kesalahan. Dengan begitu terfokus pada 'ancaman
teroris', maka mereka mendukung pemerintah yang memberlakukan
kekuasaan darurat. Fokus ini telah membantu memecah opini
internasional mengenai pernyataan Presiden Musharaf tentang kekuasaan
darurat: walaupun kebanyakan pengulas di manapun sama-sama mengutuk
pemberlakuan keadaan darurat ini, namun opini internasional mengenai
langkah-langkah tidak demokratis yang diambil oleh rezim Pakistan atas
nama kekuasaan darurat , terbelah.

Presiden Musharaf mengambil keuntungan penuh dari ketakutan Barat
ketika ia menuduh lembaga peradilan sebagai sekutu teroris. Namun,
argumen ini diputarbalikkan ketika hakim-hakim yang telah mengeluarkan
perintah untuk melepaskan sebagian tersangka teroris Masjid Merah itu
kemudian disumpah di bawah PCO (Provisional Constitutional Order).

Ada banyak indikator bahwa kekhawatiran Barat tentang terorisme tidak
berdasar. Hingga saat ini, tentara belum pernah menghadapi
perselisihan internal yang berarti dari kelompok-kelompok teroris
Pakistan. Secara domestik, orang-orang tersebut memiliki kesucian
sosial terbatas dan dipandang sebagai teroris, bukan pejuang
kemerdekaan, atau kelompok revolusioner. Jadinya, kelangsungan satuan-
satuan bersenjata di Pakistan, terlepas dari siapa yang memimpin
negara, dalam jangka panjang tampak suram karena ketidakabsahan mereka
di hadapan rakyat.

Hal yang sama berlaku juga terhadap al-Qaeda, pihak asing berseragam
yang tak memiliki dukungan berarti dari dalam negeri. Ketakutan bahwa
kelompok-kelompok tersebut dapat mengambil alih kendali persenjataan
nuklir Pakistan tampak dibesar-besarkan. Bukan menganggap remeh
keprihatinan-keprihatinan nyata terhadap pertumbuhan radikalisasi;
namun sebuah fokus eksklusif terhadap isu ini telah menyederhanakan
keadaan yang ada, mengabaikan keragaman dalam budaya dan politik
Pakistan.

Media Barat juga salah melihat kemungkinan kemenangan kelompok-
kelompok Islam yang anti-Barat dalam pemilihan umum. Hingga saat ini,
hanya Jamiat-tul-ulama-e-Islam (Dewan Ulama Islam) dan Jamaat-e-Islami
(Partai Islam) yang berhasil di atas panggung politik, dan mereka sama
sekali tidak dapat dicap sebagai ancaman terhadap stabilitas Pakistan
atau keamanan Barat. Mereka telah memanfaatkan sentimen anti-Barat dan
anti-Amerika, dan menggunakannya bagi keuntungan politik mereka,
tetapi tidak memiliki rancangan yang jelas untuk menggunakan kekuatan
terhadap Barat.

Bersama-sama, partai-partai ini hanya memperoleh dua belas persen
suara dalam pemilihan terakhir. Kinerja mereka bahkan lebih buruk lagi
dalam pemilihan lokal. Dewasa ini, mereka sedang besar kepala dan
tidak mungkin mendirikan sebuah barisan bersama menghadapi lawan-lawan
politik. Dengan kembalinya dua mantan perdana menteri, Benazir Bhutto
dan Nawaz Sharif, pihak berkuasa dan partai-partai agama kembali
berada dalam posisi berlawanan, yang tentu akan mengurangi suara.
Berdasarkan latar belakang politik ini, muskil partai-partai Islam
anti-Barat akan memperoleh dukungan nyata dalam berbagai jajak
pendapat di waktu dekat.

Musharaf telah mengabarkan menguatnya ancaman terorisme selama
bebeberapa waktu untuk memenangkan dukungan dari Barat. Walaupun Barat
tidak dapat memandang rendah ancaman potensial dalam bidang ini,
mendukung sebuah kediktatoran militer juga bukan jawabannya.
Penyelesaianya terletak pada penguatan berbagai lembaga yang
dibutuhkan untuk menegakkan demokrasi sejati, yang pada akhirnya akan
membawa stabilitas dan keamanan.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Musharaf mundur dari
kedudukannya sebagai kepala militer untuk menjadi seorang presiden
sipil dan mengumumkan bahwa ia akan menghapus kekuasaan darurat pada
bulan Desember. Sebuah langkah maju, namun masih banyak yang harus
dilakukan.

Kehebohan tidak perlu tentang terorisme, yang berasal baik dari
penguasa negara kita dan media Barat, meluputkan tantangan-tantangan
sesungguhnya yang dihadapi demokrasi di Pakistan: bagaimana
mengembalikan konstitusi, memulihkan kedudukan para hakim yang
tersingkir, menghapus larangan terhadap media, melepaskan para pekerja
politik dan hak-hak asasi manusia, dan di atas segalanya, bagaimana
menjamin pemilihan yang bebas dan adil. Sebuah fokus yang dibesar-
besarkan dan eksklusif akan bahaya terorisme pada akhirnya akan
memperkuat dan memperlama kediktatorsan di Pakistan.

###

* Ershad Mahmud adalah seorang peneliti yang tinggal di Islamabad yang
memfokuskan diri pada Asia Selatan. Ia dapat dihubungi melalu
ershad@islamabad.net. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Desember 2007,
www.commongroundnews.org


2) Kasus Perkosaan Qatif: Sebuah Katalis bagi Perubahan?
César Chelala

New York, New York - Belum lama ini di Arab Saudi, seorang perempuan
muda dari kota Qatif yang telah diperkosa oleh tujuh lelaki dihukum
masuk penjara dan dipecut 90 kali, yang kemudian bertambah menjadi 200
pecutan, karena kecaman perempuan tersebut tentang kasusnya melalui
media. Ketika Josée Verner, Menteri Urusan Wanita Kanada, menyebut
hukuman tersebut "barbar" ia hanya menyuarakan apa yang dirasakan
kebanyakan orang tentang keadaan tersebut.

Pengacara korban, Abdulrahman al-Lahim - seorang pengacara hak-hak
asasi manusia terkemuka di negara tersebut - dilarang mengikuti
jalannya persidangan dan izinnya dicabut sehingga membiarkan perempuan
muda tersebut tanpa pembelaan hukum apa pun. "Pelarangan seorang
pengacara mewakili korban di pengadilan sama saja dengan kejahatan
perkosaan itu sendiri," demikian pernyataan Fawzeyah al-Oyouni,
anggota pendiri Asosiasi Pembelaan Hak-hak Perempuan Saudi yang
dibentuk belum lama.

Kasus tersebut telah membangkitkan sebuah reaksi. Menurut Saud al-
Faisal, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, pengadilan Saudi akan meninjau
kembali kasus tersebut. Walaupun ini merupakan sebuah hasil yang
positif, yang memberi harapan terhadap kemungkinan perubahan putusan,
apa yang tidak positif adalah penegasannya bahwa "...kasus ini telah
digunakan untuk melawan pemerintah dan rakyat Saudi."

Sebuah sistem pengadilan agama mengatur keadilan di negara tersebut.
Para hakim dipilih oleh raja berdasarkan rekomendasi-rekomendasi dari
Mahkamah Yudisial Agung. Baik hakim maupun pengadilan memiliki
pertimbangan penuh untuk mengatur keadilan, kecuali dalam kasus-kasus
yang telah diatur secara jelas dalam syariah (hukum Islam), seperti
kasus hukuman mati.

Kasus Qatif seharusnya dilihat dalam konteks peran dan hak-hak kaum
perempuan yang lebih luas di Arab Saudi, tempat penafsiran Al Qur'an
diterapkan lebih ketat dibandingkan dengan di kebanyakan negara Arab,
khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Situasi legal perempuan
tersebut berasal dari campuran keadaan kesukuan, sosial, dan sejarah,
yang sangat dipengaruhi oleh agama.

Kasus ini dan kasus-kasus serupa lainnya yang telah menarik perhatian
kita pada sistem hukumm Saudi, dipengaruhi oleh para ulama yang
memiliki suatu tafsiran terbatas tentang hukum Islam. Sebagai
akibatnya, kedudukan hukum perseorangan tetap belum diundang-undangkan
dan pemberian putusan hukuman sering bersifat arbitrer. Sistem
tersebut tidak mengenal konsep preseden.

Sistem Pengadilan Saudi mencerminkan konflik lebih luas antara
modernisasi dengan hukum dan adat kebiasaan. Islam di Arab Saudi
dilaksanakan secara berbeda dengan di negara-negara lain.
Kenyataannya, tafsiran terbatas tentang Islam ini telah dikritik tajam
oleh mereka yang-berpendapat bahwa Al Qur'an sangat jelas mengenai hak-
hak perempuan.

Bagi para pendukung hak-hak perempuan, Al Qur'an memiliki banyak ayat
yang menyatakan bahwa kaum laki-laki dan perempuan sederajat dalam hak-
hak dan tanggung jawab mereka. Khususnya, mereka merujuk pada khotbah
terakhir Nabi Muhammad, dalam mana ia menyatakan, "perlakukan
perempuan dengan baik dan bersikap baiklah kepada mereka karena mereka
adalah mitra Anda dan penolong yang berkomitmen."

Walaupun pemerintah Saudi belum lama ini telah mengambil langkah-
langkah untuk memperbaiki keadaan perempuan di negara tersebut, dengan
pembentukan sebuah pengadilan khusus untuk menangani kasus-kasus
kekerasan domestik, pelaksanaan undang-undang buruh yang baru dan
pembentukan komisi hak-hak asasi manusia, Kasus tersebut seharus
menunjukkan dengan jelas bahwa jalan keadilan bagi kaum perempuan
masih jauh.

Benar kaum perempuan sedang mengayunkan langkah-langkah besar di
negara tersebut: semakin banyak dari mereka yang ikut serta dalam
sistem perdagangan dan pendidikan, dan mereka gigih dalam memperoleh
hak-hak politik lebih besar. Namun, meski mereka mencakup 55 persen
dari lulusan sekolah, mereka hanya menciptakan kurang dari lima persen
tenaga kerja.

Kasus Qatif memberikan bangsa Saudi sebuah peluang yang unik, tidak
hanya untuk menyeimbangkan keadaan yang tak adil tersebut, tetapi
untuk melangkah lebih jauh dalam memperbarui sistem peradilan,
sehingga penyalahgunaan seperti ini - yang begitu bertentangan dengan
ajaran dan jiwa Islam - tidak akan pernah terjadi lagi. Lebih tepatnya
lagi, ia dapat berfungsi untuk mendorong perubahan yang dibutuhkan di
Timur Tengah.

###

* César Chelala, salah seorang pemenang penghargaan Overseas Press
Club of America, adalah koresponden asing bagi Middle East Times
International di Australia. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor
Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Desember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Tak Ada Demokrasi tanpa Kewarganegaraan Muslim
Asef Bayat

Leiden, Belanda - Diskusi-diskusi tentang "defisit demokrasi" di Timur
Tengah bukan barang baru. Yang baru adalah anggapan yang gigih bahwa
Islam manghambat pembaruan demokratis; dengan penekanannya terhadap
kekuasaan Tuhan dan budaya-budaya patriarkatnya, Islam dituding bahwa
ia secara esensial tak sesuai dengan demokrasi.

Walaupun banyak Muslim berpendapat bahwa Tuhan telah memberikan
kekuasaan kepada umat manusia untuk memerintah diri mereka sendiri dan
keadilan Islam melarang diskriminasi berdasarkan kelas, ras, maupun
jender, perdebatan itu umumnya hanya berhenti di wilayah tekstual dan
filosofis. Sejauh ini tidak banyak upaya untuk memahami politik
afiliasi keagamaan, dan bagaimana Muslim memandang agama mereka
terkait dengan gagasan-gagasan ideal demokrasi dalam praktek.

Dalam buku saya, Making Islam Democratic, saya menyatakan bahwa
persoalannya bukanlah sesuai atau tidaknya Islam dengan demokrasi,
tetapi lebih pada bagaimana dan di bawah kondisi apa Muslim yang saleh
dapat merangkul etos demokrasi. Tak ada yang bersifat intrinsik dalam
Islam - atau agama apa pun - yang membuatnya secara inheren bersifat
demokratis atau tidak demokratis. Hal tersebut tergantung pada cara-
cara umat beragama memandang dan menjalankan agama mereka yang begitu
ruwet: ketika sebagian menjalankan agama mereka dengan ketentuan-
ketentuan yang eksklusif dan otoritarian, sebagian lain melakukannya
dalam keadilan, representasi, dan pluralisme.

Walau berbagai kecenderungan Islam politik, atau Islamisme, yang
sering menarik tafsiran-tafsiran doktrin yang eksklusif, telah banyak
dibahas, namun sedikit yang mengetahui tentang gerakan-gerakan sosial
yang bertujuan untuk menyatukan Islam dan demokrasi. Fenomena "pasca
Islamisme" ini, mewakili sebuah usaha untuk meleburkan Islam dan
keberagamaan dengan hak-hak dan kebebasan sosio-politik. Ia lebih
menekankan pada hak daripada kewajiban, pluralitas sebagai ganti
otoritas tunggal, kesejarahan daripada sesuatu yang tertentukan, dan
masa depan.

Apakah Islam dapat berbaur dengan gagasan-gagasan demokratis tersebut
atau tidak sangat tergantung pada kemampuan para penganjur perspektif
ini - kaum Islamis dan pasca Islamis - mengukuhkan dominasi mereka di
masyarakat dan negara.

Sejak revolusi Iran tahun 1979, kaum perempuan, pemuda, mahasiswa,
intelektual relijius dan kelompok-kelompok sosial Muslim lainnya telah
berjuang setiap hari untuk memasukkan gagasan-gagasan akan hak
pribadi, toleransi, kesetaraan jender dan pemisahan agama dengan
negara, dalam agama mereka; dengan kehadiran aktif mereka dalam
masyarakat, mereka telah memaksa para pemimpin agama dan politik untuk
melakukan sebuah perubahan paradigmatis pasca Islamis. Pemerintah
reformis Presiden Khatami (1997-2004) mewakili hanya satu - politik -
aspek dari kecenderungan yang merembes ini.

Di lain pihak, di Mesir dikembangkan sebuah gerakan Islamis yang
meluas dengan sebuah pandangan moral konservatif, bahasa yang
merakyat, bersifat patriarkat, dan ketaatan pada kitab suci;
diselubungi oleh jiwa kaum Islamis yang merembes, aktor-aktor utama
dalam masyarakat Mesir- kalangan terpelajar, orang kaya baru (OKB),
para aktivis perempuan Muslim, universitas Al-Azhar, elit penguasa dan
negara - semua bersatu di seputar ideologi-ideologi nasionalis dan
etos moral konservatif. Hasilnya adalah sebuah "revolusi pasif" yang
membiarkan negara - sasaran awal dari gerakan perubahan tersebut -
berkuasa sepenuhnya sambil menyingkirkan suara-suara kritis, pemikiran
agama inovatif , dan tuntutan-tuntutan demokratis.

Demikianlah, Pasca Islamisme Iran gagal mendemokratisasi Republik
Islam tersebut, juga Islamisme Mesir gagal mengislamkan negara Mesir.
Kedua gerakan tersebut menghadapi perlawanan keras dari elit-elit
penguasa masing-masing. Walau begitu, sejauh mana gerakan-gerakan
sosial dapat mengubah status quo politik di Timur Tengah, tanpa larut
ke dalam revolusi-revolusi penuh kekerasan-sebuah wilayah yang
terperangkap oleh rezim-rezim otoritarian (baik sekuler maupun
relijius), oposisi Islamis yang eksklusif, dan dominasi asing yang
nyata?

Keberhasilan gerakan-gerakan sosial bukan merupakan wujud satu episode
yang larut dalam suatu tindak penindasan. Sebaliknya, mereka
memperpanjang berbagai proses beragam wajah dari kecomblangan dan
perubahan. Melalui hasil kebudayaan mereka-dengan memperbarui gaya
hidup dan cara berpikir, keberadaan, dan tingkah laku-gerakan-gerakan
tersebut mampu mengkondisikan kembali, atau mensosialisasikan, para
elit negara dan politik untuk menyesuaikan diri dengan kepekaan,
gagagasan ideal, dan harapan-harapan masyarakat.

Gerakan-gerakan sosial tidak berkembang dalam ruang hampa; mereka
membutuhkan lahan intelektual yang subur dan suatu kemampuan kritis
dasar yang menyuburkan sebuah gerakan kolektif bagi perubahan. Di
banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim, harapan tersebut terletak
pada kemampuan gerakan-gerakan ini mengajak pemerintah merangkul
lembaga-lembaga demokrasi. Biar bagaimanapun, perubahan opini publik
merupakan prakondisi bagi sebuah perubahan demokratis yang langgeng.

Perubahan seperti itu tidak hanya dibawa oleh informasi dan
pendidikan, tetapi terutama oleh kewarganegaraan aktif dari rakyat
biasa - para guru, mahasiswa, kaum muda, perempuan, para pekerja,
artis dan intelektual - yang dalam kehidupan keseharian mereka
menyerukan tuntutan-tuntutan mereka, menyiarkan pelanggaran-
pelanggaran, memenuhi tanggung jawab mereka, dan berhasil dalam apa
yang mereka lakukan.

Para warga negara Muslim tidak dapat menjadi ujung tombak sebuah
perubahan demokratis, kecuali mereka menguasai "seni penampilan" -
sebuah ketrampilan dan semangat untuk menegaskan keinginan kolektif
untuk terbebas dari segala rintangan dengan menghindari hambatan,
memanfaatkan apa yang ada, dan menemukan ruang-ruang baru tempat suara
mereka didengar, dan diri mereka dilihat dan dirasakan.

###

*Asef Bayat, direktur akademis International Institute for the Study
of Islam in the Modern World (ISIM) dan Profesor ISIM di Leiden
University, Belanda. Buku terakhirnya, Making Islam Democratic: Social
Movements and the Post-Islamist Turn, telah diterbitkan oleh Stanford
University Press, 2007. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: ISIM Review, Agustus 2007, www.isim.nl
Telah memperoleh hak cipta.


4) Pasca Islamisme
Ali Eteraz

New York, New York - Kediktatoran Muslim telah menyebabkan rasa
frustrasi yang besar. Para Islamis dewasa ini - berbagai orang dan
kelompok yang percaya bahwa sistem pemerintahan mereka seharusnya
didasarkan pada prinsip-prinsip Islam - merupakan salah satu kelompok
yang menantang para diktator. Sayangnya, sementara kaum Islamis memang
ingin memasukkan demokrasi, banyak yang kemudian ingin menunjuk sebuah
badan ulama untuk menghapuskan perundang-undangan yang tidak mereka
setujui. Untungnya, sekarang ini kita melihat kebangkitan sebuah
tatanan pasca Islamis di kalangan Muslim.

Sebuah tunas baru Muslim telah menemukan cara untuk mendamaikan
demokrasi liberal dengan Islam. Mereka telah berhenti membuat
organisasi-organisasi keagamaan yang bertujuan melakukan dakwah
(penyiaran Islam) dan telah terorganisasie sebagai partai-partai
politik sipil dengan kerangka kerja berdasarkan kesetaraan dan
pluralisme. Sebagian penghargaan terhadap kepopuleran pasca Islamisme
adalah berkat kaum teokratis Islamis. Dalam semangat mereka
menggabungkan agama dengan politik, mereka berpikir hasilnya adalah
agama. Kebalikannya, kelas menengah yang taat menyadari bahwa agama
sendiri tidak dapat memenuhi kepedulian-kepedulian sosial mereka.
Pasca Islamisme, karena itu, adalah pengakuan bahwa walaupun agama
memberikan keselamatan dalam kehidupan akhirat, politiklah yang akan
memberikan kesejahteraan dalam kehidupan dunia.

Dewasa ini, kelompok-kelompok pasca Islamis sedang bekerja di tempat-
tempat seperti Mesir, Turki dan Pakistan.

Salah satu partai pasca Islamis utama Mesir adalah Hizb ul-Wasat
(Partai Tengah). Partai tersebut didirikan pada tahun 1996, dengan
memisahkan diri dari Ikhwanul Muslimin. Alasan-alasan bagi pemisahan
tersebut termasuk keengganan Ikhwanul untuk menerima non-Muslim
sebagai anggota partai atau sebagai warga Mesir, keengganan untuk
berhenti membagi dunia antara "Rumah Perang" dan "Rumah Islam", dan
keengganan untuk mengubah fokus mereka menjauh dari penyebar Islam.
Wasat menyebut dirinya sendiri sebagai sebuah partai Islam tetapi ia
terbuka kepada umat Kristen dan sekularis. Rafiq Habib, seorang
intelektual Protestan di Mesir, merupakan salah seorang anggota
pendirinya dan termasuk salah satu dari lima anggota dewan operasinya.
Setelah pertarungan selama 10 tahun, Wasat secara resmi diakui sebagai
sebuah partai politik pada tahun 2007.

Pokok mendasar yang membuat Wasat menjadi partai pasca Islamis bukan
karena menetapkan Islam sebagai sebuah agama, tetapi sebagai budaya,
atau peradaban, yang bersifat inklusif terhadap kaum minoritas.
Pemikiran Islam sebagai sebuah budaya sama dengan orang-orang tertentu
di Barat merujuk kepada orang Barat sebagai "Kristen-Yahudi" sambil
tetap menyisakan ruang bagi umat Muslim, Hindu, Buddha, dan yang
lainnya untuk mempraktik keyakinan mereka secara bebas di dalamnya.

Program partai Wasat memastikan pemisahan kekuasaan, menolak
diskriminasi keagamaan atau berdasarkan jender, menyerukan secara
terbuka pluralisme dan kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan
memberikan ruang bagi perserikatan dan persekutuan. Yang paling
penting, berbeda dengan program Ikhwanul, ia tidak membentuk sebuah
badan ulama di luar konstitusi yang dapat memveto perundang-undangan
(seperti yang mereka lakukan di Iran).

Walaupun Wasat merupakan sebuah contoh kunci dari sebuah partai pasca
Islamis, mungkin kelompok pasca Islamis paling berhasil adalah partai
AK (Keadilan dan Pembangunan) yang berkuasa di Turki, yang seperti
Wasat, lahir dari pemisahan diri dengan sebuah organisasi Islamis.

Tiga patokan penting - perempuan, Barat, dan Israel - menunjukkan
bahwa pemisahan diri AKP dari kaum Islamis biasa adalah sesuatu yang
meyakinkan. Salah satu dari beberapa hal pertama yang dinyatakan AKP
pada saat terpilihnya pada tahun 2002, seperti dilaporkan oleh New
York Times, adalah bahwa "sekularisme adalah pelindung semua keyakinan
dan agama. Kami adalah penjamin dari sekularisme ini, dan pengelolaan
kami akan membuktikan hal itu."

Partai Tehreek-e-Insaf (Gerakan bagi Keadilan) Pakistan juga sedang
mengembangkan sebuah alternatif pasca Islamis. Partai ini baru muncul
selama tahun-tahun kekuasaan Musharaf, dipimpin oleh atlet kriket yang
menjadi politikus, Imran Khan. Salah satu elemen yang paling penting
adalah ia berusaha untuk membebaskan pendidikan bagi perempuan,
membuat perundang-undangan yang menentang pelecehan seksual, dan
tindakan afirmatif terhadap perempuan, dengan menggunakan
kesejahteraan Islam.

Seperti halnya Wasat yang telah menimbulkan ketidaksukaan terhadap
Ikhwanul di Mesir, Tehreek telah mengecam organisasi-organisasi
Islamis garis keras Pakistan karena berkolusi dengan kekuatan-kekuatan
anti-demokrasi, yang sekali lagi menunjukkan bahwa kaum pasca Islamis
lebih peduli dengan kue demokrasi daripada menenangkan kaum Islamis.
Sementara Tehreek berkembang, partai tersebut harus diawasi dari
dekat, karena mereka memperoleh peningkatan dukungan di kalangan kaum
muda Pakistan dan masyarakat ekspatriat. Harus diingat bahwa butuh
waktu kurang dari 10 tahun bagi AKP Turki dari pembentukannya hingga
menjadi partai berkuasa.

Islam Politik tengah berada di tahapan ketiganya. Babak pertama
merupakan babak revolusi. Babak kedua, masih dengan kita, menjadi
metodis tetapi masih supremasis. Dorongan pasca Islamis yang akan
datang berkomitmen terhadap proses demokrasi dan berhenti memandang
diri mereka sebagai sebuah gerakan keagamaan, sebaliknya mengambil
sebuah program politik sipil.

Ketika kelompok-kelompok pasca Islamis berkuasa, mereka akan menjadi
kaum konservatif sosial yang memusatkan perhatian pada keluarga dan
spiritualitas. Seorang politikus pasca Islamis akan bersuara antara
John Edwards dan Mike Huckabee, di dalamnya agama menjelaskan
keyakinan seseorang tetapi pada akhirnya bersifat pribadi. Dalam
kebijakan luar negeri, mereka akan menolak campur tangan terhadap
kedaulatan mereka dari semua kelompok luar negeri, termasuk NATO di
satu pihak, dan al-Qaeda maupun Taliban di pihak lain. Karena basis
dukungan kelas menengah mereka, mereka akan secara umum tunduk kepada
norma-norma internasional dan tidak akan melibatkan diri mereka ke
dalam konflik-konflik internasional, karena merasa mereka akan menelan
biaya finansial dan sosial yang mahal. Seperti halnya partai-partai
demokratis Kristen Eropa melahirkan demokrat-demokrat liberal,
kemungkinannya, setelah menggabungkan kekuatan, partai-partai pasca
Islamis akan menciptakan ruang bagi partai-partai sekuler terbuka
untuk memperoleh pijakan yang lebih kuat.

###

* Ali Eteraz adalah seorang pengulas sosial dan wartawan lepas. Situs
webnya adalah alieteraz.com. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor
Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Guardian, 31 Oktober 2007, guardian.co.uk
Telah memperoleh hak cipta.


5) Berjabat Tangan Memperpanjang Tali Persahabatan
Khaleej Times

Abu Dhabi - Menurut para pemimpin Kristen terkemuka, hubungan damai
antara umat Muslim dan Kristen merupakan salah satu tantangan utama
abad ini. Menanggapi sebuah surat terbuka pada bulan Oktober yang
ditandatangani oleh 138 cendikiawan, ulama, dan intelektual Muslim
terkemuka dari seluruh dunia, para pemimpin Kristen juga meminta dunia
Muslim memaafkan....

Berikut adalah isi surat tersebut:

Sebagai anggota masyarakat Kristen seluruh dunia, kami sangat
terdorong dan tertantang oleh surat terbuka bersejarah yang
ditandatangani oleh 138 cendikiawan, ulama, dan intelektual Muslim
terkemuka dari seluruh dunia. "Kesamaan Kata antara Kami dan Anda"
mengajukan suatu inti landasan bersama antara Kristen dan Islam yang
terletak di jantung agama kita masing-masing dan di jantung agama
paling tua dari keyakinan keturunan Ibrahim, Yudaisme. Seruan Yesus
Kristus untuk mencintai Tuhan dan sesama berakar pada wahyu ilahi
kepada rakyat Israel yang dinyatakan dalam Taurat (Deuteronomy 6:5;
Leviticus 19:18). Kami menerima surat terbuka sebagai uluran tangan
persahabatan dan kerja sama dari umat Muslim kepada umat Kristen di
seluruh dunia. Menanggapi ini, kami mengulurkan tangan Kristen kami
sebagai balasannya, sehingga bersama dengan seenap umat manusia kita
dapat hidup dalam damai dan keadilan sembari mencintai Tuhan dan
sesama.

Umat Muslim dan Kristen tidak selalu berjabat tangan dalam
persahabatan; hubungan mereka terkadang tegang, bahkan dicirikan
sepenuhnya dengan kekerasan. Karena Yesus Kristus berkata,
"keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat
dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata
saudaramu." (Matias 7:5), kami ingin mulai dengan mengakui bahwa di
masa lalu (seperti dalam Perang Salib) dan di masa sekarang (seperti
dampak-dampak dari Perang terhadap Teror) banyak umat Kristen yang
telah bersalah melakukan dosa terhadap saudara Muslim mereka. Sebelum
kami menjabat tangan Anda sebagai balasan surat Anda, kami meminta
kemaafan dari Yang Maha Pengampun dan dari masyarakat Muslim seluruh
dunia.

"Umat Muslim dan Kristen jika dijumlahkan akan lebih dari setengah
penduduk dunia. Tanpa perdamaian dan keadilan antara kedua masyarakat
agama ini, tak akan ada perdamaian yang berarti di dunia." Kami ikut
merasakan apa yang diutarakan para penandatangan Muslim dalam baris-
baris pembukan surat terbuka mereka. Hubungan damai antara umat Muslim
dan Kristen merupakan salah satu tantangan utama abad ini, dan mungkin
seluruh jaman ini. Walaupun berbagai ketegangan, konflik, bahkan
peperangan yang membuat umat Kristen dan Muslim saling berhadapan sama
sekali tak mencerminkan relijiusitas, tetapi mereka memiliki dimensi
keagamaan yang tak dapat dibantah. Jika kita dapat mencapai perdamaian
relijius antara kedua masyarakat ini, perdamaian di dunia jelas akan
lebih mudah digapai. Karena itu, bukan sesuatu yang dibesar-besarkan,
jika mengatakan, sebagaimana pula yang telah Anda sampaikan, "Sebuah
Kesamaan Kata antara Kami dan Anda", bahwa"masa depan dunia bergantung
pada perdamaian antara umat Muslim dan Kristen."

Apa yang luar biasa tentang "Sebuah Kesamaan Kata antara Kami dan
Anda" adalah bukan karena para penandatangannya mengenali ciri kritis
dari kondisi hubungan antara umat Muslim dan Kristen pada masa kini,
namun ia merupakan sebuah pandangan yang dalam dan berani yang
mendorong kita mengakui kesamaan landasan antara masyarakat relijius
Muslim dan Kristen.

Apa yang serupa di antara kita tidak terletak dalam sesuatu yang
marjinal, juga bukan dalam sesuatu yang hanya penting bagi salah satu
pihak. Namun, ia terletak dalam sesuatu yang sesungguhnya penting bagi
kedua pihak: cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama.

Mengejutkan bagi banyak umat Kristen, surat Anda menyatakan dua
perintah cinta itu sebagai prinsip mendasar, tidak hanya bagi agama
Kristen, tetapi juga Islam. Bahwa begitu banyak kesamaan landasan yang
ada - kesamaan landasan dalam beberapa dasar keimanan- memberikan
harapan bahwa perbedaan yang tak dapat disangkal, bahkan tekanan-
tekanan eksternal yang sangat nyata, yang ditujukan kepada kita, tidak
dapat mengalahkan kesamaan landasan tempat kita berdiri bersama. Bahwa
kesamaan landasan ini terdiri atas cinta kepada Tuhan dan sesama
memberikan harapan bahwa kerja sama yang erat antara kita dapat
menjadi sebuah pertanda dari hubungan kedua umat.

Anda dapat membaca isi lengkap surat tersebut pada Khaleej Times
Online. http://www.khaleejtimes.com/DisplayArticleNew.asp?secsi=theuae
&ksfile=data/theuae/2007/november/theuae_november725.ksml.

###

* Artikel dari Khaleej Times ini disebarluaskan oleh Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Khaleej Times, 27 Nopember 2007, www.khaleejtimes.com
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.

Monday, December 3, 2007

[Berpikir Bebas 730] Re: Akal Budi dan keberadaan Tubuh Manusia

Ada satu hal yg acap kali dilupakan (tdk dianggap serius) oleh
manusia, bahwa Tuhan Maha Tahu!
Kepekaan terhadap apapun hendaknya jangan dijadikan sebuah kemegahan
yg menyulitkan diri kita sendiri dan orang lain.

Jika anda berbicara tentang pemetaan, selama ini kecenderungannya
adalah kepada dan dari sudut pandang yg masih terjangkau oleh
kemampuan kita, padahal intinya sebuah "Maping" adalah penaklukan diri
kita kepada kondisi kebenaran yg sedang bekerja di lingkungan yg
terkecil didalam diri kita sendiri.

Salam

On Dec 1, 9:31 am, edward <edward...@gmail.com> wrote:
> Setuju, saya juga pernah membaca kisah seperti dibawah ini, yang saya
> coba kutip sesuai aslinya........ salam....
>
> Alkisah penjelajah itu pulang ke kampung halamannya, Penduduk ingin
> tahu segala sesuatu tentang sungai Amazon. Tetapi bagaimana mungkin
> mengungkapkannya dalam kata-kata perasaan yang memenuhi hatinya,
> ketika ia melihat bunga-bunga begitu indah memukau dan mendengar
> seribu satu suara penghuni rimba diwaktu malam? Bagaimana menjelaskan
> perasaan hatinya ketika menghadapi binatang buas atau ketika mendayung
> perahu kecilnya melewati arus sungai yang sangat berbahaya?
>
> Ia berkata, 'Pergi dan temukanlah sendiri! Tidak ada yang dapat
> menggantikan pertaruhan nyawa dan pengalaman pribadi', namun sebagai
> pedoman bagi mereka, ia menggambarkan peta sungai Amazon.
>
> Mereka berpegang pada peta itu. Peta itu dibingkai dan diletakkan di
> kantor kotapraja. mereka masing-masing menyalin peta itu. dan setiap
> orang yang mempunyai peta, menganggap dirinya seorang ahli tentang
> sungai amazon. sebab bukankah ia tahu setiap kelokan dan pusaran
> sungai, berapa lebar dan dalamnya, dimana air mengalir deras dan
> dimana terdapat air terjun?
>
> Penjelajah itu selama hidupnya menyesalkan peta yang telah dibuatnya.
> Mungkin lebih baik jika dulu dia tidak menggambarkan apa-apa.
>
> Katanya Buddha tidak mau dipancing untuk berbicara tentang Tuhan,
> rupanya ia menyadari bahaya-bahaya menggambar peta bagi para
> cendekiawan dimasa mendatang.
>
> (kutipan dari 'Burung berkicau' oleh A.de Mello SJ)
>
> On Nov 29, 8:16 pm, AMR <abel.rud...@gmail.com> wrote:
>
>
>
> > Orang yg sehat Akal Budinya pasti menyetujui bahwa Hukum2 Tuhan itu
> > benar adanya dan menyukakan hatinya, tetapi di sisi yang lain, orang
> > yg sehat Akal Budinya dan kesukaannya ialah pada Hukum2 Tuhan
> > tersebut, tidak secara otomatis bisa diartikan bahwa orang tersebut
> > bisa tunduk kepada Hukum2 Tuhan yg disetujui/disukainya.
>
> > Tubuh Manusia atau katakanlah keberadaan manusia (tidak ada manusia yg
> > sempurna!!) bisa dijadikan sebagai sebuah ukuran dan perbandingan,
> > bahwa Hukum2 Tuhan itu sempurna dan Mulia didalam maksud dan
> > tujuaanNYA, semakin disetujui dan disukai kebenaranNYA semakin
> > tertampak bahwa sesuatu yg sempurna hanya dapat terpenuhi tuntutanNYA
> > oleh sesuatu yg sempurna.
>
> > Saya ambil sebuah contoh, seindah dan sebenar apapun sebuah kosa kata
> > yg tersusun, entah dalam bahasa apapun juga, selama terdiri dari
> > huruf2 yg ditulis oleh tangan manusia, paling jauh hanya
> > mengisyaratkan bahwa si penulis hanya sanggup bersaksi dari segala
> > kekurangannya. Saya memakai "istilah" kekurangan hanya sebagai sebuh
> > pesan pengingat bahwa sekaliber Nabi- pun tetap manusia yg punya
> > kekurangan, yg intinya ada sebuah kesaksian dalam bentuk tulisan2
> > tangan manusia yg punya "pengalaman" merasakan semua yg telah
> > disaksikannya dalam bentuk tulisan2 itu sendiri yg tentu kedalaman
> > makna dan artinya hanya bisa dipahami oleh si penulis.
>
> > Tetapi saya yakin, sedahsyat apapun pengalaman tersebut, akan tetap
> > menjadi sebuah harga mati bahwa si penulis bukanlah tokoh tanpa cacat
> > dalam pengertian, sudah melakukan secara sempurna semua yg
> > disaksikannya.
>
> > Didalam tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging ada sebuah
> > Hukum yg lain yg tidak kalah kuatnya dengan Hukum Akal Budi yg juga
> > ada didalam diri manusia, yaitu Hukum Dosa!!!
> > yang membuat semua manusia setingkat nabi sekalipun menjadi terbungkam
> > argumennya oleh keberadaan Akal Budinya masing2.....
>
> > Maranatha- Hide quoted text -
>
> - Show quoted text -

Friday, November 30, 2007

[Berpikir Bebas 731] Artikel

J A T I D I R I

Apakah itu untuk diri pribadi atau untuk arti kebangsaan, banyak warga
bangsa kita yang kurang memahami, bahkan [mungkin] sebahagian besar
yang "tidak tau" atau tidak me -
ngerti sama sekali apa itu sesungguhnya j a t i d i r i
---------------------------------- ,

Boy Dana beranggapan, jatidiri adalah jatidiri, bukan dan tidak j a t
i - d i r i, Boy ber -
anggapan jatidiri yang dimaksud disini adalah jatidiri yang satu dan
utuh yang tidak di -
pisahkan atau terpisahkan, bahkan si Boy sejak tau dan kenalan dengan
j a t i d i r i -----,
dia merasakan dan berpikir.......nah ini dia temuan kedua versi
pancasila dahulu kala [?!]

Hingga saat kinipun Boy Dana masih merasa asing-, kagok-, bahkan
sungkan untuk men
jabarkan, apalagi meresapkan arti - makna - kaidah atas hikmah j a
t i d i r i ------,

Suatu ketika dipenghujung tahun tujuhpuluhan Boy Dana bertanya kepada
penulis .........;
Mas, emangnya jatidiri itu identitas manusia "dunia akhirat".........,
jawab penulis, lho kenapa Boy berpendapat atau merasa seperti
itu......., jatidiri itu Boy [penulis sok coba menjelaskan] semacam
identitas manusia lahir bathin yang t i d a k memiliki batas
waktu atau batas masa berlakunya ........, nah makanya kata si Boy,
itulah saya berpendapat bahwa jatidiri itu identitas manusia dunia
akhirat..............[memang si Boy kalau berucap atau menyatakan
dunia akhirat selalu tanpa kata perantara " d a n "] ini juga menarik
ketika suatu waktu penulis yang balik bertanya.........Boy-, kenapa
sih kau ini kalau ngomong atau nulis kalimat dunia akhirat tanpa kata
antara " d a n ", kenapa kamu ini mau lain sendiri atas format kata
dalam kalimat, bukankah sangat wajar dan identik sekali bila kita
berucap atau menulis "dunia dan akhirat".........emmangnya pemahaman
Boy atas keyakinan "itu" harus dihilangkan kata antara
"dan" ..................[?!]
Ala Mas [kata si Boy]-, beribu ribu tahun sudah sejak manusia merasa
dirinya CERDAS mereka atau kita kita inilah.........ngomong meyakini
"sesuatu" yang t i d a k ada ujung juntrungnya.........ngomonglah
kita ini sekarang didunia.......natinya disana kita ini berada
diakhirat........-, DUNIA aja kita belum tau persis, jelas dan tandas,
mau maunya kita berinterprestasi disana itu lho.......akhirat-, karena
[tapi] kita ini absolute turunan sejati manusia b e r a g a m a-,
maka pendapat saya kita langsungkan saja makna "itu" menjadi
dunia akhirat t a n p a "dan" sebagai perantara, atau yang
memperantarakan .............[?!}
Pendapat saya Mas, didalam "dan" itulah banayak spekulasi dan
manipulasinya yang selama sekian ribu tahun lamanya "manusia keenakan"
berbohong diri didalam kata dan-,
mungkin........jatidiri itulah Mas, yang dapat mengembalikan manusia
untuk menemukan
d i r i n y a -, itulah Mas, mengapa saya sangat menggandrungi dan
mendambakan atas arti dan makna serta ujud j a t i d i r i yang
sesungguhnya agar kita lebih cepat dan cermat dalam memahami dan
memaknai arti kata dalam kalimat d u n i a a k h i r a t [!]

Kata Si Boy dalam catatan usangnya-, dunia akhirat patut direnungkan
dan jangan ragu untuk di reminding bahwasanya "sekat" yang ada itu,
bukanlah sekat yang penuh misteri ataupun absolute abstract, inga
inga.....apa yang ada dalam kitab kitab suci w a h y u khususnya
Alquran dan Alkitab ............. K E H E N D A K M U J A D I L A
H [!}----,
Masya Allah, tidak habis pikir kata orang jaman sekarang, bagaimana
manusia keblinger-
[minjem istilah Bung Karno], selama beribu ribu tahun kkeyakinan itu
l e p a s dari diri kita yang katanya u t u h dan diciptakan
sebagai insan t e r m u l i a dari insan insan
ciptaanNYA.........bahkan di Alkitab dinyatakan tandas s e s u a i
dengan p e t a N Y A-,
Mas Bagus [panggilan Boy kpd penulis]-, sebenarnya atau sesungguhnya,
banyak para pemikir kita atau katakanlah pemikir "kelas dunia" yang
sebenarnya mereka mempunyai pendapat atau kesimpulan bahwa a p a
dunia itu sekaligus dengan akhiratnya.........[?!]
Kata si Boy selanjutnya-; saya heran Mas Bagus, manusia secara pro
rata hampir seluruhnya mereka merasa t a k u t atas sesuatu yang
berasal dari hak mutlak TUHAN -,
nah lucunya Mas, ketika manusia merenungkan dan menghayati "rasa
takut" itu, lucunya-
adalah t e r n y a t a mereka cuma takut atas kematian, apalagi
kematian yang disertai timbunan dosa selama masa
kehidupannya........., bukankah ini sangat lucu Mas, takut atas
kkematian, sedangkan kematian itu sendiri adalah a w a l
sesungguhnya dari KEHENDAKMU JADILAH.............awal dari kehidupan
akhirat yang sesungguhnya......,

Kembali pada j a t i d i r i -, jatidiri yang dimaksud disini adalah
bukan jatidiri dalam arti
yang "biasa dan sederhana", tapi lebih dari pengertian dan pemaknaan
yang lebih tinggi dan luas bahkan s a k r a l adanya. Sebagai suatu
contoh adanya kesakralan pada arti atau tanda jatidiri adalah; s e t e
l a h jatidiri itu "terbentuk & terujud" pada diri seseorang, maka
orang [pribadi] tersebut tidak pernah lepas atau lekang dari dua d a
s a r
[prinsip] jatidiri sejati yakni r a m a h & h o r m a t [ramah
tamah & hormat menghormati], dua prinsip dasar itulah yang menjadi
"darah daging" dalam bentuk dan
ujud jatidiri sejati sesuai kadar kesempurnaan perwujudannya bagi
pribadi seseorang [!] .

RAMAH & HORMAT-, atau dalam jabaran santun kita sering menyebutnya
dengan ramah tamah & hormat menghormati, arti dan makna kalimat ini,
bagi setiap pribadi bangsa Indonesia [sesungguhnya patut diberlakukan
bagi setiap umat manusia] kalimat ini selain bermakna sakral dan
mulia, j u g a menjadi tanda & bias bagi setiap pribadi yang telah
mendapatkan dan "merasa" terujudnya jatidiri yang sejati pada kadar
dirinya-,

Ramah tamah & hormat menghormati sesama umat pada tingkat apapun dan
dimanapun,
"hal inilah" sesungguhnya yang patut menjadi landasan utama bagi
setiap perilaku manusia didalam kehidupan sehari hari setiap detiknya,
bahkan bagi umat Muslim bangsa
Indonesia, dua kalimat jatidiri tersebut patut dijadikan sebagai
pendukung dan penyempurna atas kemuliaan kita setelah menyebut dan
melafaskan dua kalimat
syahdat-,
Tentunya yang dimaksud disini adalah seluruh umat bangsa Indonesia
siapapun adanya[!]

Dua kalimat sakral j a t i d i r i tersebut diatas, dapat
dibayangkan kalau sudah tertanam-
dan sepenuhnya menjiwai setiap insan bangsa Indonesia, dapat
dibayangkan bagaimana indah dan damainya "suasana masarakat" dalam
kehidupan sehari harinya, tentu dengan -
dengan catatan; ramah tamah dan hormat menghormati yang t i d a k
dan bukan cuma ekspresi lahiriah semata, tapi mendalam yang berasal
dari kalbu dan "sebersih hati" seper
ti yang dimaksud dan dikehendaki oleh Sang Chaliq Allah Tuhan Yang
Maha Esa -----,
j a n g a n l a h [haramkan!] dalam ramah tamah yang kita bersitkan
itu terlihat atau apa
lagi sarat dengan "kemunafikan" yang terselubung atau yang tidak
terselu bung bahkan-
[apalagi] yang disengaja atau belakangan merasa "tidak
disengaja" [?!], pendapat saya Mas Bagus, masih banyak sekali kaum
beragama bukan hanya di Indonesia, tapi hampir-
diseluruh penjuru dunia [terutama kaum kita, kaum muslim] dalam
pembawaan kehidupan sehari harinya "sadar atau tidak" mereka masih
[sangat jelas] terbungkus bahkan terbiasa dengan rasa dan sikap
munafik yang sangat sangat kental dan dalam--.

Masih dalam catatan usangnya si Boy-, dia menulis dan menyatakan
[seolah olah dia menyampaikan bukan hanya kepada penulis semata] Mas
Bagus-, saya heran, saya yang demikian masih mudanya, saya itu sadar
sesadar sadarnya bahwa munafik itu l e b i h
jahat dan lebih berbahaya dari bahaya laten komunis ataupun atheist
dan terorist yang bagaimanapun dahsyatnya, saya sudah sejak masa bocah
sudah menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa munafik itu keenakan
nongkrong dan ngejogrok didalam bathin diri kita masing masing, bahkan
bangsat dan durjananya, kadangkala munafik itu merasa lebih dari
kesempurnaan bathin yang ada pada diri kita, maka itu Mas, disinilah
saya sangat mengharapkan dan mendambakan jatidiri seutuhnya yang patut
dan mutlak dimiliki oleh setiap insan manusia yang percaya dan
hakulyakin atas ekeberadaan kita sebagai ciptaanNYA............mas
Bagus-, kalau boleh Boy berandai andai.......jangan jangan jatidiri
itulah yang mungkin dimaksud oleh sebagian besar umat manusia yang
keblinger yang selalu dan suka meletakan kata antara d a n dalam
kalimat dunia akhirat, tapi karena mereka tidak tau [boro boro kenal]
apa sesungguhnya itu jatidiri, maka seenaknyalah mereka "ber dan
danan" dengan kata d a n dalam dunia dan akhirat .

Kembali [ke laptop] jatidiri-, kalau kita renungkan bersama mas
Bagus-, sepertinya untuk
mencari dan menemukan [penemuan] dan mengenal serta memahami
[pembentukan] jatidiri sebagaimana yang kita maksudkan bersama
[katakanlah seperti yang Boy maksudkan], sepertinya norma dan kaidah
kaidah a g a m a banyak sekali patut dijadikan sebagai "dasar &
kerangka konstruksi" pada ujud bangunan j a t i d i r i ---[!].

Memang sih kata si Boy-, jatidiri pada setiap manusia itu "tidak ada
yang sama" satu sama lainnya sangat berbeda ibarat sidik jari paada
setiap manusia, karena dalam memahami dan menguasai "jatidiri kita"-,
kita patut terlebih dahulu untuk mencari dan mencari "diri kita
sesungguhnya" [kadangkala bertahun tahun lamanya], kemudian setelah
ditemukan, kita patut mengenal dan mengakui serta m e m v o n i s
diri kita sebagaimana yang ditemukan dan dikenalinya, dimoment itulah
kita diwajibkan untuk memulai membentuk dan mewujudkan jatidiri yang
tanda tandanya ada [hanya] pada diri kita sendiri. Singkat kata, atau
kata kuncinya-, jatidiri itu seprtinya tidak dapat kita ajarkan
apalagi berupa doktrin, jatidiri itu sepertinya harus dicari dan
diketemukan oleh -
diri sendiri yang katanya alim,soleh,tekun dalam ajaran2
agama,berpendidikan, cakep dan cakap dalam pergaulan, d i r i
yang [telah] memiliki "pondasi & kerangka" yang
dapat diterima "orang banyak" dan santun serta dibanggakan dalam
pergaulan sehari hari,
perwujudan diri seperti itulah modal dasar kita untuk
menemukan&membentuk jatidiri !

[Berpikir Bebas 729] Re: Akal Budi dan keberadaan Tubuh Manusia

Setuju, saya juga pernah membaca kisah seperti dibawah ini, yang saya
coba kutip sesuai aslinya........ salam....

Alkisah penjelajah itu pulang ke kampung halamannya, Penduduk ingin
tahu segala sesuatu tentang sungai Amazon. Tetapi bagaimana mungkin
mengungkapkannya dalam kata-kata perasaan yang memenuhi hatinya,
ketika ia melihat bunga-bunga begitu indah memukau dan mendengar
seribu satu suara penghuni rimba diwaktu malam? Bagaimana menjelaskan
perasaan hatinya ketika menghadapi binatang buas atau ketika mendayung
perahu kecilnya melewati arus sungai yang sangat berbahaya?

Ia berkata, 'Pergi dan temukanlah sendiri! Tidak ada yang dapat
menggantikan pertaruhan nyawa dan pengalaman pribadi', namun sebagai
pedoman bagi mereka, ia menggambarkan peta sungai Amazon.

Mereka berpegang pada peta itu. Peta itu dibingkai dan diletakkan di
kantor kotapraja. mereka masing-masing menyalin peta itu. dan setiap
orang yang mempunyai peta, menganggap dirinya seorang ahli tentang
sungai amazon. sebab bukankah ia tahu setiap kelokan dan pusaran
sungai, berapa lebar dan dalamnya, dimana air mengalir deras dan
dimana terdapat air terjun?

Penjelajah itu selama hidupnya menyesalkan peta yang telah dibuatnya.
Mungkin lebih baik jika dulu dia tidak menggambarkan apa-apa.

Katanya Buddha tidak mau dipancing untuk berbicara tentang Tuhan,
rupanya ia menyadari bahaya-bahaya menggambar peta bagi para
cendekiawan dimasa mendatang.

(kutipan dari 'Burung berkicau' oleh A.de Mello SJ)


On Nov 29, 8:16 pm, AMR <abel.rud...@gmail.com> wrote:
> Orang yg sehat Akal Budinya pasti menyetujui bahwa Hukum2 Tuhan itu
> benar adanya dan menyukakan hatinya, tetapi di sisi yang lain, orang
> yg sehat Akal Budinya dan kesukaannya ialah pada Hukum2 Tuhan
> tersebut, tidak secara otomatis bisa diartikan bahwa orang tersebut
> bisa tunduk kepada Hukum2 Tuhan yg disetujui/disukainya.
>
> Tubuh Manusia atau katakanlah keberadaan manusia (tidak ada manusia yg
> sempurna!!) bisa dijadikan sebagai sebuah ukuran dan perbandingan,
> bahwa Hukum2 Tuhan itu sempurna dan Mulia didalam maksud dan
> tujuaanNYA, semakin disetujui dan disukai kebenaranNYA semakin
> tertampak bahwa sesuatu yg sempurna hanya dapat terpenuhi tuntutanNYA
> oleh sesuatu yg sempurna.
>
> Saya ambil sebuah contoh, seindah dan sebenar apapun sebuah kosa kata
> yg tersusun, entah dalam bahasa apapun juga, selama terdiri dari
> huruf2 yg ditulis oleh tangan manusia, paling jauh hanya
> mengisyaratkan bahwa si penulis hanya sanggup bersaksi dari segala
> kekurangannya. Saya memakai "istilah" kekurangan hanya sebagai sebuh
> pesan pengingat bahwa sekaliber Nabi- pun tetap manusia yg punya
> kekurangan, yg intinya ada sebuah kesaksian dalam bentuk tulisan2
> tangan manusia yg punya "pengalaman" merasakan semua yg telah
> disaksikannya dalam bentuk tulisan2 itu sendiri yg tentu kedalaman
> makna dan artinya hanya bisa dipahami oleh si penulis.
>
> Tetapi saya yakin, sedahsyat apapun pengalaman tersebut, akan tetap
> menjadi sebuah harga mati bahwa si penulis bukanlah tokoh tanpa cacat
> dalam pengertian, sudah melakukan secara sempurna semua yg
> disaksikannya.
>
> Didalam tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging ada sebuah
> Hukum yg lain yg tidak kalah kuatnya dengan Hukum Akal Budi yg juga
> ada didalam diri manusia, yaitu Hukum Dosa!!!
> yang membuat semua manusia setingkat nabi sekalipun menjadi terbungkam
> argumennya oleh keberadaan Akal Budinya masing2.....
>
> Maranatha

Thursday, November 29, 2007

[Berpikir Bebas 727] Akal Budi dan keberadaan Tubuh Manusia

Orang yg sehat Akal Budinya pasti menyetujui bahwa Hukum2 Tuhan itu
benar adanya dan menyukakan hatinya, tetapi di sisi yang lain, orang
yg sehat Akal Budinya dan kesukaannya ialah pada Hukum2 Tuhan
tersebut, tidak secara otomatis bisa diartikan bahwa orang tersebut
bisa tunduk kepada Hukum2 Tuhan yg disetujui/disukainya.

Tubuh Manusia atau katakanlah keberadaan manusia (tidak ada manusia yg
sempurna!!) bisa dijadikan sebagai sebuah ukuran dan perbandingan,
bahwa Hukum2 Tuhan itu sempurna dan Mulia didalam maksud dan
tujuaanNYA, semakin disetujui dan disukai kebenaranNYA semakin
tertampak bahwa sesuatu yg sempurna hanya dapat terpenuhi tuntutanNYA
oleh sesuatu yg sempurna.

Saya ambil sebuah contoh, seindah dan sebenar apapun sebuah kosa kata
yg tersusun, entah dalam bahasa apapun juga, selama terdiri dari
huruf2 yg ditulis oleh tangan manusia, paling jauh hanya
mengisyaratkan bahwa si penulis hanya sanggup bersaksi dari segala
kekurangannya. Saya memakai "istilah" kekurangan hanya sebagai sebuh
pesan pengingat bahwa sekaliber Nabi- pun tetap manusia yg punya
kekurangan, yg intinya ada sebuah kesaksian dalam bentuk tulisan2
tangan manusia yg punya "pengalaman" merasakan semua yg telah
disaksikannya dalam bentuk tulisan2 itu sendiri yg tentu kedalaman
makna dan artinya hanya bisa dipahami oleh si penulis.

Tetapi saya yakin, sedahsyat apapun pengalaman tersebut, akan tetap
menjadi sebuah harga mati bahwa si penulis bukanlah tokoh tanpa cacat
dalam pengertian, sudah melakukan secara sempurna semua yg
disaksikannya.

Didalam tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging ada sebuah
Hukum yg lain yg tidak kalah kuatnya dengan Hukum Akal Budi yg juga
ada didalam diri manusia, yaitu Hukum Dosa!!!
yang membuat semua manusia setingkat nabi sekalipun menjadi terbungkam
argumennya oleh keberadaan Akal Budinya masing2.....

Maranatha

Monday, November 26, 2007

[Berpikir Bebas 726] Re: Dimanakah sorga itu?

Surga bagi saya ga bisa didefinisikan dan ditentukan keberadaannya yg
sebenarnya, perumpamaan sekalipun jika dikaji dengan lebih teliti,
justru semakin membuat keberadaan surga menjadi tidak tepat seperti
keberadaan nya yg sesungguhnya. Semua uppaya manusia tuk menggambarkan
keberadaan dan keadaan surga selalu tidak bisa tidak harus menyertakan
contoh2 diseputar benda2 alamiah.

Kita hanya dapat sejauh percaya bahwa surga itu ada, cukup dengan
melihat semua contoh2nya saja.

On Nov 24, 8:23 am, Tjipto Juwono <tji...@gmail.com> wrote:
> Agama dirancang sebagai konsep yang mudah dicerna oleh akal orang
> kebanyakan. Dengan demikian, orang kebanyakan bisa diarahkan untuk
> hidup yang relatif cukup baik, tidak anarkis. Agama semacam ini bisa
> menjadi motivator yang cukup kuat melalui iming-iming hadiah surga,
> atau ancaman hukuman neraka.
>
> Kalau orang-orang yang berada di surga dibandingkan dengan orang-orang
> di muka bumi, maka relatif tidak ada perbedaan spiritual yang berarti
> (selain bahwa surga yang tadinya diterima melalui iman, sekarang
> tampak sebagai realita).
>
> Di dalam agama semacam ini, surga adalah proyeksi kenikmatan duniawi,
> dan neraka adalah proyeksi penderitaan di dunia.
>
> Kalau di dunia ada rumah mewah, maka di surga ada rumah yang super
> mewah. Kalau di dunia ada makanan lezat, maka di surga ada makanan
> super lezat tanpa batas. Kalau di dunia seorang pria berhubungan
> dengan seorang wanita cantik, maka di surga ada banyak sekali bidadari
> ... yang super cantik.
>
> Dengan demikian, manusianya sama, tempatnya-lah yang berbeda. Yang
> satu di dunia, yang lain di surga. Bahkan konsep tentang surga
> sebenarnya tidak lebih daripada kelanjutan kenikmatan duniawi, dalam
> versi yang "ekstrim".
>
> Seperti halnya tontonan Sepak Bola Dunia, McDonald Hamburger, atau
> sebungkus rokok kretek, agama menjadi hiburan yang mudah, tidak
> membutuhkan perjuangan intelektual atau batin. Bahkan berbeda dengan
> McDonald Hamburger yang mungkin tidak terjangkau rakyat yang paling
> miskin, maka agama adalah hiburan murah yang terjangkau oleh semua
> lapisan.
>
> --
> salam
> tj

Sunday, November 25, 2007

[Berpikir Bebas 728] Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

23 - 29 Nopember 2007

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di
sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Saat Menciptakan Musik,Keyakinan adalah Perkara Insidental oleh Ani
Zonneveld
Dalam artikel keempat dari serial bisnis gabungan antara Muslim-Barat
ini, Ani Zonneveld, seorang penyanyi, penulis lagu, dan Presiden
Muslims for Progressive Values, menggambarkan beberapa hubungan
pribadi yang berkembang antara penulis lagu dan artis, dapat
bermanfaat untuk menciptakan musik yang " bermakna dan bernuansa".
Zonneveld menulis bahwa "kesediaan kami mendengarkan cerita-cerita
yang beragam, memupuk sebuah proses kreatif organik."
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

2) Kebijakan Luar Negeri Tarik Menarik Turki oleh Gürcan Koçan dan
Jason J. Nash
Gürcan Koçan, profesor di Istanbul Technical Universtiy, dan Jason J.
Nash, analis hubungan Timur Tengah dan Turki yang tinggal di Istanbul,
membahas faktor-faktor domestik dan internasional yang mempengaruhi
kebijakan Timur Tengah Turki, khususnya ketika menyangkut kehadiran
Partiya Karkaren Kurdistan (Partai Karyawan Kurdi--PKK) yang
kontroversial di Irak.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

3) Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak oleh César Chelala
Pada Hari Anak-Anak Internasional kali ini, César Chelala, peraih
penghargaan Overseas Press Club of America dan koresponden asing untuk
Middle East Times International, membahas penderitaan anak-anak Irak
yang harus merasakan akibat-akibat perang di negara mereka.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

4) Manakah Perempuan dalam Politik Timur Tengah? oleh Rafi'ah Al
Tal'ei
Penulis berkebangsaan Oman dan direktur program Gulf Forum for
Citizenship, Rafi'ah Al Tal'ei membahas perjuangan kaum perempuan
Timur Tengah untuk meningkatkan jumlah mereka dalam arena politik.
Dengan menggambarkan hambatan-hambatan politik, ekonomi, dan sosial
yang mereka hadapi, ia menguraikan penyelesaian-penyelesaian yang
memungkinkan partisipasi perempuan yang lebih besar.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007)

5) Masih Ada Waktu untuk Mundur Dari Bibir Jurang oleh Editorial Daily
Times
Editorial Daily Times ini membahas hubungan yang dimainkan antara
aktor-aktor di panggung politik Pakistan dan mempertimbangkan beberapa
pilihan yang tersedia bagi mereka, sementara mereka mempersiapkan
pemilihan presiden di bawah pengumuman kekuasaan darurat Presiden
Musharaf belum lama ini.
(Sumber: Daily Times, 20 Nopember 2007)


1) Saat Menciptakan Musik,Keyakinan adalah Perkara Insidental
Ani Zonneveld

Los Angeles - Sebagai seorang pencipta lagu, pekerjaan saya adalah
menuliskan lagu yang sesuai dengan gaya dari artis tertentu. Para
penerbit memberi tahu saya tentang label rekaman dan artis mana yang
sedang mencari lagu bagi album mereka yang akan datang, dan dengan
informasi itu saya duduk di depan komputer, yang penuh dengan program
piranti lunak dan suara, untuk menuangkan apa yang ada di dalam kepala
saya. Dalam satu hari, saya biasanya menyelesaikan irama dan baris
melodi. Dalam dua hari, liriknya telah selesai.

Dalam sebuah proses kolaboratif, sebuah lingkungan kreatif yang ideal
adalah lingkungan yang memungkinkan sebuah gagasan yang dilemparkan
menjadi lebih baik, memicu gagasan lain yang mengembangkan gagasan
pertama, dan seterusnya. Karena keterbatasan waktu, latar belakang,
agama, atau politik seseorang jarang dibahas. Jika ada kecocokan
antara para penulis lagu, hal itu berasal dari reaksi kimia yang
dipancarkan musik. Dengan kata lain, agama, warna kulit, umur dan
jenis kelamin seseorang menjadi tak relevan.

Kenyataan bahwa saya adalah seorang perempuan Muslim hanyalah pokok
insidental dalam proses ini. Saya dinilai berdasarkan keberhasilan
saya sebagai seorang penulis lagu, jumlah karya yang telah saya
hasilkan, dan penghargaan yang saya dapatkan.

Walaupun agama saya tak berkaitan sama sekali dengan pekerjaan saya,
kadang-kadang dalam sebuah percakapan, mitra saya dalam menuliskan
lagu mengetahui bahwa saya adalah seorang Muslim. Ketika ini terjadi,
mereka pun menanyakan, "Ah, coba saya ajukan padanya berbagai
pertanyaan yang ingin saya ketahui tentang Islam". Topik-topik yang
dibahas mulai dari jilbab, laki-laki Muslim yang menikahi empat istri,
hingga pendapat saya tentang politik di Timur Tengah.

Menulis dengan artis yang berada dalam satu ruangan merupakan sebuah
proses yang sangat berbeda dengan tanpa sang artis. Sebagai seorang
penulis, saya memiliki gaya saya sendiri dalam menyusun rangkaian
melodi, memadukan kata dengan musik, dan seterusnya, jadi ketika saya
bekerja dengan sang artis, saya harus membiarkan mereka "menghidupkan"
gagasan yang telah saya sumbangkan; yaitu, dengan mempersonalisasikan
sebuah gagasan musik berdasarkan interpretasi musik mereka sendiri.

Dua artis yang pernah bekerja sama dengan saya adalah Keb' Mo' dan
Melissa Manchester. Kami biasanya memulai dengan bertukar kabar satu
sama lain, bertukar cerita tentang industri musik, hingga membahas
masalah politik dan agama. Jenis musik mereka membutuhkan banyak
pendalaman dan perenungan, dan hubungan pribadi yang telah kami
kembangkan selama bertahun-tahun ini membantu proses penciptaan musik
yang penuh makna dan nuansa.

Sebuah contoh ketika agama ikut berperan adalah lagu Thank You for
Your Faith in Me, yang saya tulis bersama dengan Melissa Manchester.
Lagu tersebut merupakan ucapan syukur kepada Tuhan yang mepercayai
kita dan tidak berputus asa menghadapi kita. Dalam hal ini,
spiritualitas kami berasal dari ruang yang sama, ia dari keyakinan
Yahudinya dan saya dari Islam.

Hubungan saya dengan Keb' Mo', artis Blues Kontemporer peraih banyak
Grammy, berawal sejak 15 lalu, ketika ia biasa merekam bagian gitar
pada lagu-lagu saya di studio. Hubungan profesional saya tak terasa
seperti hubungan bisnis, karena ia telah berkembang menjadi sebuah
hubungan yang penuh saling pengertian dan persahabatan berdasarkan
keyakinan bersama dalam "melakukan hal yang benar" - sebuah nilai
spiritual yang dijalani Keb' Mo'. Satu hari ia mengundang saya tampil
ke atas panggung Disney Concert Hall di Los Angeles untuk membicarakan
proses pembuatan lagu kami dan kemudian tanpa disangka-sangka ia
mengirimkan cek sebagara ucapan terima kasih atas jerih payah saya.
Tindakan bijak seperti itu jarang terjadi.

Dengan artis-artis seperti Melissa Manchester dan Keb' Mo', saya
merasa nyaman membicarakan berbagai hal di luar kehidupan profesional
saya - aktivitas sosial saya sebagai seorang Muslim, dan mendengarkan
pandangan-pandangan keagamaan dan politik mereka. Mungkin yang
mengejutkan, berbagai percakapan pribadi yang luas dan penerimaan
terhadap keragaman satu sama lain ini, sering memicu sebuah judul lagu
atau tema. Kesediaan kami untuk mendengarkan cerita-cerita yang
beragam memupuk sebuah proses kreatif organik.

Walaupun kita mungkin terlibat dalam sebuah hubungan bisnis, pada
akhirnya kita semua merupakan bagian dari kemanusiaan. Dan landasan
bagi hubungan penuh damai, tak peduli bentuknya, adalah rasa
penghormatan dan penerimaan kita akan kesetaraan satu sama lain.

###

* Ani Zonneveld adalah seorang penyanyi/penulis lagu di Los Angeles
(www.a-n-i.net) dan salah seorang pendiri dan Presiden Muslims for
Progressive Values (www.mpvusa.org). Artikel ini merupakan bagian dari
serial tentang bisnis gabungan antara Muslim-Barat, disebarluaskan
oleh Kantor Berita Common Ground dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org Telah memperoleh hak cipta.


2) Kebijakan Luar Negeri Tarik Menarik Turki
Gürcan Koçan dan Jason J. Nash

Istanbul - Turki belum lama meningkatkan tekanan atas pihak-pihak
berwenang AS dan Irak untuk mengakhiri kehadiran kelompok separatis,
Partiya Karkaren Kurdistan (Partai Karyawan Kurdi--PKK), di bagian
utara Irak.

Perkembangan secara bertahap hingga menjadi krisis yang sedang terjadi
saat ini telah melibatkan lebih dari kebutuhan keamanan Turki di
perbatasan wilayah selatan dan bagi kesatuan internalnya. Ada
keseimbangan hubungan yang sedang terjadi antara tuntutan-tuntutan
berbagai aktor domestik Turki di satu sisi, dan kepentingan-
kepentingan mitra-mitra regional dan strategis Turki di sisi lain.

Isu Irak utara mulai membajak agenda kebijakan luar negeri Turki.
Pihak militer dan birokrasi Turki secara tradisional mengatasi ancaman-
ancaman keamanan terhadap wilayah Turki. Dan pemerintah koalisi Turki
masa lalu, yang umumnya tidak stabil, biasanya menyerahkan pembuatan
keputusan seperti itu kepada para pembuat kebijakan yang telah berdiri
sejak lama tersebut.

Kedua aktor politik utama ini - militer dan birokrasi - dengan
pembagian-pembagian internal mereka sendiri dalam tanggapan kebijakan,
telah berusaha untuk menempatkan kepentingan-kepentingan domestik
Turki sambil melihat kedudukannya dalam kerangka kerja kewajiban
internasional dan pengaturan perjanjian dengan UE, Amerika Serikat,
dan NATO.

Hingga belum lama ini, boleh dibilang, kebijakan-kebijakan Timur
Tengah Turki merupakan hasil dari hubungan antara faktor-faktor
strategis lebih besar dan tidak mempertimbangkan dampak-dampaknya
terhadap lingkungan regional. Hubungan dekat yang dikembangkan Turki
dengan Israel merupakan satu indikasi bagaimana aktor luar telah
mempengaruhi kebijakan Timur Tengahnya seiring dengan garis-garis
strategis, namun jauh dari pertimbangan rakyat, seperti rasa
persaudaraan Muslim di kalangan masyarakat.

Adalet ve Kalkinma Partisi (Partai Pembangunan Keadilan--AKP) Turki,
yang kini tengah berkuasa, sedang mengevaluasi kembali faktor-faktor
tersebut. Bertentangan dengan keinginan pemerintah Bush, pemerintah
Turki telah membangun hubungan yang semakin dekat dengan Suriah dan
Iran, terlepas dari risiko tergganggunya jaringan strategis
persekutuan Barat yang telah menentukan banyak kepentingan kebijakan
luar negeri Turki sejak Perang Dunia II.

Namun yang menarik, dan berbeda dari pemerintah-pemerintah Turki
sebelumnya, adalah upaya AKP untuk melegitimasi tindakan-tindakannya
sembari berusaha membela berbagai kepentingannya. Tindakan unilateral
melawan PKK di Irak utara, dengan kata lain, tidak lagi mungkin
terjadi.

Pemerintah Bush berada pada posisi tidak nyaman akibat dorongan
mendadak dari Turki tersebut, terperangkap karena Bush berada dalam
jaringan persekutuan oportunistis dengan para pemimpin Irak utara. Di
Turki, mereka sekarang menghadapi sekutu NATO yang menggunakan isu
terorisme PKK sebagai dasar balasan tindakan bersenjata mereka, sama
seperti yang dilakukan Amerika Serikat ketika membenarkan campur
tangannya sendiri di Afghanisan dan Irak.

Namun, tidak hanya pemerintah AS yang berada dalam keadaan terdesak.
Pemerintah Turki juga mendapatkan dirinya tertarik ke dalam
kepentingan untuk bertindak sesuai dengan tingkat tuntutan rakyat.
Karena keinginan untuk mengintervensi Irak utara semakin menguat dalam
pendapat publik Turki, pemerintah AKP telah mencari berbagai cara
untuk mengurangi tuntutan penggunaan kekerasan ini. Pemerintah telah
mencoba untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan penggunaan
kekuatan fisik dengan kekuatan maya dari media, baik di tingkat
nasional dan internasional.

Penggunaan kekerasan di Irak utara diperpanas oleh pertimbangan-
pertimbangan ekonomi dan pemimpin bisnis Turki. Hubungan dagang yang
luas antara Irak utara dan sebagian besar Timur Tengah, terkait dengan
pemulihan ekonomi Turki sendiri, khususnya di wilayah tenggara yang
penuh permasalahan, dapat terancam oleh tindak balasan yang terlalu
keras.

Tingkah laku berlebihan pihak berwenang Turki dapat mengumpani
kecurigaan-kecurigaan UE terkait dengan keanggotaan negara tersebut
dalam "klab Uni Eropa". Kebangkitan nasionalisme sebagai sebuah
kekuatan dalam politik Turki berada dalam kedudukan yang tidak nyaman,
tidak hanya dengan mitra-mitra luar negerinya, tetapi juga dengan
partai berkuasa. Dengan meminta media lokal mengurangi tingkat
kesensasionalan liputan terhadap serangan-serangan di tenggara Turki,
pemerintah sedang bertindak untuk melindungi kendaraan kekuatan "maya"
ini dan mempertahankan hubungan strategis yang telah lama terjalin,
dengan menyelesaikan keadaan, tanpa harus memilih kekuatan "fisik"
yang mungkin mengancam kepentingan-kepentingan AS di Irak.

Pembentukan kebijakan luar negeri Turki telah melewati sebuah
perubahan penting dalam lima tahun terakhir, walaupun sedang mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan -kenyataan
regional. Kehadiran Amerika Serikat di Irak memperumit pilihan balasan
bersenjata tradisional, demikian juga dengan peningkatan hubungan
ekonomi dan strategis dengan Timur Tengah, dan UE memaksa para pembuat
kebijakan luar negeri di Ankara untuk mempertimbangkan batasan-batasan
ini dalam kaitannya dengan tindakan militer.

Di dalam negeri, pemerintah Turki juga sedang menghadapi keinginan
yang saling bertentangan antara kelompok yang menginginkan sebuah aksi
dengan mereka yang menyarankan pengendalian diri. Kekuatan "maya"
pelan-pelan digunakan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan ini, sambil
menghalangi penggunaan kekuatan "fisik". Namun, walaupun pengendalian
diri yang lebih terukur tercapai, hal ini tidak serta merta
menyelesaikan isu-isu jangka panjang yang disebabkan oleh munculnya
kekerasan PKK. Pemangku kepentingan yang berbeda, baik pada tingkat
domestik maupun regional, juga perlu dilibatkan untuk memastikan
stabilitas yang lebih berjangka panjang di wilayah tersebut.

Jika wajah monolitis dari perumusan kebijakan luar negeri dari Ankara
memang benar-benar ada, maka boleh dibilang bahwa masa itu pasti telah
berakhir. Tanggapan Turki terhadap peristiwa-peristiwa terakhir
menunjukkan bahwa ia sedang belajar untuk menyesuaikan pembuatan
kebijakan luar negerinya dengan memperhitungkan hubungan kompleks yang
sekarang harus dihadapinya. Bagi UE, sudah tiba saatnya untuk
menangani hubungannya dengan Turki dengan cara yang lebih konstruktif.
Bagi Amerika Serikat dan kebijakan Timur Tengahnya yang bermasalah,
hal itu juga semakin penting.

###

* Gürcan Koçan adalah seorang profesor pada departemen ilmu-ilmu
humaniora dan sosial pada Istanbul Technical University, dan Jason J.
Nash adalah analis hubungan Timur Tengah dan Turki yang tinggal di
Istanbul. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) Kembalikan Masa Kanak-Kanak Bebocah Irak
César Chelala

New York - Hari Anak-Anak Internasional akan dirayakan di penjuru
dunia pada tanggal 20 Nopember. Perserikatan Bangsa-Bangsa menandai
hari ini sebagai "sebuah hari persaudaraan dan pengertian antara anak-
anak seluruh dunia ". Di Irak, sayangnya, hari ini tidak akan
dirayakan dengan banyak kemeriahan, karena anak-anak telah menjadi
korban paling rentan dari sebuah perang orang dewasa yang tak
bermoral. Sekali melihat foto-foto anak-anak Irak yang menjadi cacat
akibat perang, kita akan terus dihantui oleh mereka.

Seorang anak meninggal setiap lima belas menit di Irak. Lebih banyak
lagi yang cacat seumur hidup mereka. Dari prakiraan, 4 juta bangsa
Irak - sebuah angka yang setara dengan jumlah seluruh penduduk
Irlandia - yang telah terlantar di dalam negeri atau telah
meninggalkan Irak, 1,5 juta di antaranya adalah anak-anak. Kebanyakan
dari mereka tidak memiliki jalur terhadap perawatan kesehatan dasar,
pendidikan, tempat tinggal, air atau kebersihan.

70 persen rakyat tidak memiliki akses terhadap persediaan air yang
memadai, dan 80 persen tidak memiliki sarana kebersihan yang baik,
kondisi-kondisi yang menciptakan lahan pengembangan infeksi-infeksi
usus dan pernafasan yang umumnya menyerang anak-anak. "Anak-anak
meninggal setiap hari karena kurangnya dukungan medis dasar. Sistem
pembuangan yang buruk dan kurangnya air bersih, khususnya di pedesaan,
telah menjadi masalah serius yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-
tahun untuk mengatasinya," Ahmed Obeid, seorang pejabat kesehatan
Irak, mengingatkan.

Keprihatinan utama lain adalah kekurangan gizi. Tingkat penyebarannya
di kalangan anak-anak terus meningkat; berbagai bahaya kekurangan gizi
telah berlipat ganda sejak serangan yang dipimpin AS, sehingga Irak
sekarang setara dengan Burundi, negara Afrika Tengah yang terpecah
oleh perang saudara yang penuh kekejaman, dan lebih tinggi daripada
Haiti, negara termiskin di Amerika.

Jumlah anak-anak yang lahir dengan berat badan kurang juga lebih
tinggi daripada sebelum serangan, menurut sebuah laporan yang
diterbitkan oleh OXFAM dan 80 badan bantuan lain. Sekitar 8 juta orang
- sekitar sepertiga jumlah penduduk - membutuhkan bantuan darurat, dan
lebih dari 4 juta rakyat Irak bergantung pada bantuan pangan.

"Anak-anak sakit atau terluka yang seharusnya dapat dirawat dengan
peralatan ala kadarnya dibiarkan meninggal dalam jumlah ratusan karena
mereka tidak memiliki akses terhadap obat-obatan dasar atau sumber-
sumber daya lain. Anak-anak yang telah kehilangan tangan, kaki, dan
tungkai, dibiarkan tanpa indra buatan. Anak-anak dengan keadaan
pikologis yang parah, dibiarkan tak dirawat." Ini adalah penilaian
dari sekitar 100 dokter Inggris dan Irak.

Beragam penyakit yang berhubungan dengan lingkungan, menyerang
kalangan anak-anak karena keterbukaan mereka dengan bahan-bahan
pencemar tersebut. Banyak kasus cacat lahir dan kanker di kalangan
anak-anak dipercaya merupakan akibat-akibat dari bahan-bahan kimia dan
radioaktif. Belum lagi apa yang secara eufimisme disebut sebagai
"kerusakan nyata", yang berarti ribuan anak-anak yang terbunuh oleh
bom-bom yang meledak di tepi jalanan, serangan-serangan bunuh diri,
atau operasi-operasi militer dan keamanan.

Yang juga mengkhawatirkan adalah peningkatan jumlah anak-anak, baik
perempuan maupun laki-laki, yang diculik dan diperdagangkan demi
eksploitasi seksual. Ini adalah sebagian akibat dari bangkitnya
kelompok-kelompok bersenjata di seluruh penjuru negeri.

Hal ini menuntut masyarakat Internasional - termasuk pemain Barat
maupun regional - mengambil langkah-langkah untuk bersama-sama
mengakhiri pilinan kekerasan di Irak demi kemanusiaan kita sendiri.
Ketika kita membaca atau mendengar tentang laporan tanpa akhir dari
berbagai peristiwa kekerasan di Irak, berapa sering kita berhenti
untuk berpikir bagaimana caranya sebuah peristiwa tunggal seperti itu
mempengaruhi tubuh, pikiran, hati, kehidupan keseharian dan masa depan
orang-orang yang disentuhnya, langsung maupun tidak?

Saya melihat sekali lagi foto seorang anak Irak tak dikenal, sebuah
foto karya Dan Chung untuk Guardian, ciri-cirinya terbakar hingga
tidak dapat dikenali, yang mata sedihnya kelihatan ingin berkata, "Apa
yang telah saya lakukan sampai menanggung ini?" Orang-orang kecil itu,
yang menanggung dampak-dampak tragis perang di pundak mereka yang
rapuh.

###

* César Chelala, MD, PhD, adalah salah seorang pemenang penghargaan
Overseas Press Club of America. Ia juga seorang koresponden asing
untuk Middle East Times International (Australia). Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) Manakah Perempuan dalam Politik Timur Tengah?
Rafi'ah Al Tal'ei

Washington, DC - Walaupun kaum perempuan berjuang untuk berperan serta
dalam politik di seluruh dunia, jumlahnya masih rendah di Timur
Tengah. Kaum perempuan telah memiliki jalur ke kantor politik selama
berabad-abad, tetapi kemajuannya, yang semangati dari tepian oleh
berbagai organisasi dari Barat, sangat lambat. Apa yang menanahan kaum
perempuan hingga tak bisa memiliki perwakilan lebih besar di dunia
politik dan apa yang dapat dilakukan untuk mendorong partisipasi
mereka?

Hasil dari pemilihan umum di Maroko belum lama ini melahirkan
perdebatan tentang perwakilan politik perempuan ke arena politik.
Hanya 34 perempuan yang memenangkan majelis rendah parlemen,
dibandingkan dengan 35 perempuan pada pemilihan sebelumnya, hanya
sekitar 5% dari semua wakil.

Di Turki, perempuan memenangkan 50 dari 550 kursi di parlemen Turki.
Walaupun baru mencakup 9% dari keseluruhan, ini pertanda yang
membesarkan hati, karena jumlah perempuan yang terpilih berlipat ganda
dibandingkan dengan pemilihan parlemen terakhir. Persentase perwakilan
perempuan ini merupakan yang kedua terbesar di wilayah tersebut
setelah Irak, yang memiliki 70 wakil perempuan dalam parlemennya yang
beranggotakan 275 orang.

Perempuan di Timur Tengah sering mengalami kondisi-kondisi politik,
sosial, dan budaya yang sensitif dan rumit, yang membatasi kemampuan
mereka untuk terlibat dalam arena politik. Banyak perempuan yang
menjauhkan diri dari partisipasi politik demi menghindari kontroversi.
Tafsiran-tafsiran keagamaan konservatif kadang membatasi partisipasi
perempuan dalam kehidupan masyarakat, atau mencegah mereka bercampur
dengan kaum pria, atau menduduki jabatan pemerintahan. Juga ada
dimensi keluarga yang perlu dipertimbangkan, yang masih menjadikan
perempuan secara tradisional bertanggung jawab terhadap tugas-tugas
rumah tangga.

Perempuan juga sering dilihat kurang berpengalaman dalam urusan-urusan
kemasyarakatan, akibatnya, para pemilih - baik laki-laki maupun
perempuan - cenderung tidak akan memilih mereka. Jadi, meskipun
perempuan tidak menahan diri dari pencalonan jabatan politik, ia pun
kalah sejak awal karena kurangnya dukungan masyarakat.

Ini biasanya membantu menjelaskan mengapa hanya sejumlah kecil
kandidat perempuan yang mencalonkan diri untuk jabatan publik.
Misalnya, dari 800 kandidat pada pemilihan umum Oman 27 Oktober lalu,
hanya 25 di antaranya perempuan.

Sebagai tambahan, ada faktor lain yang menghambat perempuan untuk
mencalonkan diri bagi jabatan politik. Termasuk di antaranya beragam
tingkat demokrasi yang sering kali tidak memuaskannya, kebebasan
berpendapat, kemajemukan, penghormatan terhadap keragaman, dan dialog
terbuka.

Walaupun faktor-faktor ini mempengaruhi baik perempuan maupun laki-
laki, namun ketika ditambah dengan struktur sosial dan budaya yang
lebih mendukung laki-laki daripada perempuan dalam arena politik, yang
paling parah terkena dampaknya adalah perempuan. Ini cenderung
mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kesadaran politik di
kalangan warga negara.

Memajukan partisipasi efektif dan perwakilan perempuan yang murni
dalam politik berarti mengangkat kesadaran akan peran perempuan dalam
kehidupan masyarakat, melatih perempuan untuk menduduki jabatan
publik, dan melibatkan mereka untuk masuk arena politik dalam rangka
memperkaya pengalaman mereka, meraih kepercayaan pemilih dan
mempersiapkan generasi-generasi perempuan di masa depan untuk
berpartisipasi dalam jumlah yang lebih besar.

Satu sarana perbaikan partisipasi perempuan adalah dengan sebuah
sistem kuota, yang mengalokasikan sejumlah persentase kursi bagi
perempuan. Di negara-negara tempat langkah tersebut telah diterapkan,
seperti Tunisia, Irak dan Yordania, kita melihat lebih banyak
perempuan dalam politik. Belum lama ini, kaum perempuan telah berjuang
untuk memenangkan 15% kuota dalam pemilihan umum Yaman yang akan
datang.

Selain menerapkan kuota, para pemimpin partai politik dan ketua-ketua
organisasi sipil seharusnya dibujuk untuk mencalonkan perempuan dalam
daftar pemilihan mereka dan menugaskan mereka dalam kedudukan-
kedudukan dengan wewenang yang lebih besar. Memajukan sebuah budaya
pencarian dana untuk mendukung kandidat juga merupakan cara yang
efektif untuk mengatasi situasi kesulitan ekonomi, yang mungkin
menghalangi perempuan berpartisipasi, karena dalam banyak masyarakat
tradisional kaum laki-laki menangani kebanyakan urusan keuangan
keluarga.

Di kebanyakan negara Timur Tengah, ada beberapa organisasi yang peduli
dengan isu-isu perempuan dan hak-hak asasi manusia. Jejaring di
kalangan lembaga-lembaga masyarakat madani yang peduli dengan
partisipasi perempuan, entah dalam suatu negeri entah di tingkat
regional, maupun internasional, akan membantu memperkaya dan mendukung
perempuan secara politik.

Banyak negara Timur Tengah yang memiliki Menteri Urusan Perempuan.
Walaupun ini kelihatannya merupakan sebuah langkah menuju arah yang
tepat, lembaga-lembaga ini sering bekerja secara independen dari
kementerian-kementerian lain daripada mengambil manfaat dari peran
yang dimainkan setiap kementerian untuk memajukan sebuah strategi
nasional yang kohesif untuk meningkatkan keterwakilan perempuan.

Pada tingkat internasional, sejumlah organisasi telah berurusan dengan
organisasi-organisasi lokal di Timur Tengah untuk melatih perempuan
berpolitik, selain membantu mereka mengatasi sebagian permasalahan
yang mereka hadapi. Selama ini, lembaga-lembaga swadaya masyarakat
Amerika seperti National Democratic Institute (NDI) dan International
Republican Institute (IRI) telah menjadi tuan rumah bagi kegiatan-
kegiatan gabungan ini, seperti pelatihan politik perempuan di Levant,
Teluk, dan Afrika Utara selama kampanye-kampanye pemilihan terakhir.
NDI dan IRI juga terus menyelenggarakan berbagai konferensi dan
lokakarya untuk membantu perempuan memperoleh pengalaman dalam bidang
ini.

Koordinasi dan jejaring gabungan dari berbagai organisasi dan individu
ini akan membantu menyelesaikan halangan-halangan partisipan politik
perempuan pada tingkat akar rumput. Dengan membantu perempuan
menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam politik, akan mendorong
partisipasi perempuan yang lebih besar pada semua tingkat.

Jalan untuk menyempurnakan kesetaraan jender politik masih panjang,
perjuangan belum selesai. Langkah-langkah kecil ini merupakan pertanda
bahwa ada banyak orang yang bekerja di belakang layar untuk mengubang
keseimbangan tersebut di masa depan.

###

* Rafi'ah Al Tal'ei adalah seorang penulis berkebangsaan Oman dan
direktur program Gulf Forum for Citizenship. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Nopember 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


5) Masih Ada Waktu untuk Mundur Dari Bibir Jurang
Editorial Daily Times

Lahore - Pakistan sedang melalui sebuah masa yang penuh ketegangan
yang akut antara dua buah pilihan - sebuah transisi yang kooperatif
tetapi relatif tidak sempurna dari pemerintahan militer ke demokrasi,
atau suatu konfrontasi terbuka tetapi relatif tidak efektif. Apapun
pilihannya, ia harus membiarkan keping tersebut jatuh dan berharap
ketika debu reruntuhan telah dibersihkan, Pakistan akan tetap tegak
berdiri.

Berbicara kepada CNN, Benazir Bhutto mengatakan bahwa ia masih
menunggu jawaban dari Jenderal Musharaf. Merasakan tekanan masyarakat,
ia telah meminta sang jenderal untuk melepaskan seragam militernya,
mengakhiri keadaan gawat darurat, memulihkan Komisi Pemilihan Umum dan
pemerintah interim, media yang bebas, dan mengharuskan pemerintah
lokal memudahkan pemilihan umum yang bebas dan adil pada bulan
Januari. Jika ia tidak setuju, ia harus bersiap-siap menghadapi protes
masyarakat dan kemungkinan boikot kolektif pihak oposisi terhadap
pemilihan umum. Tetapi jika ia telah menolak rekomendasi terakhir
Amerika, yang dibawa ke Islamabad oleh Deputi Menteri Luar Negeri John
Negroponte, berapa besar peluang Musharaf akan menanggapi Bhutto?

Jenderal Musharaf secara bertahap telah memangkas layarnya untuk
mengakomodasi berbagai kecaman, tetapi ia masih enggan untuk membuat
kesepakatan yang dapat mewujudkan transisi yang masih ia inginkan. Ia
telah menetapkan tanggal 8 Januari sebagai hari pemilihan umum,
setelah sebelumnya mengatakan "sebelum 15 Februari" dan kemudian
"sebelum 9 Januari". Ia telah memulai proses pencabutan larangan
terhadap media, setelah diterapkannya kekuasaan darurat, dan
pemerintah menciptakan suara-suara yang mendamaikan tentang membiarkan
dua jaringan besar TV melanjutkan pekerjaan mereka.

Kemungkinan besar ia juga akan membubarkan pemerintahan-pemerintahan
lokal. Walaupun ia tetap bersikap samar tentang kapan ia akan mencabut
keadaan darurat tersebut - karena awalnya. ia menginginkan dirinya
disahkan sebagai presiden untuk masa lima tahun lagi - ia bisa jadi
akan mencabut keadaan daurat sebelum akhir bulan ini, setelah mengubah
Undang-Undang Dasar Sementara untuk memastikannya bebas dari tuntutan.
Jika ia ia membuat keputusan yang benar sekarang, ia setidaknya masih
dapat memulihkan diri dari situasi; jika tidak, daftar tuntutan dari
oposisi akan terus bertambah, hingga ia menjadi satu pokok tantangan
yang bertujuan menyingkirkannya.

Bhutto menghadapi tantangan-tantangannya sendiri menghadapi pihak-
pihak oposisi lain di Gerakan Seluruh Partai Demokratis (All Parties
Democratic Movement--APDM). Pengaruhnya terhadap Jenderal Musharaf akan
meningkat sementara ia merundingkan arah tindakan masa depan dengan
pemimpin Liga Muslim Pakistan, Nawaz Sharif, dan sekutu-sekutu APDM-
nya. Tetapi untuk memperoleh pengaruh dalam menghadapi Jenderal ini,
ia harus menyetujui beberapa tuntutan mendasar Nawaz.

Tuntutan paling utama dari sekutu enam partai adalah untuk memboikot
pemilihan bulan Januari. Persekutuan tersebut tidak akan datang ke
konferensi semua partai yang diserukan Bhutto, kecuali ia menjelaskan
kedudukannya tentang rencana pemboikotan tersebut. Pemboikotan
tersebut diserukan ketika APDM merasa bahwa Bhutto masih mencoba untuk
membuat Jenderal Musharaf setuju dengan pengaturan "pembagian
kekuasaan" sehingga ia harus dengan cepat memilih antara gagasan
boikot yang untung-untungan sifatnya dan gagasan melanjutkan pemilihan
umum tanpa kesetaraan tingkat permainan.

Adalah Jenderal Musharaf yang akan harus "memberi". Ia memiliki
kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan lain dan menolak
konfrontasi. Jika Jenderal Musharaf berpikir ia dapat lolos dari
bahaya karena keretakan dalam golongan oposisi, ia seharusnya berpikir
ulang.

Tidak sulit untuk melihat ke arah mana negara tersebut melangkah,
walaupun jika Jenderal Musharaf mengandalkan gambar-gambar Pakistan
Television Corporation yang menunjukkan apa yang sedang terjadi di
jalanan. Partai Rakyat Pakistan (Pakistan Peoples Party-PPP) sedang
mendemonstrasi para maksimalis di APDM bahwa ia memiliki kemampuan
untuk mengguncang dan menghadapi pemerintah, tuntutan-tuntutannya
semakin hari semakin mengeras, sesuai dengan emosi rakyat. Tetapi
dengan mengamankan suaranya dari keberpihakan kepada lawan-lawan
oposisi yang lebih radikal, sejauh menyangkut perundingan dengan
Jenderal Musharaf, ia juga secara bertahap menarik permadani dari
kakinya sendiri.

Tentara akhirnya berhadap-hadapan secara langsung dengan Al Qaeda di
wilayah-wilayah pedalaman, tetapi perang ini akan sangat sulit
dilaksanakan di tengah ketiadaan dukungan politik, seperti yang
terlihat pada operasi-operasi militer sebelumnya. Al Qaeda
mengendalikan jalur wilayah yang luas, yang penduduknya sekarang
sedikit banyak menerima kekuasaannya dan tampak disiapkan untuk
melawan tentara Pakistan seolah mereka merupakan kekuatan penyerbu.
Jika Jenderal Musharaf memilih konfrontasi, ia mungkin harus
menghadapi dua perang pada saat bersamaan: satu melawan Al Qaeda dan
yang lainnya melawan rakyat Pakistan.

Setelah itu, kemenangan atau kekalahan akan kehilangan artinya. Jika
rakyat menang dan Jenderal Musharaf pergi, para politikus yang
mengambil alih harus berunding dengan Al Qaeda menggunakan dasar
pemikiran yang sama sekali berbeda. Mereka harus berunding menggunakan
persyaratan-persyaratan Al Qaeda, tanpa dukungan partai-partai agama.
Jadi, demi Pakistan, Jenderal Musharaf harus membuka jalan bagi sebuah
pemilihan yang bebas dan adil seperti tuntutan pihak oposisi.

###

* Artikel ini adalah editorial harian Daily Times Pakistan dan
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews), dapat dibaca
di www.commongroundnews.org.

Sumber: Daily Times, 20 Nopember 2007, www.dailytimes.com.pk
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Rami Assali (Jerusalem)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Sireen Hashweh (Jerusalem)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.