Monday, December 24, 2007

[Berpikir Bebas 735] Re: Mama dan Harga Diri yang T'lah Habis

On Dec 19, 5:00 pm, odets <d_b...@telkom.net> wrote:
> Berapa besar nilai harga diri dan pengorbanannya? Entah, yang pasti
> setiap orang memiliki  penilaian berbeda tentang itu. Nilai harga diri
> terkadang menjadi tolak ukur pandangan seseorang, ya walaupun harus
> mengorbankan segalanya, termasuk keluarga, seperti yang aku alami.
>
> Harga diri dalam keluargaku melebihi segalanya, sayang Mama tidak
> pernah mengerti apa itu harga diri. Di lubuk Mama hanya ada harta dan
> kebencian, terutama terhadap aku dan Istriku. Setidaknya itu yang aku
> rasakan hingga saat ini. Apapun yang Mama katakan sungguh tidak masuk
> akal, malaupun demikian aku berusaha untuk memahami walaupun sangat
> menyakitkan, aku tetap sabar memendam semua kebusukan ini.
>
> Sebagai seorang Ibu, seharusnya Mama bersifat netral terhadap anak-
> anaknya, termasuk aku. Mama harus bisa menjadi hakim yang adil untuk
> anak-anaknya, Mama juga harus bisa mendengarkan semua keluh kesah
> semua anaknya, tidak pilih-pilih. Tetapi dalam keluarga ku semua itu
> tidak berlaku, siapa pintar menjilat dia akan Mama puja, melebihi
> siapa pun tidak peduli anaknya maling, atau pembunuh. Hal ini telah
> aku alami bertahun-tahun, dan kebenciannya semakin menjadi setelah aku
> berkenalan dengan seorang wanita yang menurut anaknya yang lain dan
> seorang temannya merupakan wanita tidak baik. Yang belakangan aku
> ketahui kalau teman kakakku itu diam-diam menyimpan rasa terhadap
> wanita itu yang kini menjadi istriku. Padahal selama ini aku telah
> mencoba membuka pintunya yang mulai berdebu tebal. Sayang debu itu
> telah begitu lama menutup pintu Mama, hingga Mama tidak dapat lagi
> melihat dan menikmati indahnya matahari yang setiap hari menerangi.
>
> Di mata Mama aku lumpur yang telah bercampur ta'i. Tak ada yang indah
> untuk dibanggakan, bau dan kotor. Terkadang aku berpikir, "Apakah aku
> ini anak tiri?", jika bukan, kenapa aku selalu yang menjadi korban.
> "Apa karena aku tidak pintar menjual harga diri keluarga", seperti
> yang telah dilakukan kakak kedua dan adikku. Tapi anehnya apa yang
> telah mereka berdua lakukan untuk menikah, Mama tidak pernah malu
> bahkan merasa terinjak harga dirinya, walaupun sudah menjadi rahasia
> umum bahwa anak keduanya telah memperkosa sedangkan anak bungsunya
> telah diperkosa.
>
> Berbeda dengan apa yang aku dan kakak pertamaku alami dalam
> pernikahan, walaupun pada akhirnya Mama menerima tetapi itu butuh
> waktu yang cukup lama setelah mengarungi lautan air mata. Pernikahan
> Kakak pertamaku yang direstui setengah hati tetao berjalan walaupun
> harus berlangsung di tempat nenek. Hal itu terjadi karena Mama tidak
> menyetujui pernikahan itu, jadi mereka tidak diijinkan menikah di
> rumah yang kini telah menjadi puing. Hal yang sama terjadi dengan
> diriku, pernikahanku tidak pernah mendapat restu, walau Mama datang
> dalam akad nikah, tetapi Mama tidak mau ada dalam resepsi pernikahan
> itu. Seandainya saat itu aku menghamili lebih dulu mungkin Mama akan
> berbeda pandangan, aku yakin Mama akan sayang kepada aku dan juga
> istriku.
>
> Tadinya aku mau membatalkan pernikahan ini, karena takut dosa kepada
> orang tua. Tetapi setelah aku berbicara dengan beberapa teman dan
> rekan di kantor akhirnya aku beranikan diri maju dengan niat ibadah.
> Bahkan seorang temanku, ustad Herry meyakinkan bahwa apa yang aku
> lakukan itu tidak melanggar hukum agama. Menurutnya jika orang tua
> meminta yang aku melakukan perbuatan tidak baik dan tidak aku lakukan,
> maka aku tidak akan merima dosa. Tetapi jika orang tua meminta aku
> melakukan hal yang baik dan tidak aku lakukan, maka aku akan menerima
> azab dari Allah. Menurutnya pernikahan itu merupan salah satu dari
> ibadah, jika kita dilarang melaksanakan ibadah, maka kita berhak tidak
> melaksanakan perintah itu, walaupun datangnya dari orang tua, seperti
> Nabi Ibrahim, katanya memberikan contoh.
>
> Aku tidak tau apa yang membuat Mama buta dan tidak dapat berpikir
> jernih. Mama selama ini menilai seseorang hanya dari ekonominya saja.
> Jika ekonominya berada dibawah Mama pasti akan menilai keluarga itu
> tidak baik. Seharusnya Mama yang telah banyak menelam asam garam
> kehidupan dapat belajar dari apa yang telah menimpa keluarganya selama
> ini. Setelah itu baru memutuskan apakah kita lebih hina atau lebih
> baik. Maaf Ma, aku tulis ini karena aku sayang Mama**

Ada kalanya kenyataan seperti ini merupakan bentuk perhatian Tuhan
kepada seseorang dalam hal ini anda!!!, bersukacitalah, diatas Mamamu
masih ada DIA (Tuhan)

No comments: