Wednesday, December 19, 2007

[Berpikir Bebas 734] Mama dan Harga Diri yang T'lah Habis

Berapa besar nilai harga diri dan pengorbanannya? Entah, yang pasti
setiap orang memiliki penilaian berbeda tentang itu. Nilai harga diri
terkadang menjadi tolak ukur pandangan seseorang, ya walaupun harus
mengorbankan segalanya, termasuk keluarga, seperti yang aku alami.

Harga diri dalam keluargaku melebihi segalanya, sayang Mama tidak
pernah mengerti apa itu harga diri. Di lubuk Mama hanya ada harta dan
kebencian, terutama terhadap aku dan Istriku. Setidaknya itu yang aku
rasakan hingga saat ini. Apapun yang Mama katakan sungguh tidak masuk
akal, malaupun demikian aku berusaha untuk memahami walaupun sangat
menyakitkan, aku tetap sabar memendam semua kebusukan ini.

Sebagai seorang Ibu, seharusnya Mama bersifat netral terhadap anak-
anaknya, termasuk aku. Mama harus bisa menjadi hakim yang adil untuk
anak-anaknya, Mama juga harus bisa mendengarkan semua keluh kesah
semua anaknya, tidak pilih-pilih. Tetapi dalam keluarga ku semua itu
tidak berlaku, siapa pintar menjilat dia akan Mama puja, melebihi
siapa pun tidak peduli anaknya maling, atau pembunuh. Hal ini telah
aku alami bertahun-tahun, dan kebenciannya semakin menjadi setelah aku
berkenalan dengan seorang wanita yang menurut anaknya yang lain dan
seorang temannya merupakan wanita tidak baik. Yang belakangan aku
ketahui kalau teman kakakku itu diam-diam menyimpan rasa terhadap
wanita itu yang kini menjadi istriku. Padahal selama ini aku telah
mencoba membuka pintunya yang mulai berdebu tebal. Sayang debu itu
telah begitu lama menutup pintu Mama, hingga Mama tidak dapat lagi
melihat dan menikmati indahnya matahari yang setiap hari menerangi.

Di mata Mama aku lumpur yang telah bercampur ta'i. Tak ada yang indah
untuk dibanggakan, bau dan kotor. Terkadang aku berpikir, "Apakah aku
ini anak tiri?", jika bukan, kenapa aku selalu yang menjadi korban.
"Apa karena aku tidak pintar menjual harga diri keluarga", seperti
yang telah dilakukan kakak kedua dan adikku. Tapi anehnya apa yang
telah mereka berdua lakukan untuk menikah, Mama tidak pernah malu
bahkan merasa terinjak harga dirinya, walaupun sudah menjadi rahasia
umum bahwa anak keduanya telah memperkosa sedangkan anak bungsunya
telah diperkosa.

Berbeda dengan apa yang aku dan kakak pertamaku alami dalam
pernikahan, walaupun pada akhirnya Mama menerima tetapi itu butuh
waktu yang cukup lama setelah mengarungi lautan air mata. Pernikahan
Kakak pertamaku yang direstui setengah hati tetao berjalan walaupun
harus berlangsung di tempat nenek. Hal itu terjadi karena Mama tidak
menyetujui pernikahan itu, jadi mereka tidak diijinkan menikah di
rumah yang kini telah menjadi puing. Hal yang sama terjadi dengan
diriku, pernikahanku tidak pernah mendapat restu, walau Mama datang
dalam akad nikah, tetapi Mama tidak mau ada dalam resepsi pernikahan
itu. Seandainya saat itu aku menghamili lebih dulu mungkin Mama akan
berbeda pandangan, aku yakin Mama akan sayang kepada aku dan juga
istriku.

Tadinya aku mau membatalkan pernikahan ini, karena takut dosa kepada
orang tua. Tetapi setelah aku berbicara dengan beberapa teman dan
rekan di kantor akhirnya aku beranikan diri maju dengan niat ibadah.
Bahkan seorang temanku, ustad Herry meyakinkan bahwa apa yang aku
lakukan itu tidak melanggar hukum agama. Menurutnya jika orang tua
meminta yang aku melakukan perbuatan tidak baik dan tidak aku lakukan,
maka aku tidak akan merima dosa. Tetapi jika orang tua meminta aku
melakukan hal yang baik dan tidak aku lakukan, maka aku akan menerima
azab dari Allah. Menurutnya pernikahan itu merupan salah satu dari
ibadah, jika kita dilarang melaksanakan ibadah, maka kita berhak tidak
melaksanakan perintah itu, walaupun datangnya dari orang tua, seperti
Nabi Ibrahim, katanya memberikan contoh.

Aku tidak tau apa yang membuat Mama buta dan tidak dapat berpikir
jernih. Mama selama ini menilai seseorang hanya dari ekonominya saja.
Jika ekonominya berada dibawah Mama pasti akan menilai keluarga itu
tidak baik. Seharusnya Mama yang telah banyak menelam asam garam
kehidupan dapat belajar dari apa yang telah menimpa keluarganya selama
ini. Setelah itu baru memutuskan apakah kita lebih hina atau lebih
baik. Maaf Ma, aku tulis ini karena aku sayang Mama**

No comments: