Sunday, June 14, 2009

[Berpikir Bebas 846] Kebebasan Beragama Adalah Kecemerlangan Bangsa

*Jakarta* - Kebebasan beragama di Indonesia adalah salah satu dari
kecemerlangan yang diciptakan para pendiri bangsa ini. Di tengah
keberagaman latarbelakang keyakinan dan agama, pada proklamasi 17
Agustus 1945, Indonesia bisa berdiri sebagai sebuah negara kebangsaan.

Hal itu disampaikan Prabowo Subianto dalam acara dialog dengan kaum muda
Kristiani di Ruang Serba Guna, Komplek Apartemen Robinson, Jakarta
Utara, Sabtu (13/6/2009) malam.

"Kita bersyukur negara kita bukan negara agama. Semua agama sederajat
untuk menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinan masing-masing," kata
cawapres pendamping Megawati Soekarnoputri ini.

Kecemerlangan lain, kata dia, adalah dipilihnya bahasa Riau (Melayu)
sebagai bahasa persatuan. Meski suku Riau bukan mayoritas, para pendiri
bangsa bisa dengan cemerlang memilihnya sebagai bahasa yang
mempersatukan nusantara.

Pancasila, kata Prabowo, juga adalah kecermelangan yang dibuat para
pendiri bangsa ini.

"Di dalam 5 kalimat, dasar seluruh kehidupan bangsa ini berdiri," jelasnya.

Menurut Prabowo, Pancasila dengan sistem nilai yang terkandung di
dalamnya adalah yang terbaik bagi kehidupan bagsa ini. Ia khawatir,
tanpa Pancasila kehidupan bangsa yang plural tidak bisa bertahan.

Friday, June 12, 2009

[Berpikir Bebas 844] Re: [info] prabowo kembali permasalahan Anggaran Militer

Katanya  Musibah ??? _kita semua tdk menginginkannya tp hal itu terjadi ???
^^^Dilihat dari sudut pandang mana dulu<<< ??? Lha usaha untuk selamatnya saja nggak maximal,gmn bisa dibilang ini musibah<<<,>>>> Paling tepatnya ini adalah <<<- Accident ini boleh dibilang HUMAN ERROR->>>,karena usaha untuk selamat cuma dipandang sebelah mata.
^^^Gampangannya gini,pesawat Militer kita yg keseringan jatuh itu<<<<- semua orang juga tau kalau semua sdh berumur & sdh uzur,trus mengenai perawatannya,alias MAITENANCE,yg notabene sangat2 berpengaruh pd keselamatan dr Penerbangan,juga tdk diprioritasnkan.
^^^Kalau saya sih nggak percaya 100% bila ini musibah^^^karena usaha dari selamatnya tadi sangat minim^^^
^^^Musibah sangat berhubungan erat dgn SANG-PENCIPTA.^^^
^^^Berusaha maximal dulu untuk selamat,baru BERHARAP/BERDO'A^^^

Lanjuuutttt<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>$$$

2009/6/9 samuel <samuel.denis77@gmail.com>

*JAKARTA, KOMPAS.com* - Calon Wakil Presiden dari PDI Perjuangan dan
Gerindra, Prabowo Subianto mengatakan kecelakaan pesawat milik TNI,
termasuk kecelakaan helikopter jenis Bolcow BO 105 di Cianjur, Jawa
Barat, tidak terlepas minimnya anggaran militer dan pertahanan. "Saya
kira memang ada masalah karena minimnya anggaran, tapi hal itu jangan
dipolitisasi," kata Prabowo Subianto ketika melayat almarhum Kolonel
Ricky Samuel di persemayaman sementara di Balai Komando Kopassus
Cijantung, Jakarta, Selasa (9/6).

Soal anggaran militer dan pertahanan, kata dia, semua pihak menginginkan
yang terbaik, yakni lebih baik dari saat ini. "Tapi kita juga harus
menyadari kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum memungkinkan
meningkatkan anggaran tersebut," kata mantan Komandan Jenderal Kopassus itu.

Menurut dia, diharapkan perekonomian Indonesia bisa tumbuh lebih baik,
sehingga anggaran militer dan pertahanan juga bisa lebih baik. Ketika
ditanya, jika terpilih sebagai Wakil Presiden (Wapres) apakah akan
meningkatkan anggaran militer dan pertahanan, Prabowo mengatakan,
anggaran tersebut bisa ditingkatkan jika perekonomian Indonesia
diperbaiki dan kekayaan negara diselamatkan.

Prabowo juga menyatakan belasungkawa yang dalam atas gugurnya tiga
prajurit TNI pada kecelakaan pesawat helikopter di Cianjur, Senin (8/6).
Menurut dia, musibah jatuhnya pesawat helikopter jenis Bolcow BO 105 di
Cianjur, Jawa Barat, adalah salah satu risiko yang harus dihadapi
prajurit TNI.

Diakuinya, kehidupan militer itu penuh risiko tapi harus dihadapi,
termasuk risiko kecelakaan pesawat. "Kecelakaan pesawat itu musibah,
kita semua tidak menginginkannya tapi hal itu terjadi," katanya.

Pesawat helikopter jenis Bolcow BO 105 yang jatuh di Cianjur, Jawa
Barat, Senin (8/6) siang, dalam perjalanan meninjau latihan peningkatan
keterampilan perorangan anggota TNI. Selain Kolonel Ricky Samuel, dua
prajurit TNI lainnya yang gugur adalah Kapten Inf Agung Gunanto dan
Lettu Pnb Yuli Sasongko.

sumber:
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/10/0231201/Prabowo.Kembali.Permasalahkan.Anggaran.Militer

GO PRABOWO GO.... GO PRABOWO GO....
hanya ingin share...

[Berpikir Bebas 845] 1 Pidato 3 Sindiran Dari SBY

*Malang* - Berbeda dari biasanya, materi pidato politik capres SBY dalam
kampanyenya di Malang terasa lebih 'menyerang'. Pada seri pertama safari
kampanye Pilpres 2009, dia menyindir para kompetitornya.

Sindiran pertama dia tujukan pada cawapres Prabowo Subijanto yang
menjanjikan program ekonomi kerakyatan. SBY menegaskan bahwa
pemerintahnnya selama hampir lima tahun ini justru telah menjalankan
praktek-praktek dan program ekonomi pro rakyat.

"Ada yang bilang ekonomi kerakyatan, saya belum melihat benar apa
konkritnya. Justru yang ada adalah apa yang kita telah lakukan. Bantuan
modal usaha, pemberdayaan petani dan nelayan, bantuan Rp 1-3 miliar per
kecamatan untuk gerakan ekonomi, ya itulah ekonomi kerakyatan. Itulah
ekonomi yang berpihak pada rakyat," seru SBY dalam orasi di GOR Ken
Arok, Malang, Jatim, Jumat (12/6/2009).

Sindirian juga diarahkannya kepada capres Megawati Soekarnoputri yang
menjanjikan berbagai program peningkatan kesejahteraan rakyat lebih
baik. SBY pun mempertanyakan mengapa program itu tidak Mega jalankan
ketika menjabat Presiden RI.

Capres JK sudah tentu tidak luput dari aksi sindiran SBY. Isu kampanye
JK yang kerap mengkritik program-program yang sedang pemerintah
jalankan, SBY sebut bukanlah perilaku politik yang baik karena JK adalah
bagian dari pemerintahan yang dikritiknya.

"Apa yang dijanjikan sekarang, dulu tidak dilaksakanakan oleh mereka
yang karena sejarah punya kesempatan melaksanakan. Juga bukan menggebuki
pemerintah padahal yang bersangkutan masih berada di dalam pemerintahan
. Kita tidak melaksanakan yang seperti itu, karena secara etika politik
terus terang kurang baik," ujar SBY.

Wednesday, June 10, 2009

[Berpikir Bebas 843] Hidup Kita "Nasib" atau "Takdir"

HIDUP kita 'Nasib' atau 'Takdir'
Tri Gozali, Jumat, 2009 Mei 29

Sangat menarik untuk melihat beberapa dari kita begitu yakin dengan 'nasib' buruk kita, atau 'takdir' kita untuk tidak sukses atau tidak berhasil di bidang kita. Apalagi seolah kalau kita melakukan sesuatu untuk lebih berhasil atau lebih sukses dari kondisi kita sekarang, berarti kita 'melawan' takdir atau nasib tadi. Lebih menarik lagi, beberapa kita merasa tidak menginginkan hal-hal lebih baik untuk kita, karena menurut kita 'takdir' kita adalah apa yang sedang kita hidupi dan nikmati sekarang. Bahkan, walau sejarah sudah membuktikan berkali-kali betapa orang-orang tertentu melewati batas normal dan menghasilkan yang luar biasa sekalipun, kita hanya sampai batas kagum, dan bergumam, "Itu memang sudah 'takdir' mereka!"
Yang jadi pertanyaan khas adalah: darimana kita tahu bahwa itu 'takdir' kita? Bagaimana kita sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah 'nasib' kita? Bagaimana pula kita yakin mengenai takdir orang lain?

Oke, mari kita lihat beberapa kemungkinan.
Satu, kita sudah berusaha berkali-kali, tapi tidak melihat dan merasakan perubahan. Generalisasi mudah: sudah takdir saya untuk 'tetap' begini.
Dua, kita sudah menjalankan beberapa inisiatif, tapi tidak melihat dan merasakan perubahan. Generalisasi mudah: saya sudah coba 'semua' cara tapi keadaan tidak berubah, saya sudah ditakdirkan begini.
Tiga, kita sudah melihat beberapa orang dalam jangkauan peta realita kita yang mirip status atau latar belakang dengan kita, yang tidak berhasil atau ber-'nasib' buruk. Generalisasi sederhana: mereka juga tidak berhasil, saya tidak lebih baik dari mereka! 
Empat, kita melihat atau mendengarkan betapa di luar sana persaingan dan kompetisi di konteks yang kita geluti semakin sempit dan terlalu banyak orang yang bermain di lapangan yang sama. Generalisasi mudah: saya tidak lebih baik dari mereka yang bersaing, mana mungkin ada kesempatan untuk saya?

Lima, ...........Anda bisa mengisi sendiri dengan asumsi Anda mengenai kemungkinan lain.
Nah, yang menarik, dari hal-hal di atas, walaupun menyangkut asumsi 'nasib' atau 'takdir', ternyata bentuknya adalah GENERALISASI dari apa yang dilihat, didengar, dialami. Tentu saja, tidak ada satupun kita yang benar-benar mendapatkan 'bisikan' dari Tuhan bahwa 'nasib' atau 'takdir' kita sudah demikian? Tentu saja tidak satupun dari kita 'berbincang-bincang' dengan Tuhan lalu mendapatkan penjelasan langsung dari Tuhan tentang apa yang menjadi 'nasib' kita, bukan? Kita hanya menyimpulkan saja! Kita hanya membuat kesimpulan berdasarkan jangkauan penginderaan kita saja, bahwa itu 'nasib' atau 'takdir' kita.
Lalu, kalau begitu, darimana kita tahu 'nasib' kita sebenarnya? Bagaimana kita tahu 'takdir' kita? Kalau memang kita percaya bahwa setiap kita hidup dalam garis yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, apakah ada cara untuk mengetahuinya?
Apakah dari peramal nasib? Apakah dari guratan tangan? Apakah dari tanggal lahir? Apakah dari zodiac? Shio? Atau dari setiap langkah kita? Atau dari setiap kejadian yang kita alami?
Atau, apakah kita boleh berasumsi hanya dari pengalaman dan perasaan kita saja? Dan sementara kita mau berasumsi, apakah kita diam, menunggu perkembangan 'nasib', atau kita boleh tetap melakukan sesuatu untuk mencari 'nasib' kita yang sebenarnya? Sampai di mana kita berhenti dan MEMUTUSKAN bahwa itu 'nasib' kita? Bagaimana kita tahu?
Saya pernah tuliskan ini mengenai 'batasan' kita; bahwa BETUL SEKALI manusia punya keterbatasan. BETUL SEKALI manusia punya batasan. Dan dalam terminologi lain, batasan ini bisa serupa dengan asumsi 'nasib' atau 'takdir'. Dan memang, sangat mungkin manusia punya batasan masing-masing atau 'nasib' atau 'takdir' masing-masing. Tapi tidak satupun dari kita yang tahu batasan tersebut. Kita tidak tahu secara pasti batasan kita atau 'nasib' atau 'takdir' kita masing-masing. Kita hanya berasumsi, kita hanya berpersepsi mengenai batasan tersebut, sebatas penginderaan kita saja. Sebatas penglihatan, pendengaran, pengalaman kita saja. Dan, kalau memang kita tidak tahu secara pasti batasan ini, bukankah menarik mencari tahu dengan terus mendaki, naik, berkembang, bertambah baik, pintar, mampu, dan seterusnya? Dan kadang malah mengejutkan diri kita sendiri dengan apa yang bisa kita capai?
Beberapa kita akhirnya berhenti melakukan apapun dan membuat kesimpulan atau asumsi final tentang 'nasib' kita, sementara beberapa tidak pernah berhenti 'mencari' dan terus melakukan apapun. Persamaannya: sama-sama tahu bahwa ada 'batasan' atau ada 'takdir' untuk setiap manusia. Perbedaannya: satu berhenti mencari, satu terus mencari. Ada persamaan satu lagi: di titik KEPUTUSAN tersebut, keduanya sama-sama MEMUTUSKAN mengenai 'batasan'-nya. Yang berhenti MEMUTUSKAN bahwa itulah batasan atau 'nasib' atau 'takdir'-nya, sedangkan yang terus mendaki MEMUTUSKAN bukan itu batasannya atau 'nasib'-nya tidak berhenti di situ.
Anda yang mana? Sampai batas mana Anda bersedia terus berjalan? Sampai batas mana Anda bersedia memberikan segalanya?


Tuesday, June 9, 2009

[Berpikir Bebas 842] [info] prabowo kembali permasalahan Anggaran Militer

*JAKARTA, KOMPAS.com* - Calon Wakil Presiden dari PDI Perjuangan dan
Gerindra, Prabowo Subianto mengatakan kecelakaan pesawat milik TNI,
termasuk kecelakaan helikopter jenis Bolcow BO 105 di Cianjur, Jawa
Barat, tidak terlepas minimnya anggaran militer dan pertahanan. "Saya
kira memang ada masalah karena minimnya anggaran, tapi hal itu jangan
dipolitisasi," kata Prabowo Subianto ketika melayat almarhum Kolonel
Ricky Samuel di persemayaman sementara di Balai Komando Kopassus
Cijantung, Jakarta, Selasa (9/6).

Soal anggaran militer dan pertahanan, kata dia, semua pihak menginginkan
yang terbaik, yakni lebih baik dari saat ini. "Tapi kita juga harus
menyadari kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum memungkinkan
meningkatkan anggaran tersebut," kata mantan Komandan Jenderal Kopassus itu.

Menurut dia, diharapkan perekonomian Indonesia bisa tumbuh lebih baik,
sehingga anggaran militer dan pertahanan juga bisa lebih baik. Ketika
ditanya, jika terpilih sebagai Wakil Presiden (Wapres) apakah akan
meningkatkan anggaran militer dan pertahanan, Prabowo mengatakan,
anggaran tersebut bisa ditingkatkan jika perekonomian Indonesia
diperbaiki dan kekayaan negara diselamatkan.

Prabowo juga menyatakan belasungkawa yang dalam atas gugurnya tiga
prajurit TNI pada kecelakaan pesawat helikopter di Cianjur, Senin (8/6).
Menurut dia, musibah jatuhnya pesawat helikopter jenis Bolcow BO 105 di
Cianjur, Jawa Barat, adalah salah satu risiko yang harus dihadapi
prajurit TNI.

Diakuinya, kehidupan militer itu penuh risiko tapi harus dihadapi,
termasuk risiko kecelakaan pesawat. "Kecelakaan pesawat itu musibah,
kita semua tidak menginginkannya tapi hal itu terjadi," katanya.

Pesawat helikopter jenis Bolcow BO 105 yang jatuh di Cianjur, Jawa
Barat, Senin (8/6) siang, dalam perjalanan meninjau latihan peningkatan
keterampilan perorangan anggota TNI. Selain Kolonel Ricky Samuel, dua
prajurit TNI lainnya yang gugur adalah Kapten Inf Agung Gunanto dan
Lettu Pnb Yuli Sasongko.

sumber:
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/10/0231201/Prabowo.Kembali.Permasalahkan.Anggaran.Militer

GO PRABOWO GO.... GO PRABOWO GO....
hanya ingin share...

Saturday, June 6, 2009

[Berpikir Bebas 841] Re: berpikikir dan berkomentar tak seharusnya dijeruji ol undang2

berpikir memang tidak ada salahnya, tapi saat diungkapkan dalam
kata-kata, bisa saja melukai perasaan orang lain.

On 6/4/09, wiso kresno <wisokresno@gmail.com> wrote:
> mamang benar adanya, berfikir bebas itu tidak boleh dikerangkeng, apalgi
> diborgol, tetapi berfikir bebas masih harus dibatasi dengan aturan2, dan itu
> adalah fungsi negara, persoalanya bukan pada aturan, tetapi pada motif
> orang2 yang membuat aturan, komptensi pembuat undang2. karena anarkisme
> berfikir harus diminimalisir, tetapi pikiran kreatif tidak boleh dibunuh
> oleh siapapun, kecuali Tuhan.
>

Thursday, June 4, 2009

[Berpikir Bebas 840] Re: berpikikir dan berkomentar tak seharusnya dijeruji ol undang2

mamang benar adanya, berfikir bebas itu tidak boleh dikerangkeng, apalgi diborgol, tetapi berfikir bebas masih harus dibatasi dengan aturan2, dan itu adalah fungsi negara, persoalanya bukan pada aturan, tetapi pada motif orang2 yang membuat aturan, komptensi pembuat undang2. karena anarkisme berfikir harus diminimalisir, tetapi pikiran kreatif tidak boleh dibunuh oleh siapapun, kecuali Tuhan.

[Berpikir Bebas 839] berpikikir dan berkomentar tak seharusnya dijeruji ol undang2

berkomentar menyampaikan ide atau juga mengeluarkan uneg2 isi hati
kita adalah hak individu kita seharusnya undang undang tak menjadikan
hak untuk berpendapat menjadi prematur