Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh
02 - 08 Nopember 2007
Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di
sini.
Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.
Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).
Dalam edisi ini
1) Kreator Little Mosque, dari Balik Layar oleh Farah Dib
Dalam artikel pertama dari seri tentang usaha-usaha bisnis bersama
Muslim-Barat, Farah Dib, lulusan pasca sarjana dari Maxwell School of
Citizenship and Public Affairs di Syracuse University. Artikel ini
melihat ke balik layar pengalaman kreator Little Mosque on the
Prairie, Zarqa Nawaz, ketika ia berbagi sebagian pengalamannya sebagai
seorang perempuan Muslim yang bekerja di lingkungan yang kebanyakan
non-Muslim.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 30 Oktober 2007)
2) Menanam Pohon dari Cabang Zaitun oleh Saad Al-Ghamdi
Saad Al-Ghamdi, seorang penulis Saudi, melihat "resolusi Ramadan"
terbaru yang diloloskan oleh Kongres dengan menolak "kebencian,
kemunafikan dan kekerasan yang ditujukan kepada umat Muslim di Amerika
Serikat dan seluruh dunia". Dengan melihat resolusi ini sebagai sarana
pembukaan saluran bagi dialog antara dunia Barat dan Muslim, ia
menguraikan kemungkinan-kemungkinan bagi yang lain untuk menanggapinya
dengan baik.
(Sumber: Al Watan, 30 Oktober 2007)
3) ~Pandangan Kaum Muda~ Umat Muslim Eropa Memutuskan: Asimilasi atau
Isolasi? oleh Sulaiman Al-Anbar
Sulaiman Al-Anbar, mahasiswa hubungan internasional di American
University, Sharjah, menilai isu integrasi dan asimilasi menimpa
banyak umat Muslim di Eropa. Al-Anbar menanyakan, "Haruskah para
imigran dibuat menyesuaikan diri dengan tradisi, budaya, dan kebiasaan
dari negara tuan rumah mereka, atau apakah merupakan hak para imigran
dan keluarga mereka untuk mempertahankan tradisi-tradisi dan nilai-
nilai dari negara asal mereka?"
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 30 Oktober 2007)
4) Simpan Meteran Anda untuk Anda Sendiri oleh Yaser Khalil
Simpan Meteran Anda untuk Anda Sendiri oleh Yaser Khalil
Peneliti dan wartawan Mesir, Yaser Khalil, percaya bahwa dalam rangka
mewujudkan kerjasama dan perdamaian antara masyarakat Barat dan
Muslim, orang harus berhenti menilai yang lain berdasarkan sistem
norma dan kebiasaan mereka sendiri. Dengan memberi contoh, ia
mengusulkan kita menghindari "menjauhkan kita sama-sama saling
membandingkan perilaku dan keyakinan kita yang secara mendasar tidak
sama, dan dari mengimpor penyelesaian yang hanya menunda permasalahan
hari ini ke esok hari".
(Sumber: Middle East Times, 23 September 2007)
5) Seorang Palestina Memperoleh Kekuatan Berkat Pengalaman Badai
Katrina oleh Jan McGirk
Koresponden khusus USINFO Jan McGirk menyorot nilai dari peluang
belajar di luar negeri melalui contoh seorang mahasiswa Palestina yang
mengawali pengalamannya di Amerika Serikat di tengah bencana badai
Katrina. Terlepas hari-hari pertamanya yang traumatis di negara
tersebut, ia juga merasakan kebaikan orang-orang asing Amerika dan
mengembangkan dorongan pribadi untuk meraih keberhasilan sekembalinya
ke Palestina.
(Sumber: USINFO, 24 Oktober 2007)
1) Kreator Little Mosque, dari Balik Layar
Farah Dib
Washington, DC - Tahun ini menandai penayangan perdana sebuah komedi
baru di televisi Kanada: Little Mosque on the Prairie. Pertunjukan
tersebut - mengingatkan kembali seri televisi popular 1970-an Little
House on the Prairie- merupakan hasil karya terakhir Zarqa Nawaz,
pendiri FUNdamentalist Films dan produser dari empat film pendek dan
dokumenter, Me and the Mosque. Sitkomnya telah menarik rata-rata 1,2
juta pemirsa per episode dan telah dibeli oleh perusahaan televisi
Prancis Canal+ untuk distribusi di Switzerland dan negara-negara
Afrika berbahasa Prancis. Sementara Nawaz mempersiapkan musim kedua
tayangan tersebut, ia berbagi sebagian pengalamannya sebagai seorang
perempuan Muslim yang bekerja di lingkungan yang penduduknya mayoritas
non-Muslim.
Ketika Nawaz pertama kali berpikir tentang penulisan sebuah sitkom
tentang masyarakat Muslim yang hidup di sebuah kota kecil Kanada, ia
melempar gagasan tersebut kepada WestWind Pictures, sebuah perusahaan
film dan televisi independen yang memiliki kantor di Regina,
Saskatchewan tempat tinggal Nawaz. Dengan bantuan dari mitra lokal
barunya, ia membawa gagasan tersebut ke CBC Television, yang
menanamkan modalnya untuk mengembangkan kedelapan episode bagi musim
pertama pertunjukan tersebut. Gagasan tersebut diterima dengan baik
oleh kedua mitra Kanada itu, karena, menurut Nawaz, "Pertunjukan
tersebut merupakan yang pertama di kalangannya dan sesuai dengan
konteks global dewasa ini."
Kebaruan pertunjukan tersebut berasal dari keyakinan Nawaz bahwa hanya
seorang penulis Muslim yang dapat menghasilkan dan melempar gagasan
seperti itu - mengingat ia merupakan bagian dari bagian kecil itu di
Kanada. Memiliki perspektif Muslim tersebut penting artinya, karena
non-Muslim tidak akan benar-benar dapat menangkap etiket kehidupan
seorang Muslim, demikian penjelasan Nawaz. Ia percaya perannya adalah
untuk menginformasikan rekan-rekan non-Muslimnya tentang rincian-
rincian tersebut, yang cukup menantang, karena ia harus tetap mencari
perbedaan dan nuansa karakter dalam interaksi-interaksi mereka.
Pertunjukan tersebut juga mempekerjakan seorang konsultan keagamaan
untuk memeriksa naskah dan memastikan kebenaran serta ketepatannya
menggambarkan berbagai kebiasaan dan gaya hidup Muslim.
Namun, bekerja dalam sebuah lingkungan non-Muslim juga memiliki
beberapa keuntungan. Ia membantu membuat pertunjukan tersebut menjadi
universal, katanya, dan membuat cerita tersebut memiliki kesesuaian
dengan semua orang, tidak hanya umat Muslim. Sementara rekan-rekan
Nawaz menjadi semakin akrab dengan masyarakat Muslim, mereka mampu
berperan dalam penulisah naskah, menjauhi cerita-cerita yang
berdasarkan isu ke arah kisah-kisah yang berdasarkan karakter. Ini
penting artinya karena pertunjukan tersebut tidak pernah ditujukan
khusus untuk penonton Muslim, tetapi hanya sekedar "sebuah pertunjukan
televisi tentang orang-orang yang kebetulan Muslim."
Memang, penonton utama acara tersebut adalah non-Muslim, dan ini tidak
diragukan lagi telah memberikan dampak yang positif bagi pengertian
lintas kebudayaan. Banyak orang Barat yang jarang melihat media yang
menampilkan seorang Muslim berhubungan dengan sesama dalam kehidupan
keseharian mereka.
Little Mosque on the Prairie menggambarkan mereka sebagai pasangan dan
orang tua yang bekerja, membayar tagihan, makan malam bersama, dsb.
Ketika gambaran tentang Islam yang ada di Barat cenderung negatif,
pertunjukan tersebut memberikan gambaran yang menyegarkan tentang para
pemeluk agama tersebut - seorang dokter perempuan tegas yang
mengenakan jilbab, misalnya. Nawaz percaya bahwa "komedi adalah bahasa
universal yang membantu mengalahkan stereotipe dan kesalahpahaman."
Memang melalui komedilah pertunjukannya menarik beragam kalangan
penonton dan mengatasi kesalahpengertian.
Menurut Nawaz, keberhasilan pertunjukan tersebut, yang begitu besar,
merupakan hasil dari penulisan naskah yang sangat baik dan keputusan
untuk mempekerjakan aktor-aktor berdasarkan kemampuan mereka, bukan
agama mereka. Pertunjukan tentang umat Muslim tidak akan menarik
penonton hanya karena kemuslimannya belaka, Nawaz berpendapat; ia
harus dibuat dengan baik. Para penonton menginginkan acara televisi
yang menghibur dan berkualitas, yang seharusnya menjadi sasaran utama
para produsernya - menciptakan sebuah pertunjukan yang menghibur,
namun juga bermakna. Ketika kedua elemen itu bergabung, peringkat yang
tinggi cenderung akan mengikutinya.
Terlebih lagi, Nawaz beranggapan bahwa keberhasilan pertunjukan
tersebut dapat direka ulang dalam dunia Muslim, di kalangan orang-
orang yang ingin belajar tentang cara hidup umat Muslim yang unik di
Amerika Utara. Misalnya, di Kanada, masjid-masjid lebih berorientasi
kepada masyarakat, sementara di Timur, menurut Nawaz, "masjid
merupakan wilayah pribadi laki-laki". Nawaz dikenal karena
pembahasannya terhadap isu yang begitu sensitif, karena ia yakin bahwa
tak ada satu topik pun yang tidak dapat disentuh selama orang
mendekatinya dengan rasa hormat dan penuh martabat. Dalam pendapatnya,
isu-isu seperti seksisme, rasisme dan ekstremisme penting untuk
dikenali, karena mereka sangat hidup dalam banyak masyarakat Muslim.
Ia berpendapat, "Selama Anda bersikap penuh hormat dan Anda
menyampaikannya dengan cara yang penuh tanggung jawab, Anda memiliki
kebebasan yang luas." Dinilai dari keberhasilan pertunjukan
televisinya, mungkin ia memang benar.
###
* Farah Dib adalah lulusan Maxwell School of Citizenship and Public
Affairs di Syracuse University, tempat ia menyelesaikan gelar S2-nya
dalam administrasi publik. Artikel ini merupakan bagian dari seri
tentang usaha-usaha kerjasama bisnis antara dunia Muslim dan Barat
yang disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan
dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 30 Oktober 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak publikasi.
2) Menanam Pohon dari Cabang Zaitun
Saad Al-Ghamdi
Jeddah, Arab Saudi - Pada awal bulan ini Kongres Amerika Serikat
meloloskan sebuah resolusi untuk:
1. Mengakui agama Islam sebagai salah satu agama besar dunia.
2. Menyatakan persahabatan dan dukungan bagi umat Muslim di Amerika
Serikat dan dunia.
3. Mengakui datangnya bulan suci Ramadhan sebagai saat untuk berpuasa
dan pembaruan spiritual, serta menyatakan rasa hormat bagi umat Muslim
di Amerika Serikat dan seluruh dunia.
4. Menolak kebencian, kemunafikan, dan kekerasan, yang diarahkan
kepada umat Muslim di Amerika Serikat dan seluruh dunia.
5. Memuji umat Muslim di Amerika Serikat dan seluruh dunia yang telah
menolak tafsiran-tafsiran Islam oleh gerakan-gerakan Islam yang
membenarkan dan mendorong kebencian, kekerasan, dan terorisme.
Merupakan hal yang cukup menggembirakan bahwa keputusan ini diambil
secara bulat, dan oleh sebuah kelompok yang mewakili rakyat Amerika.
Resolusi yang diloloskan oleh Dewan Perwakilan AS pada tanggal 2
Oktober 2007 tersebut diusulkan oleh Wakil Texas Eddie Bernice Johnson
dan disponsori oleh 30 orang anggota lainnya, termasuk umat Muslim
pertama yang terpilih sebagai anggota Kongres, Keith Ellison.
Ini bukan resolusi pertama yang mencerminkan posisi Kongres AS
terhadap umat Muslim. Sebuah resolusi sebelumnya pernah diloloskan
pada tanggal 14 September 2001 - tiga hari setelah serangan 11/9- yang
memperingatkan rakyat Amerika terhadap kemunafikan buta yang tidak
membedakan antara arus utama Muslim dan mereka yang telah memilih
jalan kekerasan dan kehancuran. Cepatnya resolusi itu disetujui
menunjukkan bahwa Kongres mengakui potensi dampak-dampak dari serangan
11/9 terhadap umat Muslim.
Resolusi-resolusi standar seperti ini membuka saluran-saluran bagi
dialog antara dunia Barat dan Muslim. Dengan menetapkan standar
masyarakat bagi rasa hormat dan toleransi agama tidak dapat dilakukan
oleh satu pihak saja, jika tidak prakarsa-prakarsa seperti itu akan
mendatangkan kegagalan pada awalnya. Isu tersebut mengharuskan setiap
orang, khususnya umat Muslim, merengkuh semua kesempatan untuk
melibatkan diri dalam dialog dan menanamkan nilai-nilainya berdasarkan
rasa hormat terhadap satu sama lain demi kemanfaatan umat manusia, di
mana pun - dan siapa pun - mereka. Biar bagaimana, agama bertujuan
memperluas kemanfaatan dan kemaslahatan manusia.
Media seharusnya mempertimbangkan prakarsa ini sebagai sebuah
kesempatan untuk mengundang para anggota Kongres menulis artikel opini
dan/atau berkomentar di televisi dan radio, menyampaikan pandangan
mereka tentang masalah ini kepada dunia. Dunia harus tahu bahwa
Amerika Serikat, atau yang sering disebut sebagai "panci peleburan"
tersebut, tidak seluruhnya terdiri atas para neo-konservatif. Malah,
ia merupakan sebuah negara yang luas dan beragam, yang memungkinkan
para warga negaranya mengejar kebahagiaan.
Dewan Penasihat dan parlemen di negara-negara Arab dan Muslim
seharusnya juga merayakan langkah yang diambil Kongres ini, menyatakan
rasa terima kasih dan penghargaan mereka, dan membuka pintu bagi
prakarsa-prakarsa baru yang mendorong rasa menghormati di antara para
penganut semua agama. Kegiatan-kegiatan seperti itu pada akhirnya akan
membutuhkan perlu diatasinya isu-isu ketidakadilan, agresi, dan
pelanggaran-pelanggaran hak-hak asasi manusia oleh entitas-entitas
politik. Kedudukan yang berani dan telah lama diharapkan melawan
kekerasan dan kecurigaan harus diambil.
Sebagian kalangan mungkin mengharapkan Dewan Penasihat di Kerajaan
Arab Saudi untuk mengambil langkah ke arah ini, khususnya karena
banyak dari para anggotanya yang terkemuka tersebut aktif dalam dialog
lokal, regional dan internasional dan telah memiliki rekam jejak yang
berhasil dalam manajemen, kepemimpinan dan politik.
Langkah-langkah lain seperti itu seharusnya diambil oleh Liga Dunia
Islam, Simposium Kaum Muda Muslim Internasional, Organisasi Konferensi
Islam, dan organisasi-organisasi lain serupa. Telah tiba waktunya
untuk membahas fenomena terorisme dengan lebih mendalam untuk bekerja
bersama memberantas akar-akarnya.
Resolusi Kongres ini dapat berfungsi sebagai landasan tempat mereka
yang bijak dan berpandangan ke depan dapat membangun rasa saling
menghormati. Dunia semakin lama semakin menegang, dan pada saat yang
sama dunia semakin lama semakin kecil, karena kemajuan-kemajuan dalam
teknologi komunikasi. Orang bijak menyatakan bahwa kita harus
mengambil kesempatan untuk menanggapi segala dan semua isyarat yang
bertujuan untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan bagi semua orang.
Tidak ada kesempatan lebih baik daripada ini.
###
* Saad Al-Ghamdi adalah seorang penulis Saudi. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Al Watan, 30 October 2007, www.alwatan.com.sa
Telah memperoleh hak publikasi.
3) ~Pandangan Kaum Muda~ Umat Muslim Eropa Memutuskan: Asimilasi atau
Isolasi?
Sulaiman Al-Anbar
Sharjah, UEA- Terlepas dari keragaman dalam budaya nasional dan nuansa-
nuansa dari agama dan identitas pribadi mereka; Umat Muslim dunia pada
umumnya merasa mereka merupakan bagian yang sama dari masyarakat
seluruh dunia. Namun, umat Muslim yang tinggal di Eropa sering
berjuang dengan agama dan identitas mereka dengan cara yang tidak
pernah dirasakan mereka yang hidup di Timur Tengah.
Di Eropa, toleransi dan keikusertaan umumnya dipraktikkan, tetapi
penerimaan luas terkadang terancam oleh kelompok-kelompok sayap kanan
ekstrem. Sebagai hasilnya, walaupun banyak umat Muslim di mayoritas
negara-negara Muslim yang relatif menikmati rasa keamanan beragama,
saudara-saudara mereka di Eropa kelihatannya berada dalam keadaan
defensif.
Ini diperlihatkan dengan baik oleh sebuah contoh dari Prancis. Menurut
laporan BBC, Islam tampak sebagai tantangan terbesar bagi model
sekuler, khususnya tahun ini, ketika Prancis merayakan peringatan
seratus tahun pemisahan gereja dan negara. Rasa takut ini berakar dari
semakin tumbuhnya "perkampungan kumuh" di pinggiran kota Paris, Lille,
Lyon, Marseille, dan kota-kota lain, yang sebagian diantaranya
memiliki sejumlah besar warga migran generasi ketiga dari Aljazair,
Maroko dan Tunisia. Hingga beberapa tahun lalu, mereka disebut sebagai
Arab Prancis, tetapi setelah 11/9, mereka disebut Muslim.
Islam secara umum dianggap sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat
di Eropa, dengan imigrasi dan tingkat kelahiran bayi di atas rata-rata
menyebabkan peningkatan cepat jumlah penduduk Muslim. Angkat tepatnya
umat Muslim sulit ditentukan karena angka-angka sensus sering
dipertanyakan dan banyak negara memilih untuk tidak mengumpulkan
informasi seperti itu. Namun, dipercaya bahwa ada sekitar 11 juta umat
Muslim dengan asal yang berbeda-beda yang saat ini tinggal di Eropa,
selain dari warga asli Muslim Eropa. Sebagian telah dinaturalisasi
sebagai warga negara dari negara-negara tempat mereka tinggal, dan
sebagian memang telah ada selama berabad-abad di negara-negara seperti
Bosnia, Albania, Kosovo, atau Yunani. Sebagian lahir dari dari orang
tua yang berasal dari luar, sementara yang lainnya berpindah agama.
Prancis memiliki jumlah warga Muslim terbesar di Eropa, sekitar 7%
dari seluruh populasi. Beberapa negara yang memiliki lebih dari 3%
warga Muslim adalah Belanda, Denmark, Austria, Swiss, Swedia, Jerman
dan Belgia. Umat Muslim di Inggris hanya sekitar 2.7% penduduknya,
tetapi pengaruh dan keberadaan mereka menarik perhatian baik para
penegak hukum maupun warga setempat, khususnya setelah peledakan bom
tahun 2005 di bawah tanah London.
Migrasi di seluruh dunia, berawal pada 1960-an, dan kejatuhan
komunisme dipandang sebagai sebagian alasan bagi kebangkitan Islam di
Eropa. Ini telah menyebabkan banyak orang menemukan diri mereka berada
di lingkungan ketika pakaian, makanan, minuman, bahasa, cara berpikir
dan keyakinan mereka membedakan mereka dari penduduk setempat.
Di Eropa, pertumbuhan keragaman budaya dan agama kadang-kadang
menyebabkan ketegangan dan konflik. Konflik-konflik ini sering terjadi
di sekolah-sekolah, dalam banyak hal menyangkut isu-isu pakaian dan
simbol-simbol keagamaan. Haruskah para imigran dibuat menyesuaikan
diri dengan tradisi, budaya, dan kebiasaan dari negara tuan rumah
mereka, atau apakah merupakan hak para imigran dan keluarga mereka
untuk mempertahankan tradisi-tradisi dan nilai-nilai dari negara asal
mereka?
Umat Muslim yang tinggal di Barat dan mereka yang hidup di dunia
Muslim sedang mencari titik tengah - titik yang dapat memperbarui
berbagai aspek globalisasi dengan tradisi-tradisi Muslim. Perempuan,
yang mengenakan jilbab untuk menyatakan keberagamaan mereka, telah
menemukan wilayah abu-abu antara modernitas dan tradisionalisme
sementara mereka berjuang bagi hak-hak yang lebih besar untuk
kesetaraan dan peran serta dalam politik, tetapi juga memilih Islam
sebagai pembimbing moral mereka.
Apa artinya ini adalah bahwa Barat yang mengharapkan untuk
menggenapkan "asimilasi" Muslim di Barat kelihatannya tidak akan
terwujud. Namun, hal tersebut memang menyisakan ruang bagi alternatif
ketiga antara benar-benar mengambil budaya dan nilai rumah Eropa
mereka, serta sebaliknya, menolak mentah-mentah tradisi-tradisi dan
nilai-nilai dari kampung halaman dan agama mereka.
###
* Sulaiman Al-Anbar saat ini adalah mahasiswa jurusan Hubungan
Internasional di American University Sharjah (AUS), UEA. Ia juga
bekerja sebagai petugas hubungan masyarakat pada Yemeni Cultural Club
di AUS. Ia menulis artikel ini sebagai bagian dari Soliya's
intercultural dialogue program. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor
Berita Common Ground (CG News) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 30 Oktober 2007,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak publikasi.
4) Simpan Meteran Anda untuk Anda Sendiri
Yaser Khalil
Kairo - Mungkinkah dunia Muslim dan Barat bertemu dan bekerja sama,
terlepas dari perbedaan-perbedaan kebudayaan mereka? Jawaban dari
pertanyaan ini secara empatik adalah, "Ya", tetapi hanya jika kita
berhenti menilai orang lain dengan menggunakan norma-norma kita
sendiri.
Ketika kaum muda Muslim mengecam rekan Barat mereka yang meminum
allohol padahal hal tersebut dilarang oleh ajaran agama, apakah itu
merupakan ukuran yang tepat menilai tindakan ini? Jelas tidak, karena
orang muda ini menggunakan meteran yang mengatur perilakunya sendiri
sebagai seorang Muslim dan menerapkannya kepada orang lain yang tidak
memiliki norma-norma dan nilai-nilai yang sama dengannya.
Sebaliknya, saya belum lama ini bertemu dengan seorang perempuan non-
Muslim Barat yang penuh kecaman terhadap umat Muslim, yang menuduh
mereka sebagai berpikiran sempit dan intoleran terhadap seks di luar
nikah. Perempuan ini juga menggunakan meterannya sendiri dan
menerapkannya kepada orang lain, yang akibatnya menganggap orang lain
kurang bermoral.
Penilaian-penilaian terhadap perilaku orang lain ini, dan kecaman yang
menyusul dan/atau upaya-upaya untuk mengalihkan mereka "dari jalan
dosa", menciptakan konflik yang tak perlu dan ketegangan terus-
menerus. Ini menciptakan rasa curiga dan menyebabkan keyakinan bahwa
kita merupakan ancaman bagi satu sama lain.
Kita semua melanggar prinsip dasar dari sistem keyakinan kita, ketika
kita mengukur orang lain dengan menggunakan meteran kita sendiri. Al
Qur'an menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam agama, sementara Barat
terus-menerus berjuang melindungi kebebasan beragama. Kelihatannya
kita telah mempercayai bahwa paksaan dalam agama dan pembatasan
kebebasan beragama terjadi hanya melalui pemaksaan orang berpindah
agama atau pelarangan orang menjalankan agama mereka.
Kenyataannya adalah bahwa kita juga melanggar prinsip-prinsip bersama
ini, ketika kita menggunakan standar-standar kita untuk menilai orang
lain. Kita tidak dapat, misalnya, benar-benar menjalankan prinsip "tak
ada paksaan dalan agama" atau "kebebasan beragama" sambil, pada saat
yang sama, memaksakan liyan menyesuaikan diri dengan norma-norma kita.
Bahkan menilai orang lain menggunakan kebiasaan-kebiasaan kita - tanpa
mencoba untuk memaksakannya kepada mereka - akan berarti penghinaan
terhadap keyakinan yang kita miliki terhadap prinsip-prinsip ini.
Sebagian mungkin bersikeras bahkan jika kita berhenti menilai orang
lain dengan menggunakan nilai-nilai kita sendiri, krisis dalam
hubungan Muslim-Barat akan terus berlanjut karena Barat memiliki
kepentingan tertentu dalam dunia Muslim yang hanya dapat dilindungi
dan dilanjutkan dengan konflik.
Tetapi anggapan ini salah, karena kita semua memiliki kepentingan-
kepentingan yang sama. Karena itu pertanyaan untuk menekankan kesamaan-
kesamaan kita, dan bekerja untuk mengurangi ketegangan dengan
berjalannya waktu sehingga kita dapat mengajak tujuan-tujuan kita
bersama dengan cara yang memiliki kemungkinan keberhasilan paling
besar.
Permasalahan muncul ketika satu sistem mencoba untuk memaksakan
penyelesaian-penyelesaian terhadap yang lain - penyelesaian yang
mungkin masuk akal bagi mereka yang menjalankannya, tetapi bukan bagi
para penganut agama atau budaya lain. Ini adalah yang sedang terjadi
di negara-negara Muslim selama beberapa dekade. Kita telah menerima,
atau wajib menerima, penyelesaian-penyelesaian yang tidak sesuai
dengan sitem kita. Sementara, kita tidak mengambil tanggungjawab atas
penguatan sistem kita sendiri, sehingga mereka menjadi kendaraan untuk
mengatasi permasalahan kita.
Sebuah contoh dalam hal ini dapat dilihat dalam hal hak-hak perempuan.
Perempuan mungkin memperoleh hak untuk bekerja di luar rumah di banyak
negara-negara Muslim, tetapi norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan
tradisional setempat tidak membebaskan mereka dari tanggung jawab
konvensional mereka di rumah. Norma-norma Barat hanya diambil sebagian
- masyarakat setempat tetap mempertahankan gagasan-gagasan mereka
sendiri tentang apa yang diharapkan dari seorang perempuan, yang
sebagian sesuai dengan budaya sementara yang lain agama.
Sebagai tambahan, perempuan yang bekerja di luar rumah, dan kenyataan
bahwa mereka sekarang mungkin memiliki pendapatan yang sama besar,
atau melebihi pasangan laki-laki mereka, tidak membebaskan kaum laki-
laki dari tanggungjawab memberikan mas kawin sebelum menikah, antara
lain berupa perhiasan, atau perabotan rumah keluarga untuk menerima
mempelai wanitanya, dan seterusnya. Baik dalam sistem Barat maupun
Islam, kita menemukan gagasan yang padu dari kompatibilitas dan
integrasi.
Karena itu masyarakat yang sehat dan berpandangan ke depan harus
menahan diri dari menilai orang lain dengan kebiasaan dan norma mereka
sendiri, sambil memperkuat kelembagaan asalnya untuk lebih dapat
memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Dengan kata lain, energi kita
seharusnya diarahkan ke dalam, daripada ke luar.
Hanya dengan pendekatan kembar ini kita akan terjauhkan dari saling
membandingkan perilaku dan keyakinan kita yang secara mendasar tidak
sama, dan dari mengimpor penyelesaian yang hanya menunda permasalahan
hari ini ke esok hari.
###
* Yaser Khalil adalah seorang peneliti dan wartawan berkebangsaan
Mesir. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CG
News) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Middle East Times, 23 September 2007, www.metimes.com
Telah memperoleh hak publikasi.
5) Seorang Palestina Memperoleh Kekuatan Berkat Pengalaman Badai
Katrina
Jan McGirk
Jerusalem - Tahun-tahun kuliah Nour Naser di Tulane University di
Louisiana berawal dengan kekacauan, tetapi karenanya, seorang
mahasiswa Palestina yang telah belajar mengatasi apa pun. Naser, yang
memenangkan beasiswa kuliah pasca sarjana dari U.S. Agency for
International Development (USAID), tiba di New Orleans pada tahun 2005
saat Badai Katrina melanda.
Hari-hari sekarang, keadaan darurat tidak mengejutkan Naser, yang
telah belajar untuk tetap tenang dan terarah. Bekerja sebagai
perwakilan operasi lapangan CARE International di Tepi Barat, Naser
mengaitkan dorongan pribadinya dengan tahun-tahun padat yang ia jalani
sebagai mahasiswa pertukaran di Amerika Serikat.
"Hal tersebut mengubah kepribadian saya," katanya. "Sekarang saya
dapat menghadapi apa pun." Gadis berusia 25-tahun dari Ramallah, Tepi
Barat, ini bertahan hingga tugas terselesaikan, entah memperoleh
insulin bagi seorang nenek penderita diabet di desa pedalaman atau
bergegas dengan inhaler bagi seorang bocah kecil yang kehabisan nafas
melintasi gerbang pemeriksaan keamanan.
Naser adalah salah seorang dari 150 warga Palestina yang memetik
manfaat dari Program Beasiswa Gelas Master USAID selama delapan tahun
terakhir. Dengan mempertimbangkan kurangnya tenaga manajer yang
berkualitas di berbagai sektor penting dalam perekonomian Palestina -
mulai dari administrasi bisnis, teknologi informasi, dan kajian
lingkungan hidup hingga hukum, keuangan, dan administrasi kesehatan
masyarakat - program tersebut menjembatani kesenjangan yang serius.
Banyak lulusan pasca sarjana yang segera kembali ke Wilayah Palestina
dan menggunakan keterampilan AS untuk merancang pendekatan-pendekatan
baru terhadap permasalahan usang.
Sehari sebelum Naser dijadwalkan memulai kelas dalam administrasi
kesehatan masyarakat di Tulane, badai melanda dan semakin buruk setiap
menit. Pesawatnya mendarat di Bandara Louis Armstrong pada tanggal 29
Agustus, 2005, hanya beberapa saat sebelum Badai Katrina menyerbut
daratan. Naser dan para penumpang lain mengalami badai tersebut ketika
sedang ganas-ganasnya. Ia tidak terluka, tetapi melihat sekitar 1.836
korban Katrina mengambang di jalanan merupakan hal yang memilukan.
Dibandingkan dengan permasalahan mereka, masalah yang dihadapinya
kelihatan tidak berarti.
Kecuali koper kecilnya, seluruh barang miliknya hancur, menumpuk di
atas lantai lembab kamar sewaannya. "Akhirnya kami berhasil mencapai
Baton Rouge [Louisiana] ... dan kemudian kami diterbangkan dengan
helikopter ke Atlanta," kenangnya dua tahun kemudian.
Naser sangat terperangah ketika tiba di bandara Atlanta, ia merosot
dari kursi plastik dengan tangan menutupi wajahnya, terlalu terkejut
untuk menangis. Sementara rambutnya menutupi wajahnya seperti tirai
hitam, seorang pencuri merenggut tas jinjingnya yang berisi laptop dan
paspornya. Dompetnya, penuh dengan uang tunai yang cukup hingga
seluruh tahun kuliah, juga diambil. Karena bank Palestina-nya tidak
memiliki cabang di AS, ia berniat untuk menabungkan uangnya ini di
bank AS begitu tiba.
"Saya tidak memiliki apa-apa lagi. Tak ada kartu kredit, paspor -
bahkan pakaian. Telepon genggam tidak bekerja bahkan ketika Anda
berhasil mempertahankannya," katanya. " Para staf Delta Air Lines
setuju untuk memberikan saya tiket gratis dan mengevakuasi saya ke New
Mexico. Orang-orang sangat simpatik, tetapi tidak ada rencana induk."
Dengan tekad merebut karir akademisnya seperti yang direncanakan,
Naser menolak untuk menunggu di New Mexico dan pergi ke kantor USAID
di Washington untuk meyakinkan para pengelola beasiswanya agar
mencarikan jalan keluar.
"Saya telah kehilangan semua alamat, dan lain-lainnya, dalam satu
hari, dan hal tersebut memutarbalikkan saya. Saya berperang melawan
depresi. Saya merasa saya harus membantu diri sendiri dan menghasilkan
yang terbaik dalam masa setahun saya berada di AS," katanya. "Dalam 11
hari, saya masuk George Washington University - walaupun tanpa
dokumen! - dan menyewa sebuah kamar kecil. Tetapi saya tidak dapat
tidur selama berbulan-bulan."
Beberapa kenalan Naser dari program USAID di Tulane tergerak, misalnya
dengan menemaninya di Washington. "Kemudian Dave Sislen, profesor di
Johns Hopkins University, meminjamkan vilanya kepada gadis-gadis
Palestina ini," kata Naser. "Ia seorang Yahudi dan sangat murah hati.
Dan orang asing. Ia menelepon asosiasi alumni di Tulane, tempat ia
sendiri pernah bersekolah, dan menanyakan apakah ia dapat berbuat
sesuatu bagi para korban badai. Ia bahkan memberi kami semua tiket
pertandingan bola Amerika [Washington] Redskins. Betapa mengharukan!"
Kebaikan hati Sislen memastikan bahwa pencuri di bandara Atlanta
tersebut tidak mempengaruhi kenangan Naser tentang bangsa Amerika.
Dengan keuletannya, Naser menyelesaikan gelar master-nya tepat waktu,
yang menghasilkan nilai-nilai tertinggi yang dimungkinkan. Ia kembali
ke Tepi Barat, dan segera dipekerjakan oleh CARE International, yang
mengatur hibah AS bagi bantuan medis. Naser menemukan ilham dalam
pelajaran yang ia petik di Amerika. "Ini bukan hanya sekedar
mengirimkan obar-obatan. Duduk dan mendengarkan cerita-cerita orang
juga merupakan obat yang lain. Hal tersebut sangat berarti bagi orang-
orang miskin di desa-desa miskin. Memberi mereka kekuatan, dan seperti
sebuah hadiah," katanya.
Pengalaman Naser menunjukkan arti dari belajar di luar negeri sebagai
strategi pembangunan kapasitas Palestina untuk menjalankan negara
mereka sendiri dan untuk membangkitkan kembali perekonomian mereka.
Setidaknya 60 mahasiswa penerima beasiswa telah kembali dengan gelar
dari AS untuk mengambil peran kepemimpinan dalam masyarakat Palestina.
Ini termasuk kepala urusan pemilu dari Komisi Pemilihan Umum Pusat
Palestina, ahli perdagangan Kementerian Nasional Perekonomian, seorang
insinyur bagi program pekerjaan umum utama, dan reporter bagi Al-
Jazeera.net. Dan, tentu saja, seorang pekerja bantuan kemanusiaan yang
bersemangat bagi CARE International, yang keberaniannya telah teruji
oleh Badai Katrina dan tetap bersemangat.
###
* Jan McGirk adalah seorang koresponden khusus USINFO. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: US Departmen of State, 24 Oktober 2007, htp://usinfo.state.gov
Telah memperoleh hak publikasi.
Pandangan Kaum Muda
CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (cbinkley@sfcg.org)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.
Tentang CGNews-MK
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.
Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.
Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.
Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.
Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718
Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033
Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org
Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Rami Assali (Jerusalem)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Sireen Hashweh (Jerusalem)
CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%%
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.
No comments:
Post a Comment