Musik bukan hanya rangkaian nada,
tetapi juga rangkaian keheningan di antara nada
satu dan nada lainnya. Keheningan di antara nada sama
pentingnya dengan nada-nada itu sendiri. Sebuah lagu yang
terdengar sangat buruk di telinga dapat berubah menjadi
sangat indah hanya dengan menambah atau mengurangi
keheningan di antara nada-nadanya.
Bermain musik bukanlah mengendalikan nada-nada
(dan keheningan di antaranya) tetapi membiarkan nada-nada
dan keheningan memainkan dirinya sendiri. Keindahan musik
bukanlah keindahan yang diciptakan, melainkan keindahan
yang ditemukan dan dibiarkan mengekspresikan dirinya sendiri.
Sebagai seorang pemula, anda belajar memainkan alat musik.
Lama kelamaan anda membiarkan musik memainkan jari-jari anda,
anda membiarkan musik memainkan dirinya sendiri.
Sebagai seorang pemula, anda memikirkan sebuah lagu,
lalu jari-jari anda berusaha memainkannya.
Lama kelamaan lagu itu memainkan
jari-jari anda dan menghasilkan musik yang anda dengarkan
dengan penuh rasa syukur dan apresiasi.
Seorang pemusik adalah seseorang yang rendah hati.
Yang mengosongkan egonya sendiri, mundur ke belakang,
dan membiarkan Sang Musik menguasai ruang dan waktunya.
Seperti halnya para penonton bertepuk tangan mengapresiasi
musik yang indah, si pemusikpun melakukan hal yang sama:
bertepuk tangan dan mengapresiasi musik yang indah itu.
Setiap hari seorang penikmat musik
memasang headphone stereo atau mengambil
instrument dan memainkannya, atau menggunakan instrument yang ada
di lehernya, untuk menghasilkan musik. Semua aktivitas ini mempunyai
tujuan yang sama: mendengarkan musik. Mula-mula seseorang memilih
lagu, atau CD music yang dikehendaki, dan mungkin
memperhatikan siapa pemain
musik atau siapa pencipta lagunya.
Tetapi ketika musik
mulai berkumandang, semua itu hilang. Yang ada hanyalah
suara musik saja.
No comments:
Post a Comment