Seorang teman saya menjelaskan mengapa di arab, wanita harus pakai
jilbab. Mengapa aturan yang mengatur
tingkah laku wanita di muka umum sangat ketat, dst Menurut beliau,
semua itu bertujuan melindungi para wanita
dari "serbuan" para pria arab yang buas. Saya jawab: "Lho, tapi pria
arab banyak yang tetap buas, dan banyak wanita yang menjadi korban".
Teman saya menjawab: "Betul. Apalagi kalau nggak pakai jilbab, dan
tidak dilindungi aturan ketat. Bisa kembali ke jaman Jahiliyah".
Saya sih nggak setuju dengan pendapat teman saya itu. Jilbab tidak
dapat mengendalikan kebuasan para pria, tetapi hanya menundanya saja.
Tetapi saya lalu jadi berpikir tentang makna dosa.
Dalam dongeng adam dan hawa, dosa dihubungkan dengan "pengetahuan
tentang baik dan buruk"
Semua perbuatan manusia ada akibatnya. Ada yang berakibat baik, ada
yang berakibat buruk.
Tetapi manusia tidak selalu sadar, atau tidak tahu, atau tidak perduli
dengan akibat perbuatannya.
Manusia melakukan perbuatan yang berakibat buruk, atau tidak melakukan
perbuatan yang berakibat baik.
"Pengetahuan tentang baik dan buruk" tidak dengan sendirinya membuat
manusia menjadi lebih baik.
Tetapi setidak-tidaknya itu adalah permulaan.
Dan paling sedikit bisa menjadi alat untuk menilai.
Perbuatan yang berakibat baik, disebut "baik", yang sebaliknya disebut "dosa".
Dosa bisa "dimaafkan" atau "diampuni", tetapi akibat dari perbuatan
yang buruk tetap harus diingat
dan dipelajari baik-baik, supaya manusia belajar untuk tidak mengulanginya.
Pembunuhan 6 juta orang oleh Hitler dkk, 1,7 juta orang oleh Pol Pot
dkk, dan 1 juta orang oleh Soeharto dkk (30 september/1oktober 1965),
adalah dosa yang harus terus diingat dan dipelajari detail-detailnya,
supaya manusia bisa belajar untuk tidak mengulanginya.
Dan tentu saja, kita mesti terus mempelajari baik-baik hasil perbuatan
baik yang telah dilakukan manusia sepanjang sejarah,
supaya kita bisa belajar untuk mengulanginya, atau bahkan memperbaikinya.
No comments:
Post a Comment