Wednesday, September 16, 2009

[Berpikir Bebas 852] Perihal Melayu dan Asal-muasalnya

Perihal Melayu dan Asal-muasalnya

Oleh: Daniel N. Lumbantobing



Ketika mendengar kata 'Melayu', masing-masing dari kita mungkin memiliki penafsiran yang berbeda atau bahkan ambigu. Bagi orang-orang yang berdomisili di Sumatera, Melayu identik dengan kelompok etnis (suku) tertentu yang mendiami pesisir timur Sumatera beserta kepulauan di sekitarnya. Semisal, orangMinangkabau dan orang Aceh mengadopsi nama Melayu bagi orang-orang Sumatera lainnya yang berbicara Bahasa Melayu, yang memang bukan bahasa ibu kedua suku tersebut. Orang-orang dari Suku Melayu sendiri menganggap kebudayaan dan identitas yang mereka miliki sebagai suatu entitas kultural yang unik, berbeda dari suku-suku lainnya di Nusantara. 

Suku Melayu tak hanya mendiami pesisir Timur Sumatera dan kepulauan sekitarnya, namun juga wilayah yang lebih luas lagi, mencakup Semenanjung Malaysia, hingga pesisir Utara dan Barat Kalimantan. Berdasarkan fakta tersebut, bisa jadi Suku Melayu merupakan kelompok etnis Austronesia yang mendiami wilayah daratan terluas. Konsep 'Austronesia' sendiri umum dipakai untuk merujuk kepada wilayah geografis yang didiami oleh orang-orang yang bahasanya dapat dikategorikan ke dalam rumpun bahasa Austronesia (

Austronesian language), wilayah yang terbentang dari Madagaskar hingga Pulau Paskah, dari Kepulauan Hawaii hingga Selandia Baru, yang ditengah-tengahnya terbaring Kepulauan Nusantara. 

Perlu dicermati, rumpun bahasa Austronesia merupakan satu kelompok bahasa yang memiliki jumlah bahasa terbanyak di dunia (sekitar 1200 bahasa). Selain itu, rumpun bahasa ini mempunya rentang wilayah sebaran geografis terluas di dunia sebelum masa ekspansi bangsa Eropa (setelah 1492 M), yang bahkan mengalahkan rumpun bahasa Indo-Aryan (e.g., Latin, Sanskrit, Inggris) sekalipun, yang notabene mendominasi dunia sekarang ini. 

Terlepas dari nama Melayu sebagai suatu suku, dunia internasional justru telah lama mengadopsi nama "Malay" (=Melayu) atau "Malay People" bagi keseluruhan suku bangsa asli yang mendiami Nusantara. Agak bertolak belakang dari penjelasan sebelumnya, ini berarti tak terkecuali suku Minangkabau dan Aceh, bahkan juga Batak dan Jawa, termasuk ke dalam konsep 'Melayu' ini. Entitas Melayu sebagai suatu konsep kebangsaan (lebih luas dibanding konsep kesukuan) dipopulerkan ke dunia Barat oleh Thomas Stamford Raffles, gubernur di Jawa semasa pendudukan sementara Inggris. 

Semasa jaman kolonial, terutama sebelum nama Indonesia atau Malaysia mencuat ke permukaan, konsep 
Malay yang mewakili semua suku bangsa di Nusantara digunakan cukup luas di dunia akademis. Penggunaan konsep ini sepertinya berakar bahkan sebelum Raffles menginjakkan kaki di Bumi Nusantara di tahun 1811. Johann Blumenbach, seorang antropologiwan Jerman yang terkenal dengan konsep ras manusia-nya, pada tahun 1795 menambahkan satu ras manusia baru yaitu ras Melayu (Malay race) ke dalam klasifikasi yang dibuatnya yang sebelumnya telah mengenal 4 ras lainnya: Kaukasia, Mongoloid, Negroid, dan Amerika. 

Popularitas konsep Malay yang mewakili Nusantara semakin terasa di dunia akademis. Itulah mungkin mengapa sangat umum dikenal istilah geografis "Malay Archipelago", yang tidak lain adalah Nusantara itu sendiri secara geografis (mencakup pula kepulauan Filipina). Istilah Malay Archipelago sendiri dipopulerkan oleh Alfred R. Wallace melalui buku yang ditulisnya dengan judul sama. Ada hal menarik mengenai umumnya kata Malay ini di dunia Barat: bahkan George Earl, sang penggagas pertama nama "Indunesia", justru menganjurkan penamaan "Malayunesia" bagi kepulauan Nusantara alih-alih "Indian Archipelago" yang dinilainya terlalu panjang dan tidak khas mewakili Nusantara itu sendiri. Bahkan, nama "Indunesia" sendiri (yang akhirnya dipilih menjadi nama politik kebangsaan bekas wilayah jajahan Belanda di Nusantara) menurut Earl kurang layak dan tidak mewakili, karena secara harfiah berarti "kepulauan India". 

Jadi singkatnya, setidaknya kata Melayu bisa diaplikasikan ke dua entitas budaya yang tersendiri walaupun masih bersinggungan, yaitu: Melayu sebagai nama suatu suku (kelompok etnis) tertentu atau Melayu sebagai nama yang mewakili keseluruhan Nusantara. Sampai saat ini, sepertinya belum ada kesepakatan untuk membatasi penggunaannya keduanya, kita masih bisa dengan bebas menggunakan kata Melayu untuk kedua kelompok ini secara bergantian walaupun maknanya tumpang tindih. 


Asal-muasal Melayu 
Perihal ambiguitas Melayu tidak cuma menyangkut pemaknaannya saja, bahkan juga merambah hingga ke masalah etimologi nama Melayu itu sendiri. Setidaknya ada dua versi paling umum menyangkut dari mana asal nama Melayu itu: (1) Melayu yang dulunya nama kerajaan kuno di Jambi, dan (2) kata "melayu" dari Bahasa Jawa yang artinya "berlari". Versi terakhir ini (melayu=berlari) sepertinya adalah yang paling umum beredar di publik, terutama di masyarakat Jawa. 

Salah satu penjelasan mengapa "berlari" disandingkan bagi Suku Melayu dikarenakan anggapan bahwasannya suku ini senang mengembara, yang bisa disaksikan lewat bagaimana mereka begitu tersebarnya hampir di seluruh pesisir di kepulauan Indonesia bagian Barat. Namun beberapa pihak mengaitkan konsep 'berlari' ini dengan asumsi bahwasannya nenek moyang Suku Melayu adalah orang-orang yang melarikan diri dari huru-hara perang antarkerajaan di Nusantara yang terjadi terus-menerus pada masa lampau. 

Terlepas dari anggapan umum tentang versi kedua (melayu=berlari) yang dipahami kebanyakan orang, asal nama Melayu dari nama kerajaan kuno di Jambi justru sepertinya lebih dapat diterima dan lebih kuat secara akademis. Bukti-bukti historis keberadaan Kerajaan Melayu di Jambi dapat ditelusuri lewat naskah-naskah kuno terutama melalui catatan-catatan ekspedisi Cina atau kerajaan-kerajaan di India terdahulu ke bumi Nusantara yang seringkali mengacu secara khusus akan eksistensi kerajaan ini di Sumatera. Naskah dari Cina yang tertua berasal dari abad ke-7 yang ditulis oleh I-Ching menyebutkan ihwal 
Ma-La-Yu. Selain itu, artefak-artefak kuno dan prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah Jambi juga memperkuat hal tersebut, semisal yang tertua yaitu prasasti Kedukan Bukit di wilayah Jambi yang beriwayat tahun 682 M.

Permasalahan tentang etimologi nama Melayu ternyata tidak begitu saja selesai duduk perkaranya setelah kita meninjau sisi historis dari eksistensi Kerajaan Melayu di Jambi ini. Kontroversi justru boleh jadi semakin menghangat ketika kita mencermati lebih dalam lagi, terutama seputar isu di mana pusat Kerajaan Melayu Jambi ini sebenarnya berada. Pada dasarnya, hal ini berkaitan dengan hipotesis yang menyatakan terdapatnya unsur India dalam nama Melayu. 

Beberapa naskah kuno mengacu Melayu dengan kata "Malaiyur". Kata "
Malaya" atau "Malai" itu sendiri ternyata memiliki arti dalam bahasa Sanskrit dan Tamil, yaitu "bukit", sementara "ur" sendiri dalam Bahasa Tamil berarti "kota". Oleh karena itu, transliterasi "Malaiyur" tidak lain kurang lebih berarti "kota di bukit". Hipotesis ini diperkuat oleh adanya prasasti Chola Tanjore (1030-31 M) dan prasasti Padang Rocore (1286 M) yang menyatakan bahwa Kerajaan Melayu berpusat di wilayah yang dibentengi perbukitan. 

Apabila kita mencoba mencermati hipotesis "kota di bukit" ini dengan menilik kondisi geografis Jambi yang sebagian besar merupakan dataran rendah, mungkin di sinilah letak kejanggalannya. Kejanggalan ini dijadikan argumentasi untuk memfalsifikasi/membantah Jambi sebagai letak Kerajaan Melayu terawal, terutama oleh pihak dari Malaysia demi memvalidasi/membenarkan Semenanjung Malaya sebagai cikal-bakal peradaban Melayu. Alih-alih Jambi yang dinilai terlalu datar, mereka mengajukan beberapa wilayah di Semenanjung Malaya yang dinilai lebih berbukit-bukit. 

Namun sepertinya ini terlalu dipaksakan dan mengabaikan informasi historis dari naskah-naskah kuno yang ada yang notabene merujuk Sumatera sebagai awal peradaban Melayu. Selain itu, bila saja kita mau jeli mencermati wilayah geografis Jambi secara lebih menyeluruh, kita akan menemukan daerah perbukitan di pedalamannya. lebih ke arah hulu Sungai Batang Hari. Adapun, ahli sejarah Indonesia, Prof. Slamet Muljana mengajukan hipotesis bahwa wilayah Muara Tebo yang lebih berbukit-bukit di Jambi, yang dulunya bernama "Minanga Tamwa" sesuai prasasti Kedukan Bukit, merupakan pusat Kerajaan Melayu, bukan justru dekat kota Jambi di muara Sungai Batang Hari. 


Cikal-bakal Melayu tidak identik dengan Malaysia
Tidak jarang ketika mendengar kata Melayu, banyak dari kita yang segera mengidentikkannya dengan Malaysia dan semenanjungnya, bukan justru Indonesia. Ini jelas salah kaprah keterlaluan, karena kenyataannya kebudayaan Melayu beserta bahasanya berasal dan berkembang dari wilayah Indonesia semenjak awalnya. Kepulauan Indonesia adalah cikal-bakal Melayu!

Kebanyakan dari kita mungkin masih terjebak dengan nama Malaysia itu sendiri yang memang sangat bermuatan Melayu. Tapi kenyataannya, Malaysia sebagai suatu nama (sebelum diadopsi oleh Federasi Malaya dan wilayah bekas jajahan Inggris lainnya di Nusantara di tahun 1963) dulunya secara historis identik dengan wilayah yang lebih luas mencakup Kepulauan Nusantara itu sendiri. Bahkan Filipina pernah menginginkan pengadopsian "Malaysia" sebagai nama negaranya, namun sayang mereka kalah cepat dibanding saudara-saudaranya yang bekas jajahan Inggris.

Semenanjung Malaya sendiri, yang sebelum abad ke-14 dikenal dengan nama "Suvarnabhumi", secara historis merupakan wilayah yang baru "ter-malayanisasi" (malayanized) mulai abad ke-7, ketika Kerajaan Sriwijaya mulai mencapai kejayaannya dan melakukan invasi ke Utara dari wilayah Palembang. Sebelum termalayanisasi, Semenanjung Malaya dihuni oleh suku bangsa yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Mon-Khmer (Austroasiatik; bedakan dengan Austronesia), yang di masa modern ini bertahan terutama di wilayah Kamboja dan sekitarnya. Suku bangsa ini merupakan pendiri sekaligus penduduk dari kerajaan-kerajaan tua di Semenanjung Malaya sebelum abad ke-7, seperti Kerajaan Gangga Negara (abad ke-1) dan Kerajaan Langkasuka (abad ke-2). Apabila Anda mencermati sejarah Malaysia, acapkali Anda akan menemukan bagaimana Malaysia mengelu-elukan Kerajaan Langkasuka sebagai perintis kebangsaan mereka. Terlebih-lebih, nama Langkasuka sendiri pernah ditinjau sebagai kandidat nama negara mereka, sebelum akhirnya mereka memilih nama "Malaysia" di tahun 1963. Namun, hal yang sepertinya mungkin tidak terlalu digubris pihak Malaysia adalah kenyataan bahwa Kerajaan Langkasuka tidak identik dengan budaya Melayu, melainkan budaya rumpun Mon-Khmer. Sisa-sisa budaya Mon-Khmer ini di masa sekarang bisa ditinjau dalam Bahasa Melayu Kedah yang masih mempertahankan beberapa kosa kata yang berasal dari rumpun bahasa Mon-Khmer ini. 


Kepulauan Indonesia adalah cikal-bakal Melayu
Proses "melayunisasi/
malayanization" kepulauan Nusantara yang dimulai semasa Kerajaan Sriwijaya mencapai puncaknya, berhasil menginvasi dan memupuskan pengaruh kebudayaan-kebudayaan kuno yang asli di wilayah taklukan, serta menggantikannya dengan kebudayaan Melayu. Hal inilah yang terjadi di wilayah Semenanjung Malaya mulai abad ke-7, ditandai dengan pupusnya kebudayaan Mon-Khmer dan tergantikan dengan hegemoni Melayu. Perlu diingat, Kerajaan Sriwijaya berpusat di Sumatera Selatan (tepatnya Palembang) dan secara kultural merupakan perpanjangan dari Kerajaan Melayu di Jambi yang telah ada lebih dulu. Adapun hegemoni melayunisasi terutamanya begitu kuat di wilayah pesisir, namun tidak terlalu dominan sampai ke pedalaman. Alhasil, suku-suku yang mendiami pedalaman dan pegunungan tidak terlalu terpengaruh dan tetap mempertahankan identitas mereka, semisal Batak, Dayak, bahkan orang-orang Asli di Semenanjung Malaya. 

Pengaruh kuat dari Kerajaan Sriwijaya terhadap Semenanjung Malaya bahkan juga dipaparkan secara cukup rinci dalam naskah sastra "Sejarah Melayu" (Malay Annals) yang seringkali dijadikan acuan historis utama ihwal kemelayuan, terutama di Malaysia. Dalam karya sastra ini, pada awalnya sekali dijelaskan bagaimana pangeran-pangeran dari Sriwijaya (Sri Tri Buana, Parameswara) mendirikan kerajaan-kerajaan Melayu di wilayah semenanjung seperti di Temasek (sekarang Singapura). Lalu keturunan-keturunan dari raja-raja tersebut selanjutnya mendirikan Kerajaan Melaka di awal abad ke-15. Arus imigrasi suku-suku dari Kepulauan Nusantara terjadi secara berkelanjutan semenjak masa Sriwijaya secara cukup bertahap, yang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Melayu, tapi juga suku-suku lainnya seperti Minangkabau, Jawa, Mandailing, bahkan Bugis. 

Proses melayunisasi (
malayanization) di wilayah Nusantara pada dasarnya analog dengan proses "germanisasi" (germanization) wilayah Britania Raya (=Great Britain) atau proses "latinisasi" (latinization) wilayah Barat Eropa. Sebelum germanisasi dan latinisasi terjadi, wilayah Barat Eropa, mulai dari Britania, Perancis, hingga Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal), dihuni oleh suku bangsa dengan latar Kebudayaan "Celtic" dan menggunakan bahasa-bahasa yang termasuk dalam Rumpun Celtic. Namun seiring ekspansi kebudayaan Anglo-Sakson dan Latin, wilayah Eropa Barat mengabsorbsi unsur-unsur budaya luar ini hingga akhirnya Kebudayaan Celtic memupus dominansinya dan tergusur hingga hanya tersisa di kantong-kantong kecil seperti Skotlandia, Irlandia, dan Brittany (Perancis). Apa yang terjadi pada Kebudayaan Celtic, terjadi juga terhadap Kebudayaan Mon-Khmer di Semenanjung Malaya semenjak abad ke-7 akibat melayunisasi.

Hipotesis bahwasannya wilayah Indonesia merupakan tempat asal Melayu terlebih-lebih lagi dapat diperkuat dan dijelaskan dari segi linguistik (secara kebahasaan). Dalam ilmu linguistik, salah satu indikasi suatu wilayah merupakan "
center of origin" dari suatu kelompok bahasa tertentu adalah ditandai oleh diversitas atau keanekaragaman jumlah anak bahasa yang tinggi di wilayah tersebut. Ihwal diversitas yang begitu tinggi dari kelompok bahasa Melayu (Malayic) jelas terlihat di Pulau Sumatera, yang dapat ditilik dari keberadaan beberapa bahasa seperti Minang, Musi, Komering, Pekal, dan sebagainya. Jumlah ini jauh lebih melimpah dibanding yang ada di wilayah semenanjung, yang malah kebanyakan hanyalah terdiri dari dialek-dialek semata.

Masih seputar ihwal "
center of origin", apabila kita pergi ke seberang Sumatera, yaitu Pulau Kalimantan, kita akan menemukan diversitas kelompok bahasa Melayu yang tak kalah beragamnya, terutama di wilayah Barat Kalimantan. Bahkan, beberapa bentuk dan karakter kuno dari bahasa Melayu kuno (Proto-Malay) masih dapat ditemukan dalam anak-anak kelompok bahasa Melayu di Kalimantan. Berdasarkan kekunoan karakter yang dimiliki dan diversitas yang begitu tinggi inilah, Adelaar (1995) mengajukan hipotesis yang menyatakan bahwasannya wilayah Barat Kalimantan merupakan tempat asal-muasal/homeland dari induk kelompok bahasa Melayu ini. 

Hipotesis Pulau Kalimantan sebagai asal kelompok bahasa Melayu (
Malayic) juga dapat divalidasi berdasarkan teori persebaran rumpun bahasa Austronesia yang paling mutakhir (lihat peta di atas). Induk bahasa Austronesia dihipotesiskan berasal dari Pulau Formosa (Taiwan), lalu menyebar pertama kali ke Kepulauan Filipina. Kemudian migrasi suku bangsa Austronesia berlanjut terus ke Selatan, menuju Kepulauan Indonesia. Tentunya apabila kita mencermati Filipina sebagai batu loncatan pertama migrasi ini, seharusnya Kalimantan merupakan batu loncatan kedua sebelum akhirnya arus migrasi sampai ke Pulau Sumatera. Terlebih dari itu, jelas lebih masuk akal apabila sebelum mencapai Semenanjung Malaya, arus migrasi ini singgah di Kepulauan Riau atau pesisir Timur Sumatera terlebih dahulu. 

Berdasarkan pemaparan di atas, satu hal yang jelas dan pasti adalah Kepulauan Indonesia merupakan tanah kelahiran kebudayaan Melayu dan bahasanya, bukan justru Semenanjung Malaya. 


Beberapa sumber tambahan: 

 

§  "Sejarah Melayu: A History of the Malay Peninsula" (http://www.sabrizain.org/malaya/)

 

§  "Ethnologue: Languages of Indonesia" (http://www.ethnologue.com/show_country.asp?name=ID)

 

§  "The Austronesians: Historical and Perspectives" (Editor: P. Bellwood, J.J. Fox & D. Tyron, 1995)



Catatan renungan penulis:
Tulisan ini sekedar riset seadanya dari saya yang bukan ahli sejarah, yang boleh jadi tercetus akibat memanasnya kembali konflik seputar klaim serampangan dari pihak Malaysia atas beberapa unsur budaya Indonesia. Bukan maksud ikut-ikutan memperkeruh ketegangan, tapi pada dasarnya ini adalah suatu usaha untuk memaparkan argumentasi yang saya anggap cukup faktual mengenai sejarah dan kebudayaan Nusantara, terutamanya seputar Melayu. Tulisan ini mungkin bisa mengingatkan jati diri Malaysia sebagai suatu bangsa, yang tidak lain adalah sempalan dari diversitas Nusantara, yang sebagian besar tercakup ke dalam identitas Bangsa Indonesia. Apa-apa yang dimiliki oleh Malaysia boleh jadi dimiliki juga bahkan berasal dari Indonesia. Inilah yang saya maksud dengan sempalan. Ibaratnya hidangan makanan di restoran Padang, Budaya Malaysia adalah dendeng balado, sementara Budaya Indonesia adalah keseluruhan makanan yang disajikan dalam menu, termasuk juga dendeng balado itu di dalamnya. 

Dilihat dari segi historisnya, Malaysia atau Singapura mungkin merupakan analogi Amerika Serikat di Asia Tenggara. Negara AS tidak lain merupakan surga para imigran, suatu tanah baru yang menjanjikan harapan hidup lebih baik dari para pendatang terutama dari seberang Atlantik. Ini sedikit mirip juga dengan Malaysia yang secara historis didatangi oleh suku-suku dari beberapa penjuru Nusantara, mulai dari Melayu, Minangkabau, Jawa, dan Bugis, bahkan juga India dan Cina. Mungkin itu pulalah mengapa Malaysia meniru bendera AS sebagai simbol kebangsaannya, karena mungkin Malaysia sadar ingin seperti Amerika dalam hal menjanjikan harapan, kalau tidak sekedar dibilang hanya ikut-ikutan Amerika. 

Jadi, kalau seandainya Malaysia mengklaim semisal Reog Ponorogo berasal dari Semenanjung mereka, jelas-jelas ini bahan lelucon parah, yang bisa disamakan dengan seandainya Amerika serikat mengklaim kilts atau tartan berasal dari Negeri Paman Sam, padahal jelas-jelas keduanya merupakan unsur identitas orang Skotlandia. Cuma permasalahannya, Bangsa Skotlandia sangat bangga dengan kilts dan tartan-nya, sementara Bangsa Indonesia tidak sebegitu bangganya dengan Reog Ponorogo-nya, sebelum Malaysia mengklaim tarian ini. Kita Bangsa Indonesia baru kebakaran jenggot setelah bangsa lain mengklaim apa yang kita punya, padahal sebelumnya tidak pernah peduli bahkan akan keberadaannya sekalipun. 

Perlu diingat juga,
Bangsa Indonesia seharusnya selalu ingat semangat para pendiri NKRI yang menjunjung keberagaman. Tidak seperti Malaysia yang secara ekonomi menganakemaskan Pribumi Melayu dan mengebiri sebagian hak-hak ekonomi warga negara non-pribuminya, NKRI sejatinya mengakui kesetaraan setiap warga negaranya dalam hal kesempatan ber-ekonomi, tidak peduli apa itu ras atau sukunya. Dalam hal ini, Malaysia seharusnya malu dengan benderanya yang keamerika-amerikaan, namun gagal menjunjung semangat kesetaraan yang dimiliki Amerika. Tapi rasa malu sepertinya bukan sesuatu yang dimiliki mereka, karena ketika main caplok budaya negara lain saja, mereka tidak berpikir dua kali. 

Berkaitan dengan itu, tulisan ini tidak dibuat dalam rangka mengelu-elukan suku tertentu di Indonesia atau mengetengahkan isu ras. Saya yakin karena pada dasarnya Indonesia adalah Bangsa besar yang begitu heterogen namun tetap satu kesatuan: Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan ketika unsur ras perlu diketengahkan, bangsa ini tak hanya dibangun oleh dan terdiri dari orang-orang Austronesia saja, bahkan juga Melanesia (Papua), Mongoloid, Semitik, bahkan Kaukasia. Saya tidak hanya berbicara secara genetik, namun juga secara kultural. Jadi,
bagi orang-orang yang mengaku Bangsa Indonesia, tapi masih saja membeda-bedakan mana yang pribumi dan mana yang tidak, harap malu dan berpikir dua kali karena mereka ini tidak memiliki semangat ke-Indonesiaan

Semoga tulisan ini bisa menyadarkan kita untuk tidak sekedar berteriak: "Ganyang Malaysia!", tapi setidaknya bisa bersikap lebih beradab karena kita tahu dan sadar kita jauh-jauh lebih besar. 




-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam Sejahtera dan Selamat Berkarya

Sapto T Poedjanarto
Trainer, Facilitator, Reiki Healer

Program & IT Officer
Demak Lantern Indonesia

mobile phone : 0888 321 8199
mobile phone : 0813 28 199001

email :
stpweb@gmail.com
stpweb@live.com
stpweb@ymail.com

Facebook:
http://www.facebook.com/sapto.poedjanarto?ref=profile

Linkedin:
http://www.linkedin.com/pub/sapto-tanoyo-poedjanarto/11/7ab/142

Instant Messenger :
Yahoo ID : s_t_poedjanarto /stpweb@ymail.com
MSN/windowslive : stpweb@live.com
Google Talk : stpweb@gmail.com
ICQ : 390021249
Jabber : stpweb@jabber.org
AIM : stpweb
Skype : stpweb.skype



Sent from my Straw-Berry®
powered by Sinyal Kuat Buuangeet


No comments: