(membahasnya secara sederhana dan tanpa data)
Coba perhatikan beberapa contoh kejadian "sepele" berikut ini ;
1. Selama bulan Ramadhan ini, coba perhatikan tiap sebelum waktunyabuka puasa di beberapa pusat keramaian yang "merakyat" (alun-alun kota, taman kota, komplek perumahan dll – kecuali mall,plaza dll -). Kemungkinan besar kita akan mendapatkan pemandangan yang sama,yaitu ;
"banyak masyarakat dari berbagai macam lapisan sosial dan usia berkumpul menunggu saatnya berbuka, dan di sekitar itu pula banyak pedagang kecil yang meraup rejeki dengan berjualan berbagai macam jajanan rakyat."
2. Setiap minggu pagi di beberapa tempat yang sama seperti di atas (alun-alun kota, taman kota, komplek perumahan dll). Kemungkinan besar kita akan mendapatkan pemandangan yang sama, yaitu ;
"banyak masyarakat dari berbagai macam lapisan sosial dan usia berkumpul sambil olahraga atau sekedar cuma jalan-jalan, dan di sekitar itu pula banyak pedagang kecil yang meraup rejeki dengan berjualan berbagai macam jajanan rakyat + biasanya ada pasar tumpah yang menjual berbagai macam barang kecil yang gak penting"
3. Setiap ada event (konser musik, pertandingan olahraga, kampanye bahkan demonstrasi sekalipun – yang berjalan dengan tertib dan tanpa kerusuhan -). Kemungkinan besar kita akan mendapatkan pemandangan yang sama, yaitu ;
"banyak masyarakat dari berbagai macam lapisan sosial dan usia berkumpul sambil menonton ataupun menjadi pelaku aktif (peserta kegiatan), dan di sekitar itu pula banyak pedagang kecil yang meraup rejeki dengan berjualan berbagaimacam jajanan rakyat + kaos-kaos murah & pernak-pernik lain yang ada hubungannya dengan event yang sedang diselenggarakan dll"
4. Terakhir,, beberapa hari menjelang Iedul Fitri & hari Raya lainnya, rasanya kita semua sepakat kalo waktu itu banyak pedagang (makanan, bahan masakan dan pakaian) di pasar-pasar tradisional yang "mendadak kaya sesaat" akibat omzet meningkat pesat (dibanding hari-hari biasa).
# Dalam persepsi ane ;
* Para pedagang kecil di point 1 s/d 4 itu adalah salah satu contoh pelaku usaha di sektor riil,
* Keramaian yang terjadi di point 1 s/d 4 itu adalah contoh nyata sedang bergeraknya ekonomi sektor riil,
* Lonjakan omzet akibat kejadian di point 1 s/d 4 itu adalah bukti nyata menguatnya sektor riil (walau hanya sesaat).
# Pertanyaan ane ;
* "Kenapa kondisi itu (menguatnya kegiatan ekonomi sektor riil / pedagang kecil) tidak terjadi / tidak bertahan dalam kondisi normal (diluar bulan Ramadhan / tidak ada event dll) ?"
* "Bagaimanakah "nasib" para pedagang kecil itu di dalam kondisi normal (tidak ada KLB) ? bagaimanakah cara mereka survive / bertahan hidup ?". entahlah, ane gak sejauh itu membayangkan (apalagi sampe ikut memikirkan) betapa susahnya mereka menjalani hidupnya sehari2.
* "Apakah karena dalam kondisi normal para konsumen di point 1 s/d 4 itu pada gak punya duit semua ?". Pertanyaan yang terlalu bodoh untuk dijawab:D.
# Kemungkinannya (dalam kondisi normal – gak ada event) ;
* para konsumen di point 1 lebih banyak jajan di tempat2 ; foo court,resto, fast food, pujasera dll,
* para konsumen di point 2 lebih banyak belanja di ; outlet, mall,hypermarket dll,
* para konsumen di point 3 lebih banyak belanja di ; toko ber-merk,plaza dll,
* para konsumen di point 4 lebih banyak belanja di ; pasar modern dll.
# Karakter konsumen di point 1 s/d 4 ;
* "Apakah mereka orang kaya semua ?" ane malah berpikir sebaliknya,orang-orang kaya / superkaya malah mungkin gak punya waktu buat memikirkan kebutuhan primernya, karena mereka pasti udah punya "petugas" yg mengurusi hal itu.
* Justru kebanyakan mereka (contohnya ane sendiri) adalah juga kalangan menengah ke bawah yang "hanya" karyawan biasa (level staff) yang tiap bulannya menerima gaji dari perusahaannya.
* "berapakah total kekuatan daya beli mereka (karyawan biasa) itu ?".gak tau dan juga gak berusaha nyari tau, tapi ambil gampangnya aja, misal ditotal se-Indonesia jumlah gaji yang diterima "para karyawan biasa" itu mencapai Rp. 1.200 Triliun / tahun (asumsi ; 50 juta Rakyat Indonesia @gaji 2juta / bulan)
* jika aja dari Rp. 1.200 Triliun itu 70% nya digunakan untuk konsumsi (30% ; investasi + saving), maka didapat angka Rp. 840 Triliun / tahun.
* (berkhayal) jika Rp. 840Triliun / tahun konsumsi itu 70%-nya dilakukan kpd pelaku sektor riil (pedagang kecil, dll) maka akan didapat angka Rp. 588 Triliun / tahun "modal" untuk menggerakkan sektor riil (hanya pedagang).
* (masih berkhayal) efek lanjutannya, jika pedagang kecil itu membeli barangnya dari supplier / produsen2 lokal juga (petani / home industri dll), maka perlahan tapi pasti kemandirian ekonomi Indonesia akan terwujud.
(ane pernah baca kalo faktor utama pemicu perekonomian Jepang / China / India itu adalah kecintaan Masyarakatnya sendiri thd PRODUK LOKAL !!!).
# Produsen / pedagang BESAR VS kecil.
Ane pikir penyebab utama kekalahan telak yg diderita oleh produsen / pedagang kecil dari yang besar adalah karena faktor "kenyamanan" yang ditawarkan. Ambil contoh pasar tradisioal VS hypermarket ;
* barang yg dipajang di hypermarket "lebih cantik" dibanding yg terpajang di pasar tradisional,
* suasana di hypermarket lebih kondusif (bersih, wangi) dibanding pasar tradisional (becek, agak bau gak sedap),
* pelayan di hypermarket lebih "enak diliat" dibanding di pasar tradisional. Bandingkan sendiri SPG vs .....
* harga barang di hypermarket lebih pasti (gak pake nawar) dibanding pasar tradisional,
* dan banyak lagi keunggulan2 lainnya.
# Konsumen BESAR VS kecil.
* Orang kaya / superkaya. Mereka ini gak perlu dibahas, sampe kapanpun jarang ada ceritanya orang kaya superkaya yang belanja sendiri memenuhi kebutuhan pokoknya. Kalopun ada orang kaya / superkaya / penting "turun langsung" ke pasar tradisional, bisa dipastikan gak lama kemudian di daerah itu diadakan pemilihan ... (alias saat itu sedang dalam masa kampanye :P)
* Kalangan menengah ke bawah. Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan oleh produsen / pedagang BESAR di atas, rasanya 80 - 90% dari golongan ini pun sepakat untuk TIDAK memprioritaskan belanja ke pasar tradisional :P.
* Hitung sendiri, berapa banyak orang2 yang sudi untuk memilih berbelanja ke pasar tradisional / pedagang kecil / SEKTOR RIIL.
# Rumour yang berkembang.
"(sorry to say) suatu saat nanti mayoritas Rakyat Indonesia hanya akan menjadi buruh / pekerja rendahan di Negaranya sendiri.". ane pikir hal itu bukanlah rumour yg terlalu berlebihan jika mengingat pola konsumsi mayoritas Masyarakat Indonesia sendiri. Berikut ini beberapa kejadian sepele yang pernah ane tangkap basah ;
* Beberapa tahun lalu ada satu toko kelontong yang lumayan besar dideket rumah ane, selama bertahun-tahun, toko kelontong itu bisa dibilang supplier utama kebutuhan pokok Masyarakat di lingkungan itu. sampe suatu saat beberapa ratus meter dari tempat itu berdiri sebuah supermarket. Ironisnya, dua anak dari si pemilik kelontong itu memilih bekerja menjadi pelayan di supermarket (memilih menjadi bagian dari"saingan" Bapaknya sendiri). Hanya butuh waktu setahun untuk menjadikan toko kelontong itu "sukses" ; from hero tozero / mengibarkan bendera putih.
* Mudik beberapa tahun lalu ane pulang ke kampung. Kampung tempat leluhur ane itu memang lumayan agak ndeso. Kebetulan waktu itu baru aja berdiri sebuah supermarket. Ketika ane lewat di depan supermarket baru itu, mayoritas yang belanja disana adalah orang2 dari kalangan (maaf menilai manusia lain) sosial yang jauh dari sebutan orang mampu. Maksud ane adalah ; banyak dari mereka yang daya belinya sedikit pun gak sungkan untuk "memperkuat" ekonomi pedagang besar dibanding mempertahankan solidaritas sesama orang kecil. Dan yang paling ane inget ketika ane iseng beli rokok di kios rokok kecil gak jauh dari supermarket itu, ekspresi pemilik kios rokok itu terlihat agak kaget sedikit (mungkin pikirnya ; "aneh ada orang yg lebih memilih belanja disini (bersama konsumen lain ; abang becak / ojek dll) dibanding di supermarket yg letaknya gak terlalu jauh itu.
# Kesimpulannya.
* kadang tanpa sadar, kita sendiri yang secara aktif "mempercepat kematian"para pengusaha sektor riil itu, di lain sisi, kita selalu berteriak menuntut "Pemerintah setempat tidak berpihak pada sektor riil, buktinya ; bla.. bla..)
* akan jadi percuma jika kita hanya menuntut regulator untuk menolak perdagangan bebas / modal besar / asing tapi kita sendiri GAK PERNAH membantu "mempromosikan" berkembangnya sektor riil itu sendiri.
* mungkin sebagian berpikir yang terbaik itu "menyuarakan" boikot produk asing, tapi di saat yang sama mereka juga secara aktif mengkonsumsi produk yg katanya mereka "musuhi" itu.
* Ada baiknya jika kita mulai mendisiplinkan diri dan lingkungan terdekat (keluarga dll) untuk ikut secara aktif memperkuat SEKTOR RIIL secara riil :)
*** Cerita Lain ***
KISAH SESENDOK MADU
http://ervakurniawan.wordpress.com/2009/10/01/kisah-sesendok-madu/
Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota.
Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut. "Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air.Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota."
Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.
Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS Yuusuf; 12:108)
Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS AnNisaa'; 4:84)
Perhatikanlah kata-kata : "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri". Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu" Setiap orang menurut Beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.
*** End ***
@ Kebangkitan Ekonomi Indonesia: "You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one :)"
Selamat Menbaca

Trainer, Facilitator, Reiki Healer
Dinamika Lintasnusa Initiative
mobile phone : 0888 321 8199 / 0813 28 199001 / 0881 181 2153 / 0897 588 3939
email : stpweb@gmail.com, stpweb@live.com, stpweb@ymail.com
Facebook: http://www.facebook.com/stpweb
Linkedin: http://www.linkedin.com/pub/sapto-tanoyo-poedjanarto/11/7ab/142
Instant Messenger :
Yahoo ID : s_t_poedjanarto /stpweb@ymail.com, MSN/windowslive : stpweb@live.com
Google Talk : stpweb@gmail.com, ICQ : 390021249 , Jabber : stpweb@jabber.org
AIM : stpweb ,Skype : stpweb.skype
Website & Group Community :
No comments:
Post a Comment