tinggi dan tekanan darahnya meningkat akibat banyak makan daging dan
makanan berlemak. Sahabat lain yang saat itu juga ada disitu
menuturkan bahwa dirinya sudah tidak lagi merasakan nikmat ketika
makan daging, sate dan yang sejenisnya, kenikmatan yang dulu sangat
dirasakannya kini makin berkurang dan menghilang. Barangkali karena
sangat sering memakan yang seperti itu, tambahnya.
Sangat jauh berbeda dengan pemandangan yang tadi pagi saya lihat di
pasar 16 Ilir Palembang. Seorang Bapak tukang angkat barang belanjaan
pasar, berusia sekitar 48 tahun, dengan keranjang di pundaknya,
pakaiannya lusuh dan sudah sangat usang, badannya kurus dan nampak
tidak terawat. Bertanya kepada penjual lontong sayur di sebelah saya,
berapa satu piring? tanyanya. Dua ribu lima ratus, jawab si penjual.
Entah mengapa, nampak Bapak ini ragu-ragu untuk membelinya. Setelah
berfikir, akhirnya ia pun memesan satu piring. Begitu pesanannya
diberikan, ia menunjuk beberapa potongan lontong yang tercecer di meja
saat si penjual melayani para pembeli sebelumnya. "Itu masukkan sini,
yang itu juga, yang itu juga" katanya memohon kepada penjual. Si
penjual kemudian memasukkan lontong-lontong tadi ke dalam piringnya.
Kemudian dengan lahapnya Bapak tadi makan, dalam waktu yang sangat
singkat piring pun sudah bersih.
Saat ia mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, saya bilang
kepadanya "Biar sekalian saya saja Pak yang bayar". Semula dia
menolak, namun kemudian ia mau saya bayarin. Beberapa kali ia
mengucapkan terimakasih, sambil mengangkat keranjang ke pundaknya ia
pun pamit duluan. Dari wajahnya saya dapat merasakan betapa gembira
hatinya saat itu.
Sambil mengajak istri pulang belanja, saya ceritakan peristiwa tadi,
"Yang, kalau tidak sangat lapar tidak mungkin Bapak tadi mau makan
potongan-potongan lontong yang terjatuh dan sebagian sudah kotor" kata
saya. Sepanjang jalan tak henti kami memikirkan hal itu.
Bahan renungan. dikutip dari:
http://saifurrahman.blogspot.com/2007_09_01_archive.html
No comments:
Post a Comment