Kantor Berita Common Ground (CGNews) bertujuan untuk mempromosikan
pandangan konstruktif dan dialog tentang berbagai isu yang
mempengaruhi hubungan Arab-Israel & Muslim-Barat. CGNews tersedia
dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, Yahudi, Indonesia, dan Urdu.
Untuk berlangganan, klik di sini. Untuk arsip artikel-artikel CGNews
yang lawas, silakan kunjungi situs web kami di www.commongroundnews.org.
Edisi 22 - 28 Agustus 2008
Perdamaian Sungguh Sebuah Kerja Keras
oleh Deanna Armbruster
Dalam artikel keempat dari seri hubungan Muslim-Yahudi ini, Deanna
Armbruster, penulis dan direktur eksekutif American Friends dari Neve
Shalom/Wahat al-Salam, memberi contoh para penduduk Yahudi dan Arab
dari Oase Perdamaian – yang telah memutuskan untuk menghadapi
kenyataan hidup saling berdampingan, yang tentunya membutuhkan usaha
keras saban hari demi perdamaian – menjangkau wilayah yang lebih luas
dari hubungan Muslim-Barat.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008)
Menangani Kesenjangan Pendidikan bagi Minoritas
oleh Tuli Dewan
Dengan menggambarkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat-
masyarakat multi-bahasa tempat siswa-siswa tertentu berjuang
mempelajari sebuah bahasa baru agar dapat memperoleh pendidikan umum,
Tuli Dewan, manajer program Green Hill, membahas apa yang sedang
dilakukan LSM-LSM Bangladesh untuk mengatasi hambatan ini.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008)
Mahmoud Darwish: Seorang Rakyat dan Penyair
oleh Ibtisam Barakat
Ibtisam Barakat, penulis dan pendidik, mencurahkan kedukaan atas
berpulangnya penulis terhormat Palestina, Mahmoud Darwish yang,
diilhami oleh visi rekonsiliasi, bergerak dari " satu langit ke langit
lain dan melintasi perbatasan demi perbatasan".
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008)
~Pandangan Kaum Muda~ Rumah di Negeri Asing
oleh Saher A. Ashary dan Meryem Maaroufi
Saher A. Ashary dan Meryem Maaroufi, mahasiswa University of Sharjah
dan Al Akhawayn University, mengevaluasi keberhasilan integrasi
imigran Arab dan Muslim ke dalam masyarakat AS dan Eropa yang lebih
luas, dan menanyakan apa yang bisa dilakukan dalam komunitas global
yang terhubung secara teknologi untuk belajar dari contoh yang
diberikan satu sama lain.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 19 Agustus 2008)
Kebebasan Berbicara Itu Dua Arah
oleh Shahed Amanullah
Menyorot publikasi mendatang akan buku kontroversial, Jewel of Medina,
pemred altmuslim.com Shahed Amanullah bertanya, "Mengapa Muslim tampak
begitu sensitif terhadap apa yang dikatakan media tentang mereka?"
(Sumber: altmuslim.com, 7 Agustus 2008)
Perdamaian Sungguh Sebuah Kerja Keras
Deanna Armbruster
Oase Perdamaian, Israel – Di Israel, ada sebuah desa tempat orang Arab
dan Yahudi hidup rukun. Kedua kelompok berusaha untuk menciptakan
sebuah masyarakat yang dapat menjadi model bagi perdamaian di wilayah
tersebut.
Apakah namanya? Oase Perdamaian. Walaupun namanya memberi kesan bahwa
kota kecil tersebut merupakan sebuah utopia yang ajaib dan idealis,
orang-orang yang tinggal di sana sangat ditantang setiap hari oleh
kenyataan dari sebuah konflik yang penuh kesulitan, penderitaan, dan
kekerasan. Seperti hal apa pun yang cukup berharga untuk
diperjuangkan, perdamaian hanya akan terwujud oleh kerja keras.
Entah bagaimana, ada rasa takut bahwa desa tersebut akan mengancam 5,4
juta orang Yahudi di Israel dan 5,1 juta orang Arab Palestina di
Israel-Palestina. Namun itu tak lebih omong kosong. Hanya ada sepasang
suami istri campuran, yang sekarang tinggal di sana selama lebih dari
25 tahun, yang campuran. Lainnya adalah 54 keluarga bukan campuran
dari orang-orang Yahudi, Muslim, dan Kristen; mereka sama-sama
memiliki keyakinan yang kuat akan jati diri mereka, tetapi telah
melakukan upaya sungguh-sungguh – selama lebih dari tiga dekade –
untuk hidup berdampingan satu sama lain, dan karena itu telah
mempengaruhi masyarakat.
Banyak yang dapat dipelajari dari Neve Shalom, nama Hebrew-nya, atau
Wahat al-Salam begitu ia disebut dalam bahasa Arab, tentang hubungan
antar agama.
Di sekolah dasar Yahudi-Arab, anak-anak belajar keyakinan lain dengan
rasa ingin tahu yang alamiah. Murid-murid tersebut berbuka puasa
bersama saat Ramadhan, berbagi sukkah pada Hari Sukkot, dan bertukar
hadiah kecil saat Natal. Dan dialog pun dimulai, dan tak akan pernah
berakhir, di Pusat Kemajemukan Spiritual, tempat diskusi-diskusi yang
melampaui agama; dalam kesadaran bahwa konflik yang terjadi bukanlah
antara Taurat - Al Quran - Injil.
Kesulitan-kesulitan muncul ketika isu-isu konflik diletakkan di atas
meja.
Konflik Israel-Palestina merupakan sebuah perjuangan politik antara
dua kelompok bangsa yang menyangkut tanah, sumber daya, keamanan,
kemerdekaan, kesetaraan, kekuasaan, identitas, dan keadilan. Dialog
produktif harus mengikutsertakan pengakuan tentang hal ini dan tidak
membatasinya pada isu-isu antar dan dalam agama.
Pencarian sebuah penyelesaian bagi konflik Israel-Palestina
membutuhkan sebuah sudut pandang terhadap gambaran yang besar. Tujuan
akhir seharusnya adalah menciptakan stabilitas bagi Israel dan
Palestina, sehingga mereka dapat hidup aman dan rukun, dalam semangat
gotong-royong dan hormat-menghormati.
Itu berarti membangun landasan bersama, membagi kisah dan mengakui
rasa sakit dan penderitaan orang lain. Bangsa Israel dan Palestina,
orang Yahudi, Muslim, dan Kristen harus menunjukkan kesediaan untuk
saling menerima. Pada akhirnya itu merupakan sarana untuk melihat
musuh memiliki kesetaraan dalam hal kemanusiaan. Lebih mudah
dibicarakan daripada dilaksanakan.
Menyelesaikan konflik Israel-Palestina merupakan kartu domino utama
untuk melihat berbagai dialog penting antara dunia Arab dan Barat.
Tanpa katalis seperti itu, dialog akan berjalan lamban. Dan dialog
memberikan forum bagi pengertian dan pencarian penyelesaian;
penyelesaian-penyelesaian yang tidak akan terwujud tanpa pembicaraan.
Barat harus belajar lebih banyak tentang Islam. Bukan karena itu
merupakan keyakinan dari "musuh kita" tetapi karena, bercermin pada
anak-anak di Neve Shalom/Wahat al-Salam, itu merupakan keyakinan dari
tetangga-tetangga kita.
Seperti halnya yang sedang dilakukan Oase Perdamaian, kita harus
beranjak melampaui anggapan bahwa bangsa Arab merupakan orang-orang
yang sudah pada dasarnya mengerikan. Kita menggambarkan permusuhan
semu untuk menciptakan musuh, tetapi kita harus menantang diri kita
sendiri untuk memecahkan gambaran-gambaran umum tersebut,
mempertanyakan asumsi-asumsi dasar, dan meningkatkan kesadaran. Lebih
jauh daripada itu, Barat harus belajar tentang konflik-konflik
ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan yang dihadapi wilayah
tersebut.
Isu-isu antara Barat dan Timur tidak hanya berkisar agama, tetapi
dinamika politik, perjuangan memperoleh sumber-sumber daya,
kepentingan pribadi, kemerdekaan, dan relasi kekuasaan. Ketika kita
mulai mengerti hal ini, kita akan memperkuat hubungan-hubungan itu.
Ada sekitar 500 keluarga lagi dalam daftar tunggu yang ingin pindah ke
Oase Perdamaian. Musim gugur ini, 15 keluarga akan melaksanakan
rencana mereka dan mulai membangun rumah dan masa depan yang baru.
Mereka datang dengan niat baik yang besar dan mungkin sedikit
pengertian tentang tantangan-tantangan besar yang akan mereka hadapi.
Tetapi mereka menawarkan secercah cahaya pada dunia.
Para penduduk desa kecil ini sedang memindahkan rintangan sendirian,
memperlihatkan bahwa perdamaian berada dalam genggaman orang-orang
yang mencarinya dan yang bersedia mengorbankan bias mereka, hingga
semua dapat berbagi kemungkinan perdamaian.
Ketika mereka memberi contoh kepada siapa pun di wilayah tersebut,
selanjutnya terserah kita semua dalam mengikuti langkah mereka.
###
* Deanna Armbruster adalah direktur eksekutif American Friends dari
Neve Shalom/Wahat al-Salam dan penulis Tears in the Holy Land: Voices
from Israel and Palestine. Artikel ini, bagian dari seri hubungan
Muslim-Yahudi, ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews),
awalnya muncul di Christian Science Monitor.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
Menangani Kesenjangan Pendidikan bagi Minoritas
Tuli Dewan
Wilayah Bukit Chittagong, Bangladesh - Partisipasi kaum minoritas
dalam usaha-usaha pembangunan sangat berarti dalam penyebaran hasil-
hasil pembangunan bagi seluruh bagian masyarakat secara merata. Tetapi
sebuah budaya partisipasi minoritas dalam usaha pembangunan nasional
sering tidak ditemukan di Bangladesh dan bagian-bagian penting dari
masyarakat dibiarkan tanpa sarana untuk berperan serta. Lembaga-
lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat berupaya mengisi kesenjangan
ini.
Bangladesh adalah sebuah negara mayoritas Muslim dengan jumlah
penduduk Muslim keempat terbesar di dunia. Kelompok-kelompok agama,
bahasa, dan kebudayaan lain di negara tersebut – umat Buddha, Hindu,
Kristen, dan animisme – mencakup 10 persen dari seluruh jumlah
penduduk. Didirikan sebagai sebuah demokrasi parlemen, yang
mencerminkan keragaman keagamaan dan karakter majemuk negara tersebut,
Islam dijadikan agama negara pada 1988 dan pemerintah sekarang telah
bekerja dalam keadaan gawat darurat sejak Januari 2007.
Rakyat Bangladesh tidaklah seseragam seperti anggapan banyak orang,
dan kebanyakan etnis minoritas secara tidak sengaja terperangkap dalam
keterbelakangan pembangunan sosial.
Walaupun pendidikan telah diakui sebagai sebuah hak asasi manusia yang
universal dan mendasar, mutu pendidikan terus luput dari para siswa
pribumi di Wilayah Bukit Chittagong (CHT) Bangladesh. Sumber daya
pendidikan yang tidak memadai bersama dengan tingginya tingkat putus
sekolah – hampir 20 persen siswa putus sekolah disebabkan oleh
hambatan bahasa – menciptakan sebuah lingkungan di mana para
penduduknya jika tidak gagal memetik manfaat dari usaha-usaha
pembangunan, maka mereka juga tidak memiliki bekal untuk berperan
serta di dalamnya.
Wilayah CHT, yang terletak di sudut timur Bangladesh memiliki luas
5,092 mil persegi dan merupakan rumah bagi 11 kelompok etnik minoritas
yang berbeda di dataran-dataran tetangga, tidak hanya dari latar
belakang geografis tetapi juga dalam suku bangsa, status sosio-
ekonomi, bahasa, budaya, agama, gaya hidup, adat, dan tradisi.
Chakma adalah kelompok etnik pribumi di CHT, dan bahasa yang paling
banyak digunakan, disusul oleh Marma, yang dilafalkan di bagian
selatan daerah tersebut, selain bahasa-bahasa setempat. Namun, anak-
anak sekolah dasar di CHT diwajibkan untuk mengambil kelas dalam
bahasa Bengali – bahasa negara. Rintangan bahasa ini membuat mereka
kesulitan untuk memahami buku wajib atau mengikuti pelajaran dari guru-
guru mereka. Sekolah jadi terasa membosankan, dan akhirnya mereka
mulai kehilangan minat dalam belajar.
Tantangan bahasa di sekolah dasar secara alamiah mempengaruhi
pendidikan yang lebih tinggi. Permasalahan dalam pemahaman bahasa di
tahap awal ini menghasilkan pembelajaran yang lemah. Kurikulum akan
lebih mudah dipahami oleh para siswa, jika pendidikan diajarkan dalam
bahasa ibu seorang anak. Ini membantu membuka kunci bagi intuisi,
kekuatan pikiran dan imajinasi seorang anak.
Walaupun sesi ke-40 Organisasi Buruh Internasional pada 1957 menerima
sebuah resolusi (Pasal 23(1) Konvensi 107) yang dengan jelas
memberikan pendidikan bagi anak-anak pribumi dalam bahasa ibu mereka,
sedikit yang telah dilakukan pemerintah untuk melaksanakan hal ini.
Lebih jauh, Pasal 33 (kha) dari Persetujuan CHT ditandatangani oleh
pemerintah Bangladesh dan Parbartty Chttagram Jana Sanghati Samity
(PCJSS), sebuah partai politik regional yang memimpin gerakan bagi hak-
hak pribumi, juga memberikan pendidikan dasar dalam bahasa pribumi.
Dan Pasal 17 konstitusi Bangladesh menetapkan bahwa semua anak harus
menerima pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat – yang
menunjukkan bahwa tidak ada rintangan hukum bagi penyediaan pendidikan
dalam bahasa-bahasa regional.
Karena ketiadaan bantuan pemerintah, beberapa LSM telah meluncurkan
sebuah prakarsa untuk mengajar anak-anak Chakma, Marma, dan Tripura,
dalam bahasa mereka masing-masing pada tingkat taman kanak-kanak di
beberapa sekolah, di dalam dan di luar kota.
Prakarsa penuh perjuangan ini hanya akan berhasil dengan dukungan
pemerintah nasional dan akan memetik manfaat dari bantuan dari donor-
donor internasional. Jika berhasil, prakarsa ini dapat menjadi model
bagi negara-negara lain dengan penduduk yang memiliki beragam bahasa
dan memiliki tantangan-tantangan pembangunan dalam masyarakat-
masyarakat multietnik dan/atau multibudaya.
###
* Tuli Dewan adalah manajer program Green Hill (www.greenhill-
cht.org), sebuah lembaga swadaya masyarakat di wilayah Bukit
Chittagong Bangladesh. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common
Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
Mahmoud Darwish: Seorang Rakyat dan Penyair
Ibtisam Barakat
Columbia, Missouri – Di suatu siang, 9 Agustus 2008, saya sedang
bersiap-siap berbicara tentang pohon zaitun Palestina kepada
sekelompok penulis dan pemikir di Keystone College in Pennsylvania.
Untuk judul paparan tersebut, saya memecah kata olive (zaitun) menjadi
dua, dan mengubahnya menjadi O' Live! But death mocked me (O
Kehidupan! Tetapi kematian mengejekku).
Sesaat sebelum saya meninggalkan ruangan untuk acara tersebut, telepon
berbunyi. Telepon itu berasal dari kawan saya, pemusik Saed Muhssin,
yang menelepon dari San Francisco. Suaranya dalam, sedalam lembah,
jarang naik kalau bicara: "Sudahkah kamu mendengar?" tanyanya. "Ini
berita duka", ia berancang-ancang. "Mahmoud Darwish wafat hari ini."
Pikiran saya menangis. Hati saya perih dengan segala kehilangan
Palestina yang tak tersembuhkan, yang diingatkan kembali oleh setiap
kehilangan baru – kehilangan Darwish membuat saya mengingat puisinya.
"Aku tersimpul di sana. Beribu kenangan ku punya", tulis Darwish.
Kenangan-kenangan yang ia catat dalam sekurang-kurangnya 30 buku puisi
dan prosa, diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, kurang lebih.
Ia dilahirkan pada tahun 1941, dan menerbitkan buku puisi pertamanya
sebelum usia 20 tahun. Selama empat dekade, para penyair Palestina dan
Arab diilhami olehnya, merujuk kepadanya, menirunya, memperdebatkan
puisinya.
Saed dan saya termasuk Generasi M, sebuah identitas yang kami ciptakan
beberapa tahun lalu. Saya tumbuh besar di Tepi Barat, di bawah
pendudukan Israel, dan Saed adalah seorang warga negara Israel. Kami
berdua adalah bangsa Palestina, kami memiliki kehidupan yang sama
sekali berbeda. Tetapi di balik itu semua, kami berbagi kehampaan yang
sama, kelaparan akan kebebasan, bagi sebuah dunia yang lebih indah.
Kami mengisi rasa lapar kami dengan puisi-puisi Mahmoud Darwish, dan
menyebut diri kami sebagai Generasi M.
Akibat ketiadaan rumah, Darwish mengubah bahasa menjadi sebuah tenda
yang luas – bagi kami dan bagi semua yang membutuhkan sebuah rumah. Ia
mengubah rasa rindu menjadi sebuah tempat pertemuan. Mereka yang
berada dalam pengasingan dapat bertemu para ibu kami melalui ibunya –
yang ia tak pernah lihat selama bertahun-tahun – ketika ia berseru:
Aku rindu roti bakar ibuku
Aku haus kopi ibuku.
Haus aku akan sentuh ibuku.
Ia menggunakan kata bahasa Arab ahennu untuk rindu, yang berarti
sebuah kerinduan berselimut cinta. Itu adalah sebuah kata yang
membangunkan ribuan perasaan sekaligus, dengan sejumput jejak gelora
tak tertahankan.
Pada 1982, ia menulis "lasta wahdaka" (engkau tidak sendirian) untuk
Yasser Arafat, ketika bangsa Palestina diusir dari Beirut. Darwish
mengatakan itu kepada setiap orang di muka Bumi, kepada setiap orang
yang diusir ke pengasingan untuk kesekian kalinya.
Dan pertanyaannya: "Kemana burung harus terbang setelah langit
terakhir?" membuat saya menciptakan langit demi langit baru yang tak
berkesudahan, menumpuk seperti kasur bagi para pengungsi Bumi.
Darwish, nama yang dalam bahasa Arab berarti seorang laki-laki suci
pengelana spiritual, sesungguhnya sangat tepat baginya. Ia berpindah
dari satu langit ke langit lain dan melintasi perbatasan demi
perbatasan – antara Palestina, Israel, Rusia, Prancis, Yordania,
Lebanon, Mesir, dan negara-negara lain. Di mana pun ia berada, kata-
kata di tangannya merupakan sebuah lampu ajaib yang membebaskan jin
dari bahasa Arab. Ia mengetahui hati bangsa Palestina. Ia mengetahui
bahwa mereka hanya memiliki satu permintaan bagi sang jin, satu
permintaan penuh kerinduan dari bahasa mereka – "rumah."
Seperti yang terlihat dalam bahasa dan puisinya, Darwish memiliki
sebuah visi dan semangat untuk meraih keadilan. Ia membantu menuliskan
sambutan terkenal Arafat kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa pada 1974, yang di dalamnya Arafat memohon kepada dunia
dengan mengulang tiga kali, "La tusqeto al-ghusna al-akhdar min
yadee" (jangan biarkan tunas hijau ini jatuh dari tangan saya).
Pada 1988, Darwish merancang proklamasi kemerdekaan Palestina. Di sana
ia mengatakan bahwa perdamaian dapat dicapai dengan membentuk dua
negara – satu Palestina, satu Yahudi. Ia menulis bahwa perdamaian
dapat terwujud "di tanah cinta dan perdamaian" itu.
Diilhami oleh visi rekonsiliasi, ia menekankan bahwa bangsa Palestina
akan menjadi sebuah masyarakat yang berhasil dalam hak-hak asasi
manusia, kesetaraan, demokrasi, perwakilan, tanggung jawab sosial, dan
rasa hormat penuh kepada semua orang, termasuk perempuan dan orang-
orang dari keyakinan yang berbeda.
Pada salah satu penampilan terakhir Darwish, pada Juli 2008, para
penonton di Ramallah menerimanya seolah-olah mereka menyadari bahwa
itu merupakan kali terakhir mereka melihatnya. Mereka berdiri seperti
pohon-pohon berjajar yang wangi dan sering ia tanam dalam puisinya.
"Pikirkan antara (others)", ia berkata kepada mereka.
Ketika engkau menyiapkan sarapan pagimu – pikirkan antara. Jangan lupa
memberi makan burung-burung merpati. Ketika engkau mengobarkan
perangmu – pikirkan antara. Jangan lupakan mereka yang menginginkan
perdamaian. Ketika engkau membayar tagihan airmu – pikirkan antara.
Pikirkan mereka yang hanya memiliki awan untuk diminum. Ketika engkau
pulang ke rumah, rumahmu sendiri – pikirkan antara – jangan lupakan
mereka yang hidup di dalam tenda-tenda. Ketika engkau tidur dan
menghitung planet-planet, pikirkan antara – ada orang yang tidak punya
tempat untuk tidur. Ketika engkau membebaskan dirimu sendiri dengan
metafor-metafor, pikirkan antara – mereka yang kehilangan hak mereka
untuk bicara. Dan ketika engkau memikirkan antara yang jauh – pikirkan
dirimu sendiri dan berkata, "Andai aku lilin dalam kegelapan."
Berbicara secara terbuka tentang kematian, ia mengaku kepada harian
Arab Al-Hayat: "Saya tidak lagi takut dengan kematian. Dulu saya takut
terhadapnya. Tetapi sekarang saya hanya takut akan matinya kemampuan
saya menulis dan kemampuan saya menikmati hidup."
Sambil melanjutkan pergulatannya dengan seni, ia menulis, "Saya pikir
puisi dapat mengubah segalanya, dapat mengubah sejarah dan dapat
memanusiakan…. Sekarang saya pikir puisi hanya mengubah penyairnya."
Mahmoud Darwish yang terhormat, puisimu mengubahku.
###
* Ibtisam Barakat (www.ibtisambarakat.com) adalah penulis Tasting the
Sky: A Palestinian Childhood (Farrar, Straus dan Girouks, 2007) dan
pendiri seminar-seminar Write Your Life yang mendorong orang untuk
menemukan suara mereka. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common
Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
~Pandangan Kaum Muda~ Rumah di Negeri Asing
Saher A. Ashary dan Meryem Maaroufi
Sharjah, UAE/Ifrane, Maroko – Komunikasi gobal pada abad ke-21 telah
mengurangi jarak antara orang dari berbagai budaya dan wilayah, dan
imigrasi telah membawa orang-orang dari peradaban yang berbeda-beda
menjadi lebih dekat satu sama lain. Tapi, ideologi, sistem nilai dan
agama yang berbeda, yang dipegang oleh orang-orang yang berbagi ruang
fisik yang sama kerap menghasilkan pandangan yang berlainan tentang
bagaimana individu-individu harus berperilaku dan sejauh mana masing-
masing kelompok mampu berpartisipasi dalam masyarakat.
Ketegangan antara penduduk asli dan populasi imigran paling banyak
terjadi di Eropa, terutama dalam hal hubungan Arab-Eropa. Orang Arab
dan Eropa sama-sama berasal dari peradaban mapan dengan sistem nilai
yang kuat tapi berbeda, yang terbentuk dari keyakinan agama dan
kebiasaan sosial selama berabad-abad.
Ketidaksediaan untuk berubah di kedua pihak telah mengarah ke
polarisasi sosial. Menurut cendekiawan Universitas Harvard, Jocelyn
Cesari, imigran Arab di Eropa mengalami kesulitan-kesulitan untuk
masuk ke masyarakat, mereka memiliki angka pengangguran tertinggi dari
semua minoritas, dan kecenderungan terbesar untuk menjalani hidup
terpisah di lingkungan termiskin. Implikasi dari polarisasi ini tampak
dalam kerusuhan 2005 di Prancis.
Contoh-contoh dari perpecahan semacam itu ada di seluruh AS juga, tapi
secara keseluruhan, AS jauh lebih menerima budaya baru, sebagian
karena kemudaannya sebagai bangsa, dan sebagian karena mereka menerima
lebih sedikit imigran Arab, sekitar empat kali lebih sedikit dari
sekitar lima juta orang Arab yang tinggal di Eropa. Kelompok yang
lebih kecil ini cenderung berakar dari segmen masyarakat yang lebih
sejahtera dan berpendidikan.
Rata-rata, Arab Amerika tidak tinggal di perkampungan minoritas dan
menikmati gaya hidup yang lebih kaya, baik secara finansial dan dalam
kualitas hidup. Menurut data yang dikumpulkan pada tahun 2000 oleh
Biro Sensus AS, mereka tampaknya lebih mampu dan lebih bersedia
mengambil keuntungan dari kesempatan pendidikan AS: 41 persen adalah
lulusan perguruan tinggi, dibandingkan dengan 24 persen populasi
Amerika secara keseluruhan yang memiliki gelar sarjana.
Pendidikan dan kerja keras mereka terbayar. Pemasukan rata-rata
keluarga Arab Amerika adalah $52.300, lebih tinggi 4,6 persen dari
pemasukan rata-rata nasional, memberikan segmen ini kesempatan
pekerjaan, gaya hidup, dan menghilangkan sebagian beban pengangguran
dan pemisahan yang dihadapi oleh rekan-rekan Eropa mereka.
Namun peristiwa 9/11 telah menghambat kemajuan ini. Kini, istilah Arab
dan Muslim (kerap digunakan secara salah sebagai sinonim satu sama
lain) kian diasosiasikan dengan terorisme, ekstremisme, dan
barbarisme. Serangan teroris, dilakukan atas nama Islam, terus
membakar kecurigaan Barat dari segala yang berhubungan dengan Arab
atau Muslim.
Di zaman komunikasi yang terus meningkat ini, semua masyarakat dan
kelompok sosial harus menemukan cara untuk saling memahami, agar hidup
dalam kedamaian dan harmoni. Ini adalah kata-kata sederhana, tapi
memerlukan komitmen dan upaya yang keras dari diri kita masing-masing.
Syukurlah, individu-individu bangkit menghadapi tantangan ini.
Banyak Arab Amerika yang berusaha menjelaskan budaya dan agama mereka
ke orang Amerika sebagai reaksi terhadap serangan 9/11. Misalnya,
seorang pria Arab, Mehdi El-Afifi dari Teaneck, New Jersey sedang
mengantarkan putrinya serta temannya pulang pada pagi serangan 9/11,
ketika seorang wanita mulai menunjuk jarinya ke gadis-gadis di dalam.
Dia berteriak, "Lepaskan kerudungmu!"
Mengikuti insiden ini, Mehdi El-Afifi, bersama anggota komunitasnya,
memulai rangkaian pembicaraan menjelaskan tentang Islam dan dunia Arab
di New York dan New Jersey. Bersama-sama mereka mengunjungi gereja,
sinagog, sekolah, organisasi wanita, dan klub-klub pemuda. Mereka
meningkatkan kesadaran akan perbedaan budaya mereka, menghancurkan
stereotip negatif dalam prosesnya, dan menunjukkan bahwa Arab dan
Muslim Amerika bukanlah teroris yang ingin mengebom negara itu.
Individu-individu seperti ini membantu menjembatani jurang antara
warga yang berbagi wilayah geografis yang sama. Tapi lebih banyak
orang harus terlibat; saat ini, upaya sadar diperlukan bukan saja dari
anggota masyarakat sipil, tapi juga dari politisi, sejarahwan, dan
para pemimpin agama. Contoh semacam ini dapat mencegah polarisasi
lebih jauh muncul di dunia, terutama dalam masyarakat kita yang global
dan terhubung secara teknologi di mana kekuatan kemajuan komunikasi
dan ketersambungan memungkinkan kita untuk belajar dari contoh yang
diberikan satu sama lain.
###
* Saher A. Ashary adalah mahasiswa yunior di American University of
Sharjah, dengan jurusan hubungan internasional. Meryem Maaroufi adalah
mahasiswa yunior di Al Akhawayn University, dengan jurusan kajian
internasional. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
Kebebasan Berbicara Itu Dua Arah
Shahed Amanullah
Austin, Texas – Dulu, pada tahun 1989, ketika publikasi novel Salman
Rushdie The Satanic Verses menyalakan fenomena baru protes umat Muslim
di masa itu– terutama oleh mereka di Barat – saya adalah ketua senat
mahasiswa Universitas California di Berkeley, di mana Gerakan
Kebebasan Berbicara dilahirkan pada 1960-an. Dua toko buku saat itu
dibom – tampaknya berhubungan dengan buku itu, meski tanpa klaim
tanggung jawab.
Bersama dengan beberapa mahasiswa Muslim lainnya, saya muncul di
televisi lokal untuk memberitakan pengeboman itu dan menyatakan
keyakinan kami bahwa sementara Muslim bisa dipahami
ketersinggungannya, tapi tak seorangpun berhak memaksakan penyensoran
atau mengintimidasi antara (others) dengan ancaman terhadap keamanan
atau properti mereka.
Situasi itu menempatkan kami dalam posisi unik menjadi target
pelecehan oleh Muslim dan non-Muslim, yang entah menuduh kami menutupi
kesalahan akan keinginan untuk memaksakan keyakinan kami pada antara
(ini dari publik secara umum) atau meminta maaf untuk kemarahan Muslim
yang sah, tanpa mengabaikan apakah itu sudah melewati batas memasuki
kekerasan (ini dari rekan Muslim). Ini merupakan paradoks yang telah
terjadi berulang kali dalam 20 tahun ini, yang terbaru adalah kartun
orang Denmark dan reaksi kekerasan yang dilakukan sebagian Muslim di
dunia terhadap mereka.
Beberapa pertemuan yang lebih abrasif antara Muslim dan antara selama
ini tidak berpusat pada politik atau kebijakan luar negeri, tapi lebih
kepada wilayah kebebasan berekspresi. Muslim secara alami mengambil
pengecualian akan cara keyakinan mereka digambarkan oleh sebagian
seniman, penulis, dan akademisi.
Non-Muslim, pada gilirannya, mengkritik beberapa buku yang ditulis
oleh Muslim sebagai ofensif, begitu juga institusi yang menjualnya
(seperti kami, kebetulan). Dalam kedua kasus, orang kerap bicara
dengan dan melewati satu sama lain ketimbang kepada satu sama lain.
Ide-ide tidak dipertukarkan, dan lingkaran ini terus berlanjut.
Jadi mengapa Muslim tampaknya begitu sensitif terhadap apa yang
dikatakan media tentang mereka?
Muslim secara umum merasa diperangi selama beberapa dekade terakhir.
Karena citraan mereka di media menjadi kian tidak rmewakili Muslim
rata-rata. Saat mereka berjuang melawan citra ini, mereka dikatakan
bahwa syarat untuk perubahan adalah mereka harus mengubah perilaku
Muslim Ekstremis, yang berada jauh di luar wilayah pengaruh mereka –
kerap bahkan berjarak separuh dunia.
Muslim dalam posisi ini merasa mereka tak punya pilihan lain, kecuali
berusaha lebih keras melawan penggambaran yang melecehkan atau tidak
mewakili. Sebagian, sayangnya, berusaha terlalu jauh. Tapi Muslim
tidak sendiri dalam hal ini. Suara-suara yang berusaha untuk
memarjinalkan kehadiran Muslim dalam wacana publik secara rutin
melakukan hal yang sama.
Dua contoh baru-baru ini menggambarkan hal di atas: Upaya-upaya oleh
anggota kongres New York Peter King dan lainnya untuk mencekal iklan
"Why Islam" dari kereta bawah tanah New York City (berdasarkan
reputasi pendukung eksternal dari iklan ini); dan seruan oleh sebagian
orang untuk mencegah terbitnya buku Jewel of Medina. Tak satu pun dari
kedua upaya itu yang berhasil secara efektif mengatasi kontroversi,
yang akan tetap terhenti hanya untuk muncul kembali di hari yang lain.
Melihat pertukaran ini selama beberapa waktu, telah mengajarkan saya
bahwa respon terbaik untuk kebebasan berbicara adalah dengan berbicara
juga. Siapa pun punya hak untuk menerbitkan apa pun yang dia mau
tentang Islam atau Muslim – bahkan jika pandangan mereka ofensif –
tanpa takut akan penyensoran atau retribusi.
Namun, Muslim tidak boleh diharapkan untuk menjadi konsumen pasif dari
pandangan-pandangan ini. Muslim yang terganggu memiliki hak – malah,
kewajiban – untuk mengkritik apa pun yang ditulis tentang mereka atau
agama mereka, asalkan mereka tidak melewati garis menjadi intimidasi
dan kekerasan. Dalam dunia ideal, kedua pihak akan membuka pikiran
mereka untuk memahami sudut pandang yang berbeda.
Membuat orang-orang dari kedua pihak mengikuti garis pedoman ini akan
membutuhkan banyak rekondisi. Tapi komunitas Muslim alternatif yang
hiper-sensitif yang tak mampu secara konstruktif merespon kritik
eksternal (atau dalam hal ini, kritik internal), digandakan dengan
komunitas jurnalistik/artistik/sekuler yang merasa ketakutan dan
dikekang kebebasan berekspresinya – tak bisa jadi pilihan. Saat ini
kit amenyaksikan stagnasi dan meningkatnya kesalahpahaman yang berasal
dari wacana yang lumpuh.
Pada akhirnya, tak ada yang memiliki hak absolut untuk tidak
tersinggung, juga tak seorang pun punya hak untuk hidup tanpa opini
tak nyaman dari orang lain. Ini benar, entah sehubungan dengan
pembakaran bendera (yang tak merugikan apa pun kecuali sepotong kain)
atau pandangan non-Muslim tentang Nabi Muhammad (yang tidak
mempengaruhi keyakinan tulus seorang Muslim). Agama dan rasa
keberadaban universal mendiktekan bahwa emosi harus dijaga untuk
melindungi keteraturan sosial. Dalam lingkungan seperti itu, kebebasan
berbicara secara terbuka – dan semua keuntungan yang datang dari itu –
bisa berkembang.
Untuk maju, kita semua perlu mengembangkan kulit yang lebih tebal,
berpikiran lebih terbuka, dan pemahaman yang sama akan prinsip-prinsip
kebebasan berbicara, seperti yang mempengaruhi saya sebagai mahasiswa
dan memungkinkan saya untuk mempengaruhi orang lain. Pada saat itulah
semua orang – Muslim dan non-Muslim – akan mampu mengembangkan
masyarakat mereka dan secara simultan melindungi hak-hak mereka.
###
*Shahed Amanullah adalah pemred altmuslim.com. Artikel ini
didistribusikan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa
diakses di www.commongroundnews.org.
Sumber: altmuslim.com, 7 Agustus 2008, www.altmuslim.com
Telah memperoleh hak cipta.
Tentang CGNews
Kantor Berita Common Ground menyediakan berita, opini-editorial, fitur
dan analisis tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-
Israel & Muslim-Barat. CGNews mempersindikatkan artikel-artikel yang
konstruktif, memberikan harapan, mendorong dialog dan saling
pengertian, kepada saluran-saluran berita seluruh dunia. Baca terbitan-
terbitan lawas kami.
Komentar? Silakan mengirim email ke cgnews@sfcg.org. Ingin
mengirimkan artikel?
Kami menyambut sumbangan artikel dari para ahli lokal dan
internasional yang ingin memberikan pandangan-pandangan membangun dan
analisis tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-Israel &
Muslim-Barat.
Jika Anda ingin menyumbangkan artikel, silakan mengirim artikel secara
online.. Ingin mencetak ulang artikel?
Kecuali jika ada pernyataan khusus, artikel-artikel yang ada telah
memperoleh hak cipta dan boleh dicetak ulang oleh saluran-saluran atau
penerbitan berita. Tolong sebutkan sumber asli maupun Kantor Berita
Common Ground. Pandangan-pandangan yang diutarakan dalam artikel-
artikel ini merupakan pendapat pribadi para penulisnya, bukan CGNews
atau afiliasinya.
Kami menghargai waktu dan keleluasaan pribadi Anda. Anda menerima
email ini di %%emailaddr%%. Kunjungi web kami untuk berhenti
berlangganan.
Kantor Berita Common Ground bermarkas besar di 1601 Connecticut
Avenue, NW Suite 200 Washington, DC 20009 USA. Kunjungi kami di
webhttp://www.commongroundnews.org.
Kirim ke teman | Lihat sebagai halaman web | Hubungi kami |
©2008 Kantor Berita Common Ground
Layanan ini merupakan prakarsa nirlaba Search for Common Ground,
sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO), yang bermarkas di Washington
dan Brussels, yang misinya adalah untuk mengubah cara dunia menangani
konflik - menjauhi konfrontasi penuh permusuhan menuju penyelesaian
dengan kerja sama.
No comments:
Post a Comment