MITRA KEMANUSIAAN
Membangun Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh
Kantor Berita Common Ground (CGNews) bertujuan untuk mempromosikan
pandangan konstruktif dan dialog tentang berbagai isu yang
mempengaruhi hubungan Arab-Israel & Muslim-Barat. CGNews tersedia
dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, Yahudi, Indonesia, dan Urdu.
Untuk berlangganan, klik di sini. Untuk arsip artikel-artikel CGNews
yang lawas, silakan kunjungi situs web kami di www.commongroundnews.org.
Edisi 20 - 26 Juni 2008
Muslim Afrika Amerika Menolak Benturan Peradaban
oleh Dawud Walid
Dawud Walid, direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) di
Michigan, membahas bagaimana warga Muslim Afrika Amerika berperan
sebagai teladan bahwa kekerasan antara masyarakat Barat dan Muslim
bukannya tidak dapat dihindari.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Juni 2008)
Dunia Muslim Berbicara tentang Obama
oleh Yasser Khalil
Peneliti dan wartawan Mesir Yasser Khalil menjelaskan tumbuhnya
dukungan terhadap Obama di dunia Arab dan Muslim.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Juni 2008)
Bangsa Saudi Menyerukan Dialog
oleh Asma Hanif
Dalam rangka konferensi intra-agama Muslim di Mekkah minggu lalu,
wartawan lepas Asma Hanif membahas langkah-langkah Arab Saudi menuju
perbaikan berbagai mispersepsi dunia terhadap Islam.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Juni 2008)
Mempersiapkan Perdamaian di Pakistan
oleh Mehlaqa Samdani
Apakah sudah ada kemajuan dalam melawan terorisme di sepanjang
perbatasan Pakistan-Afghanistan? Mehlaqa Samdani, seorang penasihat di
Center for Strategic and International Studies di Washington, DC,
menilai upaya pemerintah setempat untuk melibatkan militan negara
tersebut dalam dialog dan menanyakan bagaimana AS bisa mendukung
pembicaraan damai, sedang ia juga mengamankan kepentingan keamanannya
di wilayah tersebut.
(Sumber: Foreign Policy In Focus, 13 Juni 2008)
Peradaban Bertemu Secara Online
oleh Faisal Abbas
Faisal Abbas, editor koran terbitan London, Asharq al-Awsat, menguji
bagaimana alat-alat berbasis web masa kini, seperti Facebook, blog dan
YouTube, memainkan peranan yang berpengaruh di dunia politik, dan
bertindak sebagai mekanisme titian (outreach) antara dunia Muslim dan
Barat.
(Sumber: Asharq Al-Awsat, 9 Juni 2008)
Muslim Afrika Amerika Menolak Benturan Peradaban
Dawud Walid
Southfield, Michigan - Berperan sebagai sebuah titik keberangkatan
dari apa yang disebut "benturan peradaban", warga Muslim Afrika
Amerika menolak anggapan bahwa permusuhan antara orang Barat dan
Muslim tidak dapat dihindari. Hampir tidak adanya hubungan bersejarah
apapun dengan negara-negara bangsa modern di luar, warga Muslim Afrika
Amerika seluruhnya terbentuk oleh pengalaman Amerika; bahkan,
"keamerikaan" mereka tidak dapat diragukan. Namun mereka tetap
sepenuhnya menjadi Muslim.
Warga Muslim Afrika Amerika telah berakar di Amerika selama empat
abad. Mereka memberikan masyarakat Muslim Amerika yang lebih besar
sebuah hubungan khas dengan Barat yang umumnya tidak dimiliki
masyarakat Muslim Eropa. Hubungan ini memberikan sebuah cerita yang
mendukung semua Muslim di Amerika, dan memberikan masyarakat Afrika
Amerika sebuah perah yang aktif dalam menjembatani kesenjangan antara
dunia Barat dan Muslim.
Tidak seperti Muslim yang telah bermigrasi ke Eropa, warga Muslim
Amerika membentuk sebuah demografi masyarakat asli yang besar.
Populasi ini, yang sebagian besar merupakan warga Afrika Amerika ,
memiliki hubungan yang tidak terbantahkan dengan Amerika. Ketika
lembaga perbudakan berusaha menghapus berbagai praktik agama, bahasa,
dan kebudayaan, warisan warga Muslim Afrika Amerika telah dipelihara
melalui sumbangan bersejarahnya bagi kemerdekaan, keadilan, dan
kesetaraan.
Peran yang telah dibentuk oleh warga Afrika Amerika bagi diri mereka
sendiri telah memberi manfaat bagi seluruh bangsa Amerika -- dan pada
kenyataannya, bagi seluruh dunia. Perjuangan mereka, yang terutama
jelas terlihat saat gerakan Hak-hak Sipil, melancarkan jalan bagi
praktik-praktik Islam di Amerika yang tidak ditemukan di bangsa-bangsa
Barat lain, bahkan di beberapa bangsa mayoritas Muslim. Misalnya, Bab
VII dari Undang-Undang Hak-hak 1964 yang memberikan Muslim hak untuk
menjalankan ibadah shalat Jumat dan memberikan perempuan hak untuk
mengenakan jilbab di tempat-tempat kerja dan sekolah mereka.
Undang-Undang Hak-hak Sipil tidak memberikan hak kepada seorang
majikan "untuk membatasi, memisahkan, atau menggolongkan para
karyawannya dengan cara yang akan merenggut atau cenderung merenggut
kesempatan setiap orang atas pekerjaan atau yang sangat mempengaruhi
kedudukannya sebagai seorang karyawan, karena ras, warna kulit, agama,
seks, atau asal-usul kebangsaan orang tersebut." (Bagian 703.(a).(2))
Gerakan yang sama kemudian menantang bangsa Amerika untuk menjawab
penyakit-penyakin sosial supremasi kulit putih dan membuka pintu bagi
Undang-Undang Imigrasi 1965, yang memiliki dampak sampingan berupa
tingginya peningkatan jumlah Muslim di Amerika yang berasal dari Asia
Selatan.
Masyarakat Muslim Amerika telah memetik manfaat dari mayoritas
anggotanya yang berasal dari masyarakat Afrika Amerika , sebuah
kelompok yang merupakan perwujudan kesadaran Amerika tentang hak-hak
sipil dan asasi manusia. Pengakuan yang semakin besar akan arti
penting dari demografi dalam masyarakat Muslim Amerika mungkin masih
baru, tetapi nilainya telah lama mendahului realisasinya.
Dari hakim Muslim Amerika pertama dan Wakil Walikota Muslim Detroit
pertama, Adam Shakoor, hingga dua anggota kongres Muslim Amerika
pertama, Keith Ellison (D-MN) dan Andre Carson (D-IN), Muslim -- di
dalam dan luar negeri -- telah diberdayakan oleh bangsa Afrika Amerika
yang memeloporinya. Manfaat-manfaat nyata, seperti memperkenalkan
peraturan dalam negeri yang mengikutsertakan kepentingan-kepentingan
Muslim dan menggunakan hak pilih dengan pemahaman yang lebih besar
tentang berbagai permasalahan yang menyangkut dunia Muslim daripada
kebanyakan anggota kongres Amerika, merupakan hal yang nyata.
Karena itu, penghargaan yang lebih besar bagi Muslim adalah harapan.
Jika warga Muslim ini telah berhasil mengatasi pengalaman
dimarginalisasi hingga meraih jabatan wakil rakyat di Amerika, maka
mungkin seluruh warga Muslim Amerika memiliki potensi yang sama. Warga
Muslim di Afrika, Asia dan Eropa dapat berpegangan kuat pada gagasan
bahwa jika keturunan Muslim dari para budak Amerika dapat dihormati
oleh masyarakat Amerika yang lebih luas, maka mungkin Amerika dapat
mengalami sebuah pembaruan yang sehat dalam kebijakan luar negeri dan
menilai dunia Muslim dengan kaca mata yang lebih seimbang.
Gagasan Jeffersonian bahwa "semua orang diciptakan sederajat ...
diberkati oleh Pencipta mereka dengan hak-hak yang tidak dapat
dipisahkan, yang di antaranya adalah hak akan Kehidupan, Kemerdekaan,
dan Mengejar Kebahagiaan", memiliki pengikut yang sangat besar di
kalangan Muslim Afrika Amerika . Dengan sejarah yang kaya ini dan
legitimasi historis sebagai bangsa Amerika, warga Muslim Afrika
Amerika akan terus menjadi unsur yang sangat penting dalam menyuburkan
kehidupan yang lebih baik bagi Muslim di penjuru Amerika dan akan
terus berperan sebagai sebuah hubungan spiritual antara bangsa Amerika
dan dunia Muslim.
###
* Dawud Walid adalah direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam -
Michigan (CAIR-MI) dan Asisten Imam pada Masjid Wali Muhammad di
Detroit, Michigan. Artikel ini merupakan bagian dari seri tentang
Muslim Afrika Amerika yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 20 Juni 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
Kembali ke atas
Dunia Muslim Berbicara tentang Obama
Yasser Khalil
Kairo - Senator AS Barack Obama mewakili sebuah fenomena yang telah
menarik perhatian dunia dan memikat pemikiran Muslim seluruh dunia
ketika ia melaksanakan sebuah kampanye penuh semangat untuk menjadi
presiden Amerika Serikat berikutnya. Terlepas dari perdebatan panas
kampanye dan beberapa retorika kontroversial mengenai Islam, sebagian
besar warga Muslim tetap bergairah dengan pemilihan umum dan telah
menjadi penggemar berat Obama.
Tingkat dukungan bagi seorang kandidat presiden Amerika sebesar ini
tidak pernah terjadi sebelumnya dalam dunia Muslim. Kenyataan bahwa
ini datang di tengah adanya sebuah perasaan yang hampir seragam
tentang penolakan dan kemarahan terhadap kebijakan luar negeri AS -
khususnya di Irak dan Palestina - membuatnya semakin penting dicatat.
Penjelasan sederhana adalah bahwa banyak warga Muslim melihat alasan
baru untuk berharap terhadap pendekatan politik Obama dan para
penasihatnya. Semangatnya yang nyata untuk menggalang dukungan lebih
besar bagi kebijakan AS, dan bahkan berbicara kepada para "musuh"
Amerika, merupakan alasan untuk optimis. Bayangkan apa jadinya politik
dunia di Irak, atau Sudan, atau Afghanistan, jika visi seperti Obama
telah mempengaruhi kepemimpinan AS sebelumnya.
Sebagai seorang Muslim Arab di Mesir yang dipengaruhi oleh kebijakan
luar negeri AS, saya percaya bahwa pendekatan Obama mungkin membantu
menyelesaikan permasalahan yang menumpuk antara Muslim dan Amerika
Serikat yang semakin memburuk sejak serangan teroris 11 September.
Teknik-teknik baru dan lebih kreatif untuk berurusan dengan para
ekstremis dan bukannya metode-metode kontroversial yang digunakan
pemerintah AS sekarang, dapat membantu memberikan Al Qaeda dan
kelompok-kelompok sejenis, sebuah alasan untuk merekrut anggota-
anggota baru. Kemudian, mungkin, para ekstremis akan kehilangan
pembelaan yang menjadi bahan bakar mesin kejahatan mereka dan membuat
mereka menghancurkan orang-orang tak berdosa.
Tentu saja, ada orang-orang dalam dunia Muslim yang menentang Barack
Obama. Mereka berpendapat bahwa kebijakan AS tidak akan berubah dengan
adanya seorang presiden baru. Kepada mereka saya katakan bahwa Obama
telah membuktikan bahwa ada ruang untuk mengguncangkan perahu; ia
menentang keputusan untuk menyerang Irak dan membuat rekomendasi nyata
dan logis bagi penarikan mundur pasukan-pasukan AS.
Muslim yang sinis berpendapat bahwa semua politisi Amerika, termasuk
Obama, bersikap mendua terhadap Israel dengan mengorbankan bangsa
Arab. Tetapi kita harus membedakan antara dukungan seorang kandidat
bagi sebuah negara Yahudi dan suatu bias yang tak terpisahkan terhadap
hal tersebut. Persahabatan AS dengan Israel tidak harus menjadi sebuah
ancaman, khususnya jika hal tersebut menghasilkan sebuah kedudukan
yang lebih aktif terhadap perwujudan kebijakan-kebijakan yang adil dan
seimbang bagi seluruh dunia Arab.
Dan kemudian ada sebuah perdebatan tentang kemurtadan. Ketika Obama
digambarkan sebagai seorang Muslim yang mungkin murtad, banyak
kalangan Muslim yang bereaksi dengan keheranan dan rasa ingin tahu.
Obama telah mengatakan bahwa sejak awal ia tidak pernah menjadi
seorang Muslim, namun sebagian orang menganggapnya demikian
dikarenakan ayahnya. Tetapi bagi saya, jelas bahwa Islam adalah sebuah
pilihan yang bebas, bukan sebuah beban keturunan.
Kampanye-kampanye internet lain memanfaatkan tuduhan hubungan Muslim
Obama dengan menggambarkan Amerika sebagai sebuah "negara rasis" yang
para warga negara dan politisinya tidak akan pernah memenangkan Obama
karena ia seorang berkulit hitam dan memiliki akar Muslim. Upaya
tersebut menyesatkan, tetapi walau demikian menghasilkan simpati lebih
besar dari dunia Muslim terhadap sang kandidat.
Penolakan Obama pernah menjadi seorang Muslim tidak berarti ia
melihatnya sebagai sebuah tuduhan; sebaliknya, ia menjaga jarak dari
tuduhan-tuduhan kebohongan dan kemunafikan. Sudah tiba saatnya untuk
bergerak dari perdebatan yang tidak perlu ini dan menilai kandidat
presiden yang menjanjikan ini berdasarkan pandangan-pandangan
politiknya dan kemampuannya untuk menyeimbangkan kepentingan-
kepentingan global Muslim dengan para pemilih dan kawan-kawannya.
Dengan mengembangkan dialog dengan negara-negara Muslim seperti Suriah
dan Iran, dan membangkitkan kembali upaya-upaya diplomatik AS, Obama
akan membuka pintu-pintu yang telah tertutup - dan terkunci - selama
beberapa tahun terakhir. Merupakan kepentingan semua negara Muslim
bahwa presiden AS mempunyai pendekatan konstruktif, bahkan sambil
mempertahankan persahabatan erat dengan Israel dan kekuatan-kekuatan
yang mendukungnya di Amerika Serikat dan luar negeri. Dalam upaya
mengejar politik yang rasional, inklusif, dan kreatif, Obama dapat
tetap berperan efektif sambil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang
jalan menuju perdamaian dan koeksistensi global.
###
* Yasser Khalil adalah seorang peneliti dan wartawan Mesir. Artikel
ini, diterjemahkan dari bahasa Arab, ditulis untuk Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan awalnya terbit di Christian Science
Monitor.
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 20 Juni 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
Kembali ke atas
Bangsa Saudi Menyerukan Dialog
Asma Hanif
Brussels - Seruan Arab Saudi bagi sebuah dialog antaragama yang
berkesinambungan telah membuat sebagian pihak di Barat mengangkat
alisnya.
Kerajaan tersebut telah lama dikenal sebagai sekeping wilayah padang
pasir yang dikuasai oleh para ulama yang ultra konservatif dengan
tafsiran-tafsiran radikal tentang Islam. Kaum perempuannya ditekan,
seperti sering dituduhkan; kaum terpelajar Wahabi ingin mengislamkan
dunia; dan kalangan non-Muslim dilarang melaksanakan ibadah agama
mereka di tanah Saudi - kata sebagian kalangan.
Teman Saudi saya menyebut semua ini sebagai mispersepsi belaka.
"Bangsa kami tidak ada bedanya dengan bangsa lain di dunia," katanya.
"Kami mendukung pembaruan, menghormati nilai-nilai manusia, dan
menghargai kemodernan."
Kebetulan, ia - seperti halnya para perempuan relijius Saudi lain -
tampak menikmati kehidupannya sebagaimana kawan-kawan perempuan Barat
saya. Penafsiran konservatif mereka tentang Islam tidak menghalangi
pendidikan, belanja, pakaian, dan pesta menjadi bagian dari kehidupan
mereka.
Menolak tudingan-tudingan yang dialamatkan kepada Islam dan Muslim -
termasuk masyarakat Saudi - merupakan tujuan utama dari dialog
antaragama yang berkesinambungan. "Penjaga Dua Masjid Suci ", begitu
sang Raja disebut di Arab Saudi, kelihatannya merasakan sebuah
komitmen khusus terhadap Islam.
Di awal bulan ini Raja membuka sebuah konferensi tiga hari di Mekkah
yang bertujuan mempromosikan masa depan dialog antaragama dengan
golongan non-Muslim. Ia mengatakan kepada para pendengar yang semuanya
Muslim, "Anda telah berkumpul hari ini untuk mengatakan kepada seluruh
dunia bahwa (...) kita adalah suara keadilan dan nilai-nilai
kemanusiaan, bahwa kita adalah suara bagi koeksistensi dan sebuah
dialog yang adil dan rasional."
November lalu, Raja Abdullah menciptakan sejarah ketika bertemu dengan
Paus Benedict XVI di Vatikan, dan bulan ini, monarki Sunni tersebut
tampak berdampingan dengan Ayatollah Hashemi Rafsanjani, mantan
presiden Iran yang mayoritas Syiah, sebagai sebuah isyarat simbolis
untuk mendorong kesatuan Muslim.
Langkah-langkah tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah
adaptasi lebih luas dari para ulama Arab Saudi terhadap kehidupan
modern. Yang pertama dari yang terjadi di Arab Saudi, konferensi
tersebut menyampaikan sebuah pesan penting: dialog antaragama tidak
melanggar prinsip agama mana pun. Malahan, ia dianggap sebagai sebuah
elemen dasar dari Islam. Cuplikan-cuplikan baik dari Al Qur'an dan
sunnah (tradisi-tradisi Nabi Muhammad) dikutip untuk menggarisbawahi
arti pentingnya.
Imam Agung negara tersebut, Abdul Aziz Al-Sheikh, menekankan bahwa
agama mendorong penyesuaian dengan kehidupan modern. "Kita hidup di
zaman komunikasi," katanya. "Untuk menyesuaikan diri terhadapnya
dengan menyelenggarakan dialog dan korespondensi di antara umat
manusia merupakan sebuah kewajiban."
Tidak ada keraguan bahwa komitmen untuk melibatkan diri dalam sebuah
dialog antaragama membutuhkan upaya lebih keras di Arab Saudi, yang
disebabkan oleh komitmennya yang mencurigakan, yang sekarang
kelihatannya telah diatasi kaum ulama Saudi. Hassan Al-Ahdal, direktur
media dan hubungan di Liga Dunia Muslim, mengaitkan keengganan ini
dengan rasa takut bahwa semua akan berakhir dengan munculnya "satu
agama dunia" yang menimbulkan kerugian bagi setiap ajaran agama.
Tetapi konferensi ini telah memperjelas bahwa tujuannya bukanlah untuk
mengkompromikan prinsip-prinsip agama mana pun. "Prioritasnya adalah
untuk menyepakati nilai-nilai bersama tanpa mengurusi urusan-urusan
keagamaan karena hal ini selalu menjadi ladang perselisihan," kata Al-
Ahdal. "Tak satu pihak pun yang akan berhasil mengubah antara (the
other)."
Imam Agung negara bersikap mendukung pembicaraan-pembicaraan
antaragama tersebut, dengan mengatakan bahwa "dakwah" merupakan tujuan
akhir dari keterlibatan dalam dialog. Walaupun dakwah terkadang
digunakan dalam Al Qur'an untuk menyebut khotbah yang bertujuan
mengubah keyakinan seseorang, namun sesungguhnya arti harfiahnya
adalah "undangan", dan dapat digunakan untuk mengundang antara (the
other) untuk memahami Islam.
"Perbedaan antarbangsa bukan hal yang perlu dipertanyakan," katanya
lagi. "Wajar jika orang berbeda dalam perilaku, bahasa, warna, dan
kecerdasan. Al Qur'an mengakui hal tersebut."
Walau tak ada jadwal pasti yang ditetapkan bagi pembicaraan antaragama
Muslim-Kristen-Yahudi, para peserta Muslim minggu lalu telah merancang
sebuah strategi untuk berdialog, dan menyetujui pembentukan badan-
badan untuk mendorong dialog akademis seperti Pusat Internasional bagi
Interaksi Peradaban Raja Abdullah Ibn Abdul Aziz, dan pembentukan
Penghargaan bagi Dialog Peradaban Raja Abdullah bin Abdul Aziz.
Masih belum jelas apakah melalui forum-forumnya Raja Abdullah juga
bertujuan menyelesaikan konflik-konflik politik dalam jangka panjang
atau tidak, tetapi saat ini politik seharusnya disingkirkan dari
agenda.
Prioritas kunci dari dialog ini - untuk mengundang orang-orang dari
semua agama, dan khususnya Yudeo-Kristen di Barat, bergabung dengan
Muslim untuk menilai secara rasional apakah rasa saling curiga dapat
dibenarkan - seharusnya adalah mengangkat harapan, bukannya alis mata.
###
* Asma Hanif adalah wartawan yang bermarkas di Brussels, yang
memusatkan perhatian pada agama dan politik. Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 20 Juni 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
Kembali ke atas
Mempersiapkan Perdamaian di Pakistan
Mehlaqa Samdani
Pittsfield, Massachusetts - Kritik telah dilontarkan terhadap upaya
pemerintah Pakistan untuk menunda pembicaraan dengan kelompok-kelompok
militan. Sementara kekhawatiran tentang pembentukan kembali kelompok
Taliban masih valid, namun kepentingan keamanan jangka panjang Amerika
tidak saja untuk mendukung rencana perdamaian multidimensi yang sedang
dibentuk, tapi juga untuk menahan diri dari kata-kata dan tindakan
yang dapat merusak proses tersebut. Serangan udara yang menewaskan 11
tentara Pakistan di Mohmand Agency merupakan kasus terbaru.
Segera setelah pemilihan umum Februari, pemerintah Pakistan
meluncurkan pembicaraan damai dengan militan di Propinsi Perbatasan
Barat Daya (NWFP) dan Wilayah Kesukuan Federal (FATA). Pada 21 Mei,
pemerintah Perbatasan, dipimpin oleh Partai Nasional Awami (ANP) yang
sekuler, menandatangani perjanjian damai yang komprehensif dengan para
militan yang berasosiasi dengan Tehreek-e-Taliban (TTP) di NWFP.
Pemerintah propinsi menyetujui penggunaan syariah dalam divisi
Malakand NWFP, sementara Taliban setempat bersumpah untuk menghargai
surat perintah negara, menyerahkan militan asing ke pemerintah dan
meninggalkan militansi.
Pada tingkat federal, pembicaraan berlanjut antara pemerintah dan TTP,
dan telah mengarah pada pertukaran tawanan serta re-orientasi posisi
pasukan bersenjata untuk memfasilitasi kembalinya para pengungsi ke
wilayah itu.
Sementara rakyat Pakistan telah menyambut inisiatif damai itu, AS
menunjukkan keberatan. Penting bagi AS untuk mengetahui bahwa
prioritas pemerintah Pakistan pertama-tama adalah membawa perdamaian
dan stabilitas dalam perbatasannya sendiri. Jika kepemimpinan baru
tampak menempatkan kepentingan AS di atas kepentingan negaranya
sendiri, pemerintah baru itu akan mengalami masalah legitimasi yang
sama dengan yang dihadapi Musharraf. Ini akan meremehkan transisi
demokrasi Pakistan, menciptakan ketidakstabilan di dalam negeri dan di
tingkat regional.
Jika negosiasi gagal karena pemberontakan militan, rakyat Pakistan
akan mendukung penggunaan kekuatan, karena semua saluran lainnya
lemah. Ini akan mengarah pada kepemilikan publik yang lebih luas akan
perang melawan terorisme, sesuatu yang diserukan oleh AS.
Pemerintah Pakistan mengetahui bahwa kebutuhan akan strategi regional
untuk mengkonsolidasikan perdamaian rapuh yang dicapai di Pakistan.
Tapi pemerintah Pakistan juga percaya pada pendekatan tambahan. Begitu
telah menciptakan hubungan kerja dengan Taliban setempat, pemerintah
Pakistan dapat berpotensi memfasilitasi pembicaraan antara NATO,
Taliban Afghanistan, dan pemerintahan Afghanistan.
Dalam beberapa bulan belakangan ini, sekutu NATO dan pemerintah
Afghanistan (meskipun ada ancaman Karzai untuk mengejar Taliban
Pakistan di FATA) telah menunjukkan kepenatan perang dan tampaknya
bersedia untuk memoderasi para anggota Taliban. ANP telah mengandalkan
pada elemen-elemen Pakhtoonwali (kode kesukuan) untuk menjangkau para
militan Pashtun dan dapat menerapkan tradisi yang serupa di seluruh
perbatasan. Juga, ANP memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Karzai
dan tahun lalu mensponsori perdamaian regional jirga (pertemuan para
tetua suku) di Kabul.
Jirga yang serupa, kali ini bersama pasukan NATO dan kelompok Taliban
moderat dari kedua sisi perbatasan bisa terbukti sebagai langkah maju
yang efektif.
Jadi bagaimana AS dapat mendukung pembicaraan damai dan juga
melindungi kepentingan keamanannya di wilayah itu?
Pertama, AS harus menahan diri dari menyerang wilayah Pakistan selama
negosiasi perdamaian. Serangan udara baru-baru ini di Mohmand dan
Damadola yang menewaskan masyarakat sipil maupun tentara mengingatkan
rakyat Pakistan akan serangan serupa pada Januari 2006, yang muncul di
puncak perjanjian perdamaian yang akan ditandatangani antara pasukan
pemerintah dan Taliban.
Di Pakistan, serangan-serangan ini tampak sebagai upaya langsung untuk
menyabotase proses perdamaian, menghasilkan seruan balas dendam
terhadap AS dan mengundang serangan balasan di wilayah-wilayah
Pakistan. Tak satu pun dari hasil tersebut merupakan pertanda baik
bagi perdamaian di wilayah itu.
Kedua, AS harus mendorong segera dibukanya kembali pertemuan
koordinasi tingkat tinggi antara Pakistan, NATO, dan Afghanistan -
yang sempat tertunda akibat transisi politik Pakistan dan negosiasi
internal.
Pada saat yang sama, AS harus mendorong pemerintah Pakistan untuk
mengembangkan mekanisme pengawasan bersama dengan Taliban penanda-
tangan perdamaian untuk memastikan kepatuhan. Konsekuensi untuk
pelanggaran juga harus ditentukan.
Selain itu, memperbesar dukungan finansial rencana perdamaian hingga
$4 milyar yang diusulkan oleh pemerintah NWFP akan baik bagi hubungan
Pakistan-AS. Rencana untuk mengurangi militansi di perbatasan dengan
memperluas kekuatan polisi, membuat konferensi perdamaian religius
regional, membentuk dana pedesaan, dan membangkitkan ketenagakerjaan
melalui implementasi proyek infrastruktur.
Akhirnya, AS harus meningkatkan garis komunikasi antara federal
Pakistan dan tim negosiasi propinsi yang kekurangan strategi koheren.
Pemerintah federal telah mengeluarkan sebagian besar pemerintahan
propinsi dari pembicaraan dengan militan dalam FATA. Dengan demikian,
pemerintah propinsi tidak dapat menuntut tanggung jawab para anggota
TTP di Perbatasan jika muncul pelanggaran oleh lawan mereka dalam
daerah kesukuan.
Ini telah mengarahkan seorang petugas untuk mengamati bahwa walaupun
TTP memiliki struktur perintah terpadu di seluruh FATA dan NWFP,
pemerintah tampak terpecah, sehinga memberi kesempatan pada militan.
Ini saat yang kritis bagi Pakistan karena sedang mencari strateginya
sendiri untuk melawan ekstremisme. Daripada meremehkan pendekatan itu,
AS seharusnya menyokong dalam cara yang dapat bermanfaat bagi
kepentingan keamanan jangka panjangnya baik di Pakistan maupun di
wilayah itu.
###
* Mehlaqa Samdani adalah penasihat Proyek Rekonstruksi Pasca-Konflik
(PCR Project) pada Center for Strategic and International Studies di
Washington, DC. Artikel ini didistribusikan oleh Kantor Berita Common
Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.
Sumber: Foreign Policy In Focus. 13 Juni 2008, www.fpif.org.
Artikel ini diterbitkan oleh Foreign Policy In Focus (FPIF), sebuah
proyek Institute for Policy Studies (IPS, www.ips-dc.org).
Telah memperoleh hak cipta.
Kembali ke atas
Peradaban Bertemu Secara Online
Faisal Abbas
London - Sementara berkampanye untuk masa jabatan pertamanya sebagai
Presiden AS, Bill Clinton membuat berita utama ketika dia muncul
sebagai bintang tamu di MTV pada 1992 dalam upaya mendapatkan suara
pemuda Amerika.
Kemunculan tersebut dianggap sebagai tonggak sejarah dalam hubungan
antara politisi dan media.
Dengan teknologi masa kini, Clinton kemungkinan juga akan punya blog
sendiri, halaman Facebook dan saluran YouTube. Penerapan y ang
revolusioner semacam itu membuat Internet menjadi media demokrasi
utama, memungkinkan para pengunjung untuk secara langsung
berkomunikasi dengan para pemimpin tanpa halangan geografis ataupun
waktu.
Ratu Rania dari Yordania, tamu kehormatan pada acara Google Zeitgeist
Conference pada pertengahan Juni di London, meluncurkan saluran
YouTube-nya sendiri (www.youtube.com/queenrania) April lalu.
Upaya YouTube Ratu Rania merupakan usaha sadar untuk meningkatkan
dialog dan pemahaman antara dunia Arab dan Muslim dengan Barat.
"Arab dan Muslim berjuang setiap hari dengan bagaimana cara dunia
melihat kita: Realitas kita, sejarah, dan cara berpikir kita. Kita
harus menghancurkan stereotip ini dan berbicara untuk diri kita
sendiri, sehingga setiap orang memahami siapa kita, dan nilai-nilai
kita," jelas Ratu Rania.
"Dialog merupakan cara terbaik untuk mencapai ini, dan YouTube
membantu perkembangan percakapan tentang toleransi, rasa kasih sayang,
dan pemahaman yang diperlukan. Apa yang saya lihat di YouTube saat ini
merupakan bentuk ideal dari dialog yang diinginkan itu, yang dapat
menghilangkan kecurigaan lama dengan membentuk komunitas baru,"
tambahnya.
Sang Ratu akan menerima pertanyaan-pertanyaan dan komentar di
salurannya, yang saat ini memiliki 5000 pelanggan, sampai Hari Pemuda
Internasional pada 12 Agustus.
Beliau juga menekankan pentingnya berkonsentrasi pada pemuda:
"Generasi YouTUbe, Facebook dan Ikbis fasih dalam mengunggah, membuat
tag, dan pesan instan, dan kita juga harus begitu. Pemuda masa kini
merupakan sumber utama energi dan inovasi di wilayah kita; tidak saja
mereka akan menghilangkan stereotip negatif, tapi mereka akan
menciptakan perusahaan-perusahaan baru, pekerjaan baru, dan kesempatan
baru bagi Yordania, dan dunia Arab."
Berbagai komentator di saluran YouTube sang Ratu telah mengungkapkan
bahasa kasar terhadap Islam dan simbol-simbolnya. Namun, yang lain
telah berusaha untuk mengoreksi ketidaktepatan itu dan menjembatani,
termasuk sang Ratu sendiri, yang telah memasang sejumlah video.
Dalam video baru-baru ini, Ratu Ranis menjawab komentar seorang
pengguna, mengatakan bahwa meski dia tidak terlalu pintar dalam bidang
matematika, tapi orang tidak memerlukan keterampilan semacam itu untuk
mengetahui bahwa persamaan "Arab = Muslim = Teror = Perang" , bahwa
Arab adalah Muslim dan Muslim = Kekerasan" (dikirim oleh seorang
pengguna) tidaklah akurat.
Ratu Rania menyerukan untuk "mendapatkan fakta yang benar" sebelum
membuat asumsi, menjelaskan bahwa: "Dengan setiap baris tulisan dan
video yang dikirimkan, kita berbagi pengalaman dan pengetahuan yang
membongkar halangan dan menyatukan kita."
Yasmina Brihi, Manajer Marketing Google (yang memiliki YouTube) untuk
Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan, "Kami senang melihat
keterlibatan online ini dan sangat ingin mengantisipasi dialog
langsung tentang politik serta isu-isu yang penting bagi orang-orang
di dunia."
"Keterlibatan" ini telah terbukti dalam liputan pemilihan Presiden AS
baru-baru ini. Debat kandidat CNN/YouTube pertama akan dilangsungkan
tahun ini dan menunjukkan potensi signifikan dalam pemanfaatan
gabungan televisi dan internet.
Perdebatan ini memungkinkan para pemilih potensial untuk mengirimkan
pertanyaan mereka dan berkomentar secara langsung kepada kandidat.
Banyak pertanyaan yang ditayangkan dan dijawab langsung oleh para
kandidat.
Wakil direktur senior CNN dan kepala biro Washington, David Bohrman,
mengatakan bahwa perdebatan itu "benar-benar berhasil," dan, "CNN akan
melanjutkan bereksperimen dengan teknologi-teknologi baru untuk
konvensi politik dan Malam Pemilihan 2008 mendatang."
Brihi menjelaskan bahwa YouTube "membantu para pemilih menjadi bagian
dari perdebatan politik dengan cara-cara yang tidak mungkin sebelum
munculnya video online. Orang dapat mengungkapkan pandangan mereka
kepada orang-orang yang berkuasa, melontarkan pertanyaan dan didengar,
sementara mereka yang di kantor dapat menggunakan video instan untuk
menyorot prioritas mereka dan terhubung dengan orang-orang yang
terkait dengan isu-isu yang paling penting bagi mereka."
###
* Faisal Abbas adalah editor media di Asharq al-Awsat. Artikel pendek
ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa
diakses di www.commongroundnews.org. Teks lengkapnya bisa didapatkan
di www.asharqalawsat.com.
Sumber: Asharq al-Awsat, 9 Juni 2008, www.asharqalawsat.com
Ijin penerbitan kembali telah diberikan kepada Common Ground News
Service. Untuk ijin penerbitan tambahan silakan hubungi penerbit
aslinya.
Kembali ke atas
Tentang CGNews
Kantor Berita Common Ground menyediakan berita, opini-editorial, fitur
dan analisis tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-
Israel & Muslim-Barat. CGNews mempersindikatkan artikel-artikel yang
konstruktif, memberikan harapan, mendorong dialog dan saling
pengertian, kepada saluran-saluran berita seluruh dunia.Baca terbitan-
terbitan lawas kami.
Komentar? Silakan mengirim email ke cgnews@sfcg.org. Ingin
mengirimkan artikel?
Kami menyambut sumbangan artikel dari para ahli lokal dan
internasional yang ingin memberikan pandangan-pandangan membangun dan
analisis tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-Israel &
Muslim-Barat.
Jika Anda ingin menyumbangkan artikel, silakan mengirim artikel secara
online.. Ingin mencetak ulang artikel?
Kecuali jika ada pernyataan khusus, artikel-artikel yang ada telah
memperoleh hak cipta dan boleh dicetak ulang oleh saluran-saluran atau
penerbitan berita. Tolong sebutkan sumber asli maupun Kantor Berita
Common Ground. Pandangan-pandangan yang diutarakan dalam artikel-
artikel ini merupakan pendapat pribadi para penulisnya, bukan CGNews
atau afiliasinya.
Kami menghargai waktu dan keleluasaan pribadi Anda. Anda menerima
email ini di %%emailaddr%%.
Kunjungi web kami untuk berhenti berlangganan.
Kantor Berita Common Ground bermarkas besar di 1601 Connecticut
Avenue, NW Suite 200 Washington, DC 20009 USA. Kunjungi kami di
webhttp://www.commongroundnews.org.
Kirim ke teman | Lihat sebagai halaman web | Hubungi kami |
(c)2008 Kantor Berita Common Ground
Layanan ini merupakan prakarsa nirlaba Search for Common Ground,
sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO), yang bermarkas di Washington
dan Brussels, yang misinya adalah untuk mengubah cara dunia menangani
konflik - menjauhi konfrontasi penuh permusuhan menuju penyelesaian
dengan kerja sama.
No comments:
Post a Comment