Sunday, March 9, 2008

[Berpikir Bebas 747] Melihat Kembali Hadis oleh Brian Whitaker

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

07 - 13 Maret 2008

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Menjauhkan Militer Pakistan dari Politik oleh Ershad Mahmud
Ershad Mahmud, seorang peneliti Islamabad yang memusatkan perhatian
pada urusan Asia Selatan, memeriksa persekutuan baru antara partai-
partai oposisi Pakistan, yang di lain pihak bekerja untuk mengurangi
pengaruh militer terhadap politik.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Maret 2008)

2) Perempuan adalah Agen Perubahan oleh Haifa Fahoum Al Kaylani
Terlepas dari kemajuan-kemajuan mengagumkan yang telah dibuat kaum
perempuan dunia Arab, Haifa Fahoum Al Kaylani, ketua pendiri Forum
Perempuan Internasional Arab (AIWF), menjelaskan apa yang perlu
dilakukan dalam mendorong partisipasi perempuan di wilayah tersebut
sesuai dengan standar-standar global.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Maret 2008)

3) ~Pandangan Kaum Muda~ Menuju Pembangunan Perdamaian oleh Stephen
Coulthart
Stephen Coulthart, seorang mahasiswa pasca sarjana yang belajar
diplomasi dan hubungan internasional di Whitehead School of Diplomacy,
mempertimbangkan berbagai faktor yang memainkan peran dalam membuat
orang-orang muda lebih rentan terlibat kekerasan selama kunjungannya
keMaroko belum lama ini.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 4 Maret 2008)

4) Melihat Kembali Hadis oleh Brian Whitaker
Editor Guardian, Brian Whitaker, mempertanyakan peran kontroversial
Departemen Agama Turki, dalam menerbitkan sebuah kumpulan revisi
hadis.
(Sumber: Guardian, 26 Februari 2008)

5) Pertukaran Lintas Iman Indonesia oleh Arian Fariborz
Diilhami kekerasan sporadis bermotif agama di Indonesia, penulis
Jerman Arian Fariborz, menunjukan contoh-contoh unik inisiatif-
inisiatif antar iman yang diadakan untuk mempromosikan pemahaman yang
lebih luas, baik secara lokal maupun nasional.
(Sumber: Qantara.de, 8 Februari 2008)


1) Menjauhkan Militer Pakistan dari Politik
Ershad Mahmud

Islamabad - Sapu bersih partai-partai oposisi dalam pemilihan umum
nasional telah menumbangkan partai Presiden Musharraf dan membuat masa
depannya jadi tak menentu. Asif Zardari, pemimpin Partai Rakyat
Pakistan (PPP) dan Nawaz Sharif, pemimpin Liga Muslim Pakistan (PML-
N), mengejutkan semua orang dengan bersama-sama membentuk sebuah
pemerintah baru di Islamabad.

Aliansi baru antara partai-partai oposisi mungkin mengembalikan masa
depan politik Pakistan, memberdayakan para pejabat yang terpilih untuk
mengikuti langkah Turki menuju jalan ke arah demokrasi.

Pesan persatuan ini diterima baik oleh rakyat. Kedua pemimpin partai
tersebut membuat sebuah komitmen publik untuk mematuhi piagam
demokrasi (yang ditandatangani oleh mantan perdana menteri Benazir
Bhutto dan Nawaz Sharif pada 14 Mei 2006 di London), yang menyerukan
pemulihan kembali Konstitusi 1973 - hingga kudeta militer 1999,
memastikan supremasi parlemen, membatasi peran militer dalam politik
dan menerapkan pembatasan terhadap badan-badan intelijen.

Isu-isu kunci ini tetap menjadi bagian dari manifesto pemilihan kedua
partai. Di luar para pendukung Musharraf, tidak ada kelompok politik
lain yang keberatan terhadap pelaksanaan parameter-parameter politik
ini. Sebuah konsensus lebih luas di antara partai-partai politik
bangkit menghentikan campur tangan angkatan bersenjata Pakistan dalam
urusan politik negara, menjamin parlemen tetap sebagai pemegang
kontrol politik.

Sebelumnya, presiden menikmati kekuasaan sangat besar - ia dapat
membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dan memilih panglima militer.

Masyarakat madani Pakistan, dipimpin oleh para pengacara, merapatkan
barisan melawan Musharraf dan menuntut pemulihan jabatan para hakim
yang dipecat. Kelihatannya Musharraf tidak bersedia mengembalikan
jabatan sah para hakim maupun mundur dari jabatan kepresidenan.
Kedudukan ini sepertinya akan terus berlangsung hingga Washington dan
militer Pakistan menarik dukungan terhadapnya.

Tentara Pakistan telah menjadi sebuah perantara kekuasaan kunci dalam
mempertahankan kepentingan-kepentingan perusahaan dan memiliki
standanya sendiri untuk mengukur hubungan Pakistan-India, konflik
Kashmir, dan hubungan Pakistan-AS. Hal tersebut tidak memungkinkan
para pejabat terpilih untuk memiliki pendapat dalam hubungan
internalnya.

Sayangnya, pengaruh tentara telah berakar dalam dan meluas tidak hanya
di kalangan kelas rendahan, tetapi juga di kalangan para pejabat
politik tertentu, yang sulit untuk diubah. Dalam rangka menandingi
pengaruh dan kekuatan militer, oposisi harus bekerja secara bertahap
tetapi dengan gigih.

Adalah hal yang bijak jika para pemimpin oposisi mengikuti contoh
Turki dalam melakukan hal tersebut. Para pemimpin Turki yang berkuasa
memastikan bahwa mereka tidak pernah memberikan tentara Turki alasan
untuk mencampuri urusan pemerintahan dengan mempertahankan prioritas-
prioritas tradisional Turki, baik domestik maupun internasional, yang
tampak dalam kasus militansi suku Kurdi dan kesepakatan UE. Kedua,
mereka membuat kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama pemerintah
dan memperkenalkan reformasi ekonomi untuk menggairahkan kembali
perekonomian yang lesu.

Seperti halnya Turki, partai berkuasa Pakistan tetap dekat dengan
aspirasi-aspirasi masyarakat dan memelihara hubungannya dengan rakyat.
Jika kepemimpinan terpilih Pakistan dapat mencegah semakin
meningkatnya inflasi, ia akan merebut kepercayaan rakyat. Demikian
juga, dengan menggabungkan taktik-taktik negosiasi dengan kekuatan
militer, dan bukan hanya yang terakhir, kepemimpinan baru mungkin bisa
mengisolasi para pemberontak di wilayah-wilayah perbatasan negara.

Washington seharusnya telah mengurangi harapan-harapannya terhadap
para pemimpinan militer Pakistan dan memberikan kepercayaan lebih
kepada para wakil rakyat terpilih negara tersebut. Aliansi strategis
AS dengan Musharraf telah menciptakan kesan pada bangsa Pakistan bahwa
hal itu tidak benar-benar memihak kepada sebuah Pakistan yang
demokratis. Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat telah memperkuat
kekuasaan tentara di Pakistan dengan menanamkan modal besar-besaran
dalam bidang militer dan mendukung rangkaian kudeta militer negara
itu. Kebijakan-kebijakan seperti ini, dipadu dengan tindakan-tindakan
negara itu sendiri, telah mendorong marjinalisasi kekuatan-kekuatan
moderat dalam kehidupan masyarakat.

Barat, dan Amerika Serikat khususnya, harus mendukung wakil-wakil
rakyat Pakistan yang baru terpilih dan mendorong tentara untuk
menghormati mandat rakyat, melayani negara dalam kerangka
konstitusional Pakistan. Hanya dengan demikian Pakistan dapat menjadi
benar-benar demokratis, hanya dengan demikian Amerika Serikat dapat
menjalin hubungan penuh arti dengan rakyat Pakistan.

###

* Ershad Mahmud adalah seorang peneliti Islamabad yang memusatkan
perhatian pada Asia Selatan. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita
Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 4 Maret 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


2) Perempuan adalah Agen Perubahan
Haifa Fahoum Al Kaylani

London - Berlawanan dengan anggapan umum, perempuan di dunia Arab
telah mencapai kemajuan sangat penting dalam beberapa tahun terakhir.
Telah ada CEO-CEO perempuan, pejabat pemerintah perempuan, profesor
perempuan, insinyur perempuan; perempuan menjalankan berbagai e-bisnis
dan lembaga-lembaga keuangan.

Saat ini, kebanyakan negara-negara Arab memiliki sekurang-kurangnya
satu orang menteri perempuan dalam pemerintahan, jika tidak lebih. Di
Tunisia, 40 persen dokter dan 70 persen apoteker adalah perempuan.
Berbagai undang-undang dan keputusan yang memberikan perempuan
kesetaraan hak-hak untuk berperan serta dalam dewan-dewan lokal, dewan-
dewan penasihat, dan dewan-dewan kota telah diloloskan menjadi undang-
undang di berbagai negara Arab.

kaum Perempuan Teluk diperkirakan memiliki sekitar 40 miliar US dolar
kekayaan pribadi. Di Mesir, perempuan merupakan 31 persen angkatan
kerja di sektor pemerintahan. Yang paling nyata, di keseluruhan dunia
Arab, 70 persen lulusan universitas pada tahun 2007 adalah perempuan.

Namun, pemanfaatan berbagai kemampuan perempuan Arab melalui peran
serta ekonomi dan politik tetap rendah secara kuantitas, seperti yang
ditunjukkan oleh rendahnya jumlah perempuan dalam pemerintahan - 6,5
persen dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 15.7 persen.
Angkatan kerja Arab terdiri atas 25-30 persen perempuan, dibandingkan
dengan rata-rata global sebesar 45 persen.

Tak ada pembangunan ekonomi, sosial atau politik dalam masyarakat mana
pun tanpa perempuan memainkan peran yang menjadi hak mereka dalam
perekonomian dan masyarakat pada umumnya. Kemitraan internasional dan
multilateral memiliki kekuatan untuk memungkinkan, mengilhami, dan
mendidik perempuan agar berhasil dalam peran sertanya dalam masyarakat
Arab, perekonomian Arab, dan politik Arab. Kita bekerja dan hidup
dalam dunia yang semakin tanpa batas - karena itu pertukaran
pengetahuan dan pengalaman melalui dialog antar budaya sangat vital
dalam mencapai kemajuan dan pembangunan di seluruh masyarakat kita.

Peningkatan kerjasama dan penguatan hubungan antara berbagai
organisasi dan bangsa dapat bermanfaat dalam hal ini. Sebuah jaringan
organisasi internasional, seperti Forum Perempuan Internasional Arab
(AIWF) yang bermarkas di London, didirikan pada tahun 2001, memiliki
anggota dan kontak di 45 negara lebih, dari Eropa, Afrika, Asia, dan
Amerika. AIWF penting artinya dalam menghubungkan kaum perempuan
profesional Arab satu sama lain dan mitra mereka dalam masyarakat
internasional. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman seperti itu,
serta sebuah fokus pada pembangunan kapasitas, pelatihan, pengembangan
keterampilan, dan sumber daya manusia, yang dapat mengembangkan
potensi profesional dan politik dari semua anggota, memastikan
kelanjutan pemberdayaan perempuan di wilayah tersebut.

Kelanjutan dari rangkaian tindakan ini, penting artinya dalam mengajak
organisasi-organisasi masyarakat madani, sektor korporat, dan
pemerintah untuk menciptakan sebuah forum dialog dan pertumbuhan yang
tak tertandingi. Kita harus terus mendukung konferensi dan prakarsa,
seperti konferensi "Mitra Perubahan: Menyadari Potensi Perempuan Arab
dalam Sektor Swasta dan Publik" pada bulan Juni 2008 mendatang, yang
secara bersama-sama diadakan oleh AIWF dan Bank Dunia, yang menggali
tema-tema terkini untuk mendorong peran perempuan dalam kehidupan
ekonomi dan publik.

Ketika perempuan sejahtera, keluarga dan masyarakat juga sejahtera.
Dengan mendorong pemberdayaan strategis perempuan dari segala sektor
penting bagi kontribusi efektif dalam ekonomi pengetahuan global.
Melalui peningkatan akses terhadap informasi, promosi keragaman
kebudayaan, kemitraan bisnis secara proaktif, dan keterbukaan terhadap
berbagai prospek bisnis internasional yang berharga, persekutuan yang
strategis, dan praktik terbaik, perempuan dapat menjadi agen perubahan
positif untuk mendorong sebuah agenda kesejahteraan dan perdamaian.

###

* Ny. Haifa Fahoum Al Kaylani adalah ketua pendiri Forum Perempuan
Internasional Arab (www.aiwfonline.com). Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 4 Maret 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


3) ~Pandangan Kaum Muda~ Menuju Pembangunan Perdamaian
Stephen Coulthart

South Orange, New Jersey - Saya sedang sarapan ketika ayah saya
melempar majalah New York Times di hadapan saya, suatu pagi. <<Kamu
mungkin ingin memeriksa artikel ini. Kalau tidak salah ini adalah kota
tempat kamu akan belajar bahasa Arab,>> katanya, sambil menunjuk sebuah
artikel yang melaporkan kunjungan seorang reporter Times ke Tetouan,
Maroko, untuk menyelidiki enam orang anak muda: lima dari mereka pergi
ke Irak dengan dalih perang suci dan satu lagi terlibat dalam pemboman
kereta Madrid pada tahun 2006.

Tetouan, yang berarti <<mata>> dalam bahasa Berber, bahasa setempat,
adalah sebuah kota sederhana berpenduduk lebih dari 300.000 orang di
bagian utara Maroko. Kota tersebut terletak di antara dua pegunungan,
yang, jika didaki pada suatu hari yang cerah, menampilkan pemandangan
indah dari perairan Mediteranea.

Satu bulan setelah artikel tersebut terbit, saya berjalan di jalanan
yang ramai dari kota tua tempat DVD bajakan film-film terbaru Barat
dan kulit domba tradisional Maroko dijual berdampingan. Secara
tradisional, Tetouan merupakan sebuah persimpangan antara budaya Eropa
dan Arab, sebuah kenyataan yang membuat wilayah tersebut kaya budaya
tetapi terkadang juga menimbulkan ketegangan. Banyak orang Maroko
menonton tetangga-tetangga Eropa mereka, seperti mereka yang tinggal
di Spanyol, menikmati standar hidup yang lebih tinggi, sementara
mereka terus ketinggalan di belakang.

Para pemimpin agama militan telah membuka jalan bagi sentimen-sentimen
kekecewaan orang muda yang terperangkap antara sebuah masyarakat
konservatif dan gaya hidup sekuler yang terserap masuk ke dalam negara
mereka.

Selama kunjungan saya, saya diundang makan malam di rumah seorang
kawan. Selama makan malam, ibunya menanyakan keadaan saya selama di
Maroko. Saya menjawab bahwa sebagai seorang mahasiswa hubungan
internasional, saya ingin belajar bahasa Arab.

<<Orang Amerika datang ke sini dan mempelajari kami,>> balasnya, <<tetapi
kemudian mereka membom Timur Tengah.>>

Dengan cepat saya menyangkal pernyataan tersebut dan kami melanjutkan
makan malam seolah tak ada sesuatu yang kontroversial telah
disampaikan.

Walaupun orang Maroko terkenal karena keramahtamahan mereka terhadap
para pengunjung Barat, jelas bahwa banyak kalangan yang merasa
frustrasi oleh imperialisme Barat di masa lalu dan kebijakan-kebijakan
luar negeri Amerika.

Sambil menghirup teh Maroko pada satu malam dengan Zyad, direktur
sekolah bahasa saya, saya bertanya kepadanya tentang anak-anak lelaki
yang saya baca. Ia berkata bahwa ia juga telah membaca artikel New
York Times tersebut dan merasa khawatir dengan akibat-akibatnya. Zyad
kemudian menunjuk sebuah bagian kota - lingkungan tempat para militan
berasal. Sangat sedikit cahaya memancar dari wilayah tersebut. Dalam
lingkungan tersebut, kemiskinan merajalela, dan banyak anak muda yang
dengan mudah dibujuk oleh para pemimpin agama ekstremis yang
menjanjikan kejayaan abadi dengan menjalankan bentuk Islam militan
melawan kekuatan-kekuatan Barat.

Pertanyaannya, jika banyak orang Maroko yang mengalami rasa frustrasi
yang sama, mengapa mereka tidak terdorong ke arah ekstremisme
kekerasan seperti para anak muda dalam artikel tersebut?

Satu teori adalah bahwa berbagai faktor memainkan peran. Ketika unsur
tertentu ada - penyakit-penyakit sosio-ekonomi (perasaan bahwa
kehidupan mereka jalan di tempat), sentimen agama agresif (sebuah cara
untuk memberi arti bagi kehidupan mereka), dan frustasi politik
(sebuah simbol perlawanan) - laki-laki dan perempuan mungkin menjadi
lebih rentan terlibat dalam kekerasan.

Menjelangg akhir kunjungan saya di Maroko, saya mulai bertanya-tanya
mengapa kami di Barat memusatkan perhatian pada orang seperti beberapa
anak muda dari Tetouan, yang telah memilih jalur kekerasan, sementara
kebanyakan orang Maroko memiliki harapan yang sama bagi perdamaian
seperti anak-anak muda di Barat.

Orang Amerika, juga Maroko, harus mengumpulkan pengetahuan dan sumber-
sumber daya untuk menemukan jalan bersama-sama membasmi berbagai
faktor yang menyebabkan terjadinya ekstremisme kekerasan. Jika kita
dapat berupaya memahami tetangga-tetangga global kita dan membantu
satu sama lain mencari penyelesaian, kita dapat mulai mengambil
langkah-langkah untuk menyelesaikan problem ekstremisme kekerasan.

Seminggu sebelumnya - pada hari Natal - saya bicara di hadapan kelas
yang terdiri atas mahasiswa-mahasiswa Maroko. Banyak dari mereka
bertanya mengapa saya datang ke Maroko. Bukannya memberikan jawaban
yang biasa, mengatakan kepada mereka keinginan saya untuk belajar
bahasa Arab dan terjun dalam bidang hubungan internasional, saya
menjadi sadar bahwa misi saya sesungguhnya adalah bertindak sebagai
seorang diplomat sipil karena ada banyak kesalahpahaman antara bangsa
dan budaya kita.

Para mahasiswa ini ingin belajar lebih banyak tentang negara saya,
seperti halnya saya terhadap mereka. Keinginan untuk memahami satu
sama lain ini merupakan langkah pertama ke arah bahu-membahu menemukan
penyelesaian terhadao isu-isu yang lebih besar. Di mata mereka, saya
dapat melihat harapan yang sama dirasakan oleh teman-teman saya di
Amerika: untuk membangun perdamaian melintasi seluruh kebudayaan di
zaman kita.

###

* Stephen Coulthart adalah seorang mahasiswa pasca sarjana yang
belajar diplomasi dan hubungan internasional di Whitehead School of
Diplomacy, Seton Hall, New Jersey. Artikel ini ditulis untuk Kantor
Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 4 Maret 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.


4) Melihat Kembali Hadis
Brian Whitaker

Alaporan yang cukup menarik dari program Today BBC minggu lalu yang
menyampaikan sebuah sinyal akan <<bermulanya reformasi>> dalam Islam.

Kemungkinan <<reformasi Islam>>, semacam gerakan yang telah melahirkan
Protestan dalam Kristen, terdengar manis--paling tidak dari kulitnya--
dan ini dipromosikan secara antusias oleh orang seperti Salman
Rushdie. Sedangkan umat Muslim yang selama ini berusaha membebaskan
dan mereformasi agama mereka, memandangnya sebagai omong kosong.

Hal yang menarik dari program BBC itu adalah berita bahwa Departemen
Agama Turki akan meluncurkan edisi revisi hadis. Hadis memainkan
peranan penting dalam hukum Islam, khususnya hal-hal yang tak diatur
dalam Qur'an. Kebanyakan fatwa-fatwa atau opini-opini religius
<<ganjil>> para ulama didasarkan pada Hadis daripada Qur'an.

Pada masa-masa awal Islam, kata-kata Nabi itu disampaikan dari mulut
ke mulut, hingga akhirnya dicatat. Seberapa keaslian sebuah hadis
tergantung pada pendapat masing-masing, tetapi beberapa telah terbukti
palsu. Dalam bukunya, Progressive Muslims, Scott Kugle menulis:

<<... Sangat sulit memastikan otentisitas laporan-laporan atas nama
Nabi Muhammad yang tersebar. Yang jelas, banyak laporan yang secara
retrospektif diproyeksikan kembali pada Nabi tak terbukti melekat pada
beliau. Umat Muslim berhadapan dengan hadis yang melaporkan Nabi
berbicara mengenai persoalan-persoalan yang tidak ada di masanya:
sebagaimana perpecahan Syiah-Sunni, berbagai bid'ah, bahkan kumpulan
sistematik hadis.>>

Materi-materi yang meragukan, termasuk larangan homoseksualitas yang
sering dikutip oleh ulama hari ini, menurut Kugle, baru muncul jauh
setelah Nabi meninggal:

<<Hadis palsu tentang pelarangan relasi seks sejenis mulai beredar luas
selama periode Abbasiyah (750-1258 M), ketika memiliki budak-budak
lelaki muda, pekerja pembawa anggur yang tampan, dan memamerkan roman
seks sejenis menjadi trend kaum bangsawan dan terhormat. Banyak hadis
atas nama Nabi yang diedarkan untuk menegur praktek-praktek yang
merupakan bagian dari perang budaya kaum tradisionalis di era kota-
kota elit kosmopolitan Abbasiyah.>>

Berdasarkan pada contoh-contoh tersebut, Kugle menyatakan bahwa
peninjauan kembali otentisitas pelaporan hadis adalah kunci bagi
reformasik sosial dan hukum di kalangan Muslim.

Itulah yang pada dasarnya Departemen Agama Turki lakukan. Mereka telah
memeriksa koleksi hadis lama, mengeliminasi materi yang (mengutip
korespondent BBC), <<Ketinggalan jaman, misoginistis atau anti Kristen
Christian>>. Mereka juga menghapus <<adab>> yang ternyata tak memiliki
dasar dalam agama - contohnya, praktek mutilasi genital perempuan dan
norma bahwa perempuan tak boleh bepergian tanpa ijin sang pria, yang
sesungguhnya merupakan soal keamanan atau keselamatan di masa itu,
tetapi tak relevan lagi saat ini.

Secara prinsip, usaha ini sangat bernilai, tetapi harus dilakukan
dengan hati-hati.

Dalam Islam Sunni (yang dianut kebanyakan Muslim), ada empat mazhab
besar fiqih- Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Mereka relatif
mempengaruhi berbagai negara, namun yang dominan di Turki adalah
Hanafi.

Salah satu perbedaan kunci antara keempat mazhab ini adalah tingkat
kepercayaan mereka pada hadis yang dilaporkan. Hanafi cenderung lebih
hati-hati dalam melihat hadis dibanding lainnya, sehingga keputusan-
keputusannya seringkali lebih kenyal.

Tak mengejutkan sebuah tinjauan kritis terhadap hadis terjadi di
Turki, karena ia didominasi Hanafi. Berbeda jika itu terjadi di Arab
Saudi yang dikuasai Hanbali dan ulama-ulamanya membuat keputusan-
keputusan hukum yang konservatif, yang seringkali didasarkan pada
pembacaan atas Qur'an dan penerimaan begitu saja akan hadis.

Sebuah kritisisme akan mazhab Hanafi adalah fleksibilitas integralnya
yang secara historis membuat aturan-aturan religiusnya rentan terhadap
campur tangan negara. Sebaliknya, Mazhab Hanbali, yang sangat berhati-
hati dengan hadis, relatif kedap pengaruh negara; di Arab Saudi hadis
cenderung dipakai untuk mengontrol politik.

Di Turki, Departemen Agama bukanlah lembaga independen, ia didirikan
di bawah konstitusi untuk mengatur relasi antara pemerintah dan
komunitas-komunitas keagamaan berdasarkan prinsip-prinsip sekularisme
yang diletakkan oleh Kemal Ataturk. Latar belakang ini pasti membuat
umat Muslim yang ada di luar Turki, sebagaimana Muslim tradisional
Turki sendiri, akan mempertanyakan pengeditan dan revisi itu,
betapapun akademisnya. Ia juga tak akan memecah kebekuan dengan Alawi
Muslim -- dari Syiah -- yang disebut-sebut memiliki anggota sekitar 12
juta.

Sayangnya, proses penilaian kembali yang sangat penting ini dinodai
oleh campur tangan pemerintah. Memisahkan negara dari agama tak hanya
berarti menjaga para mufti dari politik, tetapi juga menjaga tangan
pemerintah dari agama.

###

* Brian Whitaker saat ini adalah editor Comment is Free. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Guardian, 26 Februari 2008, www.guardian.co.uk
Telah memperoleh hak cipta.


5) Pertukaran Lintas Iman Indonesia
Arian Fariborz

Bonn, Jerman- Katedral Katolik di Jakarta hanya berada di seberang
jalan tempat ibadah umat Muslim terbesar di kota itu, yaitu masjid
Istiqlal. Gereja itu seringkali penuh oleh ratusan umat Nasrani yang
berkumpul di halaman dalam gedung untuk beribadah. Namun beberapa
minggu lalu, kedamaian hilang dari sana.

Selama masa natal, katedral tersebut, seperti gereja-gereja lainnya di
negeri itu, harus dijaga oleh polisi karena takut diserbu kelompok-
kelompok Islam politik radikal. Ketakutan yang tak terbukti. Tiga
tahun terakhir, merujuk pada kepemimpinan gereja-gereja Protestan dan
Katolik di negeri itu, paling tidak 108 bangunan gereja dan komunitas
telah dibobol, dibakar atau diancam, terutama di Jawa Barat.

Gomar Gultom adalah pastor dan pemimpin Gereja Protestan di Indonesia.
Ia yakin ada seribu alasan bagi peningkatan kekerasan ini.

<<Sebagian Muslim melihat kehadiran umat Nasrani atau gereja-gereja di
Indonesia dalam konteks Kristenisasi,>> katanya. <<Jika kami membangun
sebuah gereja, mereka melihatnya sebagai agenda pusat Kristenisasi.
Mereka khawatir umat Muslim yang tak terdidik akan menjadi Nasrani.>>

Penyerbuan-penyerbuan, bukan hanya pada umat Nasrani, tetapi juga pada
sekte Muslim seperti Ahmadiyah, adalah hasil dari kekurangpahaman akan
prinsip-prinsip keagamaan, hasutan untuk bertindak intoleran dan
melakukan kekerasan, bersama meningkatnya kemiskinan di negeri itu.
Banyak umat Nasrani mengkritik pemerintah Indonesia karena diam saja
melihat kekerasan religius itu dan kurang keras menjaga hukum yang
menjamin kebebasan beragama.

Pasukan keamanan sering dituding hanya berdiri dan menonton penyerbuan
yang dilakukan oleh kelompok ekstrim. Tetapi, organisasi-organisasi
Muslim liberal dan pemuka-pemuka Nasrani tepercaya terus mempromosikan
dialog lintas agama.

<<Setiap tahun kami membuat program Seminar Agama,>> kata Dr. Erick
Barus dari Batak, Sumatra Utara. <<Kami mengundang seluruh partisipan--
dari berbagai agama--termasuk ulama-ulama Muslim.>>

Mereka mendiskusikan bagaimana meningkatkan hubungan antar umat dan
mereka memiliki ulama Muslim yang mengajar pastor-pastor Kristen
tentang Islam, membahas masalah-masalah seperti makna <<jihad>> atau
sikap Muslim terhadap terorisme. <<Kami harus belajar lebih banyak lagi
tentang agama lain,>> tutur Barus. <<Ini penting bagi demokrasi.>>

Selain inisiatif-inisiatif nasional, juga ada aktivitas-aktivitas di
tingkat lokal. Di Jawa Tengah, misalnya, umat Nasrani mengunjungi
komunitas Muslim untuk bersama-sama mempelajari prinsip-prinsip Islam.
Selama sebulan, mereka hidup di pesantren dan mengadakan kegiatan
sosial dan amal di pedesaan. Kerjasama dengan kelompok-kelompok Muslim
liberal dan Nadhathul Ulama (NU) - organisasi Muslim terbesar di
negeri itu--meningkat pesat sejak tahun 1990-an.

Franz Magnis-Suseno, seorang Jesuit Jerman yang telah tinggal lama di
Jakarta, mengatakan bahwa meskipun hubungan dengan NU meningkat dan
terjadi banyak dialog, masalah-masalah itu masih ada. Ia mengatakan
bahwa beberapa Muslim liberal memang angkat bicara, tetapi umat Muslim
lainnya, sejauh ini, hanya melihat mereka sebagai kelompok marginal,
sehingga tak banyak berpengaruh. Secara umum, kelompok ekstrimlah yang
meningkat pengaruhnya.

<<Semenjak kejatuhan Presiden Suharto, kelompok ekstrim telah
mengeksploitasi kebebasan demokratis negeri ini, << kata Magnis
menjelaskan, <<Merekalah yang menciptakan segala keributan di
masyarakat, sedang kelompok moderat cenderung diam saja.>>

###

* Arian Fariborz adalah penulis Jerman dan kontributor langganan
Qantara.de. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common
Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Qantara.de, 8 Februari 2008, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.


Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Nancy Batakji (nancybatakji@gmail.com)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnewspih@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.

No comments: